Puding Malva adalah hidangan penutup mirip kue dengan cita rasa aprikot ini populer di Afrika Selatan. Puding ini dipanggang dan umumnya dibuat dari kuning telur, mentega, serta selai aprikot, menghasilkan tekstur yang kenyal, manis, dan lembap. Tekstur kustar yang lembap dan menyerupai spons membuat hidangan ini digolongkan sebagai puding, bukan kue.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Puding Malva | |
|---|---|
| Jenis | Puding |
| Tempat asal | Afrika Selatan |
| Suhu penyajian | Panas |
| Bahan utama | Tepung, gula, susu, aprikot, selai, cuka balsamik |
Puding Malva adalah hidangan penutup mirip kue dengan cita rasa aprikot ini populer di Afrika Selatan. Puding ini dipanggang dan umumnya dibuat dari kuning telur, mentega, serta selai aprikot, menghasilkan tekstur yang kenyal, manis, dan lembap. Tekstur kustar yang lembap dan menyerupai spons membuat hidangan ini digolongkan sebagai puding, bukan kue.[1]
Asal-usul puding malva jelas berasal dari Belanda. Para penjajah Belanda membawa puding ini ke Afrika Selatan ketika mereka tiba pada pertengahan tahun 1600-an, sebagian besar sehubungan dengan ekspedisi Hindia Belanda. Hidangan penutup ini memberikan cita rasa kampung halaman bagi keluarga-keluarga Eropa yang mendirikan koloni di iklim Afrika yang panas dan kering. Hidangan ini diyakini berevolusi dari hidangan penutup tradisional Belanda yang biasanya dibuat dengan buah kering dan rempah-rempah.[1][2]
Menurut Oxford English Dictionary, nama hidangan penutup ini berasal dari istilah bahasa Afrikaans yaitu malvalekker, yang berarti marshmallow. Istilah tersebut juga diyakini memiliki keterkaitan dengan kata Latin yaitu malva, yang berarti tanaman mallow. Meskipun puding ini sebenarnya tidak menggunakan marshmallow, hubungan tersebut diyakini berasal dari tekstur puding yang mirip dengan marshmallow. Teori lain mengenai asal nama hidangan ini menyatakan bahwa daun malva beraroma mawar dipanggang bersama adonan atau direbus untuk menghasilkan cairan yang kemudian ditambahkan ke kue setelah dipanggang.[1]
Selain itu, Ada pula yang mengaitkan nama puding ini dengan malvasia, yaitu varietas anggur yang berasal dari wilayah Mediterania, khususnya Kepulauan Balearik, Kepulauan Kanaria dan Madeira, yang hingga kini masih dibudidayakan di berbagai belahan dunia. Kolonis Belanda yang lebih duluan berada di Afrika Selatan biasa menyajikan anggur manis malvasia sebagai pasangan hidangan penutup bersama puding panggang lembut yang populer pada masa itu, dan beberapa sumber menyatakan bahwa anggur tersebut bahkan digunakan sebagai salah satu bahan dalam puding tersebut.[3]
Puding Malva mendapatkan pengakuan internasional ketika disajikan sebagai hidangan penutup di menu restoran terkenal La Colombe di Cape Town, yang dipimpin oleh Koki terkenal Franck Dangereux. Sejak saat itu, puding ini muncul di buku masak dan restoran di seluruh dunia, menjadi simbol keramahan Afrika Selatan dan makanan yang menenangkan.[4]