Perempuan dalam Alkitab ada yang kuat dan ada yang lemah; beberapa mampu mengubah jalannya peristiwa sejarah, sementara yang lain terlalu lemah untuk memengaruhi bahkan nasib mereka sendiri.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Perempuan dalam Alkitab ada yang kuat dan ada yang lemah; beberapa mampu mengubah jalannya peristiwa sejarah, sementara yang lain terlalu lemah untuk memengaruhi bahkan nasib mereka sendiri.[1]
Masyarakat di Timur Dekat kuno digambarkan sebagai masyarakat patriarkal, dan Alkitab adalah dokumen patriarkal yang ditulis oleh pria dari zaman patriarki. Hukum pernikahan dalam Alkitab lebih menguntungkan pria, begitu pula hukum warisan. Perempuan hidup di bawah aturan ketat mengenai perilaku seksual, di mana hukuman atas perselingkuhan adalah rajam. Pada zaman Alkitab, perempuan diikat oleh aturan kesucian yang ketat, baik secara ritual maupun moral.[2]
Studi modern menerima sifat patriarkal ini, tetapi juga menekankan adanya hierarki ganda, yakni beberapa bentuk otoritas yang berbeda di antara individu pada waktu yang sama, masing-masing dengan struktur hierarkisnya sendiri. Kekuasaan pria nyata, tetapi terfragmentasi; perempuan memiliki ruang pengaruh tertentu, di mana mereka menjadi pemimpin meski tetap berada di bawah kendali pria. Beberapa bukti juga menunjukkan adanya kesetaraan gender dalam Alkitab.
Sebagian besar perempuan dalam Alkitab tidak disebut namanya; hanya sekitar 5,5–8% dari semua tokoh yang disebut namanya adalah perempuan. Secara umum, perempuan bukan tokoh utama dalam kehidupan publik Alkitab, dan perempuan yang disebut namanya biasanya muncul karena alasan luar biasa. Contohnya, beberapa terlibat dalam pusat struktur kekuatan manusia, sebuah tema literer Alkitab yang disebut “hati.” Beberapa perempuan yang menentang kekuasaan pria antara lain Abigail, Ester, dan Jael, yang menancapkan pasak di pelipis pemimpin musuh saat ia tidur.
Nama-nama ibu pendiri, beberapa nabi perempuan, hakim, pahlawan, dan ratu disebutkan, sedangkan perempuan biasa jarang mendapat perhatian. Kisah budak Hagar, pelacur Rahab, dan kisah lainnya disebutkan secara eksplisit. Perjanjian Baru menyebut beberapa perempuan dalam lingkaran dekat Yesus, dan peneliti umumnya sepakat bahwa Yesus memperlakukan perempuan dengan hormat. Perjanjian Baru juga mencatat nama perempuan yang memimpin dalam gereja mula-mula. Pandangan tentang perempuan dalam Alkitab telah banyak berubah sepanjang sejarah dan tercermin dalam seni dan budaya.[3] Di gereja kontemporer, terdapat banyak kontroversi mengenai perempuan dan peran mereka dalam gereja.

Sebagian besar masyarakat di Timur Dekat pada Zaman Perunggu (3000–1200 SM) dan Zaman Aksial (800–300 SM) adalah masyarakat patriarkal; pemerintahan patriarki stabil sekitar 3000 SM. Masyarakat seperti Akkadia, Het, Asyur, dan Persia menempatkan perempuan pada posisi subordinat dibanding pria. Beberapa pengecualian langka ada, misalnya pada milenium ketiga SM, orang Sumeria memberikan peran perempuan yang hampir setara dengan pria. Namun, pada milenium kedua, hak dan status perempuan menyusut.[4]
Di Barat, status perempuan Mesir tinggi, dengan hak hukum yang mendekati kesetaraan dengan pria pada tiga milenium terakhir SM, dan beberapa perempuan bahkan menjadi firaun. Namun, sejarawan Sarah Bomeroy menekankan bahwa meski seorang perempuan naik takhta, hal ini tidak memberi atau mendukung perempuan lain di masyarakat. Peneliti klasik Bonnie MacLachlan menulis bahwa masyarakat Yunani dan Romawi juga patriarkal.[5] Peran perempuan umumnya domestik, kecuali di beberapa masyarakat seperti Sparta, di mana perempuan dan laki-laki diberi nutrisi sama dan dilatih untuk bertempur, karena diyakini akan memperkuat keturunan mereka.[6]
Pandangan dominan di Yunani klasik patriarkal, dan literatur Yunani menunjukkan misogini. Penulis klasik seperti Thales, Socrates, Plato, Aristoteles, Aristophanes, dan Philo menulis bahwa perempuan “dua kali lebih buruk daripada pria,” “jahat secara alami,” dan “tidak dapat dipercaya dalam apa pun.” Mereka juga digambarkan sebagai makhluk rendah yang terpisah dari pria. Roma sangat dipengaruhi oleh pemikiran Yunani. Sarah Bomeroy menulis: “Masyarakat Romawi tidak mendorong perempuan melakukan apa yang dilakukan pria setara dalam kelas sosial mereka.” Homer menunjukkan pandangan yang diyakini di seluruh dunia kuno: perempuan secara alami lebih rendah dari laki-laki.[7]
Meski demikian, perempuan memiliki peran penting dalam agama Romawi dan Yunani klasik. Beberapa memiliki kebebasan dalam kegiatan keagamaan, misalnya imam perempuan di kuil Athena, yang digaji dengan baik, dihormati sebagai teladan, dan memiliki kekuatan sosial-politik. Dalam ritual misteri Eleusis Yunani, pria, perempuan, anak-anak, dan budak ikut dengan kesetaraan penuh. Di Roma, imam perempuan dapat memegang posisi tinggi, hidup mandiri dari pria, tampil di acara publik, dan memiliki kekayaan. Kedua peradaban merayakan festival khusus perempuan, tempat mereka berinteraksi dan membangun jaringan. Perempuan ideal menurut filsafat dan pemimpin laki-laki digambarkan mengurus rumah dan anak, menjauhi kehidupan publik, tetapi beberapa perempuan Yunani dan Romawi berpengaruh di luar ranah domestik.[8]
Hukum di masyarakat patriarkal mengatur tiga jenis hubungan seksual: pemerkosaan, zina (termasuk perselingkuhan dan prostitusidan incest).[9] Hukum ini seragam melintasi waktu dan wilayah, menunjukkan bahwa aspek kehidupan yang diatur sudah melekat dalam adat dan nilai masyarakat. Hukuman fisik, hukuman mati, penyiksaan, hukuman timbal balik, dan hukuman turun-temurun lazim diterapkan di Mesopotamia.[10]

Raja Ur-Nammu di Ur menetapkan hukum tertua sekitar 2200 SM; hukum lain seperti Hukum Hammurabi (1750 SM) juga menekankan perlindungan hak reproduktif pria dan posisi superior mereka. Hukuman pemerkosaan bervariasi tergantung kota atau desa; zina mencakup perselingkuhan dan prostitusi. Dalam hukum Hammurabi, perempuan yang berselingkuh bisa dihukum mati dengan cara diceburkan;[10] dalam hukum Taurat, perselingkuhan harus dihukum mati tanpa pengecualian (Imamat 20:10; Ulangan 22:22).
Hukum-hukum ini umumnya menguntungkan pria. Prostitusi diizinkan di banyak hukum kuno sebelum hukum Ibrani, bahkan dipaksakan pada anak-anak atau remaja perempuan dalam ritual tertentu. Hukum Taurat adalah satu-satunya yang secara tegas mengecam prostitusi. Incest adalah kejahatan hukuman mati, baik dalam Hammurabi maupun Imamat, tetapi pelaksanaan tergantung apakah melanggar kehormatan pria lain atau tidak. Alkitab mencatat incest beberapa kali; misalnya Tamar diperbolehkan menikah dengan saudara tirinya untuk menghindari pemerkosaan, tetapi kitab-kitab seperti Keluaran, Imamat, dan Bilangan melarang semua hubungan seksual antar kerabat.

Dalam tradisi Yahudi Kuno, ada sebuah doa yang selalu dirapalkan, khususnya dari bagian doa pagi yang dikenal sebagai Birchot HaShachar. Dalam doa ini, pria Yahudi mengucapkan tiga berkat yang berbunyi:
Doa-doa ini mencerminkan struktur sosial dan keagamaan pada masa itu, di mana pria Yahudi diwajibkan untuk menjalankan lebih banyak mitzvot (perintah agama) dibandingkan perempuan atau kelompok lain. Menurut Tosefta Berakhot 6:18, alasan di balik berkat "shelo asani isha" adalah karena perempuan tidak diwajibkan dalam sejumlah mitzvot tertentu.[11]
Dalam konteks modern, doa ini sering menjadi subjek diskusi, terutama terkait dengan kesetaraan gender. Beberapa komunitas Yahudi telah mengadaptasi atau menafsirkan ulang doa ini untuk mencerminkan nilai-nilai kontemporer. Misalnya, perempuan dalam beberapa tradisi mengucapkan berkat "She-asani kirtzono" (Yang telah menjadikanku sesuai kehendak-Nya) sebagai pengganti "shelo asani isha". Deracheha[11]
Originally Published in 1874 by Henry Holt and Company, New York; Republished as Historically Significant.