Rhabdophis tigrinus merupakan spesies ular berbisa yang termasuk dalam subfamili Natricinae dari famili Colubridae. Ular ini berasal dari wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara. Beberapa sumber, meskipun tidak termasuk Sistem Informasi Taksonomi Terpadu, mengakui adanya satu subspesies, yaitu Rhabdophis tigrinus formosanus yang ditemukan di Taiwan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Rhabdophis tigrinus | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Reptilia |
| Ordo: | Squamata |
| Subordo: | Serpentes |
| Famili: | Colubridae |
| Genus: | Rhabdophis |
| Spesies: | R. tigrinus |
| Nama binomial | |
| Rhabdophis tigrinus (H. Boie, 1826) | |
| Jangkauan dari R. tigrinus | |
| Sinonim[2] | |
| |
Rhabdophis tigrinus merupakan spesies ular berbisa yang termasuk dalam subfamili Natricinae dari famili Colubridae.[2] Ular ini berasal dari wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara. Beberapa sumber, meskipun tidak termasuk Sistem Informasi Taksonomi Terpadu,[3] mengakui adanya satu subspesies, yaitu Rhabdophis tigrinus formosanus yang ditemukan di Taiwan.[4]
Rhabdophis tigrinus memiliki pola warna punggung hijau zaitun dengan garis melintang atau bintik-bintik hitam serta corak oranye terang yang tampak dari leher hingga sekitar sepertiga bagian depan tubuhnya. Bagian perutnya berwarna putih pucat, sedangkan panjang total ular dewasa, termasuk ekor, umumnya berkisar antara 60 hingga 100 cm.[5]
Rhabdophis tigrinus tersebar luas di Asia Timur, meliputi Rusia bagian timur (wilayah Primorskiy dan Khabarovsk), Korea Utara dan Korea Selatan, serta sebagian besar wilayah Tiongkok, kecuali daerah barat dan ujung selatannya, termasuk provinsi Zhejiang, Fujian, Jiangxi, Hubei, Guizhou, Sichuan, Gansu, Shaanxi, dan Mongolia Dalam. Spesies ini juga ditemukan di Taiwan, Vietnam, serta di Jepang, mulai dari Yakushima, Tanegashima, Kyūshū, Shikoku, Honshu, Osaka, hingga Kepulauan Ryukyu. Lokasi tipe yang tercatat untuk spesies ini adalah Jepang.[2]
Makanan utama Rhabdophis tigrinus terdiri dari hewan vertebrata kecil, khususnya katak dan kodok. Ular ini menggunakan kombinasi penciuman dan penglihatan untuk mencari mangsanya.[6] Spesies ini memiliki kelenjar khusus di bagian belakang leher yang disebut kelenjar nuchal,[7] yang berfungsi menyimpan senyawa steroid kardiotonik (bufadienolida) yang diperoleh dari kodok yang dimakannya.[8] Rhabdophis tigrinus memiliki ketahanan terhadap racun tersebut,[9] yang berbeda dari bisa alami yang diproduksi di kelenjar mulutnya dan tidak mengandung bufadienolida maupun toksin serupa lainnya. Betina R. tigrinus juga dapat menyalurkan senyawa kimia hasil akumulasinya kepada keturunan, baik melalui kuning telur maupun melalui transfer zat melintasi membran telur menjelang akhir masa kehamilan.[10]
Rhabdophis tigrinus memiliki dua baris kelenjar di leher yang berfungsi melindungi dirinya dari predator dengan melepaskan racun steroid yang diperoleh dari kodok beracun yang dimakannya, suatu mekanisme yang dikenal sebagai kleptotoksisisme.[11] Ketika berada di suhu rendah, ular ini cenderung menanggapi ancaman dengan perilaku pasif seperti meratakan leher dan tubuh serta tetap diam. Sebaliknya, pada suhu yang lebih tinggi, ia lebih sering memilih untuk melarikan diri. Dengan demikian, perlindungan kimia dari kelenjar tersebut menjadi lebih penting pada kondisi dingin.[12] Walaupun berbisa, kasus kematian akibat gigitan ular ini jarang terjadi karena kecenderungannya untuk tidak menyerang. Selain itu, posisi taringnya yang berada di bagian belakang mulut membuat gigitan terhadap mangsa atau predator berukuran besar menjadi sulit dilakukan.[13]