Qurut adalah produk susu fermentasi tradisional yang berasal dari kawasan Asia Tengah. Hidangan ini dibuat dari yogurt atau susu asam yang telah dikeringkan hingga menjadi bola-bola padat. Qurut merupakan salah satu cara tertua dalam mengawetkan susu di daerah beriklim kering dan pegunungan seperti Uzbekistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan, dan Tajikistan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Qurut | |
|---|---|
| Nama lain | Kurut, Qorut, Chortan, Kashk |
| Sajian | Pelengkap atau camilan |
| Tempat asal | Asia Tengah |
| Daerah | Asia Tengah, Timur Tengah, Kaukasus |
| Suhu penyajian | Kering atau dicampur air |
| Bahan utama | Susu fermentasi, garam |
| Aneka | Qurut padat, Qurut cair, Qurut dengan rempah |
Qurut (juga dikenal sebagai Kurut, Qorut, atau Kashk) adalah produk susu fermentasi tradisional yang berasal dari kawasan Asia Tengah. Hidangan ini dibuat dari yogurt atau susu asam yang telah dikeringkan hingga menjadi bola-bola padat. Qurut merupakan salah satu cara tertua dalam mengawetkan susu di daerah beriklim kering dan pegunungan seperti Uzbekistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan, dan Tajikistan.[1]
Qurut memiliki akar sejarah panjang dalam budaya nomaden Asia Tengah. Kata "qurut" berasal dari bahasa Turkik kuno yang berarti "kering" atau "dikeringkan". Masyarakat penggembala tradisional membuatnya untuk mempertahankan nilai gizi susu tanpa harus menyimpannya dalam bentuk cair yang mudah rusak.[2] Proses pembuatan qurut juga ditemukan di berbagai kebudayaan lain di sekitar Jalur Sutra, seperti Iran (kashk) dan Mongolia (aaruul). Hal ini menunjukkan adanya pertukaran teknologi pangan antara masyarakat pengembara di Eurasia.[3]
Pembuatan qurut dimulai dari susu sapi, domba, atau kambing yang difermentasi menjadi yogurt kental (katyk). Yogurt ini kemudian disaring untuk memisahkan cairannya (whey) hingga tersisa pasta kental. Pasta tersebut diberi garam dan dibentuk menjadi bola-bola kecil atau padatan bulat, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari selama beberapa hari.[4] Qurut yang telah kering bisa disimpan selama berbulan-bulan tanpa pendinginan. Sebelum dikonsumsi, qurut biasanya dilarutkan kembali dalam air atau digunakan sebagai bumbu penyedap dalam sup dan saus.
Di Tajikistan, qurut sering digunakan untuk menambah rasa gurih pada hidangan osh (variasi plov), sedangkan di Kyrgyzstan dan Kazakhstan menjadi komponen penting dalam sup susu seperti jarma atau kurtob.[5]
Qurut merupakan sumber protein, kalsium, dan mineral penting lainnya. Karena kadar airnya sangat rendah, kandungan nutrisinya terkonsentrasi, menjadikannya bahan makanan padat gizi yang cocok untuk masyarakat pengembara.[6] Proses pengeringan alami juga berperan sebagai bentuk pengawetan tanpa bahan kimia, sekaligus mempertahankan mikroba asam laktat yang bermanfaat bagi pencernaan.
Selain nilai gizi, qurut memiliki makna sosial dan simbolik. Dalam masyarakat pastoral Asia Tengah, pemberian qurut kepada tamu dianggap sebagai bentuk penghormatan dan persahabatan. Produk ini juga sering dijadikan bekal perjalanan jauh karena tahan lama dan mudah dibawa.[7] Di era modern, qurut kembali populer sebagai makanan tradisional yang alami dan ramah lingkungan karena tidak memerlukan energi pendingin.