Dalam sejarah Kekaisaran Romawi, "Perdamaian Kecil Gereja" adalah periode 40 tahun pada akhir abad ke-2 ketika Kekristenan berkembang tanpa tekanan resmi dari pemerintah pusat. Peristiwa tersebut biasanya dikaitkan dengan masa pemerintahan Gallienus (253–268), yang mengeluarkan deklarasi toleransi resmi pertama terhadap umat Kristen. Serangkaian maklumat kekaisaran telah menghindarkan tindakan penganiayaan terhadap umat Kristen, salah satunya dialamatkan kepada uskup-uskup Mesir yang selamat, mencahkan tempat ibadah dan upacara-upacara sebagai properti gerejani dan mengembalikan hak kepemilikannya kepada umat Kristen. Gereja untuk pertama kalinya membujuk kaisar Romawi untuk menyelesaikan persengketaan dalam negeri.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Dalam sejarah Kekaisaran Romawi, "Perdamaian Kecil Gereja" adalah periode 40 tahun pada akhir abad ke-2 ketika Kekristenan berkembang tanpa tekanan resmi dari pemerintah pusat. Peristiwa tersebut biasanya dikaitkan dengan masa pemerintahan Gallienus (253–268),[1] yang mengeluarkan deklarasi toleransi resmi pertama terhadap umat Kristen.[2] Serangkaian maklumat kekaisaran telah menghindarkan tindakan penganiayaan terhadap umat Kristen, salah satunya dialamatkan kepada uskup-uskup Mesir yang selamat,[3] mencahkan tempat ibadah dan upacara-upacara sebagai properti gerejani dan mengembalikan hak kepemilikannya kepada umat Kristen.[2] Gereja untuk pertama kalinya membujuk kaisar Romawi untuk menyelesaikan persengketaan dalam negeri.
Perdamaian "kecil" Gereja, yang utamanya dideskripsikan oleh Eusebius, merupakan permulaan dari "perdamaian Gereja" akhir yang terjadi setelah Konstantinus I masuk Kristen.