Pertempuran Tambakberas adalah pertempuran yang terjadi antara pasukan Ranggalawe melawan pasukan Majapahit sebagai bagian dari Pemberontakkan Ranggalawe terhadap Majapahit. Pertempuran ini diperkirakan terjadi di yang saat ini berada di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Pertempuran Tambakberas | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari Pemberontakkan Ranggalawe | |||||||
Ilustrasi pertempuran di Sungai Tambakberas, 1295. | |||||||
| |||||||
| Pihak terlibat | |||||||
|
| Pasukan Ranggalawe | ||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||
|
Nambi Lembu Sora Kebo Anabrang |
Ranggalawe | ||||||
Pertempuran Tambakberas adalah pertempuran yang terjadi antara pasukan Ranggalawe melawan pasukan Majapahit sebagai bagian dari Pemberontakkan Ranggalawe terhadap Majapahit. Pertempuran ini diperkirakan terjadi di yang saat ini berada di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Atas perintah Raden Wijaya, Nambi bersama Mahisa Anabrang dan Lembu Sora, memimpin pasukan Majapahit untuk menghukum Ranggalawe. Ranggalawe yang mengetahui serangan tersebut segera mempersiapkan pasukan dan menghadang rombongan Nambi di Sungai Tambak Beras. Peperangan sengit pun terjadi. Ranggalawe berhasil menikam kuda tunggangan Nambi, meski Nambi selamat.
Mahisa Anabrang kemudian memimpin pasukan Majapahit, mengepung pasukan Ranggalawe dari tiga arah: timur, barat, dan utara. Pertempuran sengit terjadi antara Ranggalawe dan Mahisa Anabrang (Kebo Anabrang) di Sungai Tambakberas. Menurut mitos lokal, mereka bertarung dengan ilmu kanuragan yang dimilikinya masing-masing, sehingga pertarungan pun berlanjut ke dalam sungai. Ranggalawe berhasil mendesak Mahisa Anabrang, tetapi ketika sampai di tengah sungai, Mahisa Anabrang menikam Ranggalawe.[1][2] Duel berlanjut sampai akhirnya Mahisa Anabrang berhasil membunuh Ranggalawe. Tidak tega melihat keponakannya dibunuh secara kejam, Lembu Sora yang juga merupakan paman Ranggalawe berbalik menyerang Kebo Anabrang, dan membunuhnya.
Setelah tewasnya Ranggalawe pada tahun 1295, Arya Wiraraja merasa sakit hati kepada Raden Wijaya dan memutuskan untuk mundur dari jabatannya. Arya Wiraraja menagih janji Raden Wijaya yang diucapkan di Sumenep melalui Perjanjian Songeneb untuk membagi wilayah Majapahit menjadi dua bagian.[3]
Janji itupun kemudian dipenuhi oleh Raden Wijaya, di mana Majapahit bagian timur hingga selatan diserahkan ke Arya Wiraraja. Sesudah mendapat kekuasaan, Arya Wiraraja menjadi raja Lamajang Tigang Juru di bagian Timur Jawa (Majapahit Timur) dengan pusat pemerintahan di Lamajang (sekarang Lumajang). Sementara Majapahit bagian barat (Majapahit Barat) tetap dikuasai Raden Wijaya dengan pusatnya di Trowulan, Mojokerto.[4]