Raja menganggur atau raja malas adalah julukan bagi raja-raja terakhir dari wangsa Meroving yang tampak sudah kehilangan semangat juang para leluhurnya. Raja-raja yang dijuluki demikian adalah raja-raja yang naik takhta sesudah Raja Dagobert I mangkat pada 639 sampai dengan Raja Kilderik III yang dimakzulkan oleh Pipin Si Pendek pada 751.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Raja menganggur atau raja malas (bahasa Prancis: roi fainéantcode: fr is deprecated , pengucapan bahasa Prancis: [ʁwa fɛneɑ̃]) adalah julukan bagi raja-raja terakhir dari wangsa Meroving yang tampak sudah kehilangan semangat juang para leluhurnya. Raja-raja yang dijuluki demikian adalah raja-raja yang naik takhta sesudah Raja Dagobert I mangkat pada 639 (mulai dari Raja Teuderik III yang naik takhta pada 673) sampai dengan Raja Kilderik III yang dimakzulkan oleh Pipin Si Pendek pada 751.
Julukan ini diciptakan oleh Einhard, pujangga Franka yang menulis Vita Karoli Magni, Riwayat Karel Agung. Einhard meriwayatkan bahwa raja-raja terakhir dari wangsa Meroving hanyalah raja-raja yang "tinggal nama semata",
Tak ada lagi apa-apa yang perlu dikerjakan sang raja selain berpuas diri dengan sebutan raja, dengan rambutnya yang panjang terurai, serta janggutnya yang tumbuh menjuntai, dan bersemayam di atas singgasana dengan lagak penguasa, menerima sembah para duta yang berdatangan dari segala penjuru, serta memperkenankan mereka untuk undur diri, seakan-akan atas kewenangannya sendiri, dengan ucapan yang sesungguhnya disarankan atau bahkan dipaksakan padanya untuk diujarkan. Ia tak punya apa-apa yang dapat ia sebut milik sendiri selain gelar raja yang hampa dan nafkah tak menentu yang diberikan sang pembesar istana sekehendak hatinya, di luar dari penghasilan yang ia terima selaku penguasa sebuah desa, itu pun sangat kecil jumlahnya.[1]
Pada zaman raja menganggur, raja-raja wangsa Meroving lambat laun semakin dikendalikan oleh para pembesar istana mereka. Pada abad ke-6, pembesar istana hanyalah seorang kepala rumah tangga istana, tetapi pada abad ke-7 telah merangkak naik menjadi penguasa sesungguhnya "di balik singgasana" yang membatasi peran raja menjadi sekadar suatu jabatan seremonial belaka.
Di kemudian hari, raja terakhir dari wangsa Karoling, yakni Louis V dari Prancis, juga dijuluki Le Fainéant ("Si Penganggur" atau "Si Pemalas"), karena ia hanya benar-benar berkuasa penuh di Laon dan sekitarnya.