She Walks in Darkness adalah film triler politik Spanyol tahun 2025 yang disutradarai oleh Agustín Díaz Yanes dan dibintangi oleh Susana Abaitua sebagai pemeran utama. Film ini berkisah mengenai seorang perwira muda dari Guardia Civil yang menyusup ke dalam ETA, kelompok separatis Basque.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| She Walks in Darkness | |
|---|---|
Poster promosi penayangan | |
| Nama lain | |
| Spanyol | Un fantasma en la batalla |
| Sutradara | Agustín Díaz Yanes |
| Produser |
|
| Ditulis oleh | Agustín Díaz Yanes |
| Pemeran | |
| Penata musik | Arnau Batller |
| Sinematografer | Paco Femenía |
| Penyunting | Bernat Vilaplana |
Perusahaan produksi | Basoilarraren Filmak |
| Distributor | Tripictures |
Tanggal rilis |
|
| Negara | Spanyol |
| Bahasa |
|
She Walks in Darkness (Spanyol: Un fantasma en la batalla, har. 'Seorang hantu dalam pertempuran'code: es is deprecated ) adalah film triler politik Spanyol tahun 2025 yang disutradarai oleh Agustín Díaz Yanes dan dibintangi oleh Susana Abaitua sebagai pemeran utama. Film ini berkisah mengenai seorang perwira muda dari Guardia Civil yang menyusup ke dalam ETA, kelompok separatis Basque.
Film ini ditayangkan perdana di Festival Film Internasional San Sebastián pada 24 September 2025 dan ditayangkan secara global di Netflix pada 3 Oktober 2025.
Organisasi teroris Euskadi Ta Askatasuna (ETA) didirikan pada tahun 1958 pada masa rezim Franco. Pada saat kematian diktator itu pada tahun 1975, ETA telah membunuh 44 orang di spanyol, antara lain, Laksamana Carrero Blanco, Perdana menteri dan tangan kanan sang diktator. Dengan diterapkannya demokrasi di spanyol, sebuah faksi dari organisasi teroris menyerahkan senjata mereka. Namun faksi lain tetap memutuskan untuk terus melakukan pembunuhan. Di tahun 1980-an, ETA menebar teror dengan membunuh lebih dari 400 orang. Di tahun 1990an, Civil Guard Spanyol mulai mengadakan operasi pemberantasan terhadap kelompok terorisme. Operasi tersebut berjalan selama 12 tahun, di mana ratusan petugas dari Spanyol dan Prancis dilibatkan.
Pada tanggal 23 Januari 1995, Gregorio Ordóñez, calon kuat yang akan memenangkan pemilihan mayor San Sebastián dibunuh. Lima belas tahun sebelumnya, seorang petugas Guardia Civil bernama Amaya Mateos Ginés dipilih oleh Letnan Kolonel Castro dalam sebuah misi penyamaran untuk menyusup dalam jaringan ETA. Amaya ditempatkan di San Sebastian sebagai "López Elósegui Amaia", seorang guru sekolah dasar yang sebelumnya tinggal di Brussels. Kepala sekolah dari sekolah tersebut, Begoña Landaburu adalah anggota aktif ETA yang suaminya ditangkap oleh Guardia Civil. Amaia mulai menjalin hubungan sosial dengan Begoña, berpura-pura simpati pada perjuangan Basque sehingga akhirnya direkrut untuk menjadi anggota yang bekerja untuk ETA.
ETA mulai melakukan operasi pembunuhan terhadap orang-orang sipil seperti politikus, jurnalis, konselor, dan hakim yang dianggap tidak sejalan dengan mereka. Amaia bekerja untuk menjadi pendukung dari anggota ETA lain, Arrieta. Salah satunya adalah menyiapkan makan dan bertugas membuang sampah pada saat truk sampah lewat. ETA mulai melakukan pembunuhan beberapa tokoh penting, antara lain Fernando Múgica dan Francisco Tomás y Valiente. Informasi yang didapatkan Amaia membuat Guardia Civil berhasil menyadap handphone Arrieta dan menangkap dua anggota ETA, mencegat sebuah mobil van yang sedang membawa peledak keluar dari Madrid, serta membebaskan Ortega Lara yang diculik.
Amaia mulai mendapat kepercayaan lebih dari Begoña dan Arrieta sehingga mendapatkan tanggung jawab yang lebih banyak di ETA, sampai suatu hari Amaia memberikan sebuah dokumen mengenai target pembunuhan potensial yaitu seorang sersan Guardia Civil yang didapatnya dari atasannya, Castro. Amaia bersama dengan 2 anggota ETA lainnya merencanakan asasinasi pada sersan tersebut, tetapi sersan tersebut melawan balik dan membunuh seorang anggota ETA. Di saat anggota ETA yang lain melarikan diri, sersan tersebut mendatangi Amaia yang berada di mobil dan mencekiknya. Pada saat dia sudah hampir mati tercekik, Amaia berhasil mengambil pistol yang jatuh dan menembaknya. Sersan tersebut berhasil dilarikan ke rumah sakit tetapi kondisinya sangat kritis. Berita penembakan tersebut disiarkan di televisi. Peristiwa tersebut membuat Amaia mendapatkan kepercayaan penuh dari ETA sekaligus rasa trauma mendalam pada diri Amaia. Setelah kejadian itu, Amaia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya untuk menikah dengan tunangannya. Suatu hari Amaia melihat berita di televisi yang menyiarkan tentang Miguel Ángel Blanco Garrido yang diculik oleh ETA. Dua hari kemudian, Miguel dibunuh oleh ETA, sehingga menimbulkan pengecaman dari berbagai pihak di Spanyol. Kejadian itu juga membuat Amaia terketuk dan memutuskan untuk meninggalkan tunangannya dan kembali melanjutkan misi yang ditinggalkannya dan menemui Begoña untuk bergabung kembali. Tertangkapnya salah satu anggota ETA yang berpotensi membongkar identitas Amaia membuatnya dipindah ke Prancis.
Dua tahun sejak kepindahan Amaia ke Prancis, ETA berhasil membunuh beberapa tokoh seperti Fernando Buesa, Jorge Diez Elorza, José Luis López de Lacalle dan Ernest Lluch. Amaia bekerja sebagai supir dari beberapa anggota penting ETA dan mulai memberikan informasi lokasi-lokasi tempat dia mengantar mereka kepada Castro yang berpotensi menjadi lokasi-lokasi zulo[a] yang menjadi tempat penyimpanan bahan peledak untuk ETA. Operasi ETA yang biasanya selalu tidak terlacak mulai terbaca oleh Guardia Civil yang membuat para atasan ETA mulai curiga dengan keberadaan penyusup di dalam organisasi. Walaupun Amaia mulai dicurigai, akhirnya seorang anggota ETA lain yang terbukti sebagai penyusup dibunuh di depan Amaia di tengah hutan. Guardia Civil mulai menangkap anggota-anggota penting ETA, termasuk Begoña yang sedang mengunjungi anaknya. Figur senior ETA, María Soledad Iparraguirre (dikenal sebagai "Anboto") mulai mencurigai Amaia dan meminta investigasi mendalam mengenai dirinya bersama dua orang tersangka lainnya. Di sisi lain, Castro menghadapi tuntutan hukum atas penculikan, penyiksaan dan pembunuhan, menyebabkan dia mempercepat proses penangkapan anggota-anggota ETA sebelum kariernya berakhir. Penyelidikan ETA terhadap Amaia membuktikan bahwa dia adalah penyusup, di mana Anboto langsung memerintahkan untuk dilakukan eksekusi. Castro yang menyadap pembicaraan telepon antar anggota ETA mengetahui hal tersebut dan langsung menyiarkan lagu "Parole Parole" melalui radio yang merupakan indikasi bahwa nyawa Amaia sedang dalam bahaya. Pada saat penyiaran lagu tersebut, Amaia sedang mandi dan tidak mendengarnya. Anggota ETA yang ditugaskan Anboto tiba di kediaman Amaia dan mengatakan kepadanya bahwa ada tugas untuknya. Amaia meminta untuk menghabiskan rokoknya sebelum berangkat. Pada saat dia menghabiskan rokoknya tersebut, terdengar lagu "Parole Parole" di radio. Amaia langsung bertanya kepada anggota ETA tersebut apakah perjalanannya jauh dan minta izin untuk ke toilet sebelum berangkat. Amaia langsung berlari masuk ke dalam hutan menyelamatkan diri.
Setelah itu Guardia Civil melaksanakan operasi Sanctuary dengan menggrebek zulo-zulo ETA dan menangkap hampir semua petinggi ETA. Pada Oktober 2011, ETA mengumumkan gencatan senjata permanen.
Ditulis oleh Agustín Díaz Yanes, premis dari She Walks in Darkness mirip dengan Undercover (2024) karya Arantxa Echevarría, yang selesai syuting beberapa minggu sebelum dimulainya syuting She Walks in Darkness, tetapi, film Echevarría lebih mengikuti biografi Elena Tejada, sementara film Díaz Yanes lebih merupakan gabungan cerita dari beberapa petugas penegak hukum Spanyol.[4] Persetujuan untuk memproduksi film kedua dalam situasi seperti ini tidak lazim di industri film Spanyol.[4] Lokasi syuting meliputi Gipuzkoa dan Iparralde.[5] Film ini diproduksi oleh Basoilarraren Filmak.[6] Paco Femenía bertindak sebagai sinematografer.[7]
Film tersebut ditayangkan di Festival Film Internasional San Sebastián ke-73 pada 24 September 2025.[8][9] Film ini dirilis di bioskop Spanyol pada 3 Oktober 2025 oleh Tripictures, diikuti dengan rilis streaming di Netflix pada 17 Oktober 2025.[10][11][12]
Luis Martínez dari El Mundo memberi rating 4 dari 5 bintang untuk film ini, dengan pertimbangan bahwa, sama seperti Undercover, film ini memiliki cerita yang luar biasa dan sangat konsisten dengan tujuannya.[13]
Harri X. Fernández dari Deia menyesalkan bahwa karakterisasi semua karakter yang digambarkan oleh Díaz Yanes, mulai dari karakter Abaitua, bersifat “satu dimensi”, sambil mencatat bahwa film ini juga tidak seperti film thriller karena “kurang tegang dan ritme yang agak lamban”[14]
Alfonso Rivera dari Cineuropa menggambarkan film ini sebagai "thriller yang mendebarkan tentang penipuan, mata-mata, dan kebohongan", kadang-kadang terasa "seperti film horor, karena begitu besarnya rasa cemas dan ketegangan dalam adegannya".[6]