Rik Wouters (1882-1916) adalah seorang pelukis beraliran fauvisme kelahiran Mechelen, Belgia. Setelah lulus sekolah, ia bekerja sebagai tukang kayu dalam usaha furnitur yang dikerjakan oleh keluarga. Sembari bekerja, Wouters mengambil kursus memahat di Mechelen dan Brussels. Sebagai pelukis, ia otodidak. Pada tahun 1905, ia menetap di Watermaal dekat Brussels bersama istrinya, Nel Duerinckx, yang merupakan model dari banyak lukisannya. Pada tahun 1907, Wouters menetap di Bosvoorde, Brussels, dan mulai mendapat pengakuan dan kesuksesan sebagai seniman. Pada tahun 1914, Wouters terdampar di Belanda, bersama dengan desertir Belgia lainnya. Pada taun yang sama, ia terserang penyakit kanker. Meskipun telah menjalani operasi selama berulang kali, Wouters tetap melukis. Wouters meninggal pada usia 33 tahun.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (November 2025) |
Rik Wouters (1882-1916) adalah seorang pelukis beraliran fauvisme kelahiran Mechelen, Belgia.[1] Setelah lulus sekolah, ia bekerja sebagai tukang kayu dalam usaha furnitur yang dikerjakan oleh keluarga.[2] Sembari bekerja, Wouters mengambil kursus memahat di Mechelen dan Brussels.[2] Sebagai pelukis, ia otodidak.[2] Pada tahun 1905, ia menetap di Watermaal dekat Brussels bersama istrinya, Nel Duerinckx, yang merupakan model dari banyak lukisannya.[2] Pada tahun 1907, Wouters menetap di Bosvoorde, Brussels, dan mulai mendapat pengakuan dan kesuksesan sebagai seniman.[2] Pada tahun 1914, Wouters terdampar di Belanda, bersama dengan desertir Belgia lainnya.[2] Pada taun yang sama, ia terserang penyakit kanker.[2] Meskipun telah menjalani operasi selama berulang kali, Wouters tetap melukis.[2] Wouters meninggal pada usia 33 tahun.[2]
Museum Seni Rupa di Antwerp, merupakan museum yang menyimpan karya Wouter dalam jumlah terbanyak.[2] Lukisan Wouters banyak yang dinilai mempunyai kesan cerah, hal ini berlawanan dengan kenyataan hidup pelukisnya yang memilukan.[2] Untuk menghemat uang, Wouters berlatih melukis dengan menggunakan kardus dengan cat yang dihemat.[2]