Rabi bin Khutsaim atau ar-Rabi' bin Khutsaim bin Aidz ats-Tsauri al Kufi, salah seorang ulama besar, seorang Tabi'in, setelah wafatnya Nabi Muhammad. Ia meriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud, Abu Ayyub al-Anshori dan Amir bin Maimun. Ia menjadi sumber riwayat bagi asy-Sya'bi, Ibrahim an-Nakha'i, Mundzir bin Ats-Tsauri, Hubairah bin Khuzaimah dan lain-lain. Rabi dari kabilah Mudhar dan panggilannya Abu Yazid, ia tinggal di kota Kufah (Irak). Ia pernah pingsan saat berjalan melihat kobaran api karena merasa takut dengan neraka.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Rabi bin Khutsaim atau ar-Rabi' bin Khutsaim bin Aidz ats-Tsauri al Kufi, salah seorang ulama besar, seorang Tabi'in, setelah wafatnya Nabi Muhammad. Ia meriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud, Abu Ayyub al-Anshori dan Amir bin Maimun. Ia menjadi sumber riwayat bagi asy-Sya'bi, Ibrahim an-Nakha'i, Mundzir bin Ats-Tsauri, Hubairah bin Khuzaimah dan lain-lain.[1] Rabi dari kabilah Mudhar dan panggilannya Abu Yazid[2], ia tinggal di kota Kufah (Irak). Ia pernah pingsan saat berjalan melihat kobaran api karena merasa takut dengan neraka.[3]
Rabi menjadi murid khusus Abdullah bin Mas'ud, ia belajar selama 20 tahun, dikenal zuhud dan kuat beribadah. Dalam kondisi sudah tua dan sakit, ia tetap memaksakan diri untuk pergi solat ke masjid[4]. Ketika Husain bin Ali terbunuh di Karbala dekat Kufah, ia membaca Quran Surat az-Zumar ayat 46.[2]
Rabi wafat pada tahun 65 H di Kufah.