Munguk eurasia, munguk kayu, atau sekadar munguk, adalah sejenis burung pengicau kecil yang ditemukan di seluruh wilayah Palearktik dan Eropa. Seperti burung munguk lainnya, ia merupakan burung berekor pendek dengan paruh panjang, bagian atas berwarna abu-abu kebiruan, dan coretan mata berwarna hitam. Burung ini sangat vokal dengan panggilan dwip nyaring yang diulang-ulang. Terdapat lebih dari 20 subspesies yang terbagi dalam tiga kelompok utama; burung di wilayah persebaran bagian barat memiliki bagian bawah berwarna jingga kecokelatan dan tenggorokan putih, mereka yang berada di Rusia memiliki bagian bawah keputihan, dan burung di timur memiliki penampilan yang serupa dengan burung Eropa, namun tidak memiliki tenggorokan putih.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Munguk eurasia | |
|---|---|
| S. e. caesia di Eropa Tengah | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Aves |
| Ordo: | Passeriformes |
| Famili: | Sittidae |
| Genus: | Sitta |
| Spesies: | S. europaea |
| Nama binomial | |
| Sitta europaea | |
| Persebaran S. europaea Penetap | |
Munguk eurasia, munguk kayu (Sitta europaea), atau sekadar munguk, adalah sejenis burung pengicau kecil yang ditemukan di seluruh wilayah Palearktik dan Eropa. Seperti burung munguk lainnya, ia merupakan burung berekor pendek dengan paruh panjang, bagian atas berwarna abu-abu kebiruan, dan coretan mata berwarna hitam. Burung ini sangat vokal dengan panggilan dwip nyaring yang diulang-ulang. Terdapat lebih dari 20 subspesies yang terbagi dalam tiga kelompok utama; burung di wilayah persebaran bagian barat memiliki bagian bawah berwarna jingga kecokelatan dan tenggorokan putih, mereka yang berada di Rusia memiliki bagian bawah keputihan, dan burung di timur memiliki penampilan yang serupa dengan burung Eropa, namun tidak memiliki tenggorokan putih.
Habitat kesukaannya adalah hutan gugur tua atau hutan campuran dengan pohon-pohon besar yang sudah tua, terutama pohon ek. Pasangan burung ini menguasai wilayah permanen, dan bersarang di lubang pohon, biasanya pada bekas sarang burung pelatuk, walau terkadang juga memanfaatkan rongga alami. Jika jalan masuk ke lubang terlalu besar, sang betina akan menambalnya dengan lumpur untuk memperkecil ukurannya, dan sering kali juga melapisi bagian dalam rongga tersebut. Enam hingga sembilan butir telur berwarna putih dengan bintik-bintik merah diletakkan di atas tumpukan serpihan kayu pinus atau kayu lainnya yang tebal.
Munguk Eurasia utamanya memangsa serangga, khususnya ulat dan kumbang, meskipun pada musim gugur dan musim dingin makanannya dilengkapi dengan kacang-kacangan dan biji-bijian. Anak-anaknya terutama diberi makan serangga, beserta sedikit biji-bijian, yang sebagian besar sumber makanannya ditemukan di batang pohon dan cabang-cabang yang besar. Burung munguk mampu mencari makan saat merayap turun di batang pohon dengan kepala di bawah, maupun saat memanjat naik. Ia dengan senang hati mendatangi tempat makan burung, menyantap pakan berlemak buatan manusia maupun biji-bijian. Ia merupakan penimbun makanan yang gigih, yang menyimpan persediaan makanannya sepanjang tahun. Pemangsa alami utamanya adalah elang-alap eurasia.
Fragmentasi hutan dapat menyebabkan hilangnya populasi burung yang berbiak secara lokal, namun wilayah persebaran spesies ini masih terus meluas. Mereka memiliki populasi yang besar dan wilayah berbiak yang sangat luas, sehingga diklasifikasikan oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) dalam status risiko rendah.
Burung munguk adalah sebuah famili burung berpenampilan serupa dengan ekor dan sayap yang pendek, tubuh padat, dan paruh runcing yang agak panjang. Mereka memiliki bagian atas berwarna abu-abu atau kebiruan, coretan mata berwarna hitam, dan kaki yang kuat. Semuanya tergolong dalam genus tunggal Sitta.[2] Di dalam genus tersebut, munguk Eurasia membentuk sebuah superspesies bersama munguk pantat-berangan, India, perut-berangan, dan Kashmir, dan di masa lalu sempat dianggap satu spesies dengan burung-burung tersebut.[3]
Munguk Eurasia pertama kali dideskripsikan oleh Carl Linnaeus dalam karya bersejarahnya pada tahun 1758, Systema Naturae edisi ke-10, dengan nama ilmiahnya yang sekarang.[4] Sitta diturunkan dari nama Yunani Kuno untuk burung ini, σίττηcode: grc is deprecated , sittē,[5][6] dan nama spesiesnya, europaea, adalah bahasa Latin untuk "Eropa".[7] Nama bahasa Inggrisnya, "Nuthatch", yang pertama kali tercatat pada tahun 1350, diturunkan dari kata "nut" (kacang) dan sebuah kata yang kemungkinan berkaitan dengan "hack" (memecah), karena burung-burung ini memecah kacang yang telah mereka selipkan ke dalam celah-celah.[8]
Pada tahun 2014, Eric Pasquet beserta rekan-rekannya menerbitkan sebuah filogeni berdasarkan pengujian inti dan DNA mitokondria dari 21 spesies munguk.[9] Kelompok europaea berkerabat dengan dua jenis munguk di lingkungan berbatu, munguk batu barat (S. neumayer) dan munguk batu timur (S. tephronota), dan kedua klade ini saling menyimpang sejak tiga belas juta tahun yang lalu. Di dalam kelompok europaea, munguk ekor-putih (S. himalayensis)—dan akibatnya munguk alis-putih (S. victoriae), meskipun tidak dimasukkan dalam studi tersebut—tampak bersifat basal, dan munguk Eurasia berkerabat dekat dengan munguk pantat-berangan (S. nagaensis) serta munguk Kashmir (S. cashmirensis). Munguk India (S. castanea), munguk elok (S. cinnamoventris), munguk Burma (S. neglecta), dan munguk Siberia (S. arctica) tidak diikutsertakan dalam studi tersebut. Seluruh spesies dari kelompok "europaea" menambal jalan masuk ke sarang mereka dengan lumpur.[9] Pada tahun 2020, sebuah filogeni baru diterbitkan, yang mencakup genus ini secara lebih menyeluruh; secara khusus menyertakan keempat spesies yang disebutkan di atas. Studi tersebut menggunakan tiga gen mitokondria dan dua gen inti. Tiga spesies dari selatan benua Asia (munguk India, elok, dan Burma) berkerabat dengan munguk Kashmir, namun secara mengejutkan, munguk Siberia berada pada cabang tersendiri, terpisah cukup jauh dari munguk Eurasia, padahal burung tersebut telah lama dianggap sebagai subspesiesnya.[10]
Studi oleh Päckert beserta rekan-rekannya (2020) juga mencakup pengambilan sampel subspesies munguk Eurasia yang cukup menyeluruh. Studi ini menyoroti tiga kelompok besar subspesies, yang tidak sepenuhnya tumpang tindih dengan kelompok yang secara tradisional dibedakan berdasarkan pewarnaan bagian bawah tubuh mereka. Kelompok pertama menyangkut "munguk Eropa", yang mencakup seluruh subspesies Eropa, baik yang berperut kuning kecokelatan maupun yang berperut putih, serta subspesies dari Timur Dekat.[10] Kelompok ini berkerabat dengan kelompok "munguk Asia", yang mencakup subspesies yang mendiami bagian utara benua Asia, dari Kazakhstan hingga Korea dan Jepang, yang seluruhnya berperut putih. Terakhir, kelompok subspesies ketiga, "munguk Timur," mencakup subspesies Asia yang hidup lebih jauh di selatan, di Tiongkok Utara dan Timur serta di Taiwan.[10]
Catatan fosil untuk burung munguk sangatlah jarang, dan di Eropa terbatas pada spesies punah Sitta senogalliensis dari zaman Miosen Bawah di Italia beserta material yang sedikit lebih baru dari Prancis; famili burung ini tampaknya berasal dari masa yang relatif baru.[2]
Terdapat lebih dari 20 subspesies, namun jumlah pastinya masih diperdebatkan. Taksa ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama; yang mungkin secara geografis terisolasi dari satu sama lain hingga waktu yang relatif baru. Burung-burung dengan penampilan peralihan muncul di wilayah tempat persebaran kelompok tersebut saling tumpang tindih.[11]
| Subspesies[3] | |||
|---|---|---|---|
| Kelompok subspesies | Penampilan | Persebaran | Subspesies[a] |
| Kelompok caesia | Dada kuning kecokelatan, tenggorokan putih | Sebagian besar Eropa, Afrika Utara, Timur Tengah | S. e. caesia, S. e. hispaniensis, S. e. cisalpina, S. e. levantina, S. e. persica, S. e. rubiginosa, S. e. caucasica |
| Kelompok europaea | Dada putih | Skandinavia dan Rusia ke arah timur hingga Jepang dan Tiongkok utara | S. e. europaea, S. e. asiatica, S. e. arctica, S. e. baicalensis, S. e. albifrons, S. e. sakhalinensis, S. e. takatsukasai, S. e. clara, S. e. amurensis, S. e. hondoensis, S. e. roseilia, S. e. bedfordi, S. e. seorsa |
| Kelompok sinensis | Dada dan tenggorokan kuning kecokelatan | Tiongkok selatan dan timur, Taiwan | S. e. sinensis, S. e. formosana |
S. e. arctica yang besar dan berdada putih dari Siberia timur laut sangat khas secara penampilan maupun genetik, serta mungkin saja merupakan kelompok subspesies yang lain atau bahkan sebuah spesies yang terpisah.[3]



Jantan dewasa dari subspesies nominat, S. e. europaea memiliki panjang 14 cm (5,5 in) dengan rentang sayap sepanjang 225–27 cm (89–11 in).[12] Berat badannya 17–28 g (0,6–1 oz). Burung ini memiliki bagian atas berwarna abu-abu kebiruan, coretan mata berwarna hitam, dan tenggorokan serta bagian bawah yang keputihan. Sisi tubuh dan perut bagian bawah berwarna merah jingga, berbintik-bintik putih pada bulu penutup bawah ekor. Paruhnya yang kekar berwarna abu-abu gelap dengan area yang lebih pucat pada pangkal rahang bawah, iris matanya berwarna cokelat tua, dan kaki beserta cakarnya berwarna cokelat pucat atau keabu-abuan.[3] Sebagian besar anggota kelompok S. e. europaea lainnya hanya berbeda pada detail-detail kecil dibandingkan dengan bentuk nominatnya, sering kali pada rona bagian bawah tubuhnya,[11] tetapi S. e. arctica sangatlah khas. Burung ini berukuran besar, pucat, memiliki dahi putih dan coretan mata yang lebih samar, serta memiliki lebih banyak warna putih pada ekor dan sayapnya dibandingkan dengan subspesies lain.[13] Burung munguk bergerak di pohon dengan lompatan-lompatan pendek, dan tidak menggunakan ekornya sebagai penopang. Saat terbang, mereka memiliki penampilan yang khas, dengan kepala runcing, sayap membulat, dan ekor pendek yang berbentuk persegi. Penerbangan mereka cepat, dengan sayap yang tertutup di antara kepakan, dan biasanya berlangsung dalam waktu singkat.[12]
S. e. caesia, subspesies barat yang persebarannya paling luas, memiliki bagian bawah berwarna jingga kecokelatan kecuali pada tenggorokan dan pipinya yang putih. Bentuk-bentuk subspesies barat lainnya utamanya berbeda pada ketepatan bayangan rona di bagian bawahnya, meskipun beberapa bentuk tenggara juga memiliki dahi putih dan alis mata. S. e. sinensis dan S. e. formosana, masing-masing dari Tiongkok dan Taiwan, memiliki bagian bawah kuning kecokelatan layaknya ras barat, tetapi tenggorokannya juga berwarna kuning kecokelatan, alih-alih putih.[11]
Burung betina secara penampilan serupa dengan jantan, tetapi dapat diidentifikasi dari bagian atasnya yang sedikit lebih pucat, coretan mata yang lebih kecokelatan, serta rona warna yang lebih memudar pada sisi tubuh dan perut bagian bawahnya.[3] Pada bentuk timur, S. e. asiatica, beberapa pejantan memiliki bagian bawah berwarna kuning kecokelatan seperti sang betina, dan burung dengan penampilan seperti ini akan sulit ditentukan jenis kelaminnya di lapangan.[11] Burung muda menyerupai burung betina, meskipun bulu mereka lebih kusam dan kakinya lebih pucat.[3] Secara akurat, individu burung dapat ditentukan sebagai betina sejak berusia sekitar 12 hari dari sisi tubuhnya yang lebih pucat dan menguning kecokelatan, atau, pada beberapa subspesies berdada putih, dari rona bagian bawah tubuhnya yang lebih berwarna krem.[14]
Burung dewasa mengalami proses luruh bulu lengkap setelah berkembang biak yang memakan waktu sekitar 80 hari, dimulai dari akhir bulan Mei dan seterusnya serta selesai pada akhir bulan September. Periode luruh bulu untuk burung-burung di Siberia berjalan lebih padat, yang berlangsung dari bulan Juni hingga pertengahan bulan September. Burung muda yang baru bisa terbang merontokkan beberapa bulu penutup sayap mereka saat berusia sekitar delapan minggu.[11]
Di sebagian besar wilayah persebarannya, munguk Eurasia adalah satu-satunya spesies munguk yang ada. Di Eropa Tenggara dan Asia Barat, munguk batu barat (S. neumayer) mendiami lingkungan berbatu dan berwarna lebih pucat daripada munguk Eurasia tanpa bintik putih di ekornya. Munguk batu timur (S. tephronota) berukuran lebih besar dari munguk batu barat dengan coretan mata hitam yang lebih tebal dan tersebar lebih jauh ke timur, serta tidak mendiami Eropa. Munguk Krüper (S. krueperi) mendiami Turki, Kaukasus, dan Lesbos, sebagian besar mengikuti persebaran Pinus Turki (Pinus brutia). Spesies ini lebih kecil dari munguk Eurasia, dengan mahkota gelap dan bercak cokelat kemerahan besar di dadanya. Munguk Korsika (S. whiteheadi) merupakan satwa endemik Korsika dan merupakan satu-satunya spesies munguk di wilayah persebarannya. Di Tiongkok barat daya, munguk pantat-berangan (S. nagaensis) sangat mirip dengan munguk Eurasia, tetapi memiliki bagian atas yang lebih gelap, warna putih yang lebih sedikit di wajah, dan bagian bawah yang lebih keabu-abuan.[15] Munguk Siberia (S. arctica) pernah dianggap sebagai subspesies dari munguk Eurasia tetapi memiliki perbedaan yang cukup jelas, karena berukuran lebih besar dan lebih pucat, dengan garis mata yang lebih pendek dan tipis, paruh yang lebih panjang dan kulmen (punggung paruh) yang lebih lurus, serta memiliki lebih banyak warna putih di ekor dibandingkan subspesies mana pun.[16]
Munguk Eurasia sering berkicau, biasanya dengan panggilan dwip yang keras dan tajam, biasanya diulang dua kali, kadang lebih sering jika sedang bersemangat. Ia memiliki panggilan peringatan sirrrr atau tsi-si-si yang melengking, dan panggilan prapenerbangan tsit yang tipis. Kicauannya adalah siulan lambat pee-pee-pee dengan banyak variasi, termasuk versi yang lebih cepat, dan mungkin bercampur dengan panggilannya.[3]
Kicauan S. e. arctica yang khas konon sangat berbeda dari kerabatnya, yang akan membantu memastikan apakah ia merupakan spesies yang sepenuhnya terpisah, tetapi belum ada penelitian yang memadai mengenai vokalisasinya.[17]
Wilayah berbiak munguk Eurasia membentang melintasi wilayah beriklim sedang Eurasia dari Britania Raya (tetapi tidak termasuk Irlandia) hingga Jepang.[11] Ia ditemukan di antara isoterm bulan Juli 16–20 °C (61–68 °F),[12] ke utara hingga sekitar lintang 64°LU di Rusia barat dan 69°LU di Siberia. Ia berkembang biak ke selatan menuju Mediterania di Eropa, meskipun tidak ada di kepulauan tersebut selain di Sisiilia, dan di sebagian besar wilayah Rusia, batas selatannya berada di sekitar 54–55°LU. Di timur, persebarannya mencakup sebagian besar wilayah Tiongkok dan Taiwan serta banyak bagian dari Korea.[11] Spesies ini pernah tercatat sebagai burung pengembara di Lebanon[1] dan Kepulauan Channel, serta ras nominatnya telah beberapa kali tercatat di Finlandia tempat S. e. asiatica merupakan bentuk yang umum.[12]
Sebagian besar populasinya menetap, terlepas dari beberapa penyebaran pascaberbiak oleh burung-burung muda, dan ada keengganan untuk menyeberangi perairan terbuka yang bahkan berjarak pendek sekalipun. Burung-burung yang berbiak di utara dan timur bergantung pada runjung dari tusam batu Siberia, dan jika gagal panen, banyak burung dari subspesies S. e. asiatica mungkin akan bermigrasi ke barat menuju Swedia utara dan Finlandia pada musim gugur, dan terkadang menetap untuk berkembang biak. S. e. arctica dari Siberia mungkin melakukan pergerakan yang lebih terbatas ke arah selatan dan timur pada musim dingin, dan S. e. amurensis dari Rusia tenggara biasa dijumpai pada musim dingin di Korea.[11]
Habitat yang disukai adalah area hutan tua dengan pohon-pohon besar dan tua, yang menyediakan pertumbuhan luas untuk mencari makan dan membuat lubang sarang. Di Eropa, hutan gugur atau campuran lebih disukai, khususnya yang banyak ditumbuhi pohon ek. Taman, kebun buah tua, dan habitat berhutan lainnya dapat dihuninya selama masih terdapat sedikitnya hamparan pohon yang sesuai seluas 1 ha ([convert: unit tak dikenal]). Khususnya di pegunungan, hutan spruce dan tusam tua sering digunakan, dan tusam juga menjadi favorit di Taiwan. Di sebagian besar Rusia, pohon runjung dimanfaatkan untuk bersarang, namun kepadatan populasinya tergolong relatif rendah. Burung di Maroko bersarang di pohon ek, aras Atlas, dan fir. Habitat yang tidak biasa meliputi pohon juniper kerdil di Mongolia dan wilayah berbatu di sebagian kecil wilayah Siberia selatan.[3]
Munguk Eurasia pada dasarnya merupakan burung dataran rendah di utara persebarannya, namun mencapai batas tumbuhnya pepohonan di Swiss pada ketinggian 1.200 m (3.900 ft) atau lebih, dan kadang berkembang biak pada ketinggian 1.800–2.100 m (5.900–6.900 ft) di Austria. Ia berbiak pada ketinggian serupa di pegunungan Turki, Timur Tengah, dan Asia Tengah. Burung ini lebih dominan sebagai burung pegunungan di Jepang bagian selatan pada ketinggian 760–2.100 m (2.490–6.890 ft) dan Taiwan pada 800–3.300 m (2.600–10.800 ft), sedangkan di Tiongkok selatan, munguk pantat-berangan menjadi spesies dataran tinggi dan spesies munguk Eurasia berada di tingkat yang lebih rendah.[3]


Burung munguk menganut sistem monogami, dan sepasang burung menguasai wilayah berbiak yang juga mereka tempati pada musim dingin.[3] Ukuran wilayahnya berkisar dari 2–10 ha ([convert: unit tak dikenal]) di Eropa hingga rata-rata 302 ha ([convert: unit tak dikenal]) di kawasan hutan runjung yang kurang optimal di Siberia.[19] Jantan akan berkicau untuk mempertahankan wilayahnya dan menarik perhatian pasangan. Kedua belah pihak memiliki perilaku saling memikat dengan terbang mengambang dan gemetar, dan sang jantan juga akan terbang melingkar sambil melebarkan ekor dan mengangkat kepalanya. Ia juga akan memberi makan sang betina pada saat masa percumbuan.[12] Terlepas dari adanya ikatan pasangan seumur hidup, penelitian genetika di Jerman menunjukkan bahwa setidaknya 10% anakan di area penelitian tersebut dihasilkan dari pembuahan oleh jantan lain, yang umumnya dari wilayah tetangga.[20]
Sarangnya berada pada rongga pohon, biasanya dari bekas lubang burung pelatuk, walau terkadang dari sumber alami. Sesekali, si betina akan memperbesar lubang yang sudah ada pada kayu yang membusuk. Tempat sarangnya biasanya berada setinggi 2–20 m (7–66 ft) di atas tanah dan memiliki dasar kulit kayu tusam atau serpihan kayu lain yang tebal, jarang dilengkapi dengan material tumbuhan kering. Jika jalan masuk ke lubang terlalu besar, sarang tersebut akan diplester dengan lumpur, tanah liat, dan terkadang dengan kotoran hewan untuk membuatnya lebih kecil.[3] Jalan masuk yang kecil dengan ruang dalam yang luas, ditambah dengan pemanfaatan lapisan serpihan kayu yang tebal untuk mengubur telur dan anakan yang masih kecil saat induknya meninggalkan sarang, mungkin merupakan bentuk adaptasi untuk mengurangi peluang dari bahaya pemangsaan. Sarang dengan lubang jalan masuk yang kecil memiliki tingkat keberhasilan paling tinggi.[21] Secara lokal, jalan masuk yang kecil mungkin membuat sarang lebih kecil kemungkinannya untuk diambil alih oleh burung jalak biasa.[3][18] Burung betina melakukan sebagian besar pekerjaan, dan sering kali juga melapisi bagian dalam rongga tersebut, dengan memakan waktu hingga empat minggu untuk menyelesaikan konstruksinya. Sebuah sarang juga sering digunakan kembali pada tahun-tahun berikutnya.[3]
Kelompok telur biasanya berjumlah 6–9 butir telur putih berbintik merah, walau kadang bisa bertelur hingga 13 butir. Ukuran rata-rata telur adalah 195 mm × 144 mm (7,7 in × 5,7 in)[11][b] dan berat 23 g (0,81 oz) dengan 6% di antaranya adalah cangkang.[22] Sang betina mengerami telur selama 13–18 hari hingga menetas, dan mengerami anakan berbulu halus yang bersifat altrisial tersebut hingga mereka bisa terbang pada 20–26 hari kemudian. Kedua induk akan memberi makan anakan di dalam sarang dan terus berlanjut setelah mereka keluar dari sarang hingga mampu mandiri sekitar 8–14 hari. Umumnya hanya satu kawanan yang dibesarkan setiap tahun.[11][22] Saat kotak sarang digunakan, ukuran dan jumlah anakan yang bisa terbang akan lebih banyak pada kotak yang lebih besar. Namun dengan alasan yang belum jelas, tidak ada kaitannya antara ukuran rongga dan hasil persarangan untuk lubang alami.[23]
Sifat burung ini yang tidak berpindah-pindah ini berarti burung muda hanya bisa memperoleh wilayah kekuasaan dengan menemukan daerah yang kosong atau menggantikan burung dewasa yang mati. Di Eropa, burung-burung muda hampir selalu pindah ke habitat yang tidak berpenghuni, tetapi di kawasan teritorial yang lebih besar di Siberia, sebagian besar dari mereka hidup di dalam area kembang biak pasangan dewasa.[19]
Tingkat kelangsungan hidup tahunan burung dewasa di sebagian besar habitat dan persebaran berkisar di 51%,[19][22] dan studi kecil di Belgia menemukan tingkat kelangsungan hidup secara lokal bagi burung muda mencapai 25%.[24] Usia hidup umumnya adalah dua tahun dan catatan usia tertua untuk burung liar yaitu 12 tahun 11 bulan di Inggris.[25] Ada pula rekor usia tertua di Swiss mencapai 10 tahun 6 bulan.[26]
Munguk Eurasia utamanya memakan serangga, khususnya ulat dan kumbang. Pada musim gugur dan musim dingin, makanannya dilengkapi dengan kacang-kacangan dan biji-bijian, dengan kacang hazel dan biji pohon beech yang lebih disukainya. Anak-anaknya terutama diberi makan serangga yang disukai induknya, beserta sedikit biji-bijian. Sumber makanan utamanya ditemukan di batang pohon dan cabang-cabang yang besar, tetapi cabang yang lebih kecil juga dapat ditelusuri, dan makanan dapat diambil dari tanah, khususnya di luar musim berbiak. Burung munguk dapat mencari makan saat merayap turun di pohon dengan kepala di bawah, maupun saat memanjat naik. Beberapa mangsanya ditangkap saat terbang, dan burung munguk akan mengelupas kulit kayu atau kayu busuk untuk menjangkau serangga, meskipun ia tidak dapat memahat kayu yang sehat layaknya burung pelatuk. Sepasang burung ini mungkin akan bergabung sementara dengan kawanan pencari makan spesies campuran saat kelompok tersebut melintas di dekat wilayah mereka.[3] Munguk Eurasia dengan senang hati mendatangi meja pakan dan tempat makan burung pada musim dingin, menyantap makanan buatan manusia seperti lemak, keju, mentega, dan roti.[18][27] Burung ini bahkan pernah tercatat mengambil jeroan dari rumah potong hewan.[27] Makanan keras berukuran cukup besar seperti kacang-kacangan atau serangga besar akan diselipkan ke dalam celah kulit kayu dan dipecahkan menggunakan paruhnya yang kuat.[28]


Makanan dari tumbuhan ditimbun sepanjang tahun, namun utamanya pada musim gugur. Biji-bijian secara terpisah disembunyikan di dalam celah-celah kulit kayu, kadang-kadang juga di dinding atau di dalam tanah. Makanan tersebut biasanya disembunyikan di balik lumut kerak, lumut daun, atau serpihan kecil kulit kayu. Makanan yang disimpan tersebut diambil pada saat cuaca dingin. Burung di Siberia menimbun biji tusam batu Siberia, dan terkadang persediaan yang dikumpulkan cukup untuk bertahan selama satu tahun penuh.[3] Makanan yang ditimbun kadang-kadang dapat berupa benda selain tumbuhan seperti remah roti, ulat, dan tempayak, dengan larva yang dilumpuhkan dengan cara dipukul-pukul.[29] Menimbun merupakan strategi jangka panjang, dan makanan yang disimpan hanya dikonsumsi ketika makanan segar sulit dicari, kadang-kadang hingga tiga bulan setelah disimpan. Burung dengan persediaan makanan simpanan yang baik akan lebih sehat dibandingkan mereka yang sumber makanannya lebih terbatas.[30] Panen biji beech sangat bervariasi dari tahun ke tahun. Di tempat-tempat saat biji beech menjadi bagian penting dari pola makannya, tingkat kelangsungan hidup burung dewasa sebagian besar tidak terpengaruh pada tahun-tahun saat hasil panen biji tersebut buruk, namun jumlah burung muda menurun pada musim gugur karena mereka mati kelaparan atau beremigrasi.[24] Di daerah dengan pohon hazel biasa sebagai spesies pohon yang dominan, terdapat pola kelangsungan hidup burung dewasa dan hilangnya burung muda yang serupa pada tahun-tahun dengan produksi kacang yang buruk.[31]
Di sebagian besar wilayah persebarannya di Eropa, pemangsa terpenting bagi munguk Eurasia adalah elang-alap Eurasia.[32][33] Spesies lain yang diketahui memangsa burung munguk ini meliputi alap-alap Erasia,[34] alap-alap walet,[35] burung hantu cokelat,[36] beluk tutul, dan musang cerpelai.[37][38] Sebuah studi di Swedia menunjukkan bahwa 6,2% sarang munguk di area penelitian mereka dirampok oleh pemangsa. Pelakunya tidak dapat diidentifikasi, namun pemangsa tunggal utama dari sarang burung gelatik batu dalam studi yang sama adalah pelatuk tutul besar.[39]
Jalak biasa akan mengambil alih lubang sarang munguk Eurasia, sehingga mengurangi tingkat keberhasilan berbiak mereka. Hal ini kemungkinan besar terjadi jika sarang berada tinggi di atas pohon dan terdapat kepadatan berbiak lokal yang baik pada burung munguk.[39] Betet leher-cincin yang diintroduksi mungkin juga bersaing dengan munguk Eurasia untuk memperebutkan lubang sarang. Burung paruh bengkok tersebut cenderung bermukim di hutan kota yang terfragmentasi, sementara burung munguk lebih menyukai hutan ek tua yang luas, sehingga tingkat persaingannya pun berkurang. Para ahli ornitologi yang melakukan penelitian di Belgia pada tahun 2010 berpendapat bahwa masalah ini tidak terlalu parah hingga mengharuskan pemusnahan populasi burung paruh bengkok tersebut.[40]
Tungau dari genus Ptilonyssus, seperti P. sittae, telah ditemukan di dalam rongga hidung munguk Eurasia.[41][42] Cacing ususnya meliputi nematoda Tridentocapillaria parusi dan Pterothominx longifilla.[43] Penelitian kecil di Slowakia dan Spanyol tidak menemukan adanya parasit darah, namun survei yang lebih besar di Spanyol menemukan beberapa bukti infeksi Plasmodium.[44][45][46]
Populasi Eropa dari munguk Eurasia telah diperkirakan sebanyak 22,5–57 juta ekor burung, yang menyiratkan perkiraan jumlah global sebanyak 45,9–228 juta individu. Tiongkok, Taiwan, Korea, Jepang, dan Rusia masing-masing memiliki antara 10.000 hingga 100.000 pasangan yang berbiak.[1] Wilayah berbiak yang diketahui adalah sekitar 23,3 juta km2 (9 juta mil persegi),[47] yang merupakan bagian besar dari potensi habitat yang sesuai,[48] dan populasinya tampak stabil. Jumlahnya yang besar dan wilayah berbiaknya yang sangat luas tersebut berarti spesies ini diklasifikasikan oleh Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) dalam status risiko rendah.[1]
Munguk Eurasia secara umum banyak ditemukan di sebagian besar wilayah persebarannya, meskipun kepadatan populasinya lebih rendah di ujung utara dan di kawasan hutan runjung. Jumlah populasi tahunan di Siberia berfluktuasi bergantung pada ketersediaan runjung tusam dari tahun ke tahun.[11] Dalam beberapa dekade terakhir, burung munguk telah mengolonisasi Skotlandia dan Belanda, serta memperluas wilayah persebarannya di Wales, Inggris utara, Norwegia, dan pegunungan Atlas Tinggi di Afrika Utara. S. e. asiatica berbiak secara sporadis di Finlandia dan Swedia utara menyusul terjadinya irupsi. Karena pohon berukuran besar sangat penting baginya, penebangan atau fragmentasi hutan tua dapat menyebabkan penyusutan atau hilangnya populasi secara lokal.[12]