Pernikahan Arwah adalah sebuah film horor supranatural Indonesia tahun 2025 yang disutradarai oleh Paul Agusta serta ditulis oleh Ario Sasongko dan Aldo Swastia. Film ini dibintangi oleh Morgan Oey dan Zulfa Maharani.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Pernikahan Arwah | |
|---|---|
Poster penayangan di bioskop | |
| Sutradara | Paul Agusta |
| Produser | Perlita Desiani |
| Ditulis oleh |
|
| Pemeran |
|
| Penata musik | Indra Perkasa |
| Sinematografer | Ivan Anwal Pane |
| Penyunting | Dinda Amanda |
Perusahaan produksi |
|
Tanggal rilis |
|
| Durasi | 101 menit |
| Negara | Indonesia |
| Bahasa | Indonesia Hokkien |
Pernikahan Arwah (Inggris: The Butterfly House) adalah sebuah film horor supranatural Indonesia tahun 2025 yang disutradarai oleh Paul Agusta serta ditulis oleh Ario Sasongko dan Aldo Swastia. Film ini dibintangi oleh Morgan Oey dan Zulfa Maharani.
Pernikahan Arwah dirilis di bioskop pada 27 Februari 2025 dan ditayangkan di Netflix pada 3 Juli 2025.[1] Film ini juga akan diputar di delapan negara Asia lainnya, yaitu Vietnam, Kamboja, Malaysia, Filipina, Myanmar, Laos, Brunei Darussalam, dan Taiwan. Selain itu, Pernikahan Arwah juga akan dirilis di berbagai negara di Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Karibia, termasuk Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Argentina, Brasil, Kolombia, Peru, Chili, Venezuela, Uruguay, Bolivia, Ekuador, Paraguay, Guyana, Suriname, Republik Dominika, Kuba, Haiti, Jamaika, Bahama, Barbados, Dominika, Grenada, Antigua dan Barbuda, Saint Kitts dan Nevis, Saint Lucia, Saint Vincent dan Grenadines, serta Trinidad dan Tobago.
Film ini merupakan debut produksi dari Entelekey Media Indonesia yang berhasil menembus pasar internasional melalui penjualan hak distribusi ke lebih dari 30 negara di berbagai benua.
Salim dan Tasya begitu bahagia karena akan segera menikah. Sebelum menikah, pasangan itu melakukan sangjit, proses lamaran sekaligus perayaan penyatuan dua keluarga menjelang pernikahan mereka. Semua tampak baik-baik saja hingga Tasya mulai merasakan hal-hal aneh saat sangjit. Awalnya dia melihat penampakan seorang wanita tua berambut putih misterius pada saat sangjit. Engkim[a] Fang Fang dari Salim dikabarkan meninggal, tepat setelah acara sangjit selesai. Karena Salim adalah satu-satunya keluarga yang dipunyai engkim Fang Fang, maka Salim mau tidak mau harus menyembahyanginya dan mengurus pemakamannya. Selain harus mengurus pemakaman engkimnya, Salim juga diwajibkan untuk melanjutkan ritual keluarga dengan membakar dupa setiap hari di sebuah altar dalam sebuah rumah misterius yang sering muncul di mimpi Tasya. Akibat hal tersebut, sesi foto pre-wedding yang sebelumnya rencananya dilakukan di Hong Kong diubah ke rumah tersebut. Ketika tim photoshoot yang dipimpin oleh Febri sampai di rumah itu, mereka mulai diganggu dan dihantui oleh arwah seorang pengantin perempuan Tionghoa Indonesia yang seperti menginginkan sesuatu dari Tasya dan Salim.
Pada saat sesi pemotretan, Tasya tiba-tiba pingsan. Tim foto menemukan hasil foto yang ganjil di mana seperti ada bayangan di belakang Salim dan Tasya. Setelah sadar, Tasya melihat penampakan seorang wanita berbaju pengantin merah yang kemudian menuntunnya ke sebuah ruangan tersembunyi tempat di mana mayat Mei Hwa tersimpan. Harja yang merasa sangat ketakutan memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah tersebut. Keesokan harinya, Salim bersama Febri mengubur mayat Mei Hwa ke kuburannya di halaman.
Perilaku Tasya yang semakin aneh membuat Arin menemui Koh Chung-Chung di Kelenteng, yang memberi tahu bahwa adanya energi kesedihan yang kuat di rumah tersebut dan menyarankan untuk melakukan ritual pernikahan arwah. Tasya mulai melihat masa lalu Mei Hwa yang hidup di zaman penjajahan Jepang, di mana calon suaminya (Bhanu) dan keluarganya dibunuh oleh tentara Jepang tepat pada hari pernikahannya. Mei Hwa akhirnya mati bunuh diri. Tasya secara tidak sadar juga hampir bunuh diri sebelum dicegah oleh Salim. Koh Chung-Chung kemudian tiba di rumah tersebut dan mulai melakukan ritual pernikahan arwah. Karena tidak berhasil menemukan arwah dari Bhanu untuk dinikahkan, Koh Chung-Chung menyarankan agar ada yang menjemput arwah Bhanu di alam baka. Dengan sebuah ritual yang dilakukan, Tasya masuk ke alam baka untuk mencari Bhanu. Pada saat proses tersebut, Febri yang diam-diam menyukai Tasya memukul Salim hingga pingsan. Febri yang ingin membawa Tasya pergi dari rumah itu membunuh Koh Chung-Chung. Tapi Salim yang telah sadar setelah dibangunkan oleh Arin berhasil memukul pingsan Febri sebelum membawa Tasya pergi. Tasya berhasil menemukan Bhanu di alam baka, tapi saat telah kembali ke alam manusia, dia kaget menemukan Koh Chung-Chung yang telah meninggal dan mencegah Salim yang mencoba untuk melanjutkan ritual pernikahan arwah dengan menikahkan Febri dengan Mei Hwa. Febri yang kemudian tersadar memukul Salim dan berusaha membunuhnya, tapi terhenti oleh suara seseorang. Tak lama kemudian Febri melihat Tasya berjalan terbalik di langit-langit, dan Salim tiba-tiba bangun dengan perilaku yang aneh. Arin yang pergi memanggil polisi kembali ke rumah tersebut dan menemukan Febri yang telah tidak bernyawa. Dua kupu-kupu terbang dan hinggap di altar, sementara itu Salim dan Tasya berjalan bergandengan tangan di jalanan sambil bersenandung.
Pengambilan gambar utama film ini dilakukan di Lasem, Rembang, Jawa Tengah, di mana Paul Agusta memilih lokasi tersebut karena memiliki warisan budaya Cina yang kental.[2][3] Rumah yang digunakan sebagai latar untuk sebagian besar adegan dalam film berusia 200 tahun.[4]
Untuk pendalaman peran, Morgan Oey juga melakukan riset pribadi dengan berdiskusi dengan anggota keluarga yang lebih tua untuk mendalami tradisi pernikahan arwah.[3] Puty Sjahrul menjalani debut layar lebarnya sebagai Arin, seorang perias dalam film ini.