Putri malu atau Mimosa pudica L adalah perdu pendek anggota suku polong-polongan yang mudah dikenal karena daun-daunnya yang dapat secara cepat menutup/layu dengan sendirinya saat disentuh. Walaupun sejumlah anggota polong-polongan dapat melakukan hal yang sama, putri malu bereaksi lebih cepat daripada jenis lainnya. Kelayuan ini bersifat sementara karena setelah beberapa menit keadaannya akan pulih seperti semula.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Mimosa pudica | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Plantae |
| Klad: | Tracheophyta |
| Klad: | Angiospermae |
| Klad: | Eudikotil |
| Klad: | Rosidae |
| Ordo: | Fabales |
| Famili: | Fabaceae |
| Subfamili: | Caesalpinioideae |
| Klad: | Mimosoideae |
| Genus: | Mimosa |
| Spesies: | M. pudica |
| Nama binomial | |
| Mimosa pudica | |
Putri malu atau Mimosa pudica L adalah perdu pendek anggota suku polong-polongan yang mudah dikenal karena daun-daunnya yang dapat secara cepat menutup/layu dengan sendirinya saat disentuh. Walaupun sejumlah anggota polong-polongan dapat melakukan hal yang sama, putri malu bereaksi lebih cepat daripada jenis lainnya. Kelayuan ini bersifat sementara karena setelah beberapa menit keadaannya akan pulih seperti semula.
Tumbuhan ini memiliki banyak sekali nama lain sesuai sifatnya tersebut, seperti:
Kata pudica sendiri dalam bahasa Latin berarti "malu" atau "menciut".

Nama ilmiah untuk putri malu ialah Mimosa pudica L. Spesies Mimosa pudica Linn berasal dari famili Fabaceae.[2] Mimosa pudica pertama kali dideskripsikan oleh Carl Linnaeus dalam Species Plantarum pada tahun 1753.[3] Julukan spesiesnya yaitu pudica dalam bahasa Latin artinya malu atau menyusut, mengacu pada reaksi menyusutnya terhadap kontak.
Spesies ini dikenal dengan banyak nama umum termasuk tanaman sensitif, tanaman aksi, tanaman rendah hati, tanaman malu, dan tanaman jangan sentuh.


Batangnya tegak pada tanaman muda, tetapi menjadi menjalar atau menjuntai seiring usia. Batangnya dapat menggantung sangat rendah dan menjadi lemas. Batangnya ramping, bercabang, dan berduri jarang hingga rapat, tumbuh hingga mencapai panjang 1,5 meter. Tinggi tegak putri malu biasanya mencapai 30 cm.
Daunnya majemuk menyirip ganda, dengan satu atau dua pasang pinnae, dan 10–26 helai daun per pinna. Tangkai daunnya juga berduri. Kepala bunga merah muda pucat atau ungu bertangkai muncul dari ketiak daun di pertengahan musim panas dengan lebih banyak bunga saat bertambah tua. Satu bunga bertahan hidup kurang dari sehari, dan biasanya mati pada hari berikutnya. Bunga putri malu sangat rapuh dan lunak. Kepala bulat hingga bulat telur berdiameter 8–10 mm (tidak termasuk benang sari). Pada pemeriksaan lebih dekat, terlihat bahwa kelopak bunga berwarna merah di bagian atasnya dan filamennya berwarna pink hingga lavender. Serbuk sarinya berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 8 mikron.

Buahnya terdiri dari kelompok dua hingga delapan polong dengan panjang masing-masing 1–2 cm yang berduri di tepinya. Polongnya pecah menjadi dua hingga lima segmen dan berisi biji berwarna cokelat pucat dengan panjang sekitar 2,5 cm. Bunganya diserbuki oleh serangga dan angin.[4] Bijinya memiliki kulit yang keras yang membatasu perkecambahan dan membuat tekanan osmotik serta keasaman tanah tidak terlalu menjadi hambatan yang signifikan. Suhu tinggi merupakan rangsangan utama yang menyebabkan biji mengakhiri dormansi.[5]
Akar putri malu menghasilkan karbon disulfida, yang mencegah patogen dan jamur mikoriza tertentu tumbuh di rizosfer tanaman.[6] Hal ini memungkinkan pembentukan bintil pada akar tanaman yang mengandung endosimbiotik diazotrop, yang mengikat nitrogen atmosfer dan mengubahnya menjadi bentuk yang dapat digunakan oleh tanaman.[7]
Putri malu merupakan tumbuhan tetraploid (2n = 52).[8]
Keunikan dari tanaman ini adalah bila daunnya disentuh, ditiup, atau dipanaskan akan segera "menutup". Hal ini disebabkan oleh terjadinya perubahan tekanan turgor pada tulang daun. Rangsang tersebut juga bisa dirasakan daun lain yang tidak ikut tersentuh.
Gerak ini disebut seismonasti, yang walaupun dipengaruhi rangsang sentuhan (seismonasti), sebagai contoh, gerakan seismonasti daun putri malu tidak peduli dari mana arah datangnya sentuhan.
Tanaman ini juga menguncup saat matahari terbenam dan merekah kembali setelah matahari terbit.
Tanaman putri malu menutup daunnya untuk melindungi diri dari hewan pemakan tumbuhan (herbivor) yang ingin memakannya. Warna daun bagian bawah tanaman putri malu berwarna lebih pucat, dengan menunjukkan warna yang pucat, hewan yang tadinya ingin memakan tumbuhan ini akan berpikir bahwa tumbuhan tersebut telah layu dan menjadi tidak berminat lagi untuk memakannya.
Tanaman putri malu merupakan tanaman yang sangat sensitif dengan cara menutup daun sebagai reaksi terhadap rangsangan seperti sentuhan, getaran, cahaya, angin, panas, dan dingin.[9]
Putri malu berasal dari Amerika tropis. Tanaman ini juga dapat ditemukan di negara-negara Asia seperti Singapura, Bangladesh, Thailand, India, Nepal, Indonesia, Taiwan, Malaysia, Filipina, Vietnam, Kamboja, Laos, Jepang, dan Sri Lanka. Tanaman ini telah diperkenalkan di berbagai wilayah lain dan dianggap sebagai spesies invasif di Tanzania, Asia Selatan dan Tenggara, serta banyak pulau di Pasifik.[10] Tanaman ini dianggap invasif di beberapa wilayah Australia dan merupakan gulma yang dinyatakan di Northern Territory,[11] dan Australia Barat meskipun belum dinaturalisasi di sana.[12] Pengendalian direkomendasikan di Queensland.[13]
Putri malu juga telah diperkenalkan di Uganda, Ghana, Nigeria, Seychelles, Mauritius dan Asia Timur namun tidak dianggap invasif di tempat-tempat tersebut.[10] Di Amerika Serikat, ia tumbuh di Louisiana, Florida, Hawaii, Tennessee, Virginia, Maryland, Puerto Rico, Texas, Alabama, Arkansas, Mississippi, Carolina Utara, Georgia, wilayah Guam, dan Kepulauan Virgin.[14]
Putri malu memiliki beberapa predator alami, seperti tungau laba-laba dan ulat jaring mimosa. Kedua serangga ini membungkus daun dengan jaring yang penutupan daun secara responsif. Daun yang dijaringi terlihat jelas saat berubah menjadi sisa-sisa fosil berwarna cokelat setelah serangan.[15] Ulat jaring mimosa terdiri dari dua generasi yang muncul pada musim yang berbeda. Hal ini menyulitkan pencegahan dan membutuhkan waktu pemberian insektisida yang tepat untuk tidak membantu predator lain. Setelah larva berubah menjadi ngengat abu-abu, mereka tidak berbahaya bagi tanaman tetapi bertelur lebih banyak.[16]
Bagi lahan pertanian terutama pada lahan terbuka, putri malu adalah gulma yang menghalangi tanaman terkena sinar matahari. Pada perkebunan, putri malu dianggap sebagai tanaman pengganggu sehingga dihilangkan dan jarang dijumpai.[17] Putri malu dapat menjadi gulma bagi tanaman tropis, terutama jika lahan diolah dengan tangan. Tanaman yang cenderung terserang adalah jagung, kelapa, tomat, kapas, kopi, pisang, kedelai, pepaya, dan tebu. Belukar kering dapat menjadi bahaya kebakaran.[4] Dalam beberapa kasus, putri malu telah menjadi pakan ternak, meskipun varietasnya di Hawaii dilaporkan beracun bagi hewan ternak.[4][18]
Selain itu, putri malu dapat mengubah sifat fisiko-kimia tanah yang diserbunya; misalnya total nitrogen dan kalium telah terlihat meningkat secara signifikan di daerah yang diserbu.[19]
Tiga puluh enam spesies tumbuhan asli Thailand diuji untuk melihat mana yang paling efektif dalam melakukan fitoremediasi tanah yang tercemar arsenik akibat tambang timah. Mimosa pudica adalah salah satu dari empat spesies yang secara signifikan mengekstraksi dan mengakumulasi polutan kedalam daunnya.[20] Studi lain menemukan bahwa putri malu mengekstraksi logam berat seperti tembaga, timbal, timah, dan seng dari tanah yang tercemar. Hal ini memungkinkan tanah untuk secara bertahap kembali ke komposisi yang kurang beracun.[21]
Jika bakteri pengikat nitrogen terdapat di lingkungan, Putri malu dapat membentuk bintil akar untuk mereka huni.[22] Bakteri ini mampu mengubah nitrogen atmosfer, yang tidak dapat digunakan oleh tanaman, menjadi bentuk yang dapat digunakan tanaman. Sifat ini umum di antara tanaman dalam famili Fabaceae. Nitrogen merupakan unsur vital untuk pertumbuhan dan reproduksi tanaman. Nitrogen juga penting untuk fotosintesis tanaman karena merupakan komponen klorofil. Fiksasi nitrogen menyumbangkan nitrogen ke tanaman dan tanah di sekitarnya.[23]
Fiksasi nitrogen merupakan sifat adaptif yang telah mengubah hubungan parasit antara bakteri dan tanaman menjadi hubungan mutualistik. Dinamika pergeseran hubungan ini ditunjukkan oleh peningkatan berbagai karakteristik simbiosis antara Putri malu dan bakteri. Sifat-sifat ini meliputi peningkatan "nodulasi kompetitif, perkembangan nodul, infeksi intraseluler, persistensi bakteroid".[24]
Sebanyak 60% nitrogen yang terkandung dalam putri malu dapat dikatkan dengan fiksasi N2 oleh bakteri Paraburkholderia phymatum STM815T dan Cupriavidus taiwanensis LMG19424T adalah galur diazotrof beta rhizobial yang sangat efektif dalam memfiksasi nitrogen ketika dipadukan dengan putri malu. Burkholderia juga terbukti merupakan simbion kuat Mimosa pudica di tanah miskin nitrogen di wilayah seperti Cerrado dan Caatinga.[7]

Dalam budidaya, tanaman ini sering ditanam sebagai tanaman tahunan dalam ruangan yang berumur pendek, tetapi juga ditanam sebagai penutup tanah. Perbanyakan umumnya dilakukan dengan biji. Perkecambahan akan terjadi dalam 2-3 minggu. Putri malu paling efektif tumbuh di tanah yang miskin hara yang memungkinkan drainase air yang baik. Namun, tanaman ini juga terbukti tumbuh di tanah dasar yang terkelupas dan tererosi. Biasanya, tanah yang terganggu diperlukan agar putri malu dapat tumbuh subur di suatu area. Selain itu, tanaman ini tidak toleran terhadap naungan dan sensitif terhadap embun beku, yang berarti tidak mentoleransi tingkat cahaya rendah atau suhu dingin. Putri malu tidak bersaing untuk mendapatkan sumber daya dengan dedaunan yang lebih besar atau semak tajuk hutan.[6]
Di daerah beriklim sedang, tanaman ini harus ditanam di tempat yang terlindung, di mana suhunya turun dibawah 13 °C.
Mimosa pudica mengandung alkaloid mimosina yang beracun, yang juga diketahui memiliki efek antiproliferatif dan apoptosis.[25] Ekstrak Mimosa pudica melumpuhkan larva filariform Strongyloides stercoralis dalam waktu kurang dari satu jam.[26] Ekstrak air akar tanaman ini telah menunjukkan efek penetralan yang signifikan terhadap daya mematikan racun ular ular sendok (Naja kaouthia). Ekstrak ini tampaknya menghambat miotoksisitas dan aktivitas enzim racun ular kobra.[27]
Mimosa pudica menunjukkan sifat antioksidan dan antibakteri. Tanaman ini juga telah terbukti tidak beracun dalam uji letalitas udang air asin, yang menunjukkan bahwa M. pudica memiliki tingkat toksisitas yang rendah. Analisis kimia menunjukkan bahwa Mimosa pudica mengandung berbagai senyawa, termasuk "alkaloid, flavonoid C-glikosida, sterol, terenoid, tanin, saponin, dan asam lemak".[28][29] Akar tanaman ini telah terbukti mengandung hingga 10% tanin. Zat yang mirip dengan adrenalin telah ditemukan di dalam daun tanaman. Biji Mimosa pudicamenghasilkan mucilage yang terbuat dari D-glucuronic acid dan D-xylose. Selain itu, ekstrak M. pudica telah terbukti mengandung krosetin-dimetilester, tubulin, dan minyak lemak berwarna hijau-kuning. Kelas baru fitohormon turgorines, yang merupakan turunan asam galat 4-O-(β-D-glukopinarosil-6'-sulfat), telah ditemukan di dalam tanaman.[6]
Sifat pengikat nitrogen Mimosa pudica berkontribusi terhadap tingginya kandungan nitrogen di dalam daun tanaman. Daun Mimosa pudica juga mengandung rentang kandungan karbon dan mineral yang luas, serta variasi nilai 13C yang besar. Korelasi antara kedua angka ini menunjukkan bahwa adaptasi ekologi yang signifikan telah terjadi di antara varietas Mimosa pudica di Brasil.[23]
Akarnya mengandung struktur seperti kantung yang melepaskan senyawa organik dan organosulfur termasuk SO2, asam metilsulfinat, asam piruvat, asam laktat, ethanesulfinic acid, asam propana sulfin, 2-mercaptoaniline, S-propil propana 1-tiosulfinat, dah tioformaldehida, senyawa yang sulit dipahami dan sangat tidak stabil yang belum pernah dilaporkan dikeluarkan oleh tanaman.[30]
Halaman berisi penjelasan tentang tumbuhan sensitif Diarsipkan 2005-04-07 di Wayback Machine.