Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiSerangan Trunajaya terhadap Pantai Utara
Artikel Wikipedia

Serangan Trunajaya terhadap Pantai Utara

Setelah kemenangannya dalam Pertempuran Gegodog di timur laut Jawa, pemimpin pemberontak Madura, Trunajaya melanjutkan ke arah barat untuk menaklukkan kota-kota Kesultanan Mataram yang tersisa di pantai utara Jawa.

Wikipedia article
Diperbarui 25 Juni 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

  • l
  • b
  • s
Pemberontakan Trunajaya
  • Gegodog
  • Pantai Utara (Karawang ,Cirebon ,Tuban)
  • Surabaya
  • Plered
  • Kediri

Setelah kemenangannya dalam Pertempuran Gegodog (Oktober 1676) di timur laut Jawa, pemimpin pemberontak Madura, Trunajaya melanjutkan ke arah barat untuk menaklukkan kota-kota Kesultanan Mataram yang tersisa di pantai utara Jawa (juga dikenal sebagai Pasisir, kini bagian dari Indonesia).

Serangan Trunajaya terhadap Pantai Utara
Bagian dari Pemberontakan Trunajaya
TanggalOktober 1676 – Januari 1677
LokasiPasisir (Pantai utara Jawa), dari Surabaya ke Cirebon (kini bagian dari Indonesia)
Hasil Kemenangan Trunajaya
Perubahan
wilayah
Hampir seluruh kota-kota pesisir dari Surabaya sampai Cirebon direbut oleh Trunajaya.[a]
Pihak terlibat
Kesultanan Mataram
Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC)
Pasukan Trunajaya
Kesultanan Banten
Tokoh dan pemimpin
Wangsadipa
Ngabehi Martadipa Menyerah[1]
Trunajaya
Karaeng Galesong
Kekuatan
tidak diketahui 9,000[2]

Latar belakang

Informasi lebih lanjut: Pemberontakan Trunajaya dan Pertempuran Gegodog

Pemberontakan Trunajaya mulai pada tahun 1674 ketika pasukan Trunajaya melancarkan serangan terhadap kota-kota di bawah penguasaan Mataram.[3] Tahun 1676, bala tentara pemberontak berjumlah 9.000 menyerbu Jawa Timur dari basis mereka di Madura, dan merebut Surabaya—kota utama di Jawa Timur—tidak lama sesudahnya.[2] Raja Mataram Amangkurat I mengerahkan bala tentara besar untuk melawannya di bawah Putra Mahkota (kelak Amangkurat II), tetapi bala tentara ini dikalahkan secara mutlak pada tanggal 13 September dalam Pertempuran Gegodog di timur laut Jawa.[4] Setelah Gegodog, pantai utara Jawa menjadi terbuka bagi pasukan Trunajaya.[4]

Serangan

Pasukan pemberontak secara cepat melanjutkan ke arah barat setelah kemenangan.[4] Daerah pesisir utara Jawa—juga dikenal sebagai Pasisir—memiliki banyak kota perdagangan, seperti Surabaya (telah direbut oleh Trunajaya sebelum Gegodog), Tuban, Juwana, Pati, Jepara, Semarang, dan Kendal.[5]

Pasukan Trunajaya menemui perlawanan besar pertama mereka di Jepara. Sebagai reaksi terhadap pemberontakan, Amangkurat telah menempatkan seorang personel militer, Ngabehi Wangsadipa sebagai pemimpin di Jepara untuk mengawasi seluruh pantai utara.[3][6] Berikutnya, pertahanan kota telah diperkuat dan meriam tambahan telah ditempatkan.[3] Pasukan pertahanan Jepara juga mendapat bantuan dari pasukan Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) berkekuatan 200 orang, yang diperkuat melalui laut "tepat pada waktunya".[4][6] Mereka tiba di sana pada tanggal 20 November 1676 dan mulai mengepung kota.[7][8] Pertahanan gabungan Mataram dengan VOC, serta timbulnya perselisihan antara elemen orang Madura dan elemen Makassar dari para penyerang, menyebabkan serangan pada akhirnya gagal.[8][4][6]

Setelah gagal merebut Jepara, para kapten Trunajaya—yang pasukannya ditambah dengan para pembelot Jawa yang menginginkan sekali barang rampasan—menyerang kota-kota lain di sepanjang pantai.[4] Serangan menjadi mudah karena banyak kota yang bentengnya telah diruntuhkan semasa atau setelah penaklukan mereka oleh Sultan Agung Mataram sekitar lima dekade sebelumnya.[4] Kota-kota perdagangan ditinggalkan dalam kehancuran dan kapal-kapalnya diambil alih untuk melaksanakan serangan lebih lanjut.[4] Menurut H. J. de Graaf, pasukan Mataram melaksanakan pertahanan yang "berani" di Kudus dan Demak, tetapi mereka akhirnya jatuh.[4] Pada tanggal 5 Januari 1677, Trunajaya menjangkau sampai ke barat di Cirebon dan merebut kota, setelah kota-kota pesisir (kecuali Jepara) telah direbut atau dipaksa untuk mengakui kekuasaan Trunajaya.[4][9] Pasukan VOC di markas besar mereka di Batavia mencegah gerakan maju ke arah barat lebih lanjut.[4]

Referensi

Kutipan

  1. ↑ Hardjasaputra, A. Sobana (2011). Cirebon Dalam 5 Zaman Abad Ke-15 Hingga Pertengahan Abad Ke-2. Bandung : Disbudpar Bandung. hlm. 90–91. ISBN 978-602-98701-3-8. Diakses tanggal 25 Juni 2025. Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)
  2. 1 2 Andaya 1981, hlm. 214–215.
  3. 1 2 3 Pigeaud 1976, hlm. 69.
  4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Pigeaud 1976, hlm. 70.
  5. ↑ Pigeaud 1976, hlm. 59.
  6. 1 2 3 Ricklefs 1993, hlm. 34.
  7. ↑ Kemper 2014, hlm. 143.
  8. 1 2 Andaya 1981, hlm. 215.
  9. ↑ Kemper 2014, hlm. 68.
  1. ↑ kecuali Jepara

Bibliografi

  • Andaya, Leonard Y. (1981). The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century. The Hague: Martinus Nijhoff. doi:10.1163/9789004287228. ISBN 9789004287228.
  • Kemper, Simon (2014-05-08). War-bands on Java (Thesis). Leiden University.
  • Ricklefs, M.C. (1993). War, Culture and Economy in Java, 1677–1726: Asian and European Imperialism in the Early Kartasura Period. Sydney: Asian Studies Association of Australia. ISBN 978-1-86373-380-9.
  • Ricklefs, M.C. (2008-09-11). A History of Modern Indonesia Since C.1200. Palgrave Macmillan. ISBN 978-1-137-05201-8. [pranala nonaktif permanen]
  • Pigeaud, Theodore Gauthier Thomas (1976). Islamic States in Java 1500–1700: Eight Dutch Books and Articles by Dr H.J. de Graaf. The Hague: Martinus Nijhoff. ISBN 90-247-1876-7.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Latar belakang
  2. Serangan
  3. Referensi
  4. Kutipan
  5. Bibliografi

Artikel Terkait

Pemberontakan Trunajaya

pemberontakan abad ke-17 yang gagal di Jawa

Amangkurat I

Susuhunan dari Mataram

Pertempuran Cirebon (1677)

kekuasaan namun memegang kekuasaan atas kepustakaan keraton. Serangan Trunajaya terhadap Pantai Utara Pertempuran Karawang (1677) Kejatuhan Plered Amangkurat

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026