Pertempuran al-Harrah adalah sebuah pertempuran antara tentara Umayyah dari Syam yang dipimpin oleh Muslim bin Uqbah dan penduduk Madinah pimpinan Abdullah bin Hanzalah yang terdiri dari kaum Anshar dan Muhajirin Harrat Waqim, timur laut Madinah pada 26 Agustus 683, yang berakhir dengan kemenangan Umayyah dan penjarahan terhadap kota Madinah.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Pertempuran al-Harrah (bahasa Arab: يوم الحرةcode: ar is deprecated , translit. Yawm al-Ḥarrah) adalah sebuah pertempuran antara tentara Umayyah dari Syam yang dipimpin oleh Muslim bin Uqbah dan penduduk Madinah pimpinan Abdullah bin Hanzalah yang terdiri dari kaum Anshar dan Muhajirin Harrat Waqim, timur laut Madinah pada 26 Agustus 683, yang berakhir dengan kemenangan Umayyah dan penjarahan terhadap kota Madinah.[1]
Para pemuka Madinah memberontak terhadap kekuasaan Yazid bin Mu'awiyah karena mereka tidak menerima pengangkatannya sebagai khalifah untuk menggantikan ayahnya Mu'awiyah (pergantian jabatan khalifah melalui keturunan tidak dikenal dalam sejarah Islam ketika itu), gaya hidup Yazid yang dianggap tidak Islami, dan tidak setuju dengan kebijakan ekonomi Umayyah. Setelah menyatakan perlawanan mereka, penduduk Madinah mengepung para anggota Banu Umayyah yang berada di kota itu dan membuat parit pertahanan di sekeliling kota. Abdullah bin Hanzhalah menjadi panglima bagi sahabat Anshar, sementara sahabat Quraisy menunjuk Abdullah bin Muthi' al-Adawi, lalu kaum Muhajirin menunjuk Ma'qil bin Sinan al-Asyja'i.[2] Mereka mengepung Bani Umayyah yang bermukim di Madinah termasuk di dalamnya ada Abdul Malik bin Marwan.[3] Beberapa anak sahabat yang ikut seperti Muhammad bin Sa'ad bin Abi Waqqash, Ibrahim bin Farith, dan Ibrahim bin Nu'aim.[4]
Yazid mengirim 12.000 pasukan yang kemudian bergabung dengan anggota Banu Umayyah yang telah dibebaskan dari Madinah, Yazid memberi intruksi untuk mengajak secara damai tiga kali sebelum bertempur, tetapi ditolak oleh pasukan Madinah.
Pasukan Muslim kemudian mendirikan basis perkemahan di Harrat Waqim, sisi timur kota Madinah. Posisi ini kemudian diserang pasukan Madinah. Walaupun awalnya pertempuran berjalan dengan keunggulan kubu Madinah, barisan mereka dirusak oleh membelotnya Banu Haritsah ke kubu Umayyah. Abdullah bin Hanzhalah terkena tebasan pedang di bahunya setelah ia melepas baju besinya, menyebabkan kematiannya. Abdullah bin Amr memimpin pasukan berkuda awalnya berhasil memukul mundur pasukan Muslim, tapi kemudian ia dihujani panah hingga terbunuh.[4] Alhasil, pasukan berkuda Umayyah dibawah pimpinan Marwan bin al-Hakam dan Muslim bin Uqbah dapat menyerang mereka dari belakang pada saat matahari terbit dan berakhir dengan terusirnya pasukan Madinah dari pertempuran.[2]

Setelah pertempuran, bala tentara Umayyah memasuki kota Madinah dan melakukan penjarahan selama tiga hari, walaupun terdapat catatan sejarah yang berbeda-beda tentang tingkat kekerasan yang terjadi. Lebih 300 muslimin Madinah terbunuh.[2] Muslim juga memanggil satu persatu beberapa tokoh Madinah lalu memenggal kepalanya seperti Yazid bin Abdillah bin Zam'ah, Ma'qil bin Sinan (sahabat Muhammad yang mengikuti Pembukaan Makkah), Abdullah bin Harits dan lainnya sebanyak 80 sahabat Muhammad terbunuh, serta 700 orang dari Quraisy dan Anshar juga terbunuh.[4] Adapun keluarga Bani Hasyim tak ada yang terlibat kecuali 3 orang yang tak sengaja terbunuh.
Muslim mengangkat Rauh bin Zinba sebagai pimpinan Madinah.[3] Pasukan Umayyah kemudian bergerak menuju Makkah untuk mengepung Abdullah bin az-Zubair yang juga melakukan perlawanan terhadap Yazid, tetapi panglima Muslim bin Uqbah meninggal dalam perjalanan di daerah Tsaniyah Musyallal, digantikan Hushain bin Numair. Muslim banyak dikecam dalam sumber sejarah akibat penjarahan Madinah, kota tempat tinggal Nabi Muhammad, dan peristiwa ini menjadi salah satu "kejahatan besar" yang dituduhkan kepada Banu Umayyah.[5]
Setelah pasukan bergerak mendekat Mekah, ibu dari Yazid bin Abdillah bin Zam'ah mendatangi kuburan Muslim lalu membongkarnya, ia menyaksikan jasad Muslim terlilit tali hitam dengan mulut terbuka. Lalu ia mengeluarkan dan menyalib jasadnya di Musyallal sehingga dapat dilihat oleh orang-orang yang melintas mengira jasadnya terlempar dari kuburan.[4]