Sagunja (四君子;사군자) adalah genre lukisan Korea yang melukiskan sagunja, empat jenis tanaman yang terdiri dari persik, anggrek, seruni dan bambu. Tanaman-tanaman ini merupakan subjek lukisan para gunja sehingga karya yang mereka hasilkan dinamakan empat tanaman bangsawan. Gunja adalah pria bangsawan yang berkarakter luhur, berbudi pekerti dan biasanya ahli dalam bidang sastra.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Sagunja (四君子;사군자) adalah genre lukisan Korea yang melukiskan sagunja, empat jenis tanaman yang terdiri dari persik, anggrek, seruni dan bambu.[1][2][3][4][5] Tanaman-tanaman ini merupakan subjek lukisan para gunja sehingga karya yang mereka hasilkan dinamakan empat tanaman bangsawan.[5] Gunja adalah pria bangsawan yang berkarakter luhur, berbudi pekerti dan biasanya ahli dalam bidang sastra.[5]
Genre lukisan ini berasal dari Cina dan diperkenalkan ke Korea sejak zaman Goryeo pada abad ke-12 dan mencapai masa keemasan di periode Dinasti Joseon sampai awal abad ke-20.[5] Genre sagunja lebih disukai oleh seniman-seniman non profesional yang belajar lukisan Cina dibanding para pelukis genre lain.[5]
Lukisan sagunja yang berkembang di Korea menjadi berbeda dengan Cina dalam hal komposisi, bentuk batang, akar dan warna bayangan dalam lukisan.[5] Di awal abad ke-20, lukisan ini menjadi genre independen dari jenis lukisan lain.[5]
Cara melukisnya cenderung mengarah kepada kaligrafi yang berciri khas lebih sederhana dibanding metode melukis pemandangan atau orang.[5] Bagi seniman Korea, jika kaligrafi mencerminkan sifat dan pengetahuan penulisnya, begitu pula dengan sagunja yang mereka goreskan.[5]
Para gunja menyukai keempat jenis tanaman dan menggali karakter yang dimilikinya sebagai panutan.[5] Karakter bambu dipuji karena tidak gugur daun bahkan di musim dingin, tumbuh lurus, melambangkan integritas orang yang berilmu.[5] Anggrek dikagumi karena anggun dan harumnya lembut.[5] Persik yang bersemi di awal musim semi, di antara salju musim dingin yang masih tersisa mencerminkan kekuatan.[5] Sementara bunga seruni dapat bertahan sampai akhir musim gugur menjelang musim dingin mencerminkan keteguhan.[5]
Banyak lukisan sagunja yang menggambarkan bambu dan persik pada saat Korea sedang dalam keadaan perang akibat serbuan bangsa asing, menandakan para bangsawan mengekspresikan keteguhan dan prinsip mereka lewat karakter sagunja.[5]