Salam Zgharta Football Club, dikenal sebagai Salam Zgharta atau cukup Salam, adalah klub sepak bola yang berbasis di Zgharta, Lebanon, dan berkompetisi di Divisi Kedua Lebanon.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Nama lengkap | Salam Zgharta Football Club | ||
|---|---|---|---|
| Nama singkat | Salam | ||
| Berdiri | 1933 (1933), sebagai Salam Achrafieh SC Agustus 15, 1971 (1971-08-15), sebagai Salam Zgharta FC | ||
| Stadion | Kompleks Olahraga Zgharta (Kapasitas: 5,500) | ||
| Ketua | |||
| Pelatih kepala | |||
| Liga | Divisi Kedua Lebanon | ||
| 2024–25 | Divisi Kedua Lebanon, ke-6 dari 12 | ||
| Situs web | Situs web resmi klub | ||
| |||
Salam Zgharta Football Club (bahasa Arab: نادي السلام الرياضي زغرتا, lit. 'Zgharta Peace Sporting Club'), dikenal sebagai Salam Zgharta atau cukup Salam, adalah klub sepak bola yang berbasis di Zgharta, Lebanon, dan berkompetisi di Divisi Kedua Lebanon.
Didirikan pada tahun 1933 dengan nama Salam Achrafieh, klub ini berganti nama menjadi Salam Zgharta pada 1971. Warna tradisional kostum klub ini adalah merah dan hitam. Pada 2014, mereka menjuarai Piala FA Lebanon, satu-satunya trofi mayor mereka hingga saat ini.
Salam Achrafieh awalnya adalah klub yang didirikan di Achrafieh, sebuah distrik di Beirut Utara.
Pada Mei 1933, Salam Achrafieh menggelar pertandingan melawan Arax dan menurunkan seorang pemain bernama Spiro yang tidak tinggal di Achrafieh. Hal ini dianggap ilegal pada saat itu dan Federasi Sepak Bola Lebanon (LFA) mendiskualifikasi Salam dari pertandingan tersebut. Keputusan itu ditentang oleh Slim, seorang tokoh media terkenal, yang berupaya mengubah komite eksekutif, tetapi gagal karena klub dominan saat itu, Al Nahda SC, tidak menyetujui perubahan tersebut.
Salam Achrafieh berpartisipasi dalam musim perdana Divisi Kedua Lebanon dan berhasil menjuarai kompetisi tersebut. Pada 1937, mereka menjadi tim pertama yang meraih gelar juara Divisi Kedua sebanyak dua kali.
Salam Zgharta berdiri pada 1971, setelah sekelompok penggemar sepak bola membeli lisensi dari klub Salam Achrafieh yang berbasis di Achrafieh, Beirut.[1]
Klub tetap berada di Achrafieh hingga 1974, kemudian pindah ke Zgharta, Lebanon Utara. Mereka berkompetisi di Liga Utama Lebanon, dengan pendanaan dari Sassine Ghazale setelah kepindahan tersebut. Pada musim 1974–75, Antoine "Al Shakra" Fenianos menjadi pelatih pertama klub. Pertandingan perdana Salam Zgharta berlangsung di Stadion Olahraga Kota Camille Chamoun melawan Nejmeh, yang berakhir dengan kekalahan 5–2. Pada musim perdananya, klub terdegradasi ke Divisi Kedua bersama Riyada Wal Adab, setelah musim dihentikan lebih awal karena pecahnya Perang Saudara Lebanon.[2]
Saat perang berlangsung, sepak bola Lebanon turut terdampak dengan terpecahnya Federasi Sepak Bola Lebanon (LFA) menjadi dua federasi yang masing-masing menggelar kompetisi sendiri. Salam Zgharta bergabung dengan Federasi Timur dan menjuarai Piala FA Lebanon pada 12 April 1987. Namun setelah perang usai dan kedua federasi kembali bergabung, gelar juara Piala FA tersebut dibatalkan.
Pasca perang, Salam Zgharta menjadi salah satu tim terbaik di liga, dengan pemain inti seperti Fawzi Yammine dan Elias Bou Nassif. Awal tahun 1990-an cukup positif bagi klub asal utara ini, dengan finis di peringkat ketiga pada musim 1990–91 dengan 35 poin.[3] Setelah Liga Utama diperluas menjadi 20 tim yang dibagi dalam dua grup, Salam Zgharta mengakhiri musim 1991–92 sebagai peringkat kedua grupnya dan keempat dalam klasemen akhir, dengan 23 poin dari 20 pertandingan.[3]
Pada 1992, Kabalan Yammine menjadi presiden klub. Namun, Salam Zgharta tidak mampu mengulang kesuksesan sebelumnya. Mereka bertahan dua musim di kasta teratas sebelum kesulitan menjaga posisi karena masalah finansial, sehingga kerap bermain di Divisi Kedua. Pada musim 1999–2000, Salam Zgharta finis kelima di Liga Utama Lebanon, pencapaian terbaik mereka di bawah kepemimpinan Kabalan Yammine. Pada 1996, Youssef Jabbour terpilih sebagai wakil presiden.[4] Memasuki pertengahan 2000-an, Kabalan mulai kehilangan minat terhadap klub. Sebuah pemilihan digelar pada Oktober 2006, tiga pertandingan setelah musim 2006–07 dimulai, dan Estephan Frangieh menjadi presiden baru.[1]

Pada musim pertama di bawah kepemimpinan Estephan Frangieh, klub terdegradasi ke Divisi Kedua. Setelah degradasi, Frangieh berinvestasi pada klub dan mereka kembali promosi ke kasta teratas pada musim 2007–08. Namun, keberadaan mereka hanya bertahan satu musim karena kembali terdegradasi pada 2008–09. Pada 2009, Stadion Merdeshiyeh diubah namanya menjadi Kompleks Olahraga Zgharta. Klub akhirnya menjuarai Divisi Kedua Lebanon 2012–13 setelah memuncaki Grup A, dan kembali promosi ke Liga Utama.
Pada musim 2013–14, Salam Zgharta menunjuk Peter Meindertsma sebagai pelatih kepala. Meski berjuang menghindari degradasi di liga, klub berhasil menjuarai Piala FA Lebanon 2013–14. Pada 2015, Salam Zgharta untuk pertama kalinya tampil di Piala AFC, setelah menang di babak play-off melawan Khayr Vahdat. Mereka hanya meraih satu kemenangan dari enam pertandingan di fase grup.
Pada musim 2016–17, Salam Zgharta memulai kompetisi dengan kemenangan 5–2 atas Ansar di kandang. Klub mengakhiri musim sebagai runner-up, pencapaian terbaik mereka hingga kini. Mereka lolos ke Piala Champions Klub Arab 2018–19 untuk pertama kalinya, tetapi kalah dari Raja Casablanca di babak 32 besar. Pada musim 2020–21, setelah delapan musim berturut-turut di kasta teratas, Salam Zgharta terdegradasi ke Divisi Kedua.[5] Mereka kembali promosi pada musim 2021–22 setelah finis kedua di Divisi Kedua,[6] sebelum kembali terdegradasi pada 2022–23, dengan finis di posisi ke-11 Liga Utama.[7]
Setelah pindah dari Achrafieh ke Zgharta, Salam Zgharta dikenal mengenakan seragam biru saat bermain di kandang dan putih saat tandang. Setelah penyatuan kembali LFA pada 1990, Salam Zgharta memutuskan untuk mengganti warna kandang mereka menjadi merah.
Logo pertama Salam Zgharta dirancang pada tahun 1971. Logo tersebut berbentuk lingkaran dengan tulisan “Al Salam Zgharta” (bahasa Arab: السلام زغرتا) dalam bentuk kaligrafi yang membentuk siluet seekor merpati. Desain ini kemudian diubah pada tahun 2010, dengan tetap mempertahankan bentuk lingkaran.
Salam Zgharta memainkan pertandingan kandangnya di Kompleks Olahraga Zgharta. Stadion ini terletak di kawasan Merdeshiyeh, Zgharta, dan mampu menampung hampir 5.500 penonton. Stadion tersebut dibangun oleh yayasan Maronit di samping Gereja Sarkis dan Bakhos, dan direnovasi pada 2009. Pada tahun yang sama, yayasan tersebut memberikan hak penggunaan stadion kepada Salam Zgharta.
Stadion ini sempat dikenai larangan penggunaan oleh federasi pada 1999, yang kemudian dicabut pada 2009.
Pendukung Salam Zgharta sebagian besar berasal dari kalangan Maronit di wilayah Zgharta dan distrik lain di Lebanon Utara.[8] Mereka dikenal sempat menimbulkan beberapa masalah selama pertandingan pada 1990-an dan 2000-an.
Salam Zgharta memainkan derby Utara melawan Tripoli, karena keduanya berasal dari kawasan yang sama. Rivalitas kecil juga terjadi dengan klub seperti Ansar Howara SC dan Egtmaaey, meski kini jarang terjadi karena klub-klub tersebut tidak lagi rutin tampil di kasta tertinggi. Derby pertama antara Salam Zgharta dan Tripoli dimainkan pada 18 Desember 2005 di Stadion Munisipalitas Rachid Karame. Tuan rumah, Salam Zgharta, memenangkan pertandingan 1–0 berkat gol Wehbe Douaihy pada menit ke-58}}</ref> Rivalitas kecil juga terjadi dengan klub seperti Ansar Howara SC dan Egtmaaey, meski kini jarang terjadi karena klub-klub tersebut tidak lagi rutin tampil di kasta tertinggi. Derby pertama antara Salam Zgharta dan Tripoli dimainkan pada 18 Desember 2005 di Stadion Munisipalitas Rachid Karame.[9] Tuan rumah, Salam Zgharta, memenangkan pertandingan 1–0 berkat gol Wehbe Douaihy pada menit ke-58.[10]
Catatan: Bendera menunjukkan tim nasional sesuai dengan peraturan kelayakan FIFA. Pemain bisa saja memiliki lebih dari satu kewarganegaraan non-FIFA.
|
|
| Nama | Kebangsaan | Tahun |
|---|---|---|
| Antoine "Al Shakra" Fenianos | 1971–???? | |
| Thaer Ahmad | 1996 | |
| Hussein Afeish | 2005 | |
| Assaf Khalife | 2005–???? | |
| Ghassan Khawaja[a] | 2009 | |
| Assaf Khalife | 2012–2013 | |
| Peter Meindertsma | 2013–2015 | |
| Louai Abou Karam | 2015 | |
| Anas Makhlouf | 2015–2016 | |
| Tarek Jaraya | 2016–2017 | |
| Maher Sdiri | 2017–2018 | |
| Tarek Thabet | 2018 | |
| Ghassan Khawaja | 2018–2019 | |
| Anis Boujelban[a] | 2019 | |
| Nouhad Souccar | 2019 | |
| Ahmad Kadhem | 2019 | |
| Ghassan Khawaja | 2020–2021 | |
| Vladimir Vujović | 2021–2022 | |
| Kazem El Khansa | 2022 | |
| Andrew Oakley | 2022 | |
| Ahmed Hafez | 2022 | |
| Ricardo Cruz | 2023 | |
| Tony Al Tahech[a] | 2023 | |
| Capela | 2023 | |
| Charbel Kabbout[a] | 2023 | |
| Rui Gregório | 2023–2025 | |
| Ammar Al Shamali | 2025– |
| Musim | Kompetisi | Babak | Lawan | Kandang | Tandang |
|---|---|---|---|---|---|
| 2015 | Piala AFC | Babak grup | 1–5 | 0–3 | |
| Babak grup | 0–2 | 1–3 | |||
| Babak grup | 2–1 | 1–4 |