Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiPertempuran al-Harrah
Artikel Wikipedia

Pertempuran al-Harrah

Pertempuran al-Harrah adalah sebuah pertempuran antara tentara Umayyah dari Syam yang dipimpin oleh Muslim bin Uqbah dan penduduk Madinah pimpinan Abdullah bin Hanzalah yang terdiri dari kaum Anshar dan Muhajirin Harrat Waqim, timur laut Madinah pada 26 Agustus 683, yang berakhir dengan kemenangan Umayyah dan penjarahan terhadap kota Madinah.

Wikipedia article
Diperbarui 21 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Pertempuran al-Harrah (bahasa Arab: يوم الحرةcode: ar is deprecated , translit. Yawm al-Ḥarrah) adalah sebuah pertempuran antara tentara Umayyah dari Syam yang dipimpin oleh Muslim bin Uqbah dan penduduk Madinah pimpinan Abdullah bin Hanzalah yang terdiri dari kaum Anshar dan Muhajirin Harrat Waqim, timur laut Madinah pada 26 Agustus 683, yang berakhir dengan kemenangan Umayyah dan penjarahan terhadap kota Madinah.[1]

Pendahuluan

Para pemuka Madinah memberontak terhadap kekuasaan Yazid bin Mu'awiyah karena mereka tidak menerima pengangkatannya sebagai khalifah untuk menggantikan ayahnya Mu'awiyah (pergantian jabatan khalifah melalui keturunan tidak dikenal dalam sejarah Islam ketika itu), gaya hidup Yazid yang dianggap tidak Islami, dan tidak setuju dengan kebijakan ekonomi Umayyah. Setelah menyatakan perlawanan mereka, penduduk Madinah mengepung para anggota Banu Umayyah yang berada di kota itu dan membuat parit pertahanan di sekeliling kota. Abdullah bin Hanzhalah menjadi panglima bagi sahabat Anshar, sementara sahabat Quraisy menunjuk Abdullah bin Muthi' al-Adawi, lalu kaum Muhajirin menunjuk Ma'qil bin Sinan al-Asyja'i.[2] Mereka mengepung Bani Umayyah yang bermukim di Madinah termasuk di dalamnya ada Abdul Malik bin Marwan.[3] Beberapa anak sahabat yang ikut seperti Muhammad bin Sa'ad bin Abi Waqqash, Ibrahim bin Farith, dan Ibrahim bin Nu'aim.[4]

Yazid mengirim 12.000 pasukan yang kemudian bergabung dengan anggota Banu Umayyah yang telah dibebaskan dari Madinah, Yazid memberi intruksi untuk mengajak secara damai tiga kali sebelum bertempur, tetapi ditolak oleh pasukan Madinah.

Pertempuran

Pasukan Muslim kemudian mendirikan basis perkemahan di Harrat Waqim, sisi timur kota Madinah. Posisi ini kemudian diserang pasukan Madinah. Walaupun awalnya pertempuran berjalan dengan keunggulan kubu Madinah, barisan mereka dirusak oleh membelotnya Banu Haritsah ke kubu Umayyah. Abdullah bin Hanzhalah terkena tebasan pedang di bahunya setelah ia melepas baju besinya, menyebabkan kematiannya. Abdullah bin Amr memimpin pasukan berkuda awalnya berhasil memukul mundur pasukan Muslim, tapi kemudian ia dihujani panah hingga terbunuh.[4] Alhasil, pasukan berkuda Umayyah dibawah pimpinan Marwan bin al-Hakam dan Muslim bin Uqbah dapat menyerang mereka dari belakang pada saat matahari terbit dan berakhir dengan terusirnya pasukan Madinah dari pertempuran.[2]

Pemakaman Baqi untuk Korban Tragedi al-Harrah.

Setelah pertempuran, bala tentara Umayyah memasuki kota Madinah dan melakukan penjarahan selama tiga hari, walaupun terdapat catatan sejarah yang berbeda-beda tentang tingkat kekerasan yang terjadi. Lebih 300 muslimin Madinah terbunuh.[2] Muslim juga memanggil satu persatu beberapa tokoh Madinah lalu memenggal kepalanya seperti Yazid bin Abdillah bin Zam'ah, Ma'qil bin Sinan (sahabat Muhammad yang mengikuti Pembukaan Makkah), Abdullah bin Harits dan lainnya sebanyak 80 sahabat Muhammad terbunuh, serta 700 orang dari Quraisy dan Anshar juga terbunuh.[4] Adapun keluarga Bani Hasyim tak ada yang terlibat kecuali 3 orang yang tak sengaja terbunuh.

Pasca Pertempuran

Muslim mengangkat Rauh bin Zinba sebagai pimpinan Madinah.[3] Pasukan Umayyah kemudian bergerak menuju Makkah untuk mengepung Abdullah bin az-Zubair yang juga melakukan perlawanan terhadap Yazid, tetapi panglima Muslim bin Uqbah meninggal dalam perjalanan di daerah Tsaniyah Musyallal, digantikan Hushain bin Numair. Muslim banyak dikecam dalam sumber sejarah akibat penjarahan Madinah, kota tempat tinggal Nabi Muhammad, dan peristiwa ini menjadi salah satu "kejahatan besar" yang dituduhkan kepada Banu Umayyah.[5]

Setelah pasukan bergerak mendekat Mekah, ibu dari Yazid bin Abdillah bin Zam'ah mendatangi kuburan Muslim lalu membongkarnya, ia menyaksikan jasad Muslim terlilit tali hitam dengan mulut terbuka. Lalu ia mengeluarkan dan menyalib jasadnya di Musyallal sehingga dapat dilihat oleh orang-orang yang melintas mengira jasadnya terlempar dari kuburan.[4]

Referensi

  1. ↑ Katsir, Ibnu (2012). Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5
  2. 1 2 3 Dzahabi, Imam (2017). Terjemah Siyar A'lam an-Nubala Vol.7. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-270-8
  3. 1 2 Musthafa, DR Muhammad Husni (2010-10-01). Anak-Anak dalam Pangkuan Rasulullah saw (dalam bahasa Melayu). Akbar Media. hlm. 144. ISBN 978-979-95330-1-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. 1 2 3 4 Qutaibah, Ibnu. Politik dan Kekuasaan: Dalam Sejarah Para Khalifah. Pustaka Al-Kautsar. hlm. 333–335. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ↑ Hawting 2000, hlm. 47-48.

Sumber

  • Anthony, Sean W. (2016). "The Meccan Prison of ʿAbdallāh b. al-Zubayr and the Imprisonment of Muḥammad b. al-Ḥanafiyya". Dalam Pomerantz, Maurice A.; Shahin, Aram A. (ed.). The Heritage of Arabo-Islamic Learning: Studies Presented to Wadad Kadi. Leiden and Boston: Brill. hlm. 3–27. ISBN 978-90-04-30590-8.
  • Editors (1971). "Ḥarra". Dalam Lewis, B.; Ménage, V. L.; Pellat, Ch. & Schacht, J. (ed.). Encyclopaedia of Islam. Volume III: H–Iram (Edisi 2). Leiden: E. J. Brill. hlm. 226. OCLC 495469525.
  • Gibb, H. A. R. (1960). "ʿAbd Allāh ibn al-Zubayr". Dalam Gibb, H. A. R.; Kramers, J. H.; Lévi-Provençal, E.; Schacht, J.; Lewis, B. & Pellat, Ch. (ed.). Encyclopaedia of Islam. Volume I: A–B (Edisi 2). Leiden: E. J. Brill. hlm. 54–55. OCLC 495469456.
  • Hawting, G.R., ed. (1989). The History of al-Ṭabarī, Volume XX: The Collapse of Sufyānid Authority and the Coming of the Marwānids: The Caliphates of Muʿāwiyah II and Marwān I and the Beginning of the Caliphate of ʿAbd al-Malik, A.D. 683–685/A.H. 64–66. Seri SUNY dalam Studi Timur Dekat. Albany, New York: State University of New York Press. ISBN 978-0-88706-855-3.
  • Hawting, Gerald R. (2000). The First Dynasty of Islam: The Umayyad Caliphate AD 661–750 (Edisi Second). London dan New York: Routledge. ISBN 0-415-24072-7.
  • Hawting, G.R. (2002). "Yazīd (I) b. Muʿāwiya". Dalam Bearman, P. J.; Bianquis, Th.; Bosworth, C. E.; van Donzel, E. & Heinrichs, W. P. (ed.). Encyclopaedia of Islam. Volume XI: W–Z (Edisi 2). Leiden: E. J. Brill. ISBN 978-90-04-12756-2.
  • Howard, I. K. A., ed. (1990). The History of al-Ṭabarī, Volume XIX: The Caliphate of Yazīd ibn Muʿāwiyah, A.D. 680–683/A.H. 60–64. Seri SUNY dalam Studi Timur Dekat. Albany, New York: State University of New York Press. ISBN 978-0-7914-0040-1.
  • Lassner, Jacob (1986). Islamic Revolution and Historical Memory: An Inquiry Into the Art of ʻAbbāsid Apologetics. American Oriental Society.
  • Lecker, Michael (1985). "Muhammad at Medina — A Geographical Approach". Jerusalem Studies in Arabic and Islam. 6: 29–62.
  • Lecker, Michael (2011). "The Jewish Reaction to the Islamic Conquests". Dalam Krech, Volkhard; Steinicke, Marion (ed.). Dynamics in the History of Religions Between Asia and Europe: Encounters, Notions, and Comparative Perspectives. Brill. ISBN 978-90-04-18500-5.
  • Smith, G. Rex, ed. (1994). The History of al-Ṭabarī, Volume XIV: The Conquest of Iran, A.D. 641–643/A.H. 21–23. Seri SUNY dalam Studi Timur Dekat. Albany, New York: State University of New York Press. ISBN 978-0-7914-1293-0.
  • Vaglieri, L. Veccia (1971). "Al-Ḥarra". Dalam Lewis, B.; Ménage, V. L.; Pellat, Ch. & Schacht, J. (ed.). Encyclopaedia of Islam. Volume III: H–Iram (Edisi 2). Leiden: E. J. Brill. hlm. 226–227. OCLC 495469525.
  • Wellhausen, Julius (1927). The Arab Kingdom and Its Fall. Diterjemahkan oleh Margaret Graham Weir. Calcutta: University of Calcutta. OCLC 752790641.
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
  • İslâm Ansiklopedisi

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Pendahuluan
  2. Pertempuran
  3. Pasca Pertempuran
  4. Referensi
  5. Sumber

Artikel Terkait

Yazid bin Muawiyah

Khalifah Umayyah Kedua (680–683)

Abdullah bin Hanzhalah

dalam Pertempuran al-Harrah pada Agustus 683. Abdullah adalah putra Hanzhalah bin Abi Amir, sahabat Nabi Muhammad yang gugur dalam Pertempuran Uhud pada

Ali bin Husain

cicit Nabi Muhammad dan Imam keempat dari Dua Belas Imam

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026