Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Sejarah Bhutan

Sejarah awal Bhutan diliputi dengan mitologi dan masih belum jelas. Beberapa bangunan memberikan bukti bahwa Bhutan telah ada sejak tahun 2000 SM. Menurut legenda, Bhutan diperintah atau dikendalikan oleh seorang raja Cooch-Behar, Sangaldip, sekitar abad ke-7 SM, tetapi tidak banyak yang diketahui sebelum pengenalan Buddhisme Tibet pada abad ke-9, ketika gejolak di Tibet memaksa banyak biksu melarikan diri ke Bhutan. Pada abad ke-12, aliran Drukpa Kagyupa didirikan dan tetap menjadi bentuk dominan Buddhisme di Bhutan dewasa ini. Sejarah politik negara itu terkait erat dengan sejarah dan hubungannya di antara berbagai sekolah monastik dan biara-biara.

Wikipedia article
Diperbarui 14 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Sejarah Bhutan
Bagian dari seri tentang
Budaya Bhutan
Sejarah
Bahasa
Agama
Simbol
  • Bendera
  • Lambang
    • l
    • b
    • s
    Pemandangan Tashichoedzong, Thimphu. Benteng dari abad ke-17-biara di pinggiran utara kota, telah menjadi pusat pemerintahan Bhutan sejak tahun 1952.
    Sejarah Asia Selatan

    Sejarah India
    Zaman Batu70.000–3300 SM
    · Kebudayaan Mehrgarh7000–3300 SM
    Peradaban lembah sungai Indus3300–1700 SM
    Kebudayaan Mohenjo-daro2600 SM
    Kebudayaan Harappa1700–1300 SM
    Zaman Weda1500–500 SM
    · Zaman besi1200–500 SM
    · Kerajaan dalam Weda1200–700 SM
    Maha Janapadas700–300 SM
    Kerajaan Magadha1700 SM–550 M
    · Dinasti Nanda400–323 SM
    · Dinasti Maurya321–184 SM
    Kerajaan tengah230 SM–1279 M
    · Kerajaan Satawahana230 SM–199 M
    · Kekaisaran Kushan30–375
    · Kemaharajaan Gupta240–550
    · Dinasti Pala750–1174
    . Kekaisaran Pratihara750an–1036
    · Kerajaan Chola848–1279
    Kesultanan Islam1206–1596
    · Kesultanan Delhi1206–1526
    · Dekhan1490–1596
    Kerajaan Hoysala1040–1346
    Kerajaan Kakatiya1083–1323
    Kemaharajaan Wijayanagara1336–1646
    Kesultanan Mughal1526–1857
    Kekaisaran Maratha1674–1818
    Masa kolonial1757–1947
    Zaman moderntahun 1947 ke atas
    Sejarah India Selatan
    Afganistan · Bangladesh · Bhutan · India
    Maladewa · Nepal · Pakistan · Sri Lanka
    Sejarah daerah
    Assam · Bengal · Wilayah Pakistan
    Punjab · Sindh · India Selatan · Tibet
    Sejarah istimewa
    Dinasti di India · Ekonomi · Indologi · Bahasa · Sastra
    Maritim · Militer · Iptek
    This box:
    • lihat
    • bicara
    • sunting

    Sejarah awal Bhutan diliputi dengan mitologi dan masih belum jelas. Beberapa bangunan memberikan bukti bahwa Bhutan telah ada sejak tahun 2000 SM. Menurut legenda, Bhutan diperintah atau dikendalikan oleh seorang raja Cooch-Behar, Sangaldip, sekitar abad ke-7 SM,[1] tetapi tidak banyak yang diketahui sebelum pengenalan Buddhisme Tibet pada abad ke-9, ketika gejolak di Tibet memaksa banyak biksu melarikan diri ke Bhutan. Pada abad ke-12, aliran Drukpa Kagyupa didirikan dan tetap menjadi bentuk dominan Buddhisme di Bhutan dewasa ini. Sejarah politik negara itu terkait erat dengan sejarah dan hubungannya di antara berbagai sekolah monastik dan biara-biara.[2]

    Bhutan merupakan salah satu dari segelintir negara yang merdeka sepanjang sejarah mereka, tidak pernah ditaklukkan, diduduki, atau diperintah oleh kekuatan luar (terlepas dari status sebagai negara pembayar upeti sesekali). Meskipun terdapat spekulasi bahwa Bhutan pernah di bawah Kerajaan Kamarupa atau Kekaisaran Tibet pada abad ke-7 sampai abad ke-9, tetapi kurangnya bukti yang kuat. Dari catatan waktu sejarah jelas bahwa Bhutan telah terus-menerus dan berhasil mempertahankan kedaulatannya.[3]

    Konsolidasi Bhutan terjadi pada tahun 1616 ketika Ngawanag Namgyal, seorang lama dari Tibet barat yang dikenal sebagai Zhabdrung Rinpoche, mengalahkan tiga invasi Tibet, menundukkan sekolah agama saingan, membuat kode hukum Tsa Yig, sebuah sistem hukum yang rumit dan komprehensif, dan menobatkan dirinya sebagai penguasa atas sistem kebiaraan dan pemimpin sipil. Setelah kematiannya, pertikaian dan perang saudara mengikis kekuasan Zhabdrung selama 200 tahun ke depan. Pada tahun 1885 Ugyen Wangchuck berhasil mengkonsolidasikan kekuasaan, dan mulai membina hubungan yang lebih erat dengan Inggris di India.[2]

    Pada tahun 1907, Ugyen Wangchuck terpilih sebagai penguasa pewaris Bhutan, dinobatkan pada tanggal 17 Desember 1907, dan dilantik sebagai kepala negara, bergelar "Druk Gyalpo" (Raja Naga). Pada tahun 1910, Raja Ugyen dan Inggris menandatangani Perjanjian Punakha yang menetapkan bahwa Inggris India tidak akan ikut campur dalam urusan internal Bhutan jika negara tersebut menerima saran eksternal dalam hubungan luar negerinya. Ketika Ugyen Wangchuck meninggal pada tahun 1926, putranya Jigme Wangchuck menjadi penguasa, dan ketika India memperoleh kemerdekaan pada tahun 1947, Pemerintah India baru mengakui Bhutan sebagai negara yang merdeka. Pada tahun 1949 India dan Bhutan menandatangani Perjanjian Perdamaian dan Persahabatan, yang menetapkan bahwa India tidak akan ikut campur dalam urusan internal Bhutan, tapi akan membimbing kebijakan luar negerinya. Digantikan pada tahun 1952 oleh putranya Jigme Dorji Wangchuck, Bhutan mulai perlahan-lahan muncul dari isolasinya dan memulai program pembangunan berencana. Majelis Nasional Bhutan, Tentara Kerajaan Bhutan, dan Pengadilan Kerajaan dibentuk, bersamaan dengan kode aturan hukum yang baru.[2] Bhutan menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1971.

    Referensi

    1. ↑ Fraser, Neil; Bhattacharya, Anima; Bhattacharya, Bimalendu (2001). Geography of a Himalayan Kingdom: Bhutan. Concept Publishing. hlm. 1. ISBN 978-8170228875.
    2. 1 2 3 "Background Note: Bhutan". U.S. Department of State (March 2008).
    3. ↑ Rose, Leo E. (1977). The Politics of Bhutan. Ithaca: Cornell University Press. hlm. 24. ISBN 0-8014-0909-8. [T]here can be no doubt that since at least the tenth century no external power has controlled Bhutan, although there have been periods when various of its neighbors have been able to exert a strong cultural and/or political influence there.

    Pranala luar

    • Formation of the State of Bhutan in the 17th Century and its Tibetan Antecedents Diarsipkan 2008-10-31 di Wayback Machine.
    • Profile of Bhutanese Kings Diarsipkan 2002-08-11 di Wayback Machine.
    • l
    • b
    • s
    Sejarah Asia menurut negara
    Negara
    berdaulat
    Asia Tenggara
    • Brunei
    • Kamboja
    • Indonesia
    • Laos
    • Malaysia
    • Myanmar
    • Filipina
    • Singapura
    • Thailand
    • Timor Leste2
    • Vietnam
    Asia Timur
    • Jepang
    • Korea Selatan
    • Korea Utara
    • Mongolia
    • Tiongkok
    • Republik Tiongkok
    Asia Selatan
    • Afganistan
    • Bangladesh
    • Bhutan
    • India
    • Maladewa
    • Nepal
    • Pakistan
    • Sri Lanka
    Asia Tengah
    • Kazakhstan3
    • Kirgizstan
    • Tajikistan
    • Turkmenistan
    • Uzbekistan
    Asia Barat
    • Armenia1
    • Azerbaijan1
    • Bahrain
    • Siprus1
    • Georgia1
    • Irak
    • Iran
    • Israel
    • Yordania
    • Kuwait
    • Lebanon
    • Oman
    • Palestina
    • Qatar
    • Arab Saudi
    • Suriah
    • Turki3
    • Uni Emirat Arab
    • Yaman
    Lintas benua
    • Mesir3
    • Rusia3
    Negara dengan
    pengakuan terbatas
    • Abkhazia1
    • Republik Artsakh1
    • Ossetia Selatan1
    • Siprus Utara1
    • Republik Tiongkok
    Dependensi dan
    wilayah lain
    • Kepulauan Cocos (Keeling)
    • Hong Kong
    • Makau
    • Pulau Natal
    • Wilayah Samudra Hindia Britania
    1 Terkadang dimasukkan ke Eropa, tergantung definisi perbatasan. 2 Terkadang dimasukkan ke Oseania. 3 Negara lintas benua.
    Basis data pengawasan otoritas: Nasional Sunting di Wikidata
    • Israel

    Bagikan artikel ini

    Share:

    Daftar Isi

    1. Referensi
    2. Pranala luar

    Artikel Terkait

    Bhutan

    negara di Asia Selatan

    Perpustakaan Nasional Bhutan

    perpustakaan di Bhutan

    Daftar Raja Bhutan

    artikel daftar Wikimedia

    Jakarta Aktual
    Jakarta Aktual© 2026