Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Sayembara membunuh 100 orang dengan pedang

Templat:Contains Japanese text Kontes untuk membunuh 100 orang menggunakan pedang adalah sebuah catatan masa perang dari sebuah kontes antara dua perwira Angkatan Darat Jepang pada masa invasi Jepang ke China dalam rangka membunuh 100 orang pertama dengan pedang. Dua perwira tersebut kemudian dihukum mati atas dakwaan kejahatan perang untuk keterlibatan mereka. Sejak itu, kebenaran sejarah dari peristiwa tersebut dipertanyakan, biasanya oleh nasionalis Jepang atau sejarawan revisionis yang memandang ke-tidak valid-an historiografi Pembantaian Nanking dan oleh keturunan-keturunan dari dua perwira tersebut.

Wikipedia article
Diperbarui 24 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini adalah bagian dari sebuah serial tentang
Pembantaian Nanking
  • Pembantaian Nanking (1937)
  • Zona Keamanan Nanking
  • Komite Internasional untuk Zona Keamanan Nanking
Kejahatan perang Jepang
  • Kontes untuk membunuh 100 orang menggunakan pedang
  • Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh
  • Pengadilan Kejahatan Perang Nanjing
Historiografi Pembantaian Nanking
  • Jumlah korban tewas pada Pembantaian Nanking
  • Penyangkalan Pembantaian Nanking
  • Hari Peringatan Pembantaian Nanjing
  • Balai Peringatan Pembantaian Nanjing
  • Kontroversi buku teks sejarah Jepang
Film
  • The Battle of China
  • Black Sun: The Nanking Massacre
  • City of Life and Death
  • Don't Cry, Nanking
  • The Flowers of War
  • John Rabe
  • Nanking
  • Tokyo Trial
  • The Truth about Nanjing
Buku
  • American Goddess at the Rape of Nanking
  • The Good Man of Nanking
  • The Rape of Nanking
  • Tokyo
  • l
  • b
  • s

Templat:Contains Japanese text Kontes untuk membunuh 100 orang menggunakan pedang (百人斬り競争code: ja is deprecated , hyakunin-giri kyōsō) adalah sebuah catatan masa perang dari sebuah kontes antara dua perwira Angkatan Darat Jepang pada masa invasi Jepang ke China dalam rangka membunuh 100 orang pertama dengan pedang. Dua perwira tersebut kemudian dihukum mati atas dakwaan kejahatan perang untuk keterlibatan mereka.[1] Sejak itu, kebenaran sejarah dari peristiwa tersebut dipertanyakan, biasanya oleh nasionalis Jepang atau sejarawan revisionis yang memandang ke-tidak valid-an historiografi Pembantaian Nanking dan oleh keturunan-keturunan dari dua perwira tersebut.[2]

Kabar tersebut mulanya datang dari serangkaian artikel surat kabar berbahasa Jepang pada masa perang, yang merayakan pembunuhan Tionghoa yang "heroik" oleh dua perwira Jepang, yang mengadakan sebuah kompetisi untuk melihat siapa yang akan membunuh paling banyak yang pertama.[3] Kabar tersebut kembali mencuat pada 1970an dan menimbulkan kontroversi yang lebih besar terhadap kejahatan perang Jepang di China, dalam hal ini Pembantaian Nanking.

Catatan masa perang

Pada 1937, Osaka Mainichi Shimbun dan surat kabar saudarinya Tokyo Nichi Nichi Shimbun menyoroti sebuah kontes antara dua perwira Jepang, Toshiaki Mukai (向井敏明code: ja is deprecated ) dan Tsuyoshi Noda (野田毅code: ja is deprecated ), dimana dua pria tersebut dideskripsikan bersaing satu sama lain untuk menentukan manakah yang pertama kali membunuh 100 orang menggunakan pedang. Kompetisi tersebut terjadi saat perjalanan menuju Nanking, tepat sebelum terjadinya Pembantaian Nanking, dan disoroti dalam empat artikel, dari 30 November sampai 13 Desember 1937, dua artikel terakhir diterjemahkan dalam Japan Advertiser.

Artikel 13 Desember 1937 dalam serial Kontes membunuh 100 orang menggunakan pedang yang dimuat oleh Tokyo Nichi Nichi Shimbun. Mukai (kiri) dan Noda (kanan)

Referensi

Kutipan

  1. ↑ Takashi Yoshida. The making of the "Rape of Nanking". 2006, page 64
  2. ↑ Fogel, Joshua A. The Nanjing Massacre in History and Historiography. 2000, page 82
  3. ↑ Honda 1999, hlm. 131–132

Daftar pustaka

  • Kingston, Jeff (August 10, 2008), "War and reconciliation: a tale of two countries", Japan Times, hlm. 9.
  • Powell, John B. (1945), My Twenty-five Years in China, New York: Macmillan, hlm. 305–308.
  • Wakabayashi, Bob Tadashi (Summer 2000), "The Nanking 100-Man Killing Contest Debate: War Guilt Amid Fabricated Illusions, 1971–75", Journal of Japanese Studies, 26 (2), The Society for Japanese Studies: 307–340, doi:10.2307/133271, ISSN 0095-6848, JSTOR 133271
  • Honda, Katsuichi (1999) [Main text from Nankin e no Michi (The Road to Nanjing), 1987.], Gibney, Frank (ed.), The Nanjing Massacre: A Japanese Journalist Confronts Japan's National Shame, M. E. Sharpe, ISBN 0-7656-0335-7, diakses tanggal 24 February 2010
  • Kajimoto, Masato (August 2000), "Salinan arsip", The Nanjing Massacre, Graduate School of Journalism of the University of Missouri-Columbia, 172, diarsipkan dari asli tanggal 2015-07-12, diakses tanggal 24 February 2010, However, as many historians point out today, the stories of hyped heroism, in which those soldiers courageously killed a number of enemies in hand-to-hand combat with swords, couldn't be taken at face value.
  • Heneroty, Kate (23 August 2005), "Japanese court rules newspaper didn't fabricate 1937 Chinese killing game", Paper Chase, University of Pittsburgh: JURIST Legal News and Research Services, diakses tanggal 24 February 2010

Bacaan tambahan

Dalam bahasa Inggris
  • Malenfant, Rene (2007), Hyakunin-giri Kyōsō (English translation of the newspaper articles on the contest)
Dalam bahasa Jepang
  • Full text of all articles pertaining to the event
  • 百人斬り訴訟で東京地裁は遺族の敗訴だが朝日新聞記事と東京日日新聞記事は違う点を無視の報道
  • Decision of the Tokyo District Court (full text) Diarsipkan 2007-01-15 di Wayback Machine.
  • Mochizuki's Memories "Watashi no Shina-jihen" (私の支那事変) Diarsipkan 2005-12-21 di Wayback Machine., one of the exhibits in evidence at the Tokyo District Court, which revealed Noda and Mukai beheaded Chinese farmers with their swords during the killing contest.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Catatan masa perang
  2. Referensi
  3. Kutipan
  4. Daftar pustaka
  5. Bacaan tambahan

Artikel Terkait

Pembantaian Nanjing

Pembunuhan dan pemerkosaan massal yang dilakukan oleh Tentara Jepang

Mahabharata

karya sastra India kuno

Burisrawa

Satyaki yang sudah sangat letih dengan mudah dihajar Burisrawa sampai pingsan. Tangan Burisrawa yang memegang pedang siap membunuh Satyaki. Arjuna yang telah

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026