Perkci Papua adalah spesies burung beo berwarna-warni yang termasuk ke dalam famili Psittaculidae. Kata Charmosyna, berasal dari bahasa Yunani 'kharmosunos' yang berarti gembira, sementara kata 'papou' merupakan epitet spesies yang merujuk pada asal usulnya di Papua Nugini. Habitat alami burung ini adalah hutan pegunungan subtropis atau tropis yang lembap. Lingkungan ini ideal untuk memberikan perlindungan juga sumber daya yang dibutuhkan untuk berkembang biak. Di alam liar, perkici Papua memperoleh makanannya dari serbuk sari, nektar, bunga, buah-buahan, beri, dan kemungkinan serangga beserta larvanya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Perkci Papua (Charmosyna Papou) adalah spesies burung beo berwarna-warni yang termasuk ke dalam famili Psittaculidae. Kata Charmosyna, berasal dari bahasa Yunani 'kharmosunos' yang berarti gembira, sementara kata 'papou' merupakan epitet spesies yang merujuk pada asal usulnya di Papua Nugini. [1] Habitat alami burung ini adalah hutan pegunungan subtropis atau tropis yang lembap. [1] Lingkungan ini ideal untuk memberikan perlindungan juga sumber daya yang dibutuhkan untuk berkembang biak. [1] Di alam liar, perkici Papua memperoleh makanannya dari serbuk sari, nektar, bunga, buah-buahan, beri, dan kemungkinan serangga beserta larvanya. [2]
Secara tampilan fisik, perkici Papua memiliki dua fase warna, yaitu merah dan melanistik. Pada fase melanistik, bulu merah digantikan oleh bulu hitam. [2] Umumnya, anak burung perkici Papua memiliki warna yang lebih kusam daripada perkici Papua dewasa. Anak perkici Papua memiliki tepi bulu leher dan dada yang berwarna hitam, paruh berwarna cokelat dan oranye dengan ujung yang berwarna hitam, dan mata yang berwarna coklat gelap. Sementara itu perkici Papua dewasa berwarna merah dengan mantel dan sayap berwarna hijau gelap, paruh berwarna oranye atau merah dan mata yang berwarna kuning atau oranye. [3] Perkici ini mirip dengan perkici Josefina, namun perkici Papua memiliki ekor yang lebih panjang. [4]
Sejauh ini populasi perkici Papua cukup stabil, sehingga spesies ini tidak mendekati ambang batas untuk kategori rentan. [5]