Pi'il Pesenggiri merupakan pandangan hidup dari masyarakat suku Lampung. Konsep dari arti Pi'il Pesenggiri dari satu individu dengan individu lainnya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Pi'il Pesenggiri (Pasunggiri, Pusanggiri) merupakan pandangan hidup dari masyarakat suku Lampung. Konsep dari arti Pi'il Pesenggiri dari satu individu dengan individu lainnya.[1]
Pi'il Pesenggiri ini dijadikan sebagai landasan berpikir, bertindak dan berperilaku oleh masyarakat Lampung dimanapun mereka berada. Pi'il Pesenggiri terdapat nilai-nilai dan norma yang mengatur tata hidup masyarakat Lampung. Pi'il Pesenggiri ini terdapat nilai-nilai luhur dan hakiki yang menunjukkan kepribadian serta jati diri dari masyarakat Lampung, karena nilai-nilai luhur yang ada di dalam falsafah hidup tersebut sesuai dengan kenyataan hidup masyarakat Lampung.[2]
Terdapat beberapa aspek dalam piil pesenggiri yaitu bejuluk buadek (gelar kehormatan), nemui nyimah (ramah tamah dalam menyambut tamu), nengah nyappur (mudah berbaur dalam masyarakat), dan sakai sambayan (tolong menolong dan bergotong royong).[3]
Kata Pi’il mengandung pengertian pendirian atau prinsip yang dipertahankan, sedangkan kata Pesenggiri merupakan pelafalan Ulun Lampung terhadap peristiwa Pasunggiri dalam perang Majapahit-Bedahulu pada tahun 1343. Maka pengertian dari Pi’il Pesenggiri adalah sebuah pendirian atau prinsip yang dipertahankan mengacu pada peristiwa Pasunggiri pada masa Majapahit. Pi’il Pesenggiri kemudian diwariskan dalam bentuk cerita nasihat dan ajaran pada sastra tradisional seperti berbagai jenis pantun masyarakat Lampung secara turun-temurun. Serta tertulis dalam Kitab Adat Pepadun Kuntara Raja Niti yakni kitab adat yang digunakan oleh Punyimbang masyarakat Lampung yang telah ditulis pada era Majapahit.[butuh rujukan]
Dalam upaya membantu penaklukan Mahapatih Majapahit Gajahmada terhadap kerajaan Bedahulu Bali. Uparaja Adityawarman membawa 15.000 pasukan menyerang Pulau Bali. Pasukan besar tersebut direkrut dari Palembang hingga Lampung. Pada mulanya penyerbuan dilakukan sebagaimana perang pada umumnya, yakni menggunakan kekerasan seluas-luasnya yang dinilai efektif dalam mengintimidasi dan menaklukan musuh. Namun perlawanan masyarakat Bali yang salah satunya dipimpin oleh Arya Pasunggiri sangatlah hebat, sehingga mampu menahan serangan Adityawarman beberapa hari. Maka ketika Arya Pasunggiri menyerah kalah, Adityawarman tidak memberi ampun dan langsung membunuhnya. Peristiwa pembunuhan Arya Pasunggiri yang sudah menyerah tetapi tetap dibunuh membuat Ratu Majapahit Tribhuwana Wijayatunggadewi marah.
Peristiwa Passungiri membuat Gajahmada akhirnya mengubah strategi perang penaklukan Bedahulu Bali, melalui jalan diplomasi. Dengan pendekatan-pendekatan kultural, dialogis dan bermartabat, pada akhirnya Bedahulu dapat ditaklukan dan kemudian menjadi bagian dari Majapahit. Strategi diplomasi Mahapatih Majapahit Gajahmada dalam menaklukan Bedahulu Bali tersebut menjadi perhatian bagi para prajurit pasukan Sumatera Selatan. Yang sebagian besar di antara merupakan para pelajar dan pendidik dari mandala pengetahuan Buddha warisan masa Sriwijaya. Strategi diplomasi tersebut dibawa kembali ke Sumatera Selatan dalam bentuk pengetahuan, yang kemudian diajarkan secara turun-temurun dalam bentuk sastra tradisional dan kitab adat Lampung pepadun.[4] Pada akhirnya strategi diplomasi menjadi ajaran luhur dan prinsip hidup bagi masyarakat Lampung.
Terdapat pesan nasihat dan ajaran Pi'il Pesenggiri pada pantun tradisional (adi-adi) masyarakat Lampung seperti berikut ini:
Tandani ulun Lampung, wat piil-pusanggiri
Cirinya orang Lampung, memiliki Piil Pesenggiri
Mulia heno sehitung, wat liom ghega dighi
Kehormatan selalu diperhitungkan, memiliki malu dan harga diri
Juluk-adok gham pegung, nemui-nyimah muaghi
Juluk-Adok kita pegang, Nemuy Nyimah persaudaraan
Nengah-nyampugh mak ngungkung, Sakai-Sambaian gawi
Nengah-Nyappur tidak menutup diri, Sakay Sambayan dikerjakan
Pada pasal 23 Kitab Kuntara Raja Niti dinyatakan prinsip Pi’il Pesenggiri dalam lapisan masyarakat
Raja piilnya wanita, lemah lembut terhadap masyarakat
Punyimbang piilnya gadis, selalu berupaya mendapatkan kecintaan dan kekaguman masyarakat
Ibu Rumah piilnya bahan makanan dan biaya hidangan
Anak lelaki piilnya berhati-hati dalam bicara
Anak perempuan piilnya menjaga perilaku dan kehormatan