Pierre Charron adalah filsuf dan sekaligus teolog dari Prancis pada abad 16. Dia dilahirkan pada tahun 1541 dan meninggal pada tahun 1603. Pada awalnya Charron belajar bidang hukum, tetapi merasa tidak puas dengan profesi ini, kemudian dia bating setir ke dunia teologi dan akhirnya menjadi seorang imam. Dia adalah orang yang menjalani hidup dengan pengasingan dan kedamaian, itulah tempramen yang dia mainkan di dalam konflik. Barangkali sebagai hasil dari perilaku ini, seorang manusia dapat memiliki karakter ganda. Penggunaan karakter ketika bertemu dengan situasi di sekitar dan menggunakan bantuan instrumen lain untuk menghadapinya, atau yang kedua adalah menjadi manusia yang asing, dan tidak terpengaruh oleh dunia sekitarnya. Di sini, dia membela Gereja dan orang-orang beriman di dalamnya, dan tidak menjadi skeptis untuk diketahui oleh dunia. Inilah isi dari kebijaksanaannya yang terdapat dalam karyanya berjudul De la Sagesse pada tahun 1601. Setiap manusia harus mengetahui dirinya sendiri, kemudian hidup menurut alam, dan mengikuti kebajikan dari Kardinal dalam keadilan,m kekuasaan dan kesederhanaan. Sifat manusia pada dasarnya sombong, lemah, tidak konsisten dan perlu dikasihani. Manusia sama dengan binatang, hanya berbeda tingkatannya, dan dia harus mengusahakan secara khusus hukuman dari perbedaan itu. Hanya "kehendak" yang mampu membuatnya tetap dalam kebebasan dari jiwa dan penghakiman. Hal yang dia maksudkan adalah jiwa keilahian yang ada pada manusia, yang memberikannya nilai kebenaran.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia



Pierre Charron adalah filsuf dan sekaligus teolog dari Prancis pada abad 16.[1] Dia dilahirkan pada tahun 1541 dan meninggal pada tahun 1603.[1] Pada awalnya Charron belajar bidang hukum, tetapi merasa tidak puas dengan profesi ini, kemudian dia bating setir ke dunia teologi dan akhirnya menjadi seorang imam.[1] Dia adalah orang yang menjalani hidup dengan pengasingan dan kedamaian, itulah tempramen yang dia mainkan di dalam konflik.[1] Barangkali sebagai hasil dari perilaku ini, seorang manusia dapat memiliki karakter ganda.[1] Penggunaan karakter ketika bertemu dengan situasi di sekitar dan menggunakan bantuan instrumen lain untuk menghadapinya, atau yang kedua adalah menjadi manusia yang asing, dan tidak terpengaruh oleh dunia sekitarnya.[1] Di sini, dia membela Gereja dan orang-orang beriman di dalamnya, dan tidak menjadi skeptis untuk diketahui oleh dunia.[1] Inilah isi dari kebijaksanaannya yang terdapat dalam karyanya berjudul De la Sagesse pada tahun 1601.[1] Setiap manusia harus mengetahui dirinya sendiri, kemudian hidup menurut alam, dan mengikuti kebajikan dari Kardinal dalam keadilan,m kekuasaan dan kesederhanaan.[1] Sifat manusia pada dasarnya sombong, lemah, tidak konsisten dan perlu dikasihani.[1] Manusia sama dengan binatang, hanya berbeda tingkatannya, dan dia harus mengusahakan secara khusus hukuman dari perbedaan itu.[1] Hanya "kehendak" yang mampu membuatnya tetap dalam kebebasan dari jiwa dan penghakiman.[1] Hal yang dia maksudkan adalah jiwa keilahian yang ada pada manusia, yang memberikannya nilai kebenaran.[1]
Sumbangan Chorran cukup berharga demi perdamaian di masyarakat.[2] Masyarakat yang sering berkonflik dalam hal agama dan dogma membuat Chorran mencari jalan lain, yaitu filsafat.[2] Dengan sumbangan filsafat Stoa yang memikirkan kebahagiaan dalam jiwa, maka secara psikologi, teori Chorran dapat diterima dan ternyata cukup memperbaiki keadaan.[2] Perang di masyarakat setidaknya melihat pentingnya perdamaian.[2] Ajaran gereja menjadi berkorelasi dengan praktik yang seharusnya.[2] Wajah ganda yang dimainkan gereja maupun masyarakat haruslah di atas dengan nilai-nilai kemanusiaan.[2]