Putri Ong Tien Nio dikenal dengan nama lain Nyimas Rara Sumanding atau Ratu Rara Sumanding merupakan salah satu putri kaisar Tiongkok dari Dinasti Ming dan menjadi salah satu istri Sunan Gunung Jati dari Kasultanan Cirebon. Pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Puteri Ong Tien Nio sebagai istri ke tiga ini berlangsung pada sekitar tahun 1481, setahun setelah pembangunan Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel atau bagian artikel ini kemungkinan telah disalin dan disisipkan bulat-bulat dari madiun.jatimtimes.com/baca/320473/20240910/041000/dari-laut-cina-ke-tanah-jawa-kisah-cinta-putri-ong-tien-dan-sunan-gunung-jati, dan mungkin melanggar kebijakan hak cipta Wikipedia. Silakan perbaiki artikel ini dengan menghapus konten berhak cipta tidak bebas dan menggantinya dengan konten bebas dengan benar, atau tandai konten untuk dihapus. (periksa) (Maret 2026) |
Putri Ong Tien Nio dikenal dengan nama lain Nyimas Rara Sumanding atau Ratu Rara Sumanding merupakan salah satu putri kaisar Tiongkok (Kaisar Hong Gie) dari Dinasti Ming dan menjadi salah satu istri Sunan Gunung Jati dari Kasultanan Cirebon.[1] Pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Puteri Ong Tien Nio sebagai istri ke tiga ini berlangsung pada sekitar tahun 1481, setahun setelah pembangunan Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon.[2]
Pernikahan Putri Ong Tien Nio dengan Sunan Gunung Jati menjadi pintu gerbang masuknya budaya dan tradisi Tiongkok ke Keraton Cirebon. Keramik, porselen, atau kain sutra dari zaman Dinasti Ming dan Qing.[1] Dari Putri Ong Tien inilah perluasan Keraton Pakungwati Cirebon banyak menggunakan hiasan dinding dari porselin buatan Tiongkok.
Mengingat pentingnya peran Putri Ong Tien Nio dalam sejarah Cirebon dan sosoknya yang dihormati oleh masyarakat setempat terutama etnis Tionghoa, barang-barang peninggalannya disimpan dan dirawat dengan ketat, salah satunya adalah pakaian sang putri yang disimpan oleh Museum Pusaka Keraton Kasepuhan.[1]
Putri Ong Tien memang hanya salah satu putri Tiongkok yang pernah bermukim dan menikah di Tanah Jawa. Namun, yang membedakan dari putri-putri Tiongkok lainnya, dia menorehkan sejarah sebagai perempuan asing yang berhasil masuk ke lingkaran keluarga Kesultanan Cirebon dan ikut dimakamkan di Kompleks Pemakaman Keramat Sunan Gunung Jati.[3]
Pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Putri Ong Tien Nio tidak banyak terekam. Para peneliti lebih banyak meduga jika pernikahan itu terjadi saat pemerintah Cirebon melakukan hubungan dagang dengan orang-orang Tionghoa. Pertemuan keduanya terjadi di Tiongkok saat Sunan Gunung Jati datang ke sana, namun pernikahannya terjadi di Jawa.[4]
Dalam salah satu catatan dikisahkan, Sunan Gunung Jati hendak melaksanakan salat tahajud seperti biasanya, tiba-tiba perasaan Sunan Gunung Jati tidak enak dan tidak bisa fokus untuk salat. Hal itu membuat Sunan Gunung Jati resah dan memutuskan untuk pergi ke masjid. Sesampainya di masjid, ternyata Sunan Gunung Jati belum juga berhasil mendapatkan ketenangan dan mampu menjalankan salat tahajud dengan khusyuk.[5]
Sampai akhirnya beliau memutuskan keluar untuk mencari angin segar menuju pantai Cirebon. Saat itu pula Sunan Gunung Jati mendapatkan ketenangan dan merasa nyaman untuk menjalankan salat tahajud. Maka salatlah Sunan Gunung Jati di atas perahu yang menepi di pantai tersebut. Saking khusyuknya, Sunan Gunung Jati langsung terlelap tidur selesai salat tahajud. Ketika bangun, Sunan Gunung Jati kaget karena sudah tidak lagi ada di Cirebon, melainkan ada di negeri China. Meskipun demikian, Sunan Gunung Jati sudah sering mendengar cerita tentang negeri China. Sehingga membuat beliau berani untuk turun dan bergaul dengan masyarakat yang ada di situ. Singkat cerita, keberadaan Sunan Gunung Jati yang membuat masyarakat China banyak masuk Islam terdengar sang penguasa di sana dan mengutus prajurit untuk mengundang Sunan Gunung Jati ke istana. Saat di istana, Sunan Gunung Jati bertemu dengan Putri Ong Tien. Dari pertemuan itu menumbuhkan benih-benih cinta sebab kecerdasan yang dimiliki Sunan Gunung Jati.[6]
Dalam buku Sejarah Cirebon karangan Pangeran Sulaiman Sulendraningrat, dijelaskan bahwa Putri Ong Tien melakukan perjalanan panjang selama berbulan-bulan melintasi laut demi bertemu dengan Sunan Gunung Jati. Bersama rombongan pengiringnya, ia membawa berbagai barang berharga, termasuk bokor kuningan yang kelak akan memainkan peran penting dalam hidupnya di Cirebon. Sesampainya di Pelabuhan Muara Jati di Cirebon, Putri Ong Tien merasa kecewa karena Sunan Gunung Jati yang ia cari tidak berada di tempat. Pada saat itu, Sunan Gunung Jati sedang berada di Luragung, sebuah wilayah yang terletak di pedalaman, sekitar 50 kilometer dari Cirebon. Sunan Gunung Jati sedang dalam misi penting untuk mengislamkan penguasa Luragung bersama uwaknya, Pangeran Cakrabuana. Putri Ong Tien memutuskan untuk menyusul Sunan Gunung Jati ke Luragung. Sesampainya di Luragung, Putri Ong Tien dan rombongannya memutuskan untuk memeluk Islam. Dalam proses tersebut, Putri Ong Tien mendapatkan nama baru, yaitu Ratu Mas Rarasumanding. Setelah memeluk Islam, pernikahan antara Putri Ong Tien dan Sunan Gunung Jati pun dilangsungkan di Luragung.[7]
Ketika Putri Ong Tien datang ke Cirebon, ia membawa sebuah bokor kuningan. Bokor ini kemudian menjadi penanda pertukaran simbolis dalam adopsi seorang bayi anak penguasa Luragung yang kelak menjadi Pangeran Kuningan. Bayi ini kemudian dikenal sebagai Adipati Kuningan. Adipati Kuningan tidak hanya menjadi penguasa Kuningan, tetapi juga diakui sebagai putra angkat Sunan Gunung Jati, yang berperan besar dalam penyebaran Islam di wilayah Jawa Barat.[7]
Kehidupan Putri Ong Tien di Cirebon tidak berlangsung lama. Setelah empat tahun menetap di Cirebon, ia meninggal dunia tanpa meninggalkan keturunan. Putri Ong Tien dimakamkan di Astana Agung Gunung Jati, kompleks pemakaman keluarga besar Sunan Gunung Jati di Cirebon. Makamnya menjadi salah satu tempat yang dihormati di Cirebon dan sering dikunjungi oleh para peziarah yang ingin mengenang kisahnya. Meskipun usianya di Cirebon tidak panjang, namun pengaruhnya dalam sejarah Cirebon tetap dikenang sebagai bagian penting dari hubungan antara Nusantara dan Tongkok.[7]