Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Sejarah emosi

Sejarah emosi adalah bidang kajian sejarah yang berfokus pada emosi manusia, terutama perbedaannya pada periode sejarah dan kebudayaan dalam bentuk pengalaman dan bentuk ekspresi. Bermula dari abad ke-20 dengan penulis seperti Lucien Febvre dan Peter Gay, rentang pendekatan metodologis yang semakin luas sedang diterapkan..

Wikipedia article
Diperbarui 11 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Sejarah emosi adalah bidang kajian sejarah yang berfokus pada emosi manusia, terutama perbedaannya pada periode sejarah dan kebudayaan dalam bentuk pengalaman dan bentuk ekspresi. Bermula dari abad ke-20 dengan penulis seperti Lucien Febvre dan Peter Gay, rentang pendekatan metodologis yang semakin luas sedang diterapkan..

Cakupan

Dalam dua dekade terakhir, sejarah emosi, sebagai turunan dan kebangkitan dari sejarah pengalaman, telah menjadi bidang kajian sejarah yang semakin produktif dan merangsang secara intelektual. Meskipun terdapat pembuka jalan sejarah emosi - terutama Histoire des Sensibilités karya Lucien Febvre[1] atau psychohistory-nya Peter Gay[2] - kajian ini secara metodologis mengerucut dengan pendekatan historiografis yang lebih baru seperti sejarah konseptual, konstruktivisme historis, dan sejarah tubuh.[3]

Serupa dengan sosiologi emosi atau antropologi emosi, sejarah emosi didasarkan pada asumsi bahwa perasaan dan cara mengekspresikannya bukanlah sesuatu yang diperoleh secara alamiah, melainkan memerlukan proses pembelajaran. Kebudayaan dan sejarah terus berubah, demikian pula perasaan dan ekspresi. Keterkaitan sosial dan daya pengaruh emosi bersifat berubah-ubah secara historis dan kultural. Oleh karena itu, dalam pandangan banyak sejarawan, emosi merupakan kategori sejarah yang sama fundamentalnya dalam sejarah, seperti kelas, ras, atau gender.

Jurnalis Gal Beckerman berpendapat bahwa sejarawan seperti Rob Boddice menjadi "tertarik pada konsep yang lebih dalam dan luas yang mencakup segala hal tentang cara realitas dipersepsikan, dengan menggabungkan emosi dan indra serta banyak hal lain ke dalam keterlibatan dengan ‘pengalaman’.”[4] Dalam hal ini, dua dekade penelitian tentang sejarah emosi telah bersinggungan dengan kajian paralel tentang sejarah indra, kekerasan, seksualitas, kerja fisik, dan lingkungan, menghidupkan kembali penelitian abad ke-20 tentang sejarah pengalaman..[5] Kebangkitan ini juga telah menimbulkan kekhawatiran yang sebelumnya diungkapkan oleh sejumlah sejarawan, seperti perdebatan historiografi yang dipicu oleh karya Paul Cohen, History in Three Keys (1997), mengenai memisahkan dan menyandarkan studi tertenu pada kategori analisis tunggal. Kategori analisis tunggal dalam sejarah pengalaman dapat menjadi konsep yang secara esensial diperdebatkan.[6]

Metodologi

Sejumlah pendekatan metodologis yang berbeda telah didiskusikan dalam beberapa tahun tetakhir. Beberapa sejarawan emosi membatasi kajian mereka pada analisis sejarah norma dan aturan yang berkaitan dengan emosi di bawah bidang studi yang disebut emotionology.[7] Namun, khususnya dalam beberapa waktu terakhir, spektrum metodologis dalam sejarah emosi telah meluas hingga mencakup pendekatan performatif, konstruktivis, dan teori praktik. Saat ini, konsep-konsep metodologis yang bersifat mendasar meliputi tindak-ujar emosional (emotives),[8]habitus emosional, dan praktik emosional.[9]

Selain itu, terdapat sejumlah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perbedaan cakupan dan daya ikat budaya perasaan, seperti komunitas emosional,[10] rezim emosional,[11] dan gaya emotional.[12] Dalam perkembangan yang lebih mutakhir, sejarah emosi juga terlibat dengan berbagai pergeseran sosial dan kultural terbaru dalam ilmu saraf, dengan menempatkan sejarah emosi sebagai bagian dari suatu historisisme biokultural yang lebih luas.[13]

Meningkatnya ketersediaan bahan sumber sejarah yang telah didigitalkan, bersama dengan perkembangan teknologi dan metodologi dalam penambangan sentimen (sentiment mining), turut memengaruhi perkembangan sejarah emosi. Sejak dekade 2010-an, berbagai sejarawan telah menyesuaikan dan mengembangkan metode menggunakan bantuan komputer untuk melacak perubahan historis dalam ekspresi emosi di dalam kumpulan besar teks sejarah yang telah didigitalkan.[14][15]

Pendekatan sejarah emosi

Penelitian modern mengenai sejarah emosi telah mengembangkan berbagai kerangka kerja untuk mengkaji bagaimana perasaan diekspresikan, diatur, dan dipahami di berbagai budaya serta periode waktu. Para peneliti kini menggunakan sejumlah konsep untuk menjelaskan bagaimana emosi terstruktur, termasuk komunitas emosional (kelompok dengan norma perasaan yang sama), rezim emosional (norma emosional dominan yang ditegakkan oleh institusi), gaya emosional (pola khas perasaan dan ekspresi dalam konteks sejarah tertentu), dan praktik emosional (perilaku keseharian yang melibatkan tubuh, melalui mana emosi dihasilkan dan diberi makna).[16]

Para sarjana di bidang ini juga memperdebatkan sejumlah topik dan pendekatan, seperti perbedaan pandangan antara universalisme dan konstruktivisme dalam memahami emosi, apakah emosi dasar bersifat universal bagi manusia, atau apakah baik kategori maupun pengalaman emosi dibentuk secara mendalam oleh budaya, bahasa, dan periode sejarah. Perdebatan lain berkaitan dengan sejauh mana sejarawan perlu memberi perhatian pada “emosi yang dinamai” (kata-kata emosi) dibandingkan dengan pengalaman afektif yang tidak diberi nama, yang mungkin tidak tertangkap oleh bahasa, tetapi tampak misalnya melalui bahasa tubuh.[16]

William Reddy: emotives dan rezim emosional

Karya William M. Reddy The Navigation of Feeling memperkenalkan suatu kerangka teoretis yang khas untuk penulisan sejarah emosi dengan memanfaatkan psikologi kognitif dan antropologi guna mengembangkan teori yang memandang emosi sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari pikiran dan agensi, bukan sebagai konstruksi budaya semata. Bertumpu pada konsep emotives yang dimodelkan dari gagasan ujaran performatif J. L. Austin, Reddy berpendapat bahwa emotives secara aktif membentuk dan mengarahkan kehidupan emosional, alih-alih sekadar menggambarkannya, serta bahwa masyarakat membangun “rezim emosional” yang bersifat kontingen secara historis, yang dapat lebih atau kurang ketat dalam batasan-batasan yang mereka tetapkan. Ia mengaitkan rezim-rezim tersebut dengan struktur politik dan sosial, serta mengajukan kebebasan emosional sebagai kriteria untuk menilai beban penderitaan emosional yang dialami individu dalam berbagai konteks sejarah.[17]

Bibliografi

Pengantar

  • Rob Boddice, The History of Emotions, Manchester: Manchester University Press, 2018.
  • Jan Plamper, Geschichte und Gefühl. Grundlagen der Emotionsgeschichte, Munich: Siedler, 2012.
  • Barbara Rosenwein and Riccardo Cristiani, What is the History of Emotions? Cambridge: Polity, 2018.
  • Richard Firth-Godbehere, A Human History of Emotions, London: 4th Estate, 2022.

Literatur

  • Rob Boddice, The History of Emotions: Past, Present, Future, in: Revista de Estudios Sociales, 62 (2017), pp. 10–15.
  • Rob Boddice, The History of Emotions, in: New Directions in Social and Cultural History, ed. Sasha Handley, Rohan McWilliam, Lucy Noakes, London: Bloomsbury, 2018.
  • Susan J. Matt, Current Emotion Research in History: Or, Doing History from the Inside Out, in: Emotion Review 3, 1 (2011), p. 117–124.
  • Bettina Hitzer, Emotionsgeschichte - ein Anfang mit Folgen. Forschungsbericht.[18]
  • Anna Wierzbicka, The “History of Emotions” and the Future of Emotion Research, in: Emotion Review 2, 3 (2010), p. 269-273.
  • Barbara Rosenwein, Problems and Methods in the History of Emotions.[19]
  • William M. Reddy, Historical Research on the Self and Emotions, in : Emotion Review 1, 4 (2009), p. 302-315.
  • Florian Weber, Von der klassischen Affektenlehre zur Neurowissenschaft und zurück. Wege der Emotionsforschung in den Geistes- und Sozialwissenschaften, in: Neue Politische Literatur 53 (2008), p. 21-42.
  • Daniela Saxer, Mit Gefühl handeln. Ansätze der Emotionsgeschichte.[20]
  • Alexandra Przyrembel, Sehnsucht nach Gefühlen. Zur Konjunktur der Emotionen in der Geschichtswissenschaft, in: L’homme 16 (2005), p. 116-124.
  • Rüdiger Schnell, Historische Emotionsforschung. Eine mediävistische Standortbestimmung, in: Frühmittelalterliche Studien 38 (2004), p. 173-276.

Diskusi metodologis

  • AHR Conversation: The Historical Study of Emotions.[21]
  • Frank Biess, Discussion Forum „History of Emotions“ (with Alon Confino, Ute Frevert, Uffa Jensen, Lyndal Roper, Daniela Saxer), in: German History 28 (2010), H. 1, p. 67-80.
  • Maren Lorenz: Tiefe Wunden. Gewalterfahrung in den Kriegen der Frühen Neuzeit, in: Ulrich Bielefeld/Heinz Bude/Bernd Greiner (Hg.): Gesellschaft - Gewalt – Vertrauen. Jan Philipp Reemtsma zum 60. Geburtstag, Hamburger Edition: Hamburg 2012, S. 332–354.
  • Jan Plamper, The History of Emotions: An Interview with William Reddy, Barbara Rosenwein, and Peter Stearns, in: History and Theory 49, no. 2 (2010): 237–265.

Organisasi dan pusat kajian

  • ACCESS The Amsterdam Centre for Cross-disciplinary Emotion and Sensory Studies[22]
  • ARC Centre of Excellence for the History of Emotions (1100-1800)[23]
  • Center for the History of Emotions, Max Planck-Institute for Human Development, Berlin[24]
  • NACHE The North American Chapter on the History of Emotion[25]
  • Queen Mary Centre for the History of Emotions, London[26]
  • Les Émotions au Moyen Age (EMMA)[27]
  • CHEP: An International Network for the Cultural History of Emotions in Premodernity[28]
  • The Emotions Project: The Social and Cultural Construction of Emotions: The Greek Paradigm, Oxford[29]
  • Historia cultural del concimiento. Discursos, prácticas, representaciones, Centro de Ciencias humanas y sociales, Madrid[30]
  • Cluster of Excellence "Languages of Emotion", FU Berlin[31]

Referensi

  1. ↑ Lucien Febvre, La sensibilité et l’histoire. Comment reconstituer la vie affective d’autrefois?, in: Annales d’histoire sociale 3 (1941), p. 5-20.
  2. ↑ See Peter Gay's main work: The Bourgeois Experience. Victoria to Freud, 5 volumes, New York 1984-1998.
  3. ↑ On the precursors of the history of the emotions see: Jan Plamper, Geschichte und Gefühl. Grundlagen der Emotionsgeschichte, München: Siedler 2012, p. 53-72.
  4. ↑ Beckerman, Gal (5 December 2025). "What if Our Ancestors Didn't Feel Anything Like We Do?". The Atlantic (dalam bahasa Inggris).
  5. ↑ Middleton, Stuart (April 2016). "THE CONCEPT OF "EXPERIENCE" AND THE MAKING OF THE ENGLISH WORKING CLASS, 1924–1963". Modern Intellectual History (dalam bahasa Inggris). 13 (1): 179–208. doi:10.1017/S1479244314000596. ISSN 1479-2443.
  6. ↑ Cohen, Paul A. (1997). History in Three Keys: The Boxers as Event, Experience, and Myth (dalam bahasa Inggris). Columbia University Press. ISBN 978-0-231-10651-1.
  7. ↑ The term emotionology can be traced back to: Peter N. Stearns / Carol Z. Stearns, Emotionology. Clarifying the History of Emotions and Emotional Standards, in: The American Historical Review 90, 4 (1985), p. 813-830 and Rom Harré (ed.), The Social Construction of Emotion, Oxford 1986.
  8. ↑ William M. Reddy, Against Constructionism. The Historical Ethnography of Emotions, in: Current Anthropology 38,3 (1997), p. 327-351.
  9. ↑ See: Monique Scheer, Are Emotions a Kind of Practice (and Is That What Makes Them Have a History)? A Bourdieuan Approach to Understanding Emotion, in: History and Theory 51, no. 2 (May 2012), p. 193-220.
  10. ↑ Barbara H. Rosenwein, Worrying about Emotions in History, in: The American Historical Review 107, 3 (2002), p. 821-845.
  11. ↑ William M. Reddy, The Navigation of Feeling, Cambridge 2001.
  12. ↑ For a discussion on different concepts, see Benno Gammerl, Emotional Styles - Concepts and Challenges, in: Rethinking History 16, 2 (2012), p. 161-175.
  13. ↑ Rob Boddice, The History of Emotions, Manchester: Manchester University Press, 2018.
  14. ↑ Leemans, I; Maks, E; van der Zwaan, J; Kuijpers, H; Steenbergh, K (2017). "Mining Embodied Emotions: A Comparative Analysis of Bodily Emotion Expressions in Dutch Theatre Texts 1600-1800'". Digital Humanities Quarterly. 11 (4). Diakses tanggal August 13, 2025.
  15. ↑ van Lange, Milan (2023). Emotional Imprints of War: A Computer-Assisted Analysis of Emotions in Dutch Parliamentary Debates, 1945-1989 (Edisi 1). Bielefeld: Bielefeld University Press and Transcript. hlm. 330. ISBN 978-3-8394-6485-4.
  16. 1 2 Barclay, Katie (2021). "State of the Field: The History of Emotions". History (dalam bahasa Inggris). 106 (371): 456–466. doi:10.1111/1468-229X.13171. ISSN 1468-229X.
  17. ↑ Nye, Robert A. (December 2003). "Review: [Untitled]". The Journal of Modern History. 75 (4): 920–923. doi:10.1086/383359. JSTOR 10.1086/383359. Diakses tanggal 2025-12-02.
  18. ↑ "Emotionsgeschicte - ein Anfang mit Folgen" (PDF). Hsozkult.geschite.hu-berlin.de. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 31 January 2016. Diakses tanggal 22 February 2015.
  19. ↑ Barbara H. Rosenwein. "Problems and Methods in the history of Emotions" (PDF). Passionsincontext.de. Diakses tanggal 22 February 2015.
  20. ↑ "SEALS - Server für digitalisierte Zeitschriften". retro.seals.ch. Diarsipkan dari asli tanggal 7 April 2013. Diakses tanggal 2 February 2022.
  21. ↑ Rosenwein, Barbara H.; Reddy, William M.; Plamper, Jan; Livingston, Julie; Lean, Eugenia; Eustace, Nicole (2012). "TAHR Conversions : The Historical Study of Emotions". The American Historical Review. 117 (5): 1487–1531. doi:10.1093/ahr/117.5.1487.
  22. ↑ "ACCESS | Amsterdam Centre for Cross-Disciplinary Emotions and Senses Studies". Access-emotionsandsenses.nl. Diakses tanggal 2015-02-22.
  23. ↑ "Home | ARC Centre of Excellence for the History of Emotion". Historyofemotions.org.au. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-09-20. Diakses tanggal 2015-02-22.
  24. ↑ "History of Emotions | Max Planck Institute for Human Development". Mpib-berlin.mpg.de. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-05-05. Diakses tanggal 2015-02-22.
  25. ↑ "The North American Chapter on the History of Emotion". nachemotion.com. Diakses tanggal 2018-10-01.
  26. ↑ "The Centre for the History of the Emotions, Queen Mary, University of London". Qmul.ac.uk. Diakses tanggal 2015-02-22.
  27. ↑ "Les émotions au Moyen Âge, carnet d'EMMA". Emma.hypotheses.org. Diakses tanggal 2015-02-22.
  28. ↑ "CHEP : An International Network for the Cultural History of Emotions in Premodernity". Diarsipkan dari asli tanggal November 5, 2012. Diakses tanggal June 4, 2015.
  29. ↑ "Welcome - School of Archaeology - University of Oxford". Emotions.classics.ox.ac.uk. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-02-22. Diakses tanggal 2015-02-22.
  30. ↑ "Historia cultural del conocimiento. Discursos, prácticas, representaciones | Centro de Ciencias Humanas y Sociales". Cchs.csic.es. Diarsipkan dari asli tanggal 2010-06-07. Diakses tanggal 2015-02-22.
  31. ↑ "Languages of Emotion: Startseite". Languages-of-emotion.de. 2011-05-28. Diakses tanggal 2015-02-22.

Pranala luar

  • History of Emotions Blog, Queen Mary Centre for the History of Emotions
  • CHE Histories of Emotions Blog, ARC Centre of Excellence for the History of Emotions (Europe 1100-1800)
  • Sociology of Emotions
  • History of Emotions data base run by the ARC Centre of Excellence for the History of Emotions (Europe 1100-1800)
  • "History of Emotions - Insights into Research" website with short articles on methods of the History of Emotions, run by the Center for the History of Emotions, Max Planck Institute for Human Development, Berlin (Germany)
Basis data pengawasan otoritas: Nasional Sunting di Wikidata
  • Latvia

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Cakupan
  2. Metodologi
  3. Pendekatan sejarah emosi
  4. William Reddy: emotives dan rezim emosional
  5. Bibliografi
  6. Pengantar
  7. Literatur
  8. Diskusi metodologis
  9. Organisasi dan pusat kajian
  10. Referensi
  11. Pranala luar

Artikel Terkait

Kecerdasan emosional

Kecerdasan Emosional merupakan kemampuan yang diperlukan dalam hidup

Kegilaan

pola mental atau perilaku yang tidak normal

Tes proyektif

digunakan untuk mengetahui konflik yang tidak disadari, id-ego-super ego, emosi terdalam. Perkembangan tes proyektif dimulai dengan terbitnya buku Sigmund

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026