Piperakuin/dihidroartemisinin (DHA/PPQ) adalah obat kombinasi dosis tetap yang digunakan dalam pengobatan malaria. Obat ini merupakan kombinasi piperakuin dan dihidroartemisinin. Secara khusus obat ini digunakan untuk malaria jenis Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax. Obat ini diminum.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Kombinasi dari | |
|---|---|
| Piperakuin | Antimalaria |
| Dihidroartemisinin | Antimalaria |
| Data klinis | |
| Nama dagang | DHP Frimal, dll |
| Nama lain | Dihydroartemisinin/piperaquine phosphate |
| Rute pemberian | Oral |
| Status hukum | |
| Status hukum |
|
| Pengenal | |
| Nomor CAS | |
Piperakuin/dihidroartemisinin (DHA/PPQ) adalah obat kombinasi dosis tetap yang digunakan dalam pengobatan malaria. Obat ini merupakan kombinasi piperakuin dan dihidroartemisinin.[2] Secara khusus obat ini digunakan untuk malaria jenis Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax.[3][4] Obat ini diminum.[3]
Efek samping jarang terjadi. Kekhawatirannya termasuk kemungkinan perpanjangan QT.[4] Versi obat ini tersedia untuk digunakan pada anak-anak.[3] Penggunaan pada awal kehamilan tidak direkomendasikan. Kedua obat ini bekerja dengan mekanisme yang berbeda.[4]
Piperakuin/dihidroartemisinin disetujui untuk penggunaan medis di Eropa pada tahun 2011.[3] Kombinasi ini ada dalam Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia.[2][5] Obat ini tersedia secara komersial di Afrika dan Asia. Obat ini telah digunakan untuk mengobati lebih dari 4,5 juta orang hingga tahun 2017.[3]
Dihidroartemisinin (juga dikenal sebagai dihidroqinghaosu, artenimol atau DHA) adalah obat yang digunakan untuk mengobati malaria. Dihidroartemisinin adalah metabolit aktif dari semua senyawa artemisinin (artemisinin, artesunat, artemeter, dll.) dan juga tersedia sebagai obat itu sendiri. Obat ini merupakan turunan semi-sintetik dari artemisinin dan banyak digunakan sebagai zat antara dalam pembuatan obat antimalaria turunan artemisinin lainnya.
Piperakuin adalah obat antimalaria, biskuinolin yang pertama kali dibuat pada tahun 1960-an, dan digunakan secara luas di Cina dan Indocina sebagai profilaksis dan pengobatan selama 20 tahun berikutnya. Penggunaannya menurun pada tahun 1980-an ketika galur P. falciparum yang resistan terhadap piperakuin muncul dan antimalaria berbasis artemisinin mulai tersedia. Kombinasi dihidroartemisinin-piperakuin merupakan antimalaria efektif yang digunakan secara luas di seluruh dunia. Di Asia Tenggara, di mana resistensi terhadap artemisinin dan piperakuin telah muncul, kombinasi ini sedang diujicobakan dengan obat ketiga, yaitu meflokuin.[6]
Piperakuin memiliki karakteristik penyerapan yang lambat dan waktu paruh biologis yang panjang, sehingga menjadikannya obat mitra yang baik dengan turunan artemisinin yang bekerja cepat tetapi memiliki waktu paruh biologis yang pendek.