Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiPerilaku deimatik
Artikel Wikipedia

Perilaku deimatik

Perilaku Deimatik dikenal juga dengan tampilan mengejutkan adalah bentuk perilaku pertahanan diri yang dilakukan oleh hewan yang tidak memiliki sistem pertahanan fisik kuat. Perilaku ini bertujuan untuk menakuti, mengejutkan, atau mengalihkan perhatian predator melalui tindakan atau tampilan visual yang mencolok. Dengan cara ini, hewan memperoleh kesempatan untuk melarikan diri dari ancaman. Salah satu bentuk paling umum dari tampilan deimatik adalah penampakan pola mencolok menyerupai mata (eyespots) yang muncul tiba-tiba pada sayap atau tubuh hewan ketika terancam.

Wikipedia article
Diperbarui 19 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Perilaku Deimatik (Deimatic Behaviour) dikenal juga dengan tampilan mengejutkan (startle display) adalah bentuk perilaku pertahanan diri yang dilakukan oleh hewan yang tidak memiliki sistem pertahanan fisik kuat. Perilaku ini bertujuan untuk menakuti, mengejutkan, atau mengalihkan perhatian predator melalui tindakan atau tampilan visual yang mencolok. Dengan cara ini, hewan memperoleh kesempatan untuk melarikan diri dari ancaman. Salah satu bentuk paling umum dari tampilan deimatik adalah penampakan pola mencolok menyerupai mata (eyespots) yang muncul tiba-tiba pada sayap atau tubuh hewan ketika terancam.[1][2]

Istilah deimatik atau dymantik berasal dari bahasa Yunani δειματόω (deimatóo), yang berarti menakut-nakuti.[3] Perilaku ini ditemukan pada berbagai kelompok hewan yang tidak berkerabat dekat, termasuk beberapa jenis ngengat, kupu-kupu, belalang sembah (mantis), dan serangga ranting (phasmid). Dalam kelompok cephalopoda, perilaku deimatik dijumpai pada beberapa spesies gurita, cumi-cumi sotong dan nautilus kertas, yang dapat mengubah warna tubuh secara cepat untuk menimbulkan efek mengejutkan.[4]

Klasifikasi

Secara fungsional, perilaku deimatik dapat dibedakan menjadi dua bentuk utama, yaitu deimatik jujur (honest deimatic display) dan deimatik menipu (deceptive deimatic display). Pada bentuk pertama, tampilan dilakukan oleh spesies yang benar-benar memiliki kemampuan pertahanan nyata, seperti menghasilkan racun, menyemprotkan cairan berbahaya, atau mampu menyerang balik predator. Dalam kasus ini, tampilan berfungsi sebagai peringatan awal yang menunjukkan bahwa hewan tersebut memang berbahaya untuk diserang. Sebaliknya, deimatik menipu dilakukan oleh spesies yang tidak memiliki sarana pertahanan fisik maupun kimiawi, tetapi meniru tampilan spesies beracun atau berbahaya untuk menciptakan kesan menakutkan. Strategi ini bersifat gertakan yang dimaksudkan untuk menunda atau menggagalkan serangan predator.[4]

Berbeda dengan sinyal aposematik, yang bertujuan memberi tahu predator bahwa mangsa tidak layak dimakan dalam jangka panjang melalui proses pembelajaran, tampilan deimatik bekerja secara instan, menimbulkan reaksi terkejut atau takut sesaat. Walaupun memiliki perbedaan tujuan dan mekanisme, kedua strategi ini dapat berkaitan atau tumpang tindih. Dalam beberapa kasus, seekor hewan dapat menunjukkan perilaku yang bersifat deimatik sekaligus aposematik, yakni tidak hanya mengejutkan predator tetapi juga menegaskan bahwa dirinya benar-benar berbahaya atau tidak menguntungkan untuk dimangsa.[5][6][7]

Pada Serangga

Tampilan mengejutkan tidak selalu berupa tipu-daya deimatik. Beberapa serangga ranting menyemprotkan senyawa monoterpena dolichodial ketika diserang, sehingga tampilan ancamannya merupakan aposematisme jujur.
Ulat ngengat kucing (Cerura vinula) menampilkan dua flagel pada ekornya serta bercak merah pada kepalanya. Jika ancaman tidak mundur, ulat ini dapat menembakkan asam format dari flagela.

Tampilan deimatik dilakukan oleh berbagai serangga, termasuk belalang sembah (Mantodea) dan serangga ranting (Phasmatodea). Dalam keadaan tidak terganggu, serangga-serangga ini umumnya memiliki kemampuan kamuflase yang baik. Apabila menghadapi gangguan dari predator potensial, serangga ini memperlihatkan sayap belakang yang berwarna cerah secara tiba-tiba. Pada belalang sembah, tampilan sayap tersebut kadang disertai penonjolan kaki depan yang berwarna kontras dan dapat diiringi suara mendesis yang dihasilkan melalui stridulasi. Sebagai contoh, belalang Phymateus menampilkan area berwarna merah dan kuning pada sayap belakang, spesies ini juga menunjukkan aposematisme dengan menghasilkan sekresi yang memiliki bau tidak sedap dari bagian toraks.[2] Tampilan ancaman pada phasmid Peruphasma schultei bukan merupakan tipu-daya, serangga ini menyemprotkan senyawa kimia monoterpena mirip dolichodial sebagai mekanisme pertahanan.[8]

Pada ngengat yang menunjukkan perilaku deimatik, Smerinthus ocellatus menampilkan totol mata berukuran besar dan menggerakkannya perlahan, menyerupai mata predator vertebrata seperti burung hantu.[2] Pada kupu-kupu, Aglais io menunjukkan kripsis menyerupai daun ketika sayap tertutup, tetapi menampilkan empat totol mata kontras ketika terganggu, tampilan ini efektif terhadap burung pemakan serangga seperti flycatcher.[9]

Penelitian oleh ahli zoologi Australia A. D. Blest menunjukkan bahwa tingkat kemiripan totol mata dengan mata vertebrata asli, baik dari segi pola maupun warna, berkorelasi dengan tingkat efektivitasnya dalam menghalau burung pemakan serangga. Penelitian lanjutan pada kupu-kupu merak menunjukkan bahwa penghilangan totol mata mencolok secara signifikan menurunkan respons ketakutan pada burung pemakan serangga (seperti pada serisik kuning). Temuan ini mengindikasikan bahwa kemunculan warna secara tiba-tiba serta keberadaan pola totol mata masing-masing memberikan kontribusi terhadap efektivitas tampilan deimatik.[2]

Sejumlah ngengat noctuidae, seperti red underwing besar (Catocala nupta), memiliki pola kriptik ketika beristirahat namun menampilkan kilatan warna cerah ketika mengalami gangguan.[10] Spesies lain, termasuk anggota genus Speiredonia dan Spirama, menampilkan bentuk yang tampak mengancam bahkan dalam keadaan diam. Selain itu, ngengat saturniid dari genera Attacus dan Rothschildia menampilkan struktur menyerupai kepala ular, meskipun tidak dari sudut pandang depan.[11]

Banyak dari ngengat arctiinae menghasilkan suara klik ketika diburu oleh kelelawar yang menggunakan ekolokasi, dan banyak diantaranya mengandung senyawa kimia yang tidak disukai predator. Beberapa spesies, termasuk ngengat Cycnia tenera, memiliki organ pendengar dan pola warna mencolok, serta mulai menghasilkan klik ketika kelelawar mendekat. Penelitian oleh John M. Ratcliffe dan James H. Fullard, yang menggunakan Cycnia tenera serta kelelawar Myotis septentrionalis, menunjukkan bahwa sinyal tersebut berfungsi untuk mengganggu ekolokasi dan memberikan peringatan mengenai pertahanan kimia. Dengan demikian, perilaku ini bersifat deimatik dan aposematik secara bersamaan.[12]

  • Tampilan deimatik phasmid Peruphasma schultei
    Tampilan deimatik phasmid Peruphasma schultei
  • Pose ancaman phasmid Haaniella dehaanii
    Pose ancaman phasmid Haaniella dehaanii
  • Belalang sembah Mediterania betina dewasa (Iris oratoria) dalam pose ancaman
    Belalang sembah Mediterania betina dewasa (Iris oratoria) dalam pose ancaman
  • Ngengat hawk bermata betina (Smerinthus ocellatus) dalam preparat, dengan pola totol mata pada sayap.
    Ngengat hawk bermata betina (Smerinthus ocellatus) dalam preparat, dengan pola totol mata pada sayap.
  • Kupu-kupu merak (Aglais io) dengan sayap tertutup, memperlihatkan pola kriptik menyerupai permukaan daun.
    Kupu-kupu merak (Aglais io) dengan sayap tertutup, memperlihatkan pola kriptik menyerupai permukaan daun.
  • Apabila sayapnya terbuka, kupu-kupu merak menampilkan totol mata yang mencolok
    Apabila sayapnya terbuka, kupu-kupu merak menampilkan totol mata yang mencolok
  • Speiredonia spectans beristirahat dengan pola menyerupai wajah yang mengeram
    Speiredonia spectans beristirahat dengan pola menyerupai wajah yang mengeram
  • Pseudocreobotra wahlbergii menampilkan sayap dalam perilaku deimatik
    Pseudocreobotra wahlbergii menampilkan sayap dalam perilaku deimatik
  • Ilustrasi Phasma oleh George Robert Gray (1833), menunjukkan postur istirahat kriptik dan struktur sayap yang kontras ketika dibentangkan
    Ilustrasi Phasma oleh George Robert Gray (1833), menunjukkan postur istirahat kriptik dan struktur sayap yang kontras ketika dibentangkan


Pada Arachnida

Pada kelompok Arachnida, termasuk laba-laba dan kalajengking, tampilan ancaman merupakan bagian dari strategi pertahanan terhadap predator. Kedua kelompok ini umumnya berbisa, sehingga tampilan ancaman yang mereka perlihatkan dapat diklasifikasikan sebagai aposematik, yaitu berfungsi sebagai sinyal peringatan akan adanya mekanisme pertahanan berbahaya. Namun, sejumlah predator, seperti landak dan tawon pemburu laba-laba dari famili Pompilidae, diketahui mampu memangsa arachnida dengan mengatasi sistem pertahanan tersebut. Dalam konteks tertentu, misalnya ketika suara yang dihasilkan kalajengking mengejutkan predator, tampilan tersebut dapat dikategorikan sebagai deimatik, yaitu perilaku yang bertujuan mengejutkan atau mengintimidasi lawan. Laba-laba menunjukkan berbagai bentuk tampilan ancaman. Beberapa genus, seperti Argiope dan Pholcus, merespons gangguan dengan menggetarkan tubuh dan jaringnya secara cepat. Perilaku ini dapat mengaburkan bentuk tubuh laba-laba, meningkatkan kesan ukuran tubuh, serta menyulitkan predator dalam menentukan posisi akurat.[13]

Pada laba-laba Mygalomorphae, termasuk tarantula, tampilan ancaman umumnya berupa pengangkatan bagian depan tubuh dengan kaki depan dan pedipalpus direntangkan serta taring diperlihatkan. Beberapa spesies, seperti Poecilotheria regalis, memiliki warna kontras pada kaki depan dan bagian mulut, yang diekspos selama tampilan ancaman untuk meningkatkan efektivitas sinyal visual.[14]

Kalajengking memperlihatkan tampilan ancaman yang didukung oleh kemampuan pertahanan nyata. Saat terganggu, kalajengking dapat membuka capitnya dan mengangkat abdomennya sehingga sengat berada dalam posisi siap untuk menyengat. Selain tampilan visual, beberapa spesies juga menghasilkan suara melalui mekanisme stridulasi yang melibatkan pedipalp dan kaki depan, yang berfungsi sebagai sinyal peringatan tambahan.[13]

  • Tampilan ancaman aposematik pada tarantula Brasil.
    Tampilan ancaman aposematik pada tarantula Brasil.
  • Bagian perut laba-laba Poecilotheria regalis. Kaki depan berwarna kuning cerah digunakan dalam tampilan deimatik.
    Bagian perut laba-laba Poecilotheria regalis. Kaki depan berwarna kuning cerah digunakan dalam tampilan deimatik.
  • Tampilan ancaman kalajengking dengan capit terbuka lebar dan abdomen terangkat untuk menonjolkan sengat.
    Tampilan ancaman kalajengking dengan capit terbuka lebar dan abdomen terangkat untuk menonjolkan sengat.

Referensi

  1. ↑ Stevens, Martin (2005). "The role of eyespots as anti-predator mechanisms, principally demonstrated in the Lepidoptera". Biological Reviews (dalam bahasa Inggris). 80 (4): 573–588. doi:10.1017/S1464793105006810. ISSN 1469-185X.
  2. 1 2 3 4 Edmunds, Malcolm (2008). Deimatic Behavior (dalam bahasa Inggris). Springer, Dordrecht. hlm. 1173–1174. doi:10.1007/978-1-4020-6359-6_863. ISBN 978-1-4020-6359-6.
  3. ↑ Weingarten, Judith; Macdonald, Colin F.; Aruz, Joan; Fabian, Lara; Kumar, Nisha (2023-10-05). Processions: Studies of Bronze Age Ritual and Ceremony presented to Robert B. Koehl (dalam bahasa Inggris). Archaeopress Publishing Ltd. hlm. 97. ISBN 978-1-80327-534-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. 1 2 Umbers, Kate D. L.; Lehtonen, Jussi; Mappes, Johanna (2015-01-19). "Deimatic displays". Current Biology (dalam bahasa English). 25 (2): R58 – R59. doi:10.1016/j.cub.2014.11.011. ISSN 0960-9822. PMID 25602301. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  5. ↑ Umbers, Kate D. L.; White, Thomas E.; De Bona, Sebastiano; Haff, Tonya; Ryeland, Julia; Drinkwater, Eleanor; Mappes, Johanna (2019-01-24). "The protective value of a defensive display varies with the experience of wild predators". Scientific Reports (dalam bahasa Inggris). 9 (1): 463. doi:10.1038/s41598-018-36995-9. ISSN 2045-2322.
  6. ↑ Skelhorn, John; Holmes, Grace G.; Rowe, Candy (2016-03-01). "Deimatic or aposematic?". Animal Behaviour. 113: e1 – e3. doi:10.1016/j.anbehav.2015.07.021. ISSN 0003-3472.
  7. ↑ Umbers, Kate D. L.; Mappes, Johanna (2016-03-01). "Towards a tractable working hypothesis for deimatic displays". Animal Behaviour. 113: e5 – e7. doi:10.1016/j.anbehav.2016.01.002. ISSN 0003-3472.
  8. ↑ Dossey, Aaron Todd (2006). Chemical Biodiversity And Signaling: Detailed Analysis Of Fmrfamide-Like Neuropeptides And Other Natural Products By Nmr And Bioinformatics. University of Florida (PhD thesis).
  9. ↑ Merilaita, Sami; Vallin, Adrian; Kodandaramaiah, Ullasa; Dimitrova, Marina; Ruuskanen, Suvi; Laaksonen, Toni (26 July 2011). "Behavioral Ecology". Number of Eyespots and Their Intimidating Effect on Naïve Predators in the Peacock Butterfly. 22 (6): 1326–1331. doi:10.1093/beheco/arr135.
  10. ↑ Gullan and Cranston 2010, hlm. 370.
  11. ↑ Edmunds, Malcolm (2005). "Deimatic behavior". hlm. 677. doi:10.1007/0-306-48380-7_1185. ISBN 978-0-7923-8670-4. ;
  12. ↑ Ratcliffe, John M.; Fullard, James H. (2005). "The adaptive function of tiger moth clicks against echolocating bats: an experimental and synthetic approach" (PDF). Journal of Experimental Biology. 208 (Pt 24): 4689–4698. doi:10.1242/jeb.01927. PMID 16326950. S2CID 22421644.
  13. 1 2 Edmunds 1974, hlm. 158–159.
  14. ↑ Cott 1940, hlm. 215.

Daftar Pustaka

  • Gullan, P. J.; Cranston, P. S. (2010). Secondary Lines of Defense. John Wiley - Blackwell. hlm. 370. ISBN 9781444317671.
  • Cott, Hugh B. (1940). Adaptive Coloration in Animals. London: Methuen.
  • Edmunds, Malcolm (1974). Defence in Animals. Longman. ISBN 978-0-582-44132-3.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Klasifikasi
  2. Pada Serangga
  3. Pada Arachnida
  4. Referensi
  5. Daftar Pustaka

Artikel Terkait

Gurita

hewan dari ordo moluska

Belalang sembah

Belalang sembah

Kupu-kupu

serangga dari ordo Lepidoptera

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026