Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Rumah Juang Anjir Serapat

Rumah Juang Anjir Serapat adalah sebuah bangunan bersejarah yang terletak di desa Anjir Serapat Barat, Kecamatan Kapuas Timur, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Bangunan berbahan kayu ini telah ditetapkan sebagai salah satu Cagar Budaya Provinsi Kalimantan Tengah dan menjadi saksi perjuangan rakyat Kapuas pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Wikipedia article
Diperbarui 25 Januari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Rumah Juang Anjir Serapat
Rumah Juang Anjir Serapat

Rumah Juang Anjir Serapat adalah sebuah bangunan bersejarah yang terletak di desa Anjir Serapat Barat, Kecamatan Kapuas Timur, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Bangunan berbahan kayu ini telah ditetapkan sebagai salah satu Cagar Budaya Provinsi Kalimantan Tengah dan menjadi saksi perjuangan rakyat Kapuas pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia.[1]

Sejarah

Rumah Juang Anjir Serapat menjadi salah satu lokasi penting dalam perlawanan rakyat setempat pada pasukan kolonial di awal masa kemerdekaan. Di rumah ini, pada Desember 1945 terjadi penyerangan ketika pasukan NICA melakukan operasi di wilayah Anjir Serapat. Serangan tersebut terjadi karena rumah milik keluarga H. Amberi digunakan sebagai salah satu markas Laskar Pejuang Republik Indonesia yang dipimpin Dahlan Karim, sehingga memiliki posisi strategis dalam aktivitas perjuangan. Dalam peristiwa tersebut, gugur H. Amberi (H. Ambri), putra sulung H. Mastur yang tergabung dalam Laskar Pejuang Kemerdekaan pasca Indonesia merdeka pada 17 Agustus 2945.[2]

Peristiwa Penyerangan 1945

Penyerangan pada Desember 1945 ini berkaitan erat dengan aktivitas kelompok pejuang lokal yang terafiliasi dengan Batalion Divisi IV ALRI dan bergerak mempertahankan wilayah Kapuas. Keberadaan para pejuang di Desa Anjir Serapat ini diketahui Belanda melalui informasi seorang mata-mata di desa. Pasukan Belanda segera menuju rumah H. Amberi setelah menerima laporan tersebut dan melakukan penyerangan.[2]

H. Amberi gugur setelah menunaikan salat Duha.[3] Pada saat serangan terjadi, H. Amberi berada di rumah bersama ibunya, Hj. Amnah, serta dua anaknya, Saidah Fatimah dan Husin Kadri. Sejumlah pejuang yang berada di sekitar rumah berusaha memberikan perlawanan, namun karena keterbatasan persenjataan, mereka akhirnya mundur dan bersembunyi ke dalam hutan. Hanya H. Amberi yang tetap bertahan di dalam rumah untuk melanjutkan perlawanan.

Ibu dan kedua anaknya bersembunyi di bawah sebuah ranjang di dalam kamar, sementara H. Amberi yang awalnya berada di tempat yang sama kemudian berpindah ke balik pintu yang menghubungkan ruang tamu dan ruang tengah. Dari titik perlindungan tersebut, ia terus melakukan perlawanan menggunakan senjata sekadarnya.[2]

Pasukan Belanda yang semula menembaki rumah dari halaman kemudian bergerak maju hingga berada tepat di depan pintu rumah. Dari posisi itu, mereka memberondong bagian dalam rumah dengan tembakan membabi buta dari senapan mesin. Dalam serangan bertubi-tubi tersebut H. Amberi akhirnya gugur sebagai syuhada. Bekas tembakan pada dinding serta pintu rumah masih bisa disaksikan hingga hari ini dan menjadi saksi bisu keberanian H. Amberi dalam mempertahankan kemerdekaan.[4]

Arsitektur

Rumah Juang Anjir Serapat berbentuk bangunan panggung berbahan kayu dengan gaya arsitektur klasik yang berbeda dari rumah panggung tradisional khas Kalimantan Tengah. Arsitektur rumah ini lebih menyerupai model rumah kolonial yang dikenali dengan deretan jendela persegi panjang di bagian depan maupun samping dengan cat berwarna kuning serta atap sirap yang memberikan nuansa historis pada bangunan ini. Rumah ini pertama kali dibangun dengan ukuran awal sekitar 9 meter × 20 meter oleh H. Mastur, kakek dari keluarga pewaris yang merupakan seorang petani dan dukun sunat yang memiliki kebun cukup luas di Anjir Serapat. Usianya diperkirakan telah melampaui satu abad, sesuai dengan lama keluarga H. Mastur tinggal di lokasi tersebut.[5]

Monumen dan Taman Makam Pahlawan

Monumen pahlawan di depan Rumah Juang.

Pemerintah daerah membangun Monumen Pahlawan di depan Rumah Juang Anjir Serapat untuk mengenang perjuangan H. Amberi pada masa pemerintahan Gubernur Kalimantan Tengah W.A. Gara tahun 1980. Di belakang monumen berdiri Taman Makam Pahlawan (TMP) Surya Candra, tempat dimakamkannya para pejuang setempat, termasuk H. Amberi dan rekannya Ideris Mayusuf. [6]

Referensi

  1. ↑ "Rumah Bersejarah di Kapuas Ini akan Direvitalisasi dan Masuk Cagar Budaya Skala Provinsi". grapena.com | menembus batas inspirasi. 2023-04-10. Diakses tanggal 2025-12-03.
  2. 1 2 3 Oktaviana, Ayu. "Cerita Perjuangan Kalimantan Tengah; Rumah Juang, Saksi Bisu Detik-Detik Perjuangan H Amberi Melawan Penjajahan Belanda - Kaltengpos.jawapos.com - Halaman 3". Cerita Perjuangan Kalimantan Tengah; Rumah Juang, Saksi Bisu Detik-Detik Perjuangan H Amberi Melawan Penjajahan Belanda - Kaltengpos.jawapos.com - Halaman 3. Diakses tanggal 2025-12-03.
  3. ↑ "Rumah Juang di Anjir Serapat, Saksi Bisu Melawan Penjajah". metrokalimantan.com | referensi inspiratif. 2020-08-14. Diakses tanggal 2025-12-03.
  4. ↑ "Galeri". Dinas Pendidikan Kabupaten Kapuas. 2022-10-06. Diakses tanggal 2025-12-03.
  5. ↑ "Rumah Bersejarah di Kapuas Ini akan Direvitalisasi dan Masuk Cagar Budaya Skala Provinsi". grapena.com | menembus batas inspirasi. 2023-04-10. Diakses tanggal 2025-12-03.
  6. ↑ "Rumah Juang di Anjir Serapat, Saksi Bisu Melawan Penjajah". metrokalimantan.com | referensi inspiratif. 2020-08-14. Diakses tanggal 2025-12-03.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Peristiwa Penyerangan 1945
  3. Arsitektur
  4. Monumen dan Taman Makam Pahlawan
  5. Referensi

Artikel Terkait

Daftar cagar budaya di Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Kabupaten Kapuas

kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah

Sungai Barito

sungai di Provinsi Kalimantan Selatan

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026