Kyūshū , adalah pulau terbesar ketiga dari empat pulau utama Jepang dan pulau paling selatan dari empat pulau terbesar. Di masa lalu, pulau ini dikenal sebagai Kyūkoku (九国, "Sembilan Negara"), Chinzei (鎮西, "Bagian Barat Area Pasifik") dan Tsukushi-no-shima (筑紫島code: ja is deprecated , "Pulau Tsukushi"). Nama daerah yang bersejarah Saikaidō mengacu pada Kyushu dan pulau-pulau sekitarnya. Kyushu memiliki luas daratan sebesar 36.782 kilometer persegi (14.202 sq mi) dan populasi sebesar 14,311,224 di tahun 2018.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Nama lokal: 九州 | |
|---|---|
Oktober 2009 NASA citra satelit Kyushu | |
Wilayah Kyushu di Jepang dan prefektur saat ini di pulau Kyushu | |
| Geografi | |
| Lokasi | Asia Timur |
| Koordinat | 33°N 131°E / 33°N 131°E / 33; 131[[Sistem koordinat geografis|Koordinat]]: <templatestyles src=\"Module:Coordinates/styles.css\"></templatestyles><span class=\"plainlinks nourlexpansion\">[https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Ky%C5%ABsh%C5%AB¶ms=33_N_131_E_region:JP_type:isle_scale:2500000 <span class=\"geo-default\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\"><span class=\"latitude\">33°N</span> <span class=\"longitude\">131°E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\"> / </span><span class=\"geo-nondefault\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\">33°N 131°E</span><span style=\"display:none\"> / <span class=\"geo\">33; 131</span></span></span>]</span>[[Category:Pages using gadget WikiMiniAtlas]]</span>"},"html":"<span id=\"coordinates\"><a rel=\"mw:WikiLink\" href=\"./Sistem_koordinat_geografis\" title=\"Sistem koordinat geografis\" id=\"mwBA\">Koordinat</a>: <link rel=\"mw-deduplicated-inline-style\" href=\"mw-data:TemplateStyles:r28112010\" about=\"#mwt5\" typeof=\"mw:Extension/templatestyles\" data-mw='{\"name\":\"templatestyles\",\"attrs\":{\"src\":\"Module:Coordinates/styles.css\"},\"body\":{\"extsrc\":\"\"}}' id=\"mwBQ\"/><span class=\"plainlinks nourlexpansion\" id=\"mwBg\"><a rel=\"mw:ExtLink\" href=\"https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Ky%C5%ABsh%C5%AB&params=33_N_131_E_region:JP_type:isle_scale:2500000\" class=\"external text\" id=\"mwBw\"><span class=\"geo-default\" id=\"mwCA\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwCQ\"><span class=\"latitude\" id=\"mwCg\">33°N</span> <span class=\"longitude\" id=\"mwCw\">131°E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\" id=\"mwDA\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwDQ\"></span> / <span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwDg\"></span></span><span class=\"geo-nondefault\" id=\"mwDw\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwEA\">33°N 131°E</span><span style=\"display:none\" id=\"mwEQ\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwEg\"></span> / <span class=\"geo\" id=\"mwEw\">33; 131</span></span></span></a></span><link rel=\"mw:PageProp/Category\" href=\"./Kategori:Pages_using_gadget_WikiMiniAtlas\" id=\"mwFA\"/></span>"}' id="mwFQ"/> |
| Kepulauan | Kepulauan Jepang |
| Luas | 36782.37[1] km2 |
| Peringkat luas | ke-37 |
| Garis pantai | 12.221 km |
| Titik tertinggi | Gunung Kujū[2] (1.791 m) |
| Pemerintahan | |
| Negara | |
| Prefektur | |
| Kota terbesar | Fukuoka |
| Kependudukan | |
| Penduduk | 12,650,847 (per Juni 2022) jiwa |
| Kepadatan | 307.13 jiwa/km2 |
| Kelompok etnik | Jepang, Ryukyuan |
| Info lainnya | |
| Zona waktu | |
![]() | |
![]() | |
Kyūshū (九州code: ja is deprecated , Kyūshū, diucapkan [kʲɯꜜːɕɯː] (
simak)), (Bahasa Indonesia: Sembilan Provinsi) adalah pulau terbesar ketiga dari empat pulau utama Jepang dan pulau paling selatan dari empat pulau terbesar (tidak termasuk Okinawa).[3][4] Di masa lalu, pulau ini dikenal sebagai Kyūkoku (九国, "Sembilan Negara"), Chinzei (鎮西, "Bagian Barat Area Pasifik") dan Tsukushi-no-shima (筑紫島code: ja is deprecated , "Pulau Tsukushi"). Nama daerah yang bersejarah Saikaidō (西海道code: ja is deprecated code: ja is deprecated ) mengacu pada Kyushu dan pulau-pulau sekitarnya. Kyushu memiliki luas daratan sebesar 36.782 kilometer persegi (14.202 sq mi) dan populasi sebesar 14,311,224 di tahun 2018.[5]
Pada abad ke-8 reformasi Kode Taihō, Dazaifu ditetapkan sebagai istilah administratif khusus untuk wilayah tersebut.[6]
Diperkirakan bahwa wilayah Kyushu telah dihuni oleh manusia sejak sebelum zaman Paleolitikum, sebagaimana dibuktikan dengan banyaknya situs arkeologi yang ditemukan di wilayah tersebut. Situs terkenal termasuk Situs Cangkang Tatsuhata di Prefektur Ōita dan Situs Tateno di Prefektur Kumamoto, di mana ditemukan alat-alat batu dari obsidian serta peninggalan yang menunjukkan aktivitas berburu dan mengumpulkan.[7][8]
Pada zaman Jōmon, wilayah ini dihuni oleh orang Jōmon, nenek moyang etnis Jepang modern, dan budaya Jōmon berkembang berkat iklim yang hangat. Budaya perikanan dan pengumpulan kerang sangat menonjol, sebagaimana dibuktikan oleh penemuan di Situs Itazuke (Prefektur Fukuoka) dan Gua Fukui (Prefektur Nagasaki), termasuk tembikar, sisa-sisa permukiman, dan jejak ritual keagamaan. Sejak masa ini, terjadi pertukaran dan mobilitas aktif dengan Kepulauan Ryukyu (Okinawa), dan ditemukannya obsidian dari Saga dan tembikar dari Kagoshima di Okinawa menunjukkan kesinambungan budaya antara kedua wilayah tersebut.[7]
Pada zaman Yayoi, orang-orang dari wilayah Austronesia dan Semenanjung Korea bermigrasi ke Jepang, dikenal sebagai "orang Yayoi" (istilah ini merujuk pada orang yang datang ke Jepang pada zaman itu, bukan kelompok etnis tertentu). Mereka berasimilasi secara bertahap dengan orang Jōmon setempat, membentuk dasar populasi Jepang modern. Di Kyushu, budaya maritim sangat berkembang, dan terdapat banyak kesamaan dengan kepercayaan Nirai Kanai dari Ryukyu. Kepercayaan terhadap laut yang kuat di Kyushu berasal dari pengaruh ini.[9]
Selama periode ini, alat dari besi dan perunggu mulai digunakan, dan Kyushu menjadi wilayah yang paling maju di Jepang. Kyushu terbagi menjadi banyak negara kecil seperti Nakoku dan Itokoku, yang bersaing satu sama lain. Juga terdapat kelompok etnis yang berbeda dari Yamato, seperti suku Hayato.[10]
Pada akhir zaman Yayoi, diperkirakan muncul negara Yamatai yang diperintah oleh seorang pendeta wanita bernama Himiko di Kyushu utara. Negara ini memiliki pengaruh besar terhadap wilayah sekitarnya. Beberapa teori menyatakan bahwa kerajaan independen telah berdiri di Kyushu sejak masa ini, yang menjadi akar budaya khas Kyushu hingga masa kini. Pada zaman Kofun, terjadi Pemberontakan Iwai, tetapi akhirnya kekuasaan Yamato berhasil mengatasi perlawanan tersebut.[11]
Setelah itu, sistem ritsuryō membagi Kyushu menjadi sembilan provinsi: Chikuzen (utara Fukuoka), Chikugo (selatan Fukuoka), Hizen (Saga dan Nagasaki), Higo (Kumamoto), Buzen (timur Fukuoka), Bungo (Ōita), Hyūga (Miyazaki), Satsuma (barat Kagoshima), dan Ōsumi (timur Kagoshima). Inilah asal-usul nama "Kyushu" yang berarti "sembilan provinsi".[12]
Pada zaman Nara, pemerintahan pusat mendirikan Dazaifu (di wilayah yang kini adalah Kota Dazaifu, Prefektur Fukuoka) sebagai pusat administrasi Kyushu. Di Kota Fukuoka juga didirikan Kōrokukan, fasilitas diplomatik yang melayani hubungan luar negeri dengan Ryukyu, Semenanjung Korea, dan wilayah selatan lainnya, memperkuat peran Kyushu sebagai gerbang Jepang ke dunia luar, dan menghasilkan budaya yang unik melalui pertukaran timbal balik.[12]
Pada zaman Kamakura, pada tahun 1274, armada Kekaisaran Mongol menyerang pelabuhan Hakata, tetapi berhasil dipukul mundur oleh para samurai Kamakura yang bertahan mati-matian.[13]
Selama zaman Sengoku, Kyushu menjadi salah satu wilayah paling bergejolak di Jepang, dengan perang antar klan besar seperti Shimazu (Kagoshima), Ōtomo, dan Ryūzōji. Budaya prajurit berkembang pesat, dan hingga kini semangat tersebut masih hidup, tecermin dalam istilah "Kyushu-danji" (九州男児). Khususnya di wilayah Satsuma (Kagoshima), pendidikan ketat seperti sistem gōchū kyōikuk(郷中教育) diberikan sejak usia dini, sehingga daerah ini dijuluki "Sparta dari Timur".[14]
Menjelang akhir zaman Sengoku, Klan Shimazu hampir berhasil menyatukan seluruh Kyushu, tetapi akhirnya dikalahkan oleh Toyotomi Hideyoshi, yang kemudian menaklukkan seluruh wilayah Kyushu.[15]
Pada zaman Edo, Domain Satsuma tetap memiliki kekuatan besar dan berfungsi hampir seperti negara semi-independen. Pada masa ini, muncul gerakan anti-Buddha di Kyushu, dan terjadi upaya pelestarian kepercayaan asli seperti Shintō. Akibatnya, Kyushu memiliki lebih sedikit kuil Buddha dan lebih banyak kuil Shintō dibandingkan daerah lain di Jepang, mempertahankan bentuk kepercayaan asli yang lebih murni.[16]
Selama Perang Dunia II, banyak kota di Kyushu mengalami pemboman sembarangan oleh pasukan Amerika Serikat, yang menyebabkan banyak korban sipil.[17]
Setelah perang, Kyushu mengalami pemulihan dan berkembang dalam berbagai bidang seperti pariwisata, pertanian, industri, dan penelitian. Kota Fukuoka tumbuh sebagai pusat pertukaran dengan Asia, sementara Kumamoto menjadi basis industri teknologi tinggi seperti semikonduktor. Kyushu tetap menjadi daerah yang kaya akan budaya tradisional dan alam, serta menarik banyak wisatawan dari dalam dan luar negeri.[17]
Budaya di wilayah Kyushu sangat dipengaruhi oleh budaya selatan seperti Ryukyu (Okinawa). Dibandingkan dengan wilayah lain di Jepang, budaya Kyushu memiliki karakter yang lebih tropis dan tradisi yang khas yang masih bertahan hingga kini.[18]
Secara historis, wilayah ini memiliki sedikit pengaruh dari daratan Tiongkok dibandingkan dengan wilayah seperti Kansai. Oleh karena itu, berbagai bentuk kepercayaan dan budaya kuno yang telah hilang di wilayah Honshu masih dapat ditemukan di Kyushu. Khususnya, karena sejak dahulu kala telah terjalin hubungan erat dengan Okinawa, pengaruh budaya Ryukyu juga sangat terlihat di sini.[19]
Orang-orang di Kyushu dikenal sebagai sosok yang konservatif namun ramah, terutama jika dibandingkan dengan masyarakat dari wilayah Kanto dan sekitarnya. Pria Kyushu sering dijuluki sebagai “Kyushu Danji”(九州男児)yang menggambarkan citra pria yang tangguh, kuat, dan dapat diandalkan. Budaya seperti inilah yang membantu menjaga keberlangsungan warisan budaya tradisional yang unik di wilayah ini.[20]
Di Kyushu terdapat alat musik tradisional yang disebut Gottan(ゴッタン), sebuah alat musik berdawai yang terbuat dari kayu cedar. Gottan diyakini memiliki pengaruh yang kuat dari sanshin, alat musik khas Okinawa. Seperti halnya sanshin yang penting bagi identitas budaya Okinawa, gottan juga memiliki peran budaya yang signifikan bagi masyarakat Kyushu.[21]

Ciri khas utama dari kuliner Kyushu terletak pada penggunaan bahan-bahan segar yang dipengaruhi oleh kondisi geografis wilayahnya, yang dikelilingi laut dan dianugerahi alam yang subur. Selain itu, bumbu-bumbu yang digunakan juga unik, seperti kecap asin manis khas Kyushu (九州醤油) dan miso dari jelai (mugi miso), yang berbeda dari bumbu-bumbu yang umum di Honshu.[22]
Setiap wilayah di Kyushu memiliki karakteristik kuliner tersendiri. Di bagian utara, hidangan laut mendominasi, sedangkan di bagian selatan, masakan berbahan dasar daging lebih umum.[23]
Berikut adalah contoh hidangan khas dari berbagai prefektur di Kyushu dan Okinawa:

Kue tradisional dari Kyushu dikenal karena cenderung menggunakan lebih banyak gula dibandingkan dengan wilayah lain di Jepang. Hal ini disebabkan oleh hubungan historis yang erat antara Kyushu dan Okinawa (Ryukyu), yang merupakan salah satu daerah penghasil gula utama di Jepang. Akibatnya, banyak kue tradisional Kyushu mengadopsi ciri khas budaya Ryukyu, baik dari segi rasa maupun bentuk penyajiannya.[24]
Beberapa contoh kue tradisional khas Kyushu antara lain:
Kyushu sering kali dikelompokkan bersama dengan Okinawa sebagai wilayah "Kyushu–Okinawa", karena kedekatan budaya dan geografis antara keduanya. Oleh karena itu, Prefektur Okinawa kerap dianggap sebagai bagian dari wilayah Kyushu dalam berbagai konteks.[25]
MILT classification 6,852 islands(main islands: 5 islands, remote islands: 6,847 islands)