Senegalia ataxacantha, yang sering disebut pohon duri api, merupakan spesies pohon khas Afrika yang dikenal karena polongnya yang berwarna merah terang dan deretan duri melengkung yang menonjol. Kulit akar dari tanaman ini secara tradisional digunakan sebagai afrodisiak.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Senegalia ataxacantha | |
|---|---|
| Musim panas | |
| Musim dingin | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Plantae |
| Klad: | Tracheophyta |
| Klad: | Angiospermae |
| Klad: | Eudikotil |
| Klad: | Rosidae |
| Ordo: | Fabales |
| Famili: | Fabaceae |
| Genus: | Senegalia |
| Spesies: | S. ataxacantha |
| Nama binomial | |
| Senegalia ataxacantha (DC.) Kyal. & Boatwr. | |
| Sinonim | |
Senegalia ataxacantha, yang sering disebut pohon duri api, merupakan spesies pohon khas Afrika yang dikenal karena polongnya yang berwarna merah terang dan deretan duri melengkung yang menonjol. Kulit akar dari tanaman ini secara tradisional digunakan sebagai afrodisiak.[1]
Kebiasaan tumbuh Senegalia ataxacantha pada umumnya berupa semak besar dengan banyak batang yang tampak tidak teratur. Tunas-tunasnya sering saling menyangkut berkat durinya yang melengkung, dan seiring waktu dapat berkembang menjadi pohon berbatang tunggal setinggi 5–10 meter dengan diameter sekitar 300 mm. Tajuknya berbentuk membulat, dipenuhi daun hijau tua yang lebat, terdiri dari anak-anak daun berukuran sangat kecil. Polongnya yang berwarna merah transparan memberikan efek berkilau ketika terkena cahaya dari belakang. Kulit batangnya berwarna abu-abu muda dan cenderung mengelupas, membentuk retakan memanjang dan melintang yang menyingkap bagian dalam berwarna kuning kecokelatan. Duri yang kuat dan bertahan lama banyak terdapat pada ranting muda, tetapi juga muncul pada cabang yang lebih tua. Berbeda dari sebagian besar spesies lain dalam kelompok Acacia, durinya tidak tersusun berpasangan, melainkan tersebar acak sepanjang ranting yang menjadi asal-usul nama spesifiknya, “ataxacantha” yang berarti duri yang tidak tersusun rapi.[2]
Bunganya muncul dalam kelompok berupa paku terminal berwarna putih pucat hingga krem, harum, dan bermekaran pada musim semi hingga musim panas. Kayunya mirip dengan Acacia melanoxylon, sering kali memiliki bagian tengah yang membusuk, namun bila ditemukan dalam kondisi baik, kayunya memperlihatkan pola garis-garis yang rapat dengan warna coklat tua, ungu, krem, dan gubal putih yang sangat kontras. Penampilan spesies ini kadang disalahartikan sebagai Senegalia afra, tetapi dapat dibedakan melalui durinya yang tidak berpasangan, polong yang lebih renggang, serta daun yang cenderung hijau lebih gelap dibandingkan kehijauan-keabu-abuan pada S. afra.[3]
Spesies ini memiliki persebaran luas di Afrika Sub-Sahara, mulai dari Senegal di bagian barat hingga Sudan di timur, serta ke selatan mencakup Namibia, Botswana, Zimbabwe, dan wilayah Transvaal hingga KwaZulu-Natal. Di zona kering, tanaman ini cenderung tumbuh pada daerah dataran rendah yang berada dekat sungai, aliran air, atau lembah, di mana kelembapan tanah sedikit lebih terjaga. Namun, di wilayah dengan curah hujan lebih tinggi, spesies ini menjadi bagian umum dari vegetasi semak, sering kali muncul pada tepian hutan atau zona peralihan antara padang semak dan hutan. Setelah berhasil menetap, tanaman muda menunjukkan ketahanan yang cukup baik terhadap suhu beku, memungkinkan spesies ini bertahan pada rentang kondisi lingkungan yang luas.[4]