Ratu Adil, adalah tokoh dalam tradisi kepercayaan Jawa yang dipandang sebagai pemimpin penyelamat yang membawa kemakmuran dan keadilan. Sosok ini terkadang disamakan dengan Satria Piningit. Konsep ini berasal dari tulisan-tulisan kuno Raja Kediri Prabu Jayabaya yang pada abad ke-12 meramalkan kemunculan sosok seorang pemimpin Nusantara yang mengakhiri zaman Kalabendu.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
|
Ratu Adil (bahasa Jawa: ꦫꦠꦸꦄꦢꦶꦭ꧀code: jv is deprecated , artinya 'raja yang adil'), adalah tokoh dalam tradisi kepercayaan Jawa yang dipandang sebagai pemimpin penyelamat yang membawa kemakmuran dan keadilan. Sosok ini terkadang disamakan dengan Satria Piningit ('ksatria yang tersembunyi'). Konsep ini berasal dari tulisan-tulisan kuno Raja Kediri Prabu Jayabaya yang pada abad ke-12 meramalkan kemunculan sosok seorang pemimpin Nusantara yang mengakhiri zaman Kalabendu (masa sukar dan sengsara).[1]
Dalam berbagai literatur, kedatangan Ratu Adil diyakini akan membawa keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat. Sosok ini juga menyandang gelar Herucokro, yang merujuk pada pemimpin yang tidak mengutamakan kekayaan dan materi. Menurut Kitab Musarar Jayabaya, kedatangan Ratu Adil akan ditandai dengan kemelut sosial, malapetaka alam, serta jatuhnya raja besar yang ditakuti. Seluruh rangkaian ramalan ini terangkum dalam Serat Jayabaya.
Dalam etimologi bahasa Jawa, Ratu Adil berarti 'penguasa yang adil'.[2] Secara historis, istilah ratu merujuk pada sosok pemimpin tanpa memandang gender, berbeda dengan penggunaan bahasa Indonesia modern yang cenderung mengidentikkan ratu sebagai pendamping raja atau penguasa perempuan.
Terdapat perdebatan mengenai kaitan antara Ratu Adil dan Satria Piningit dalam literatur Jangka Jayabaya. Sebagian pandangan menyamakan keduanya, tetapi pendapat lain meyakini bahwa keduanya adalah entitas yang berbeda. Seorang tokoh yang dianggap sebagai Satria Piningit belum tentu akan menjadi Ratu Adil.[3] Belum terdapat konsensus akademik apakah sosok ini merupakan metafora atas karakter kepemimpinan tertentu atau merujuk pada tokoh perseorangan. Selain Serat Jayabaya, karya-karya Ranggawarsita juga menjelaskan tujuh sifat kepemimpinan yang ideal. Ketujuh karakter ini juga diyakini tersirat dalam salah satu bab Babad Tanah Jawi serta berbagai narasi tradisional Jawa lainnya, seperti kisah Aji Saka dan Siyung Wanara.
Sebagaimana yang disebutkan oleh Ramalan Jayabaya, senjata Ratu Adil adalah Trisula, yakni senjata bergagang tongkat panjang bermata tiga yang menyimbolkan weda atau pengetahuan. Dalam hal ini, pengetahuan atau keilmuan tersebut memiliki karakter berupa tiga hal, yaitu sifat kebenaran, kebijaksanaan, dan keadilan. Pembicaraan dalam Serat Jayabaya mengacu pada kepengetahuan mengenai penataan dunia atau kepemimpinan. Trisula Weda sendiri sebuah perumpamaan mengenai ilmu rahasia leluhur nusantara yang disebut Sastra Jendra Hayuningrat, yaitu ilmu untuk menata dunia dengan metode menghubungkan benang merah antara masa sekarang, masa depan, dan masa lalu. Demikian halnya perlambangan dari ketiga mata dari trisula yang dipercaya bahwa mereka-mereka yang berpengetahuan tentang masa lalu dapat memberikan pengetahuan dengan penuh kebenaran, juga mumpuni untuk memahami masalah pada masa sekarang sehingga dapat memberikan saran pemecahan secara bijaksana. Dengan demikian, mereka dapat berlaku adil sesuai dengan situasi kontekstual masyarakat pada masa tersebut dan dapat dipergunakan sebagai pegangan pada masa berikutnya.
Kepercayaan Jawa kuno (dwipa) mengenal sosok Ratu Adil dari zaman dahulu. Dia adalah sosok keturunan dari Krisna. Sosok yang diyakini sebagai bukti janji dari Sabdo Palon yang merupakan Pamomong tanah Jawa kepada seorang ulama yang membawa ajaran Islam. Ada satu dari keempat janji yang tidak disanggupi ulama Islam, yaitu ajaran Islam tidak akan mengubah orang Jawa menjadi kehilangan kejawaannya. Hal itu hanya mampu dibuktikan sesuai perjalanan waktu yang akan datang hingga saat janji tersebut tidak ditepati maka Sabdo Palon akan datang untuk menagih janjinya dengan memilih momongan sebagai Satria piningit atau satria yang tersembunyi untuk menyadarkan kembali masyarakat khususnya di tanah Jawa dalam mengenali jati dirinya.
Dalam Uga Wangsit Siliwangi tertulis jelas bahwa Ratu Adil atau budak angon (kiasan dari orang atau golongan orang biasa) ditemani oleh pemuda berjanggut (orang yang dekat sebagai penasehat). Budak angon sendiri digambarkan sebagai pemuda yang menggembalakan daun dan ranting pohon kering yang bisa diartikan sebagai pemuda yang mengembara, membawa alat tulis guna menjalankan amanatnya mencari solusi pada masa sekarang dari segala persoalan yang telah terjadi pada masa lalu demi menciptakan kedamaian dunia dalam kebaikan pada masa depan.