Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Sam Pek Eng Tay

Sam Pek Eng Tay adalah sebuah film tahun 1931 yang disutradarai dan diproduseri The Teng Chun dan dirilis di Hindia Belanda. Film ini diadaptasi dari cerita Sampek Engtay yang mengisahkan tragedi cinta antara seorang gadis kaya dan laki-laki jelata. Film ini sukses di pasaran dan menginspirasi The Teng Chun untuk menyutradarai beberapa film lagi yang diadaptasi dari cerita rakyat Tionghoa.

Wikipedia article
Diperbarui 21 Desember 2024

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Sam Pek Eng Tay
SutradaraThe Teng Chun
ProduserThe Teng Chun
Ditulis olehThe Teng Chun
SinematograferThe Teng Chun
Perusahaan
produksi
Cino Motion Pictures
Tanggal rilis
  • 1931 (1931) (Hindia Belanda)
NegaraHindia Belanda

Sam Pek Eng Tay adalah sebuah film tahun 1931 yang disutradarai dan diproduseri The Teng Chun dan dirilis di Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Film ini diadaptasi dari cerita Sampek Engtay yang mengisahkan tragedi cinta antara seorang gadis kaya dan laki-laki jelata. Film ini sukses di pasaran dan menginspirasi The Teng Chun untuk menyutradarai beberapa film lagi yang diadaptasi dari cerita rakyat Tionghoa.

Alur

Giok Eng Tay, putri keluarga kaya, jatuh cinta dengan Nio Sam Pek, putra keluarga jelata. Untuk menjamin keberlangsungan keluarganya, ayah Eng Tay menuntut agar putrinya menikahi Ma Bun Cai, putra seorang bupati. Agar keinginannya terpenuhi, Eng Tay dikunci di kamarnya, sementara ayahnya mengutus orang untuk menyerang Sam Pek yang kemudian meninggal akibat luka-lukanya. Setelah pernikahan disiapkan, Giok Eng Tay dan prosesinya melewati makam Sam Pek. Badai hujan tiba-tiba muncul dan makam Sam Pek terbuka. Eng Tay, yang ingin bersama kekasihnya, berlari ke makam tersebut dan melompat ke dalamnya. Makam tersebut kemudian menutup dan badai pun menghilang.[1]

Produksi

Sam Pek Eng Tay disutradarai dan diproduseri The Teng Chun, putra pedagang Tionghoa-Indonesia yang belajar film di Los Angeles, Amerika Serikat. Ia memulai karier sutradaranya pada film Boenga Roos dari Tjikembang, sesaat sebelum memproduksi Sam Pek Eng Tay.[2] Dengan kesuksesan yang lumayan, film ini memberikan masukan dana yang cukup untuk memperbarui peralatan kameranya: Boenga Roos dari Tjikembang dikritik karena kualitas suaranya buruk.[3] Akan tetapi, tidak seperti film sebelumnya – yang diadaptasi dari novel laris karya Kwee Tek Hoay[4] – Sam Pek Eng Tay diadaptasi dari sebuah legenda Cina berjudul Sampek Engtay yang pada masa itu sering dijadikan tema drama panggung.[1] Kisahnya disesuaikan dengan latar Hindia Belanda.[3] Pemeran film ini tidak tercatat.[1]

Rilis dan tanggapan

Sam Pek Eng Tay dirilis pada tahun 1931 oleh Cino Motion Picture milik The Teng Chun. Film ini sukses di pasaran,[3] terutama di kalangan penonton Tionghoa.[5] The Teng Chun kelak merilis beberapa film yang didasarkan pada legenda Tionghoa, termasuk Pat Bie To (Delapan Wanita Cantik; 1932), Pat Kiam Hiap (Delapan Prajurit; 1933), dan Ouw Phe Tjoa (Ular Hitam dan Putih; 1934).[6] Film-film tersebut menekankan silat yang lebih dapat diterima masyarakat dan memungkinkan The Teng Chun mendominasi industri perfilman sampai dirilisnya Terang Boelan karya Albert Balink pada tahun 1937.[5]

Film ini bisa jadi tergolong film hilang. Antropolog visual Amerika Serikat Karl G. Heider menulis bahwa semua film Indonesia yang dibuat sebelum 1950 tidak diketahui lagi keberadaan salinannya.[7] Akan tetapi, Katalog Film Indonesia yang disusun JB Kristanto menyebutkan beberapa film masih disimpan di Sinematek Indonesia dan Biran menulis bahwa sejumlah film propaganda Jepang masih ada di Dinas Informasi Pemerintah Belanda.[8]

Catatan kaki

  1. 1 2 3 Filmindonesia.or.id, Sam Pek Eng Tay.
  2. ↑ Filmindonesia.or.id, The Teng Chun.
  3. 1 2 3 Biran 2009, hlm. 141.
  4. ↑ Filmindonesia.or.id, Boenga Roos.
  5. 1 2 Biran 2009, hlm. 147–150.
  6. ↑ Hutari 2011, Sejarah Awal.
  7. ↑ Heider 1991, hlm. 14.
  8. ↑ Biran 2009, hlm. 351.

Rujukan

  • Biran, Misbach Yusa (2009). Sejarah Film 1900–1950: Bikin Film di Jawa (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Komunitas Bamboo working with the Jakarta Art Council. ISBN 978-979-3731-58-2. ; Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • "Boenga Roos dari Tjikembang". filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Konfidan Foundation. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-07-22. Diakses tanggal 22 July 2012. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • Heider, Karl G (1991). Indonesian Cinema: National Culture on Screen. Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-1367-3.
  • Hutari, Fandy (5 November 2011). "Sejarah Awal Industri Film di Hindia Belanda". Jakarta Beat (dalam bahasa Indonesian). Jakarta. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-12-11. Diakses tanggal 11 December 2012. ; Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • "Sam Pek Eng Tay". filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Konfidan Foundation. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-07-22. Diakses tanggal 22 July 2012. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • "The Teng Chun". filmindonesia.or.id (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Konfidan Foundation. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-07-26. Diakses tanggal 26 July 2012. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • l
  • b
  • s
Karya The Teng Chun
  • Boenga Roos dari Tjikembang (1931)
  • Sam Pek Eng Tay (1931)
  • Pat Kiam Hap (1933)
  • Pat Bie To (1933)
  • Ouw Peh Tjoa (1934)
  • Tie Pat Kai Kawin (1935)
  • Pan Sie Tong (1935)
  • Ang Hai Djie (1935)
  • Pembakaran Bio "Hong Lian Sie" (1936)
  • Lima Siloeman Tikoes (1936)
  • Anaknja Siloeman Oeler Poeti (1936)
  • Gadis jang Terdjoeal (1937)
  • Tjiandjoer (1938)
  • Oh Iboe (1938)
  • Roesia si Pengkor (1939)
  • Alang-Alang (1939)
  • Rentjong Atjeh (1940)
  • Genangan Air Mata (1954)

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Alur
  2. Produksi
  3. Rilis dan tanggapan
  4. Catatan kaki
  5. Rujukan

Artikel Terkait

Tarida Gloria

mencuat dalam lakon-lakon teater Koma seperti Sandiwara Para Binatang, Sam Pek Eng Tay, Segi Tiga Emas, Konglomerat Burisrawa, Wanita Parlemen dan Suksesi

Cak Sidik

Sinting Prawan gadungan Radio mata sapi Rondo royal Sakerah congok* Sam pek eng tay Sarinten Untung suropati* Cak Sidik Empu Ludruk Surabaya oleh KARDONO

The Teng Chun

terlalu sukses. The kemudian merilis sejumlah film lain, termasuk Sam Pek Eng Tay yang cukup sukses. Mulai tahun 1933 hingga awal tahun 1935, semua film

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026