Philip Jacob Spener (1635-1705) adalah seorang pendeta yang sering juga disebut sebagai bapak Pietisme Jerman. Spener disebut sebagai bapak pietis karena kegigihannya dalam menentang ajaran gereja Lutheran zaman itu yang telah banyak dipengaruhi oleh ajaran mistis, sebagai reaksi terhadap ortodoksi gereja resmi yang mati. Menurut Spener, mistik yang yang muncul saat itu kurang sesuai dengan Alkitab dan hanya menimbulkan sikap hidup yang pasif bagi orang Kristen. Untuk menggantikan pengaruh mistik itu, Spener memperkenalkan pietisme yang telah dikenalnya dari gereja Calvinis. Pandangan-pandangan Spener ini sangat dilawan oleh banyak pemimpin gereja, tetapi disetujui dan digemari oleh banyak orang. Oleh karena pengaruh Spener, sekolah tinggi baru di Halle mendapat suatu fakultas teologi yang guru besarnya semua orang Pietis. Pada masa itu, Pietisme yang dikembangkan Spener membawa dampak yang cukup besar bagi orang-orang di berbagai tempat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Philip Jacob Spener (1635-1705) adalah seorang pendeta yang sering juga disebut sebagai bapak Pietisme Jerman.[1][2] Spener disebut sebagai bapak pietis karena kegigihannya dalam menentang ajaran gereja Lutheran zaman itu yang telah banyak dipengaruhi oleh ajaran mistis, sebagai reaksi terhadap ortodoksi gereja resmi yang mati.[1] Menurut Spener, mistik yang yang muncul saat itu kurang sesuai dengan Alkitab dan hanya menimbulkan sikap hidup yang pasif bagi orang Kristen.[1] Untuk menggantikan pengaruh mistik itu, Spener memperkenalkan pietisme yang telah dikenalnya dari gereja Calvinis.[1] Pandangan-pandangan Spener ini sangat dilawan oleh banyak pemimpin gereja, tetapi disetujui dan digemari oleh banyak orang.[1] Oleh karena pengaruh Spener, sekolah tinggi baru di Halle mendapat suatu fakultas teologi yang guru besarnya semua orang Pietis.[1] Pada masa itu, Pietisme yang dikembangkan Spener membawa dampak yang cukup besar bagi orang-orang di berbagai tempat.[3]
Spener lahir di Elzas pada 13 Januari 1635 di Rappoltsweiler, Alsace.[4][5]
Masa pelayanan Spener dimulai ketika ia menjadi pendeta jemaat di Strasbourg.[6] Dari Strasbourg, Spener kemudian menjadi pengkhotbah dan guru di Frankfurt.[6] Di Frankfurt, Spener merasakan kedekatan dengan suatu komunitas Kristiani bernama Kaum Labadis yang mendapat perlakuan kurang adil dari gereja Lutheran saat itu.[6] Perlakuan kurang adil itu adalah menyuruh semua warga negeri Lutheran harus dibaptis supaya dianggap suci.[4][6] Hal inilah yang menyebabkan Spener ingin memperbaharui apa yang dilakukan oleh gereja Lutheran.[1][6][7] Karena usahanya itu, maka, pada tahun 1686, Spener mendapatkan perlawanan dari kaum Lutheran di Frankfurt, sehingga membuatnya harus meninggalkan kota itu.[4]
Dari Frankfurt, Spener pindah ke Berlin dan menjadi pendeta di sana hingga tahun 1691.[4] Ia meninggal pada tahun 1705.[4]
Spener menyebarluaskan pesan yang menuntut adanya kedisiplinan diri yang tinggi, yaitu pesan untuk membangun hubungan pribadi dengan Kristus dan tentang betapa pentingnya doa harian dan renungan kitab suci.[2][6] Walaupun ia menganut ajaran Gereja Lutheran, dia juga percaya terhadap tuntutan yang dilakukan oleh semua kelompok beriman.[6] Dia melakukan kajian biblis di rumahnya dua kali seminggu dan membentuk kelompok-kelompok yang akhirnya terkenal dan menyebar ke gereja-gereja lain.[6] Hasilnya, kelompok-kelompok itu lambat laun makin dikenal umum sebagai Collegia Pietatis, asal mula nama Pietisme.[3][6]
Spener menguraikan tujuan-tujuannya dalam suatu manifesto untuk pembaharuan secara Pietistis berjudul Pia Desideria (Cita-cita Saleh), yang diterbitkan pada 1675.[1][3][4] Dalam tulisan itu, ia mengemukakan bahwa ajaran gereja sudah cukup lengkap, tetapi hidup jemaat harus dibaharui kembali.[1] Ia memberi tekanan pada penelaahan Alkitab yang harus menjadi rezeki rohani bagi jiwa orang Kristen setiap hari.[4] Spener berharap agar jemaat lebih berusaha mewujudkan imannya dalam praktik dan penuh cinta kasih.[1][4]
Untuk dapat mencapai tujuannya, kaum Pietis menekankan: (1) iman yang berpusat pada Alkitab (jadi bukan pada ajaran gereja),[5] (2) pengalaman khas dalam kehidupan kristiani (rasa berdosa, pengampunan, pertobatan, kesucian hidup, dan kasih dalam persekutuan),[5] (3) pengungkapan iman secara bebas melalui nyanyian, kesaksian dan semangat menginjili.[2]