Sesapur adalah salah satu busana tradisional yang menjadi bagian dari pakaian adat pengantin Lampung, khususnya yang berasal dari suku Pepadun. Sesapur berbentuk baju kurung berwarna putih. Pakaian ini biasanya dikenakan oleh pengantin wanita pada saat upacara pernikahan adat, sebagai simbol kesucian, keanggunan, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini tidak memiliki pranala ke artikel lain. (September 2025) |
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
|
Sesapur adalah salah satu busana tradisional yang menjadi bagian dari pakaian adat pengantin Lampung, khususnya yang berasal dari suku Pepadun.[1] Sesapur berbentuk baju kurung berwarna putih. Pakaian ini biasanya dikenakan oleh pengantin wanita pada saat upacara pernikahan adat, sebagai simbol kesucian, keanggunan, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.
Secara umum, sesapur memiliki ciri khas berupa warna putih polos yang melambangkan kemurnian dan kebersihan hati. Desainnya berupa baju kurung longgar tanpa rangkaian pada sisi-sisinya, sehingga memberikan keleluasaan gerak bagi pemakainya. Ciri lainnya yang menonjol adalah adanya hiasan berupa uang perak yang digantungkan berangkai, yang dikenal dengan sebutan rambai ringgit. Hiasan ini menjadi simbol kemakmuran dan doa untuk kehidupan rumah tangga yang sejahtera.
Selain warna putihnya yang khas, sesapur biasanya dipadukan dengan berbagai kelengkapan busana adat lainnya. Rambai ringgit digantungkan di bagian sisi atau melingkari kain tapis yang dikenakan di bawah baju kurung. Dalam beberapa tradisi, hiasan ini juga melingkari sesapur itu sendiri. Kombinasi antara sesapur, kain tapis, siger (mahkota pengantin), serta aksesoris lainnya menciptakan penampilan yang lengkap sesuai pakem adat Pepadun.
Sesapur memiliki fungsi utama sebagai busana pengantin wanita pada upacara adat pernikahan masyarakat Lampung Pepadun. Pakaian ini dipakai ketika prosesi adat berlangsung, terutama pada momen-momen penting seperti akad nikah dan penyambutan tamu adat. Selain menjadi simbol status pengantin, sesapur juga menunjukkan identitas budaya dan keterikatan keluarga terhadap tradisi yang diwariskan turun-temurun.[1]
Pemilihan warna putih dan hiasan perak dalam sesapur bukan tanpa alasan. Putih dalam budaya Lampung sering dimaknai sebagai lambang kesucian, sedangkan perak atau ringgit yang digantungkan melambangkan harapan akan rezeki yang berlimpah dan kehidupan yang harmonis. Kehadiran sesapur dalam busana adat pengantin menegaskan pentingnya nilai kesucian, penghormatan terhadap leluhur, dan doa-doa baik yang dipanjatkan bagi pasangan yang baru menikah.