Putri Qinghe (清河長公主) adalah seorang putri kekaisaran Cao Wei yang hidup pada masa Akhir Dinasti Han dan Zaman Tiga Negara (220-280AD). Ia merupakan putri sulung dari Cao Cao dan ibunya merupakan Nyonya Liu. Ia memiliki dua saudara kandung, Cao Ang dan Cao Shuo. Ia juga memiliki banyak saudara tiri, seperti Cao Pi, Cao Zhang, Cao Zhi, Cao Chong dan Cao Jie.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Putri Qinghe (清河長公主) adalah seorang putri kekaisaran Cao Wei yang hidup pada masa Akhir Dinasti Han dan Zaman Tiga Negara (220-280AD). Ia merupakan putri sulung dari Cao Cao dan ibunya merupakan Nyonya Liu. Ia memiliki dua saudara kandung, Cao Ang dan Cao Shuo. Ia juga memiliki banyak saudara tiri, seperti Cao Pi, Cao Zhang, Cao Zhi, Cao Chong dan Cao Jie.[1]
Nama aslinya tidak pernah dicetak di dalam sejarah. "Putri Qinghe" hanyalah sebuah gelar yang disandangkan olehnya.[2] Ibunya adalah Nyonya Liu, salah satu selir Cao Cao yang meninggal muda. Walaupun lahir dari selir, ia bersama Cao Ang merupakan putri dan putra sulung dari anak-anak Cao Cao. Saat hendak mencarikan jodoh untuknya, Cao Cao mendengar kabar bahwa ada seorang pria bernama Ding Yi, putra temannya Ding Chong yang dikenal karena kebijaksanaan dan popularitasnya. Cao Cao bertanya kepada Cao Pi mengenai pendapatnya. Namun, Cao Pi berkata "Ding Yi berpenampilan cacat dengan satu mata, oleh karena itu pria tersebut tidak akan cocok sama putri tercinta anda." Cao Pi kemudian menyarankan ayahnya untuk menjodohkannya dengan putra kedua Xiahou Dun, Xiahou Mao. Oleh karena itu, Cao Cao berubah pikiran dan menjodohkannya dengan Xiahou Mao.[3]
Namun, Cao Cao memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Ding Yi secara pribadi dan mengakui bahwa bakatnya sangat hebat. Cao Cao menyesal tidak menjodohkan Putri Qinghe dengan Ding Yi dan berkata kepada Ding Yi, "putra saya menyesatkan saya" dan memohon maaf. Sejak pertemuan tersebut, Ding Yi menyimpan dendam yang sangat hebat terhadap Cao Pi, sampai-sampai ia memutuskan untuk menyingkirkan Cao Pi dari posisi calon penerus Cao Cao dengan mendukung Cao Zhi.[3]
Pada 220, Cao Pi naik taktha sebagai kaisar di dinasti baru Cao Wei. Ia mengangkat kakak perempuannya Putri Qinghe (di Gangling)[4] dan suaminya, Xiahou Mao diangkat sebagai Jenderal Stabilitas Barat (安西將軍), membuatnya bertanggung jawab terhadap bidang militer di wilayah Guanzhong. Kemudian, Cao Zhi datang ke ibukota untuk memohon maaf kepada Cao Pi dan meminta Putri Qinghe untuk menengahi pertemuan tersebut. Namun, para petugas di pos pemeriksaan melaporkan hal ini kepada Cao Pi, yang kemudian mengirim seseorang untuk mengawal Cao Zhi. Tiba-tiba, keberadaan Cao Zhi menjadi tidak diketahui, menyebabkan kekhawatiran besar bagi ibunya, Janda Permaisuri Bian. Ia khawatir Cao Zhi mungkin telah bunuh diri. Tak lama kemudian, Cao Zhi muncul kembali, menghadap kakak laki-lakinya, dan meminta maaf sambil menawarkan mengorbankan nyawanya.[3]
Pada tahun 228, di bawah pemerintahan keponakannya, Cao Rui, Xiahou Mao dipanggil kembali untuk menjabat sebagai pejabat tinggi. Sebelumnya, saat memimpin pasukan di wilayah Guanzhong, Xiahou Mao telah mengumpulkan banyak selir, yang menyebabkan ketidakpuasan Putri Qinghe.[3]
Pada 230,[5] tensi antara Xiahou Mao dan Putri Qinghe semakin memburuk. Dua adik laki-laki Xiahou Mao, Xiahou Zizang (夏侯子臧) dan Xiahou Zijiang (夏侯子江) telah mendapatkan kemarahan Xiahou Mao karena gagal menghormati sopan santun dan mereka takut akan hukuman sehingga mereka bersekutu dengan Putri Qinghe, menulis peringatan atas namanya yang menuduh Xiahou Mao melakukan pengkhianatan. Saat menerima laporan, Cao Rui yang sudah muak dengan Xiahou Mao mau menghukumnya mati. Namun, Cao Rui berkonsultasi dengan Duan Mo yang menyatakan bahwa laporan tersebut tidak didasari fakta, melainkan berdasarkan perseteruan dengan Xiahou Mao dan tantenya. Duan Mo juga mengingatkan Cao Rui bahwa ayah Xiahou Mao, Xiahou Dun telah berjasa terhadap berdirinya Cao Wei. Cao Rui kemudian memerintahkan investigasi terhadap siapa yang menulis petisi kepadanya dan saat kebenarannya sudah diketahui, Cao Rui memutuskan untuk tidak menghukum Xiahou Mao mati.