Angkatan Udara Kerajaan Belanda, merupakan cabang angkatan udara dari Angkatan Bersenjata Belanda. Pedahulunya, Luchtvaartafdeeling " di dalam Angkatan Darat Kerajaan Belanda telah didirikan pada 1 Juli 1913, dengan hanya empat orang pilot. Tim aerobatik Angkatan Udara Kerajaan Belanda, yang aktif dari tahun 1979 sampai 2019, adalah Solo Display Team.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Angkatan Udara Kerajaan Belanda | |
|---|---|
| Koninklijke Luchtmacht | |
Lambang Angkatan Udara Kerajaan Belanda | |
| Dibentuk | 1 Juli 1913 (sebagai Luchtvaartafdeeling) 27 Maret 1953 (sebagai Koninklijke Luchtmacht) |
| Negara | |
| Tipe unit | Angkatan udara Pasukan antariksa |
| Jumlah personel | 9.164 personel (2025)[1] |
| Bagian dari | Angkatan Bersenjata Belanda |
| Julukan | KLu, RNLAF |
| Moto | Parvus numero, magnus merito ("Kecil dalam jumlah, besar dalam perbuatan") |
| Situs web | defensie.nl |
| Tokoh | |
| Komandan Angkatan Udara | |
| Insignia | |
| Panji | |
| Bendera | |
| Logo | |
| Brevet | |
| Roundel | |
| Pesawat tempur | |
| Pesawat serbu | MQ-9 Reaper |
| Pesawat tempur | F-16, F-35 |
| Helikopter serbu | AH-64D |
| Helikopter pengangkut | CH-47, AS-532 |
| Helikopter multiguna | NH-90 |
| Pesawat patroli | Dornier 228 |
| Pesawat latih | PC-7, F-16 |
| Pesawat pengangkut | C-130H, Gulfstream IV |
| Pesawat pengisi bahan bakar | KDC-10, A330 MRTT |
Angkatan Udara Kerajaan Belanda (bahasa Belanda: Koninklijke Luchtmachtcode: nl is deprecated ; KLu), merupakan cabang angkatan udara dari Angkatan Bersenjata Belanda. Pedahulunya, Luchtvaartafdeeling ("Departemen Penerbangan)" di dalam Angkatan Darat Kerajaan Belanda telah didirikan pada 1 Juli 1913, dengan hanya empat orang pilot. Tim aerobatik Angkatan Udara Kerajaan Belanda, yang aktif dari tahun 1979 sampai 2019, adalah Solo Display Team.
Kekuatan udara Belanda dimulai pada 1 Juli 1913 dengan berdirinya Grup Penerbangan Angkatan Darat (Luchtvaartafdeling atau LVA) di Pangkalan Udara Soesterberg (vliegbasis Soesterberg) dengan empat orang pilot. Saat didirikan, Grup Penerbangan Angkatan Darat mengoperasikan satu pesawat, Brik, yang dilengkapi dengan tiga pesawat French Farman HF.20 beberapa bulan kemudian.

Pada Mei 1940, Jerman menginvasi Belanda. Dalam waktu lima hari Brigade Penerbangan Angkatan Darat Belanda dikalahkan oleh Luftwaffe Jerman. Walau kalah dari segi jumlah, Belanda berhasil mencapai beberapa keberhasilan melawan Luftwaffe, dimana Belanda berhasil menembak jatuh 350 pesawat Jerman, meskipun banyak di antaranya hilang karena tembakan anti-pesawat.
Angkatan Udara Tentara Kerajaan Hindia Belanda (ML-KNIL; Militaire Luchtvaart van het Koninklijk Nederlands-Indisch Leger) merupakan angkatan udara terpisah dari Angkatan Udara Kerajaan Belanda, sehingga mereka tetap melanjutkan operasi mereka di Hindia Belanda hingga diduduki oleh Jepang pada tahun 1942.[2][3] Selama Perang Kemerdekaan Indonesia, angkatan udara melakukan serangan darat dan mengangkut material dan personel. Pada tahun 1948, pesawat angkut digunakan untuk mendukung serangan udara Belanda pertama di selatan Sumatera dan Yogyakarta.

Pada tanggal 27 Maret 1953, Angkatan Udara Kerajaan Belanda secara resmi menjadi cabang independen dari Angkatan Bersenjata Belanda, bukan lagi bagian dari Angkatan Darat.[4]
Selama Perang Dingin, unit-unit terbang Angkatan Udara Belanda diintegrasikan dalam Angkatan Udara Taktis Sekutu Kedua NATO yang bertugas mempertahankan Jerman Barat bagian utara melawan pasukan Pakta Warsawa. Selain itu, Angkatan Udara Belanda mengawaki lima Grup Rudal swadaya yang beroperasi penuh di Jerman Barat (1 dan 2 MslGrp awalnya dilengkapi dengan baterai NIKE, sementara 3,4 dan 5 MslGrp dilengkapi dengan Hawk) dan digantikan oleh MIM-104 Patriot.
F-16 Angkatan Udara Kerajaan Belanda berpartisipasi dalam semua operasi di Yugoslavia dari 1993: Deny Flight, termasuk Deliberate Force pada 1995 dan berakhir dengan Operasi Allied Force pada 1999 dari dua pangkalan di Italia.

Pada tanggal 2 Oktober 2002, sebuah detasemen tri-nasional yang terdiri dari 18 pesawat serang darat F-16 Belanda, Denmark dan Norwegia serta satu kapal tanker KDC-10 Belanda dikerahkan ke Pangkalan Udara Manas di Kirgizstan untuk mendukung pasukan darat di Afganistan sebagai bagian dari Operasi Enduring Freedom.
Dari tahun 2014, Angkatan Udara Kerajaan Belanda menyediakan delapan F-16 untuk mendukung koalisi memerangi ISIS. Pesawat itu awalnya dikerahkan di Irak dan kemudian Suriah. Misi tersebut kemudian diserahkan kepada Angkatan Udara Belgia pada Juli 2016 setelah lebih dari 2.100 misi diterbangkan, dengan senjata yang digunakan lebih dari 1800 kali. Angkatan Udara Kerajaan Belanda berkontribusi secara luas pada misi yang diterbangkan oleh pasukan koalisi dan sangat diminati.
Pada Januari 2018, F-16 Belanda kembali ke Timur Tengah untuk penugasan selama setahun.
Pada tahun 2021, satelit militer Brik-II diluncurkan untuk memberikan informasi intelijen kepada Angkatan Udara Kerajaan Belanda mengenai navigasi, komunikasi, dan pengamatan bumi.[5]
Pada bulan November 2024, diumumkan bahwa pada tahun 2027 mendatang satelit militer Belanda PAMI-1 akan diluncurkan dan akan digunakan oleh Pusat Pertahanan Keamanan Antariksa (DSSC), yang merupakan bagian dari Angkatan Udara.[6] Pada bulan yang sama juga diumumkan bahwa kontrak untuk membeli 12 helikopter Airbus H225M telah ditandatangani.[7][8]
Angkatan Udara Kerajaan Belanda sedang dalam proses restrukturisasi menjadi empat komando utama:[10]