Perilaku Deimatik dikenal juga dengan tampilan mengejutkan adalah bentuk perilaku pertahanan diri yang dilakukan oleh hewan yang tidak memiliki sistem pertahanan fisik kuat. Perilaku ini bertujuan untuk menakuti, mengejutkan, atau mengalihkan perhatian predator melalui tindakan atau tampilan visual yang mencolok. Dengan cara ini, hewan memperoleh kesempatan untuk melarikan diri dari ancaman. Salah satu bentuk paling umum dari tampilan deimatik adalah penampakan pola mencolok menyerupai mata (eyespots) yang muncul tiba-tiba pada sayap atau tubuh hewan ketika terancam.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Perilaku Deimatik (Deimatic Behaviour) dikenal juga dengan tampilan mengejutkan (startle display) adalah bentuk perilaku pertahanan diri yang dilakukan oleh hewan yang tidak memiliki sistem pertahanan fisik kuat. Perilaku ini bertujuan untuk menakuti, mengejutkan, atau mengalihkan perhatian predator melalui tindakan atau tampilan visual yang mencolok. Dengan cara ini, hewan memperoleh kesempatan untuk melarikan diri dari ancaman. Salah satu bentuk paling umum dari tampilan deimatik adalah penampakan pola mencolok menyerupai mata (eyespots) yang muncul tiba-tiba pada sayap atau tubuh hewan ketika terancam.[1][2]
Istilah deimatik atau dymantik berasal dari bahasa Yunani δειματόω (deimatóo), yang berarti menakut-nakuti.[3] Perilaku ini ditemukan pada berbagai kelompok hewan yang tidak berkerabat dekat, termasuk beberapa jenis ngengat, kupu-kupu, belalang sembah (mantis), dan serangga ranting (phasmid). Dalam kelompok cephalopoda, perilaku deimatik dijumpai pada beberapa spesies gurita, cumi-cumi sotong dan nautilus kertas, yang dapat mengubah warna tubuh secara cepat untuk menimbulkan efek mengejutkan.[4]
Secara fungsional, perilaku deimatik dapat dibedakan menjadi dua bentuk utama, yaitu deimatik jujur (honest deimatic display) dan deimatik menipu (deceptive deimatic display). Pada bentuk pertama, tampilan dilakukan oleh spesies yang benar-benar memiliki kemampuan pertahanan nyata, seperti menghasilkan racun, menyemprotkan cairan berbahaya, atau mampu menyerang balik predator. Dalam kasus ini, tampilan berfungsi sebagai peringatan awal yang menunjukkan bahwa hewan tersebut memang berbahaya untuk diserang. Sebaliknya, deimatik menipu dilakukan oleh spesies yang tidak memiliki sarana pertahanan fisik maupun kimiawi, tetapi meniru tampilan spesies beracun atau berbahaya untuk menciptakan kesan menakutkan. Strategi ini bersifat gertakan yang dimaksudkan untuk menunda atau menggagalkan serangan predator.[4]
Berbeda dengan sinyal aposematik, yang bertujuan memberi tahu predator bahwa mangsa tidak layak dimakan dalam jangka panjang melalui proses pembelajaran, tampilan deimatik bekerja secara instan, menimbulkan reaksi terkejut atau takut sesaat. Walaupun memiliki perbedaan tujuan dan mekanisme, kedua strategi ini dapat berkaitan atau tumpang tindih. Dalam beberapa kasus, seekor hewan dapat menunjukkan perilaku yang bersifat deimatik sekaligus aposematik, yakni tidak hanya mengejutkan predator tetapi juga menegaskan bahwa dirinya benar-benar berbahaya atau tidak menguntungkan untuk dimangsa.[5][6][7]


Tampilan deimatik dilakukan oleh berbagai serangga, termasuk belalang sembah (Mantodea) dan serangga ranting (Phasmatodea). Dalam keadaan tidak terganggu, serangga-serangga ini umumnya memiliki kemampuan kamuflase yang baik. Apabila menghadapi gangguan dari predator potensial, serangga ini memperlihatkan sayap belakang yang berwarna cerah secara tiba-tiba. Pada belalang sembah, tampilan sayap tersebut kadang disertai penonjolan kaki depan yang berwarna kontras dan dapat diiringi suara mendesis yang dihasilkan melalui stridulasi. Sebagai contoh, belalang Phymateus menampilkan area berwarna merah dan kuning pada sayap belakang, spesies ini juga menunjukkan aposematisme dengan menghasilkan sekresi yang memiliki bau tidak sedap dari bagian toraks.[2] Tampilan ancaman pada phasmid Peruphasma schultei bukan merupakan tipu-daya, serangga ini menyemprotkan senyawa kimia monoterpena mirip dolichodial sebagai mekanisme pertahanan.[8]
Pada ngengat yang menunjukkan perilaku deimatik, Smerinthus ocellatus menampilkan totol mata berukuran besar dan menggerakkannya perlahan, menyerupai mata predator vertebrata seperti burung hantu.[2] Pada kupu-kupu, Aglais io menunjukkan kripsis menyerupai daun ketika sayap tertutup, tetapi menampilkan empat totol mata kontras ketika terganggu, tampilan ini efektif terhadap burung pemakan serangga seperti flycatcher.[9]
Penelitian oleh ahli zoologi Australia A. D. Blest menunjukkan bahwa tingkat kemiripan totol mata dengan mata vertebrata asli, baik dari segi pola maupun warna, berkorelasi dengan tingkat efektivitasnya dalam menghalau burung pemakan serangga. Penelitian lanjutan pada kupu-kupu merak menunjukkan bahwa penghilangan totol mata mencolok secara signifikan menurunkan respons ketakutan pada burung pemakan serangga (seperti pada serisik kuning). Temuan ini mengindikasikan bahwa kemunculan warna secara tiba-tiba serta keberadaan pola totol mata masing-masing memberikan kontribusi terhadap efektivitas tampilan deimatik.[2]
Sejumlah ngengat noctuidae, seperti red underwing besar (Catocala nupta), memiliki pola kriptik ketika beristirahat namun menampilkan kilatan warna cerah ketika mengalami gangguan.[10] Spesies lain, termasuk anggota genus Speiredonia dan Spirama, menampilkan bentuk yang tampak mengancam bahkan dalam keadaan diam. Selain itu, ngengat saturniid dari genera Attacus dan Rothschildia menampilkan struktur menyerupai kepala ular, meskipun tidak dari sudut pandang depan.[11]
Banyak dari ngengat arctiinae menghasilkan suara klik ketika diburu oleh kelelawar yang menggunakan ekolokasi, dan banyak diantaranya mengandung senyawa kimia yang tidak disukai predator. Beberapa spesies, termasuk ngengat Cycnia tenera, memiliki organ pendengar dan pola warna mencolok, serta mulai menghasilkan klik ketika kelelawar mendekat. Penelitian oleh John M. Ratcliffe dan James H. Fullard, yang menggunakan Cycnia tenera serta kelelawar Myotis septentrionalis, menunjukkan bahwa sinyal tersebut berfungsi untuk mengganggu ekolokasi dan memberikan peringatan mengenai pertahanan kimia. Dengan demikian, perilaku ini bersifat deimatik dan aposematik secara bersamaan.[12]
Pada kelompok Arachnida, termasuk laba-laba dan kalajengking, tampilan ancaman merupakan bagian dari strategi pertahanan terhadap predator. Kedua kelompok ini umumnya berbisa, sehingga tampilan ancaman yang mereka perlihatkan dapat diklasifikasikan sebagai aposematik, yaitu berfungsi sebagai sinyal peringatan akan adanya mekanisme pertahanan berbahaya. Namun, sejumlah predator, seperti landak dan tawon pemburu laba-laba dari famili Pompilidae, diketahui mampu memangsa arachnida dengan mengatasi sistem pertahanan tersebut. Dalam konteks tertentu, misalnya ketika suara yang dihasilkan kalajengking mengejutkan predator, tampilan tersebut dapat dikategorikan sebagai deimatik, yaitu perilaku yang bertujuan mengejutkan atau mengintimidasi lawan. Laba-laba menunjukkan berbagai bentuk tampilan ancaman. Beberapa genus, seperti Argiope dan Pholcus, merespons gangguan dengan menggetarkan tubuh dan jaringnya secara cepat. Perilaku ini dapat mengaburkan bentuk tubuh laba-laba, meningkatkan kesan ukuran tubuh, serta menyulitkan predator dalam menentukan posisi akurat.[13]
Pada laba-laba Mygalomorphae, termasuk tarantula, tampilan ancaman umumnya berupa pengangkatan bagian depan tubuh dengan kaki depan dan pedipalpus direntangkan serta taring diperlihatkan. Beberapa spesies, seperti Poecilotheria regalis, memiliki warna kontras pada kaki depan dan bagian mulut, yang diekspos selama tampilan ancaman untuk meningkatkan efektivitas sinyal visual.[14]
Kalajengking memperlihatkan tampilan ancaman yang didukung oleh kemampuan pertahanan nyata. Saat terganggu, kalajengking dapat membuka capitnya dan mengangkat abdomennya sehingga sengat berada dalam posisi siap untuk menyengat. Selain tampilan visual, beberapa spesies juga menghasilkan suara melalui mekanisme stridulasi yang melibatkan pedipalp dan kaki depan, yang berfungsi sebagai sinyal peringatan tambahan.[13]