Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiPertempuran Jalula
Artikel Wikipedia

Pertempuran Jalula

Pertempuran Jalula merupakan pertempuran antara pasukan muslimin Khalifah Rasyidin di masa Umar bin Khathab melawan pasukan Persia Sasania di tahun 16 H atau 637 M di timur laut dari wilayah Kufah setelah Pertempuran Qadisiyah dan Pengepungan Madain. Daerah Jalula di perbatasan Irak dan Iran. Pasukan muslimin dipimpin Sa'ad bin Abi Waqqash, mengutus komandannya mengejar arah pelarian Kaisar Persia, Yazdeger yang melarikan ke arah Khurasan (Iran) bagian timur.

Wikipedia article
Diperbarui 25 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Pertempuran Jalula merupakan pertempuran antara pasukan muslimin Khalifah Rasyidin di masa Umar bin Khathab melawan pasukan Persia Sasania di tahun 16 H atau 637 M di timur laut dari wilayah Kufah setelah Pertempuran Qadisiyah dan Pengepungan Madain. Daerah Jalula di perbatasan Irak dan Iran.[1] Pasukan muslimin dipimpin Sa'ad bin Abi Waqqash, mengutus komandannya mengejar arah pelarian Kaisar Persia, Yazdeger yang melarikan ke arah Khurasan (Iran) bagian timur.

Persiapan

Peta Daerah Jalula pada Tengah Atas.

Ketika Kisra Yazdigird bin Syahriyar melarikan diri dari Madain ke Hulwan, dia segera mengumpulkan tentara dan pengikutnya yang berada di setiap wilayah yang dia lalui. Maka terbentuklah sebuah pasukan dalam jumlah besar dan menunjuk Mihran sebagai panglima pasukan besar ini. Lalu Kisra (Yazdejer) melanjutkan perjalannya ke Hulwan sementara seluruh pasukan menetap di Jalula. Mereka menggali parit besar di sekeliling mereka sebagai pertahanan dan berdiam di tempat itu dengan sejumlah pasukan, bekal dan peralatan yang sangat banyak. Sa'ad segera mengirimkan surat kepada Khalifah Umar memberitahukan hal ini. Umar memberikan jawaban padanya agar tetap mendiami Madain dan menunjuk Hasyim bin Utbah (keponakannya) sebagai pimpinan pasukan untuk menyerang Kisra. Barisan depan dipimpin oleh al-Qa'qa bin Amru, Si'ir bin Malik (Mus'ir bin Malik) pimpinan sayap kanan, Amru bin Malik saudaranya di sayap kiri, Amru bin Murrah al-Juhani sebagai pimpinan belakang. Sa'ad segera menjalankan instruksi ini dan mulai mengutus keponakannya dengan membawa pasukan dalam jumlah yang besar sekitar 12.000 personil yang terdiri dari para senior kaum muslimin yakni dari kaum Muhajirin dan Anshar, dari para kepala suku orang Arab pedalaman.[2]

Kejadian ini tepatnya pada bulan Safar tahun 16 H. Setelah mereka menaklukkan Madain, pasukan muslimin segera bergerak dan tiba di Jalula. Di sana mereka mendapati orang-orang Majusi telah membuat pertahanan dengan parit yang mereka buat. Hasyim mulai mengepung mereka dan pasukan musuh ini telah bergabung dari seluruh wilayah yang dikuasai Kisra untuk berperang mati-matian. Sementara Kisra terus menerus menurunkan bala bantuan kepada mereka. Demikian pula Sa'ad berusaha untuk mengirimkan bantuan pasukan demi pasukan kepada kaum muslimin yang dipimpin anak saudaranya. Suasana perang mulai memanas, api peperangan mulai dikobarkan, Hasyim berpidato berkali kali di hadapan pasukannya untuk memberikan motivasi kepada mereka agar senantiasa bertawakal kepada Allah. Sementara Persia telah mengikat perjanjian dengan sekutu-sekutunya. Mereka bersumpah demi api (tuhan mereka) tidak akan lari dari pertempuran hingga seluruh bangsa Arab dapat dibasmi.[2]

Pertempuran

Formasi Pertempuran Jalula.

Pertempuran tak dapat dihindari lagi pada ahad pagi 15 Dzulqoidah,[1] pecahlah pertempuran yartg sangat dahsyat yang belum pernah terjadi sebelumnya sehingga anak panah kedua belah pihak mulai habis dan berganti dengan tombak-tombak yang berterbangan dari dua belah pihak. Setelah itu mereka mulai saling menyerang dengan pedang. Waktu sholat Zuhur telah masuk dan kaum muslimin hanya mampu melaksanakan sholat dengan isyarat saja, sementara sekelompok Majusi berangkat pergi dan digantikan dengan kelompok lainnya.

Al-Qa'qa' berdiri di hadapan kaum muslimin dan berkata, "Apakah kalian merasa takut dengan apa yang kalian lihat wahai kaum muslimin?" Mereka mngatakan, "Ya! Sebab kita dalam posisi bertahan dan mereka menyerang." Al-Qa'qa' berkata, "Mari kita gempur mereka secara bersamaan hingga Allah yang akan menjadi hakim pemutus antara kita dan mereka." Secepat kilat al-Qa'qa' beserta kaum muslimin lainnya menyerang masuk ke barisan musuh. Al-Qa'qa membawa sejumlah pasukan berkuda yang dikendarai oleh para pahlawan dan jagoan perang hingga mereka sampai di pintu parit di belakang garis pasukan persia utama, untuk memutus jalur bantuan musuh. Ketika malam mulai menjelang, di bawah kegelapan, pasukan berkuda kaum muslimin merayap ke kubu pertahanan musuh dan dengan perlahan mengintari lawan. Tersebutlah di antara para penunggang kuda ini adalah para jagoan seperti Thulaiah al-Asadi, Amru bin Ma'di Karib az-Zubaidi, Qais bin Maksyuh, Hijr bin Adi, sementara sisa pasukan kuam muslimin tidak mengetahui apa yang diperbuat al-Qa'qa' di kegelapan malam tersebut. Mereka tidak mengetahuinya kecuali ketika salah seorang menyerukan, "Wahai kaum muslimin pemimpin kalian berada di seberang parit musuh."[2]

Qa'qa Menerobos ke Belakang Garis Musuh.

Ketika orang-orang Majusi mendengar seruan itu mereka segera berlari, kaum muslimin langsung menyerbu mengikuti jejak al-Qa'qa' bin Amru yang telah berada di seberang dan menguasai medan pertempuran. Sementara seluruh tentara Persia telah berlari kocar-kacir dikejar kaum muslimin dari segala penjuru dan dihadang di manapun mereka berlari. Waktu itu tentara Islam berhasil membunuh sebanyak 100.000 orang (perkiraan modern berkisar 20.000-30.000), sehingga permukaan bumi penuh dengan mayat yang bergelimpangan. Itulah sebab maka peperangan ini dinamakan dengan Jalula (yang bergelimpangan).[3]

Kaum muslimin berhasil mendapatkan ghanimah berupa harta, senjata, emas dan perak yang jumlahnya hampir dengan harta yang mereka dapati di Madain.[2] Mahran melarikan diri ke Khaniqin, tetapi dikejar Qa'qa dan berhasil dibunuh. Fairuzan berhasil lolos.[1] Yazdejer mendengar kekalahan Jalula lalu melarikan diri lagi ke Rayy di timur. Sementara Hurmuzan melarikan ke Mabazaban.[3]

Referensi

  1. 1 2 3 al-Azizi, Abdul Syukur (2021-03-09). Umar bin Khattab Ra. DIVA PRESS. hlm. 185. ISBN 978-602-391-952-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. 1 2 3 4 Katsir, Ibnu (2022-11). Kitab Sejarah Lengkap Khulafaur Rasyidin. DIVA PRESS. hlm. 261–262. ISBN 978-623-293-718-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. 1 2 Murrad, Mustafa (2009-05-01). Kisah Hidup Umar ibn Khattab. Serambi Ilmu Semesta. hlm. 116. ISBN 978-979-024-065-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
  • İslâm Ansiklopedisi

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Persiapan
  2. Pertempuran
  3. Referensi

Artikel Terkait

Penaklukan Persia oleh Muslim

Penaklukan Iran oleh Kekhalifahan Rasyidin Arab yang menyebabkan jatuhnya Kekaisaran Sassaniyah

Penaklukan Hulwan

Khurasan (Iran) bagian timur setelah Pertempuran Jalula. Ketika pertempuran Jalula selesai, Hasyim bin 'Utbah berdiam di Jalula sesuai instruksi Umar bin al-Khaththab

Yazdegerd III

Kaisar / Raja Terakhir Persia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026