Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Psikologi moral

Moral memiliki arti yang sangat luas namun dapat disimpulkan moral merupakan tingkah laku baik ataupun buruk seorang manusia secara sadar yang terbentuk dari pengalaman yang ia dapat dari lingkungan disekitarnya dan mengikat ia untuk bertingkah laku di masyarakat, secara sempit maupun luas. moral ini pula sebagai pengatur manusia untuk bertingkat laku dengan sesama manusia, hewan dan lingkungan nya.

merupakan tingkah laku baik ataupun buruk seorang manusia secara sadar yang terbentuk dari pengalaman yang ia dapat dari lingkungan disekitarnya dan mengikat ia untuk bertingkah laku di masyarakat
Diperbarui 18 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Moral memiliki arti yang sangat luas namun dapat disimpulkan moral merupakan tingkah laku baik ataupun buruk seorang manusia secara sadar yang terbentuk dari pengalaman yang ia dapat dari lingkungan disekitarnya dan mengikat ia untuk bertingkah laku di masyarakat, secara sempit maupun luas. moral ini pula sebagai pengatur manusia untuk bertingkat laku dengan sesama manusia, hewan dan lingkungan nya.[1]

manusia merupakan makhluk sosial yang butuh berinteraksi di dalam kehidupannya, untuk menciptakan hubungan interaksi yang baik, dibutuhkan tata cara dalam berperilaku, yaitu dengan menempatkan moral dalam tingkah laku manusia, ketika manusia mendapatkan didikan moral yang baik,maka ia akan menjadi manusia yang bertingkah laku baik di lingkungan masyarakat karena mendapatkan pembelajaran dan mengimplementasikan pembelajaran mengenai moral yang ia pelajari. tetapi apabila sesorang tidak mendapatkan pendidikan moral yang baik di dalam rumah namun ia berada dalam lingkungan masyarakat yang baik, maka ia akan mempelajari hal tersebut dari pengalaman-pengalaman yang ia lewati, karena hakikatnya pendidikan merupakan pengalaman dan pembelajaran yang baik berasal dari pengalaman manusia itu sendiri.

Teori perkembangan moral

Tokoh yang dikenal akan pemikiran nya mengenai moral ialah Kohlberg dan Rest. pertimbangan moral yang diambil oleh Kholberg didasarkan pada keadilan moral. Kohlberg menjelaskan bahwa pertimbangan terjadi dan dapat digunakan ketika individu membuat pertimbangan moral,struktur apabila sudahh berhasil dalam membuat pertimbangan moral,dapat digantikan atau digabungkan struktur-struktur sebelumnya agar dapat berfungsi lebih efektif dalam pengambilan keputusan. menurut ia kajian yang membahas mengenai moral harus memberi tumpuan kepada sesorang dalam membuat pertimbangan moral [2].Teori moral yang dibawa oleh Kohlberg bahwa indvidu memiliki keterampilan yang kognitif yang mampu mengidentifikasi yang digunakan untuk memecahkan dilema etis.

Sifat moral

masi banyak perbedaan pendapat di antara ilmuwan dan orang awam mengenai moral memiliki sifat realistik atau objektif,namun perbedaan pandangan ini dapat diterima megenai adanya pandangan moral secara objekti ataupun ralistik. hal ini pula didukung dengan masi sedikit nya literatur yang membahas mengenai klasifikasi moral, literatur terutama pada literatur barat yang dimana tidak membedakan dengan jelas mengenai kesusilaan dan kesopanan.

Pada pandangan yang memercayai bahwa moral memiliki sifat yang objektivistik-universal, memandang bahwa normal dapat diterima oleh siapapun,dimanapun dan kapanpun juga. sedangkan untuk orang-orang yang berpandangan bahwa moral ini masuk kedalam sifat realitivitsik-konstektual maka ia berpendapat bahwa moral bersifat kultural dan budaya yang sudah turun temurun diajarkan.

Berkaitan dari perbedaan pendapat mengenai sifat moral masuk kedalam objektif atau realistik, hal ini disimpulkan bahwa perbedaan tersebut bisa diterima dengan memperhatikan kategori yang berbeda, seperti nilai yang terkandung dalam moral objektivistik dapat dikategorikan sebagai moral kesusilaan,seperti kejujuran,keikhlasan,tanggung jawab dan keadilan, dan untuk moral realistik dapat di katergorikan menjadi moral kesopanan,seperti hormat kepada orang yang lebih tua, berbicara yang santun kepada siapa saja.[3]

Prinsip-prinsip

Prinsip pertama dalam psikologi moral menyatakan bahwa intuisi muncul terlebih dahulu, sedangkan penalaran bersifat strategis dan datang belakangan. Berbagai studi eksperimental menunjukkan bahwa penilaian moral umumnya terjadi secara otomatis dan dipengaruhi oleh reaksi afektif yang cepat, bahkan sebelum penalaran sadar berlangsung. Penelitian menunjukkan bahwa otak terus-menerus melakukan evaluasi spontan, bahwa intuisi kilat memengaruhi penilaian sosial dan politik, dan bahwa kondisi fisik seperti bau atau rasa tidak nyaman dapat memperkuat sikap menghakimi. Temuan lainnya menunjukkan bahwa psikopat mampu bernalar tetapi memiliki empati moral yang rendah, sementara bayi memiliki respons afektif meskipun belum dapat bernalar secara kompleks. Proses intuitif ini diibaratkan sebagai “si gajah,” yang mendominasi pengambilan keputusan moral, sedangkan penalaran—“si penunggang”—lebih berfungsi untuk membenarkan intuisi yang telah terbentuk. Penalaran dalam konteks moralitas cenderung bersifat justifikatif, bukan objektif, dan sering kali digunakan untuk mempertahankan posisi yang mendukung kepentingan sosial atau reputasi, bukan kebenaran faktual.[4]

Prinsip kedua menyatakan bahwa moralitas tidak hanya berkaitan dengan bahaya dan ketidakjujuran, tetapi juga mencakup dimensi moral lain yang berakar pada nilai-nilai budaya. Moralitas dipandang menyerupai sistem pengecapan, dengan lima “reseptor moral” utama yang meliputi kepedulian, keadilan, kesetiaan, otoritas, dan kesucian. Pendekatan ini menekankan pluralisme moral, yang berpandangan bahwa persepsi tentang benar dan salah berbeda-beda antarbudaya. Penelitian menunjukkan bahwa individu dari masyarakat Barat yang terdidik, industrial, kaya, dan demokratis (Western, Educated, Industrialized, Rich, Democratic atau WEIRD) cenderung memiliki perspektif moral yang sempit, berfokus pada otonomi individu, sementara masyarakat lain lebih menekankan nilai-nilai sosial dan religius. Perbedaan ini membentuk “matriks moral” yang dapat mempererat solidaritas dalam kelompok, tetapi juga membatasi kemampuan individu untuk memahami kerangka moral yang berbeda. Pluralisme deskriptif ini menunjukkan bahwa sistem moral bukanlah satu-satunya cara untuk menilai tindakan, melainkan bergantung pada struktur nilai dan norma yang berlaku dalam suatu masyarakat.[4]

Referensi

  1. ↑ Sendari, Anugerah Ayu (2021-04-06). Adelin, Fadila (ed.). "Moral adalah Tingkah Laku Manusia, Kenali Pengertian, Ciri dan Macamnya". Liputan6.com. Diakses tanggal 2022-06-04.
  2. ↑ "(PDF) Moral dan akhlaq dalam psikologi moral islami". ResearchGate (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-06-04.
  3. ↑ Giwangsa, Fauzia Sendi (2018). "PENTINGNYA PENDIDIKAN MORAL DALAM PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN". repository.uinjkt.ac.id. vol.1 (1): 26–40. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-08-12. Diakses tanggal 2022-06-04. ;
  4. 1 2 Haidt, Jonathan (2025). The Righteous Mind. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). ISBN 978-602-481-491-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Teori perkembangan moral
  2. Sifat moral
  3. Prinsip-prinsip
  4. Referensi
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026