Ṣadruddīn Muḥammad ibn Isḥāq ibn Muḥammad ibn Yūnus al-Qūnawī,, adalah sufi dan filsuf dari Konya (Qunawi) yang berperan penting dalam penyebaran ajaran Akbarian Ibnu Arabi. Dia adalah seorang pemikir orisinal, yang menggabungkan filsafat dan ajaran tashawuf. Meskipun relatif kurang dikenal di Indonesia, karakter spiritual dan sistematis dari pendekatan Qūnawi terhadap penalaran tumbuh subur di Turki, Afrika Utara, Iran, hingga India dan Cina selama berabad-abad.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Sadr al-Din al-Qunawi صدر الدین القونویcode: ar is deprecated | |
|---|---|
| Lahir | 1207 |
| Meninggal | 1274 Konya, Seljuk Rum |
| Era | Zaman Kejayaan Islam |
| Kawasan | Anatolia |
| Aliran | sufisme |
Minat utama | |
Dipengaruhi | |
Memengaruhi | |
Bagian dari sebuah serial tentang Islam Sufisme dan Tarekat |
|---|
|
|
Ṣadruddīn Muḥammad ibn Isḥāq ibn Muḥammad ibn Yūnus al-Qūnawī, (bahasa Arab: صدر الدین القونویcode: ar is deprecated ; 1207–1274), adalah sufi dan filsuf dari Konya (Qunawi)[1][2] yang berperan penting dalam penyebaran ajaran Akbarian Ibnu Arabi. Dia adalah seorang pemikir orisinal, yang menggabungkan filsafat dan ajaran tashawuf.[3] Meskipun relatif kurang dikenal di Indonesia, karakter spiritual dan sistematis dari pendekatan Qūnawi terhadap penalaran tumbuh subur di Turki, Afrika Utara, Iran, hingga India dan Cina selama berabad-abad.
Sedikit yang diketahui tentang kehidupan pribadi Qūnawi. Ayahnya, Majduddīn, adalah keturunan Persia yang menetap di Konya. Dalam biografi kaum intelektual Konya, Aflākī menggambarkan komunitas mistik dan cendekiawan yang erat di Konya. Migrasi yang tak henti-hentinya ke Anatolia telah membuat kota yang berada di perbatasan antara Turki dan Persia ini memiliki karakter kosmopolitan yang menonjol dan mengundang setiap pencari ilmu—Muslim, Yunani, dan Armenia—untuk datang.[4]
Dalam masa-masa inilah ayah al-Qūnawī,[5] Majduddīn Isḥāq, memulai kariernya sebagai negarawan dan penasihat kerajaan Seljuk Rum. Pada saat yang sama, dalam suatu ibadah haji, Majduddīn bertemu Muḥyiddīn Ibnu 'Arabī, yang kemudian menjadi teman sekaligus guru spiritualnya. Saat Majduddīn wafat, berbagai sumber Arab dan Persia mengatakan bahwa Ibnu Arabi menikahi ibunya dan mengambil al-Qunawi sebagai anak angkatnya.[6][7][8]
Salah satu penggalan kisah hidupnya tercatat ketika Rumi, yang baru pindah ke Konya, dibawa ayahnya untuk menemui al-Qunawi. Pada saat itu al-Qunawi menitipkan Matsnawi (bentuk puisi Persia) kepada Rumi muda, dan meramalkannya akan menjadi orang yang dikenal.
Al-Qunawi tidak hanya dikenal sebagai ahli kalam dan filsafat Peripatetik, tetapi juga sebagai ahli ḥadīth. Tidak diragukan bahwa al-Qunawi mempelajari filsafat dari karya-karya Ibnu Sina, selain mempelajari terjemahan bahasa Arab dari karya-karya Plato dan Aristoteles. Dia merupakan satu dari sedikit kritikus Aristoteles pasca-Avicena yang benar-benar berwawasan.
Pengaruh al-Qūnawi tampak pada beberapa muridnya, di antaranya Quthbuddin al-Shirazi yang menulis syarah tentang Ḥikmat al-Ishrāq karya Suhrawardi. Murid al-Qūnawī lainnya adalah penyair sufi Fakhruddin al-Iraqi yang berperan penting dalam memperkenalkan ajaran Ibnu 'Arabī ke dalam bahasa Persia.[9]
Selain sebagai sufi, al-Qūnawī juga seorang filsuf yang matang. Dengan kata lain, dia adalah seorang mistikus yang menguasai ilmu-ilmu formal seperti ilmu ḥadīth, tafsir Al-Quran, ilmu fikih (fiqh) dan ilmu kalām. Dia tidak hanya dikenal di kalangan sufi, tetapi juga intelektual di jamannya seperti Nāshīruddin al-Ṭūsī, yang penemuan matematika dan astronominya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sains yang kita kenal sekarang.
Sebagai murid sekaligus anak angkat Ibnu 'Arabî, Qūnawî diberi izin untuk mengajarkan semua karyanya.[10] Dan tidak lama setelah kematian Ibnu 'Arabī, setelah al-Qunawi berziarah ke makam gurunya dan dalam perjalanan pulang ke Konya, dia mengalami sebuah pengalaman mistik yang kemudian dia tuliskan sebagai berikut:
Pada suatu hari di musim panas, aku melintasi bentangan luas pegunungan Taurus, dan menyaksikan angin timur berhembus membuat bunga-bunga yang sedang mekar bergoyang-goyang. Saat aku menatapnya dengan penuh kekaguman dan merenungkan kemahakuasaan Allah Ta'ala, cinta dari Dia yang Maha Pengasih menyeruak memenuhi dadaku begitu kuat sehingga saya terenggut dari semua yang terlihat. Kemudian, Syekh Ibnu 'Arabī muncul di hadapanku dalam bentuk yang paling indah, seolah-olah cahaya yang murni, dan berseru kepadaku, "Hai, engkau yang sedang kebingungan, perhatikan aku! Jika Allah yang Maha Agung dan Maha Gaib menyingkapkan diri-Nya yang mulia dan luhur kepadaku dalam manifestasi (tajali) yang hakiki, engkau seketika tidak akan nampak dalam pandanganku". Aku langsung setuju dengan ucapannya. Dan Syekh al-Akbar [yakni, Ibnu Arabī], yang seolah nyata berada di depan mataku, menyapaku dan memelukku dengan penuh kasih sayang, seraya mengatakan: "Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang tabirnya telah diangkat dan yang membawa mereka yang terkasih satu sama lain ke dalam sebuah pertemuan. Tidak ada maksud, upaya, atau hasil yang dapat dicegah".[11]
Pengalaman ini bukan hanya menunjukkan apa yang dia lihat sebagai tujuan praktis dari nalar, yang sifatnya sangat terbatas di alam inderawi; tetapi juga mencerminkan pandangannya tentang ajaran Akbarian. Tidak dapat dipungkiri bahwa Al-Qunawi berhasil menerjemahkan gagasan-gagasan Ibnu Arabi dalam bahasa yang lebih filosofis dan dipahami dunia akademis. Dan menurut Claude Addas, al-Qunawi pula yang pertama kali mempopulerkan dan memperkenalkan gagasan filosofis tentang waḥdatul wujūd.[8]
Al-Qūnawī menganggap adalah tugasnya untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai oleh Ibnu Sīnā dengan epistemologi Ishrāqī. Dia berbagi pandangan yang sama dengan Ibnu Sīnā dan Ibnu 'Arabī tentang pentingnya menyampaikan gagasan intelektual maupun spiritual dengan bahasa yang dapat dipahami, agar semua pengetahuan yang diperoleh dan pengalaman dapat dipahami, dapat diteruskan kepada orang lain. Bagaimanapun kerumitan teknis pembahasaannya, ia harus bermakna secara didaktis dalam waktu dan tempat tertentu, meskipun tanpa mengabaikan akar objek pengetahuan.[12]
Dia menyusun prinsip-prinsipnya dalam beberapa risalah. Pernyataan mereka yang paling ringkas dan substansial terdiri dari pengantar teoretis untuk magnum opusnya, I'jāz al-Bayān, yang bagian utamanya berisi tafsir mistik Surat al-Fātiḥah. Dalam pengantar kitabnya, al-Qūnawī menyusun transisi dari logika demonstratif ilmu kalam Ibnu Sina dengan ilmu mukasyafah yang kurang lebih diajarkan oleh Ibnu 'Arabī.
Dalam pengertian representatif, pengetahuan manusia dapat dikatakan bertumpu pada hubungan antara dua “realitas” yang tidak dapat direduksi: subjek dan objek. Mengingat perbedaan subjek-objek ini dan keterbatasan fakultas kita sendiri, kita memiliki keterbatasan dalam mencerap "realitas benda" (hakikat). Tema ini mewarnai hampir semua karya al-Qūnawī. Dalam I'jāz al-Bayān, dia mengkritik beberapa bagian dari al-Ta'liqāt Ibnu Sīnā, terutama tentang "realitas" yang menyatakan bahwa manusia tidak mampu mengetahui realitas (hakikat) benda. Dia mengangkat masalah yang sama dalam korespondensinya dengan al-Ṭūsī. Dalam surat-suratnya, al-Qūnawī menunjukkan dalam kondisi tertentu manusia dapat mengenal Tuhan—yang mana itu merupakan tujuan pencarian para filsuf dan mistikus.