Perang Saudara Afganistan Kedua, berlangsung antara 28 April 1992—tanggal ketika pemerintahan sementara baru Afghanistan seharusnya menggantikan Republik Afghanistan di bawah pemerintahan Presiden Mohammad Najibullah hingga pendudukan Kabul oleh Taliban yang mendirikan Keamiran Islam Afghanistan pada 27 September 1996.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Perang Saudara Afganistan Kedua, berlangsung antara 28 April 1992—tanggal ketika pemerintahan sementara baru Afghanistan seharusnya menggantikan Republik Afghanistan di bawah pemerintahan Presiden Mohammad Najibullah hingga pendudukan Kabul oleh Taliban yang mendirikan Keamiran Islam Afghanistan pada 27 September 1996.
Perang ini berlangsung segera setelah perang saudara 1989–1992, yang berakhir dengan kemenangan Mujahidin dan pembubaran Republik Afghanistan pada April 1992. Hezb-e Islami Gulbuddin, yang dipimpin oleh Gulbuddin Hekmatyar dan didukung oleh badan intelijen Pakistan, Inter-Services Intelligence (ISI), menolak membentuk pemerintahan koalisi dan berusaha merebut Kabul dengan bantuan kelompok Khalqis. Pada 25 April 1992, pertempuran pecah antara tiga, dan kemudian berkembang menjadi lima atau enam, pasukan Mujahidin. Aliansi di antara para pihak yang bertempur bersifat sementara sepanjang perang.
Taliban, sebuah milisi baru yang dibentuk dan didukung oleh Pakistan serta ISI, menjadi kekuatan dominan pada 1995–1996. Mereka merebut Kandahar pada akhir 1994, Herat pada 1995, Jalalabad pada awal September 1996, dan Kabul pada akhir September 1996. Taliban kemudian berperang melawan Aliansi Utara yang baru terbentuk dalam perang saudara berikutnya pada 1996–2001.
Jumlah penduduk Kabul menurun dari 2.000.000 menjadi 500.000 selama perang 1992–1996; sekitar 500.000 orang mengungsi dalam empat bulan pertama. Perang ini merupakan periode konflik yang sangat intens dan penuh penderitaan bagi rakyat Afghanistan. Runtuhnya pemerintahan yang didukung Uni Soviet, perpecahan etnis dan agama, serta keterlibatan pihak luar semuanya turut berkontribusi terhadap konflik tersebut. Warisan dari periode sejarah Afghanistan ini masih terus memengaruhi politik dan kehidupan sosial di Afganistan hingga saat ini.
Pada tahun 1978, pemerintahan Afghanistan dibubarkan dan digantikan oleh pemerintahan sosialis, yaitu Republik Demokratik Afghanistan, yang didukung oleh Uni Soviet yang berhaluan sosialis.[3][4] Dalam Perang Soviet–Afganistan (1979–1989), Uni Soviet yang mayoritas penduduknya non-Muslim menginvasi Afghanistan yang mayoritas penduduknya Muslim untuk melindungi pemerintahan sosialis yang baru terbentuk.[5][6] Sekelompok masyarakat Muslim Afghanistan yang multietnis kemudian membentuk Mujahidin,[7] dan melawan pasukan Soviet sebagai pejuang jihad; mereka yang terlibat dalam jihad, yakni perjuangan atas nama Islam, disebut Mujahidin.[8][9]
Pada tahun 1989, Uni Soviet menarik diri dari Afghanistan, meninggalkan Republik Demokratik Afghanistan yang dipimpin oleh Presiden Mohammad Najibullah dalam kondisi kurang terlindungi menghadapi Mujahidin Afghanistan. Mujahidin terus melakukan perlawanan dan mengangkat Sibghatullah Mojaddedi, yang berbasis di Peshawar, Pakistan, sebagai kepala pemerintahan dalam pengasingan mereka.[10][3] Perang Sipil resmi berakhir pada tahun 1992.[11][12]
Uni Soviet masih memberikan bantuan kepada Najibullah hingga tahun 1991; namun, ketika Uni Soviet runtuh, mereka memutuskan untuk menghentikan bantuan.[10] Pada Maret 1992, pasukan Mujahidin termasuk kekuatan utama dari Jamiat-e Islami yang dipimpin oleh Ahmad Shah Massoud menyerbu ibu kota Afghanistan, Kabul.[3][10] Najibullah setuju mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden.[10] Berbagai kelompok Mujahidin terlibat dalam negosiasi untuk membentuk pemerintahan koalisi guna menggantikan Republik Demokratik.[10][13]
Selama keberadaan Mujahidin Afghanistan, kelompok-kelompok tersebut menerima bantuan dari Amerika Serikat, Arab Saudi, dan badan intelijen Pakistan, Inter-Services Intelligence. Salah satu kelompok yang tidak terlibat dalam negosiasi, Hezb-e Islami Gulbuddin yang dipimpin oleh Gulbuddin Hekmatyar, justru menerima bantuan dalam jumlah yang tidak seimbang.[10] Tidak lama setelah Najibullah mengundurkan diri, Hezb-e Islami Gulbuddin menyatakan niatnya untuk merebut Kabul secara mandiri. Hekmatyar kemudian menggerakkan pasukannya ke Kabul dan diizinkan memasuki kota tidak lama setelah 17 April 1992.[10][13]
Jamiat dan kelompok Mujahidin lainnya, Shura-e Nazar, memasuki Kabul pada 24 April untuk mencegah Gulbuddin Hekmatyar mengambil alih kota dan negara.[10][13] Mereka kemudian bertempur selama beberapa hari berikutnya untuk memukul mundur Hezb-e Islami Gulbuddin dari Kabul.[10] Sementara itu, pada tanggal 26 April, sejumlah kelompok Mujahidin menyepakati Perjanjian Peshawar, yang memproklamasikan berdirinya Negara Islam Afganistan,[10] sebuah pemerintahan yang sebagian besar berlandaskan hukum Islam.[3] Republik Demokratik Afghanistan pun secara resmi dibubarkan.[10] Perjanjian tersebut menetapkan bahwa Sibghatullah Mojaddedi akan menjabat sebagai presiden selama dua bulan, sebelum digantikan oleh Burhanuddin Rabbani, pemimpin Jamiat.[10][14] Setelah Rabbani menjabat selama empat bulan, ia akan digantikan oleh pemimpin lain yang dipilih oleh sebuah dewan (Shura). Ahmad Shah Massoud ditunjuk sebagai Menteri Pertahanan Afghanistan.[10]
Hekmatyar sempat mengajak kelompok lain di luar Hezb-e Islami Gulbuddin, seperti Hezb-i Islami Khalis serta Harakat-Inqilab-i-Islami, untuk bergabung dalam upayanya memasuki Kabul. Namun, mereka menolak dan justru mendukung Perjanjian Peshawar.[15] Sejak tanggal 24 April, banyak pejabat dari bekas Republik Demokratik Afghanistan turut bergabung dalam pertempuran bersama Jamiat dan Shura-e Nazar, termasuk Wakil Menteri Pertahanan Mohammed Nabi Azimi, dan komandan garnisun Kabul, Jenderal Abdul Wahid Baba Jan.[15][10] Pada 27 April, Hezb-e Islami Gulbuddin berhasil dipukul mundur dari Kabul ke arah selatan, dengan kerusakan kota yang relatif kecil. Sejumlah kelompok Mujahidin lain juga turut bergabung dalam pertempuran melawan mereka, termasuk Junbish-i Milli (Junbish), Hezbe Wahdat, Ittehad-e Islami (Ittehad), dan Harakat-i-Inqilab-i-Islami (Harakat) Para tentara dan polisi dari pemerintahan lama sebagian menyatakan kesetiaan kepada pemerintahan Massoud atau kepada berbagai kelompok, sementara sebagian lainnya bergerak ke selatan untuk bergabung dengan Hezb-e Islami, dan ada pula yang membelot. Perdamaian di Kabul hanya berlangsung singkat, karena kelompok-kelompok Mujahidin mulai terpecah, sementara Hekmatyar tetap berambisi untuk merebut kekuasaan.[10]

Jamiat merupakan sebuah partai politik yang berbasis etnis Tajik, dan termasuk salah satu milisi mujahidin terkuat di Afghanistan sejak tahun 1979. Sayap militernya dipimpin oleh Ahmad Shah Massoud. Sebagai pemimpin mujahidin yang berpengaruh selama Perang Soviet–Afganistan, ia berhasil menahan pasukan Soviet agar tidak menguasai Lembah Panjshir. Pada tahun 1992, ia menandatangani Kesepakatan Peshawar, yaitu perjanjian damai dan pembagian kekuasaan dalam Negara Islam Afganistan pasca-komunis.[16] Ia kemudian ditunjuk sebagai Menteri Pertahanan sekaligus panglima militer utama pemerintah. Milisi yang dipimpinnya berperan dalam mempertahankan ibu kota Kabul dari serangan milisi yang dipimpin oleh Gulbuddin Hekmatyar dan para panglima perang lainnya yang membombardir kota.[17]Mereka juga kemudian menghadapi Taliban, yang mulai mengepung Kabul pada Januari 1995, setelah mengalami pertempuran sengit yang menewaskan sedikitnya 60.000 warga sipil.[18][19]
Hezb-e Islami Khalis adalah sebuah gerakan politik Afganistan yang dipimpin oleh Mohammad Yunus Khalis, yang memisahkan diri dari Hezb-e Islami Gulbuddin dan membentuk kelompok perlawanan sendiri pada tahun 1979. Setelah jatuhnya rezim komunis pada tahun 1992, Khalis turut berpartisipasi dalam Pemerintahan Sementara Islam. Ia menjadi anggota Dewan Kepemimpinan (Shura-ye Qiyaadi), namun tidak memegang jabatan resmi lainnya. Alih-alih pindah ke Kabul, ia memilih tetap berada di Provinsi Nangarhar. Partainya menguasai sebagian besar wilayah provinsi tersebut yang memiliki kepentingan politik dan strategis yang tinggi. Pada September 1996, Taliban berhasil mengambil alih Nangarhar, dan Khalis mendukung gerakan Taliban serta menjalin hubungan yang erat dengan para komandannya.

Organisasi Sunni Pashtun, Ittehad-e Islami, yang dipimpin oleh Abdulrab Rasul Sayyaf, didukung oleh Arab Saudi yang berhaluan Sunni Wahabi untuk memperluas pengaruh Wahabisme.[1] Setelah penarikan paksa pasukan Soviet yang telah mengalami demoralisasi pada tahun 1989, serta runtuhnya rezim Mohammad Najibullah pada tahun 1992, catatan hak asasi manusia Ittehad-e Islami memburuk secara signifikan. Hal ini tercermin dalam keterlibatan mereka dalam pembantaian dan aksi kekerasan yang terkenal di lingkungan Hazara di Kabul, Afshar, pada tahun 1992–1993 selama Pertempuran Kabul.[20] Faksi Sayyaf bertanggung jawab atas "pembantaian manusia berulang kali" ketika kelompok Mujahidin di bawahnya menyerang warga sipil serta kelompok Syiah Hezbe Wahdat di Kabul bagian barat sejak Mei 1992.[21] Amnesty International melaporkan bahwa pasukan Sayyaf melakukan aksi kekerasan di kawasan Afshar yang mayoritas penduduknya adalah komunitas Syiah Qizilbash di Kabul, dengan membunuh dan memperkosa penduduk serta membakar rumah-rumah mereka.[22] Sayyaf, yang bersekutu dengan pemerintahan sah Burhanuddin Rabbani, tidak membantah terjadinya penculikan warga sipil Hazara, tetapi justru menuduh milisi Hezb-i Wahdat sebagai agen dari pemerintahan teokratis Iran.[20]
Mohammad Nabi Mohammadi, pemimpin Harakat-i-Inqilab-i-Islami, menjadi Wakil Presiden Afganistan dalam Negara Islam Afganistan. Namun, ketika para pemimpin mujahidin mulai saling mengangkat senjata dan perang saudara di Afghanistan pecah, ia mengundurkan diri dari jabatannya dan melarang pasukan yang setia kepadanya untuk ikut terlibat dalam perang saudara. Ia kemudian tetap berada di Pakistan dan berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan konflik antara Gulbuddin Hekmatyar, Burhanuddin Rabbani, dan Abdulrab Rasul Sayyaf.[23][24] Pada tahun 1996, Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan. Sebagian besar pemimpin Taliban merupakan murid dari Molvi Mohammad Nabi Mohammadi.[25] Meski begitu, Mohammadi tetap menjaga hubungan yang baik dengan Taliban.

Hizb-e Wahdat-e Islami Afghanistan (Partai Persatuan Islam Afghanistan) dari etnis Hazara Syiah, yang dipimpin oleh Abdul Ali Mazari, mendapat dukungan kuat dari Iran, menurut Human Rights Watch. Bahkan, pejabat dari Kementerian Intelijen dan Keamanan Nasional Iran disebut memberikan perintah secara langsung.[1]
Hezb-i Wahdat pada awalnya ikut serta dalam Negara Islam Afganistan dan memegang beberapa jabatan dalam pemerintahan. Namun, tidak lama kemudian, konflik pecah antara Hezb-i Wahdat dan Ittehad-e Islami.[26][27] Menteri Pertahanan pemerintah tersebut, Ahmad Shah Massoud, berusaha menengahi kedua pihak dan sempat mencapai keberhasilan, tetapi gencatan senjata yang terjadi hanya bersifat sementara. Sejak Juni 1992, Hezb-i Wahdat dan Ittehad-e Islami terlibat dalam pertempuran jalanan yang sengit.[28] Dengan dukungan dari Arab Saudi, pasukan Abdulrab Rasul Sayyaf berulang kali menyerang wilayah pinggiran barat Kabul, yang mengakibatkan banyak korban sipil. Di sisi lain, pasukan Mazari juga dituduh menyerang target sipil di wilayah barat.[29] Mazari mengakui bahwa ia menahan warga sipil Pashtun sebagai tawanan, tetapi membela tindakannya dengan menyatakan bahwa pasukan Sayyaf terlebih dahulu menawan warga Hazara.[30] Sejak Januari 1993, kelompok Mazari mulai bekerja sama dengan Hezb-e Islami Gulbuddin.[31]

Milisi Junbish-i-Milli Islami Afghanistan (Gerakan Islam Nasional Afganistan) yang dipimpin oleh mantan jenderal komunis sekaligus etnis Uzbek, Abdul Rashid Dostum, didukung oleh Uzbekistan.[32] Presiden Uzbekistan, Islam Karimov, berkeinginan agar Dostum menguasai wilayah Afganistan sebanyak mungkin, terutama di bagian utara yang berbatasan dengan Uzbekistan.[32] Pasukan Dostum menjadi kekuatan penting dalam jatuhnya Kabul pada tahun 1992. Pada April 1992, pasukan oposisi mulai bergerak menuju Kabul untuk melawan pemerintahan Mohammad Najibullah. Dostum kemudian bersekutu dengan para komandan oposisi, Massoud dan Sayed Jafar Naderi,[33] pemimpin komunitas Ismailiyah, dan bersama-sama mereka berhasil merebut ibu kota.[34] Dostum dan Massoud kemudian berperang dalam satu koalisi melawan Gulbuddin Hekmatyar. Pasukan mereka turut mempertahankan Kabul dari serangan Hekmatyar. Sekitar 4.000–5.000 pasukan Dostum, termasuk unit dari Divisi ke-53 yang berbasis di Sheberghan dan Divisi Garda yang berbasis di Balkh, ditempatkan di Benteng Bala Hissar, Bukit Maranjan, dan Bandara Khwaja Rawash. Di lokasi-lokasi tersebut, mereka berhasil mencegah Najibullah memasuki kota untuk melarikan diri.[35]
Setelah itu, Dostum meninggalkan Kabul dan kembali ke basis kekuatannya di Mazar-i-Sharif di wilayah utara. Di sana, ia pada praktiknya memerintah wilayah yang hampir mandiri (sering disebut sebagai "zona otonom utara" atau proto-negara). Ia bahkan mencetak mata uang Afghanistan sendiri, mengoperasikan maskapai kecil bernama Balkh Air, serta menjalin hubungan dengan berbagai negara, termasuk Uzbekistan.[36] Sementara sebagian besar wilayah Afghanistan dilanda kekacauan, wilayah kekuasaan Dostum relatif stabil dan berfungsi dengan baik, sehingga mendapatkan dukungan dari berbagai kelompok etnis. Banyak orang melarikan diri ke wilayah tersebut untuk menghindari kekerasan dan fundamentalisme yang kemudian diberlakukan oleh Taliban.[37] Pada tahun 1994, Dostum bersekutu dengan Hekmatyar untuk melawan pemerintahan Burhanuddin Rabbani dan Massoud, tetapi pada tahun 1995 ia kembali berpihak kepada pemerintah.[34]

Menurut Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Afghanistan pada periode 1989–1992, Peter Tomsen, Gulbuddin Hekmatyar direkrut pada tahun 1990 oleh badan intelijen Pakistan, Inter-Services Intelligence (ISI), untuk merencanakan penaklukan dan penguasaan Afganistan. Rencana tersebut tertunda hingga tahun 1992 akibat tekanan dari Amerika Serikat agar dibatalkan.[38] Pada April 1992, menurut sejarawan Afghanistan Nojumi,[39] ISI membantu Hekmatyar dengan mengirimkan ratusan truk yang berisi senjata dan pasukan ke bagian selatan Kabul.[40] Pada Juni 1992, Hezb-e Islami Gulbuddin mulai melancarkan penembakan artileri ke Kabul.[1] Direktur Pusat Studi Arab dan Islam di Universitas Nasional Australia, Amin Saikal, juga mengonfirmasi dukungan Pakistan terhadap Hekmatyar pada tahun 1992. Ia menyatakan bahwa "Pakistan berkeinginan untuk membuka jalan menuju terobosan di Asia Tengah...Islamabad tidak mungkin mengharapkan para pemimpin pemerintah Islam yang baru untuk mengesampingkan tujuan nasional mereka demi membantu Pakistan mewujudkan ambisi regionalnya." Ia menambahkan bahwa "tanpa dukungan logistik dari ISI serta pasokan sejumlah besar roket, pasukan Hekmatyar tidak akan mampu menargetkan dan menghancurkan setengah wilayah Kabul."[32]
Taliban telah digambarkan sebagai gerakan para pelajar agama (talib) dari wilayah Pashtun di Afghanistan bagian timur dan selatan yang dididik di sekolah-sekolah Islam tradisional di Pakistan.[41] Gerakan ini didirikan pada September 1994 dengan janji untuk "membersihkan Afghanistan dari para panglima perang dan penjahat".[42] Sejumlah analis menyatakan bahwa setidaknya sejak Oktober 1994, Pakistan terutama badan intelijennya, Inter-Services Intelligence (ISI) memberikan dukungan besar kepada Taliban.[42][43] Amin Saikal menyatakan bahwa "kegagalan Gulbuddin Hekmatyar memenuhi harapan mendorong pimpinan ISI untuk mencari kekuatan pengganti baru, yaitu Taliban."[32] Publikasi dari Universitas George Washington juga menyebutkan bahwa ketika Hekmatyar gagal "memberikan hasil bagi Pakistan" pada tahun 1994, Pakistan kemudian beralih mendukung Taliban.[44]
Ahmad Shah Massoud, yang telah terlibat dalam dinamika politik dan militer Afghanistan sejak 1973, pada awal September 1996 menggambarkan Taliban sebagai pusat dari gerakan yang lebih luas berupa radikalisme Islam bersenjata di Afghanistan. Ia menyebut adanya koalisi antara para syekh kaya (seperti Osama bin Laden) dan para pengkhotbah dari kawasan Teluk Persia yang mendorong pandangan Islam puritan ala Arab Saudi yang menurut Massoud tidak sesuai dengan masyarakat Afghanistan serta dukungan dari badan intelijen Pakistan dan Arab. Selain itu, terdapat pula mahasiswa miskin dari sekolah agama di Pakistan yang direkrut sebagai pejuang sukarela bagi Taliban, serta kelompok radikal Islam Asia Tengah di pengasingan yang berusaha menjadikan Afghanistan sebagai basis gerakan revolusioner mereka.[45]
Meskipun Pakistan pada awalnya membantah mendukung Taliban,[46] Menteri Dalam Negeri Pakistan saat itu, Naseerullah Babar (1993–1996), pada tahun 1999 menyatakan bahwa,[47] "kami menciptakan Taliban",[48] Presiden Pakistan periode 2001–2008, Pervez Musharraf, juga menulis pada tahun 2006 bahwa Pakistan "berpihak" pada Taliban untuk memastikan kekalahan pihak-pihak yang menentang mereka.[49] Menurut jurnalis Ahmed Rashid, antara tahun 1994 hingga 1999 diperkirakan sekitar 80.000 hingga 100.000 warga Pakistan dilatih dan ikut bertempur di Afghanistan di pihak Taliban.[50]

Mengalami korban besar saat mencoba merebut Kabul pada April 1992, pasukan Hezb-e Islami Gulbuddin meninggalkan posisi mereka dan mundur ke pinggiran Kabul, menuju arah Provinsi Logar. Meskipun berhasil dipukul mundur dari Kabul, mereka masih berada dalam jangkauan artileri. Pada Mei 1992, Gulbuddin Hekmatyar memulai kampanye pengeboman terhadap ibu kota, dengan menembakkan ribuan roket yang dipasok oleh Pakistan.[32] Selain kampanye pengeboman tersebut, pasukannya juga menyerbu Penjara Pul-e-Charkhi saat masih berada di pusat Kabul, lalu membebaskan seluruh narapidana, termasuk banyak pelaku kejahatan, yang kemudian dapat mengangkat senjata dan melakukan tindakan kejam terhadap penduduk.[51] Karena struktur pemerintahan belum terbentuk, kekacauan pun pecah di Kabul.

Tujuan utama pemerintah sementara adalah mengalahkan kekuatan-kekuatan yang menentang Kesepakatan Peshawar. Upaya baru untuk melakukan perundingan damai pada 25 Mei 1992 kembali menyepakati pemberian posisi perdana menteri kepada Hekmatyar. Namun, kesepakatan ini hanya bertahan kurang dari satu minggu setelah Hekmatyar mencoba menembak jatuh pesawat Mujaddidi.[1] Selain itu, sebagai bagian dari perundingan damai, Hekmatyar menuntut penarikan pasukan Dostum, yang akan menguntungkannya secara signifikan. Hal ini kemudian memicu pertempuran antara pasukan Dostum dan Hekmatyar. Pada 30 Mei 1992, dalam pertempuran antara pasukan Junbish-i Milli dan Hezb-i Islami di wilayah tenggara Kabul, kedua pihak menggunakan artileri dan roket, yang mengakibatkan jumlah korban sipil tewas dan terluka yang tidak diketahui.[15]

Pada Juni 1992, sesuai dengan yang dijadwalkan dalam Kesepakatan Peshawar, Burhanuddin Rabbani menjadi presiden sementara Afganistan.
Sejak awal pertempuran, Jamiat-e Islami dan Shura-e Nazar menguasai wilayah-wilayah tinggi yang strategis, sehingga mereka memiliki posisi yang menguntungkan di dalam kota untuk menargetkan pasukan lawan. Hekmatyar terus membombardir Kabul dengan roket. Meskipun Hekmatyar bersikeras bahwa hanya wilayah Dewan Jihad Islam yang menjadi sasaran, roket-roket tersebut sebagian besar jatuh ke rumah-rumah warga sipil tak bersalah di Kabul, suatu fakta yang telah didokumentasikan dengan baik.[1][52] Pertukaran tembakan artileri segera terjadi dan meningkat pada akhir Mei hingga awal Juni. Shura-e Nazar dapat segera memanfaatkan senjata berat yang ditinggalkan oleh pasukan pemerintah yang melarikan diri atau membelot, dan meluncurkan roket ke posisi Hekmatyar di dekat Pos Bea Cukai Jalalabad, serta di distrik sekitar Hood Khil, Qala-e Zaman Khan, dan dekat penjara Pul-e-Charkhi. Pada 10 Juni dilaporkan bahwa pasukan Dostum juga mulai melakukan pemboman malam hari terhadap posisi Hezb-e Islami Gulbuddin.[53]
Yang sangat menonjol pada periode ini adalah meningkatnya pertempuran di Kabul Barat antara Hezb-i Wahdat yang didukung oleh Iran dan Ittehad-e Islami yang didukung oleh Arab Saudi. Hezb-i Wahdat merasa khawatir atas keberadaan pos-pos Ittehad-e Islami yang ditempatkan di wilayah Hazara seperti Sekolah Menengah Rahman Baba. Menurut tulisan Nabi Azimi, yang saat itu merupakan pejabat tinggi pemerintahan, pertempuran dimulai pada 31 Mei 1992 ketika empat anggota pimpinan Hezb-i Wahdat dibunuh di dekat Silo Kabul. Mereka yang tewas adalah Karimi, Sayyid Isma'il Hosseini, Chaman Ali Abuzar, dan Vaseegh, di mana tiga yang pertama merupakan anggota komite pusat partai. Setelah kejadian tersebut, mobil Haji Shir Alam, seorang komandan tinggi Ittehad-e Islami, dihentikan di dekat Pol-e Sorkh, dan meskipun ia berhasil melarikan diri, salah satu penumpang tewas.[54] Pada 3 Juni 1992, terjadi pertempuran sengit antara pasukan Ittehad-e Islami dan Hezb-i Wahdat di Kabul Barat. Kedua pihak menggunakan roket, yang mengakibatkan korban tewas dan luka di kalangan warga sipil. Pada 4 Juni, wawancara dengan keluarga Hazara menyebutkan bahwa pasukan Ittehad-e Islami menjarah rumah-rumah mereka di Kohte-e Sangi dan membunuh enam warga sipil. Pertempuran senjata api pada saat itu dilaporkan menewaskan lebih dari 100 orang menurut beberapa sumber.[55] Pada 5 Juni 1992, konflik lebih lanjut antara pasukan Ittehad-e Islami dan Hezb-i Wahdat di Kabul Barat kembali dilaporkan. Dalam pertempuran ini, kedua pihak menggunakan artileri berat yang menghancurkan rumah-rumah serta bangunan sipil lainnya. Tiga sekolah dilaporkan hancur akibat pemboman tersebut. Jumlah korban sipil tewas dan luka tidak diketahui. Kelompok bersenjata juga dilaporkan membunuh orang-orang di toko-toko dekat Kebun Binatang Kabul. Pada 24 Juni 1992, Rumah Sakit Jamhuriat yang terletak di dekat Kementerian Dalam Negeri dibom dan ditutup. Jamiat-e Islami dan Shura-e Nazar terkadang turut terlibat dalam konflik ketika posisi mereka diserang oleh pasukan Hezb-i Wahdat, dan pada bulan Juni hingga Juli mereka membalas dengan membombardir posisi Hezb-i Wahdat. Pasukan Harakat juga kadang-kadang ikut terlibat dalam pertempuran.[butuh rujukan]
Dalam bulan Agustus saja, pengeboman dengan peluru artileri, roket, dan bom fragmentasi menewaskan lebih dari 2.000 orang di Kabul, yang sebagian besar merupakan warga sipil. Pada 1 Agustus, bandara diserang dengan roket. Sebanyak 150 roket diluncurkan pada hari berikutnya saja, dan menurut salah satu sumber, serangan rudal tersebut menewaskan hingga 50 orang serta melukai 150 lainnya. Pada pagi hari tanggal 10 Agustus, pasukan Hezb-e Islami Gulbuddin melancarkan serangan dari tiga arah yaitu Chelastoon, Darulaman, dan Gunung Maranjan. Sebuah peluru juga menghantam sebuah rumah sakit Palang Merah Internasional. Pada 10–11 April, hampir seribu roket menghantam berbagai wilayah di Kabul, termasuk sekitar 250 roket yang mengenai bandara. Beberapa perkiraan menyebutkan bahwa hingga 1.000 orang tewas, dengan serangan tersebut dikaitkan dengan pasukan Gulbuddin Hekmatyar.[53] Pada 20 Agustus dilaporkan bahwa sekitar 500.000 orang telah melarikan diri dari Kabul.[56] Pada 13 Agustus 1992, serangan roket dilancarkan ke Deh Afghanan dengan menggunakan bom klaster. Menurut laporan pers, sebanyak 80 orang tewas dan lebih dari 150 lainnya terluka. Sebagai balasan, pasukan Shura-e Nazar membombardir Kart-i Naw, Shah Shaheed, dan Chilsatoon melalui serangan udara dan darat. Dalam serangan balasan ini, lebih dari 100 orang tewas dan 120 lainnya terluka.[1]
Namun, Hezb-e Islami Gulbuddin bukan satu-satunya pihak yang melakukan penembakan membabi buta terhadap warga sipil. Khususnya di wilayah Kabul Barat, Hezb-i Wahdat, Ittehad-e Islami, dan Jamiat-e Islami juga dituduh secara sengaja menargetkan area sipil. Semua pihak menggunakan roket yang tidak presisi seperti roket Sakr serta peluncur roket udara UB-16 dan UB-32 S-5.[butuh rujukan]
Pada bulan November, dalam sebuah langkah yang sangat efektif, pasukan Gulbuddin Hekmatyar bersama gerilyawan dari beberapa kelompok Arab memblokade sebuah pembangkit listrik di Sarobi, sekitar 30 mil di sebelah timur Kabul. Tindakan ini memutus pasokan listrik ke ibu kota sekaligus menghentikan suplai air yang bergantung pada listrik. Pasukan mereka serta kelompok Mujahidin lainnya juga dilaporkan menghalangi konvoi makanan untuk mencapai Kabul.[butuh rujukan]
Pada 23 November, Menteri Pangan Sulaiman Yaarin melaporkan bahwa persediaan makanan dan bahan bakar di Kabul telah habis. Pemerintah pun berada di bawah tekanan besar. Pada akhir tahun 1992, Hezbe Wahdat secara resmi menarik diri dari pemerintahan dan membuka perundingan rahasia dengan Hezb-e Islami Gulbuddin. Pada Desember 1992, Burhanuddin Rabbani menunda penyelenggaraan sebuah shura untuk memilih presiden berikutnya. Pada 29 Desember 1992, Rabbani terpilih sebagai presiden dan ia menyetujui pembentukan parlemen dengan perwakilan dari seluruh Afganistan. Hal penting lain pada bulan tersebut adalah terbentuknya aliansi yang semakin kuat antara Hezb-i Wahdat dan Hezbi Islami Gulbuddin dalam melawan Negara Islam Afghanistan. Sementara Hezb-e Islami turut melakukan pengeboman untuk mendukung Hezb-i Wahdat, kelompok Wahdat melaksanakan operasi militer bersama, seperti dalam upaya menguasai Darulaman.[57] Pada 30 Desember 1992, setidaknya seorang anak dilaporkan tewas di Pul-i Artan akibat roket BM-21 yang diluncurkan oleh pasukan Hezb-e Islami Gulbuddin ke arah Rishkor.[58]
Kandahar menjadi tempat bagi tiga komandan Pashtun lokal yang berbeda, yaitu Amir Lalai, Gul Agha Sherzai, dan Mullah Naqib Ullah, yang terlibat dalam perebutan kekuasaan yang sangat keras dan tidak berafiliasi dengan pemerintah sementara di Kabul. Ibu kota yang dipenuhi lubang peluru itu kemudian berubah menjadi pusat kekacauan, kejahatan, dan berbagai kekejaman yang dipicu oleh rivalitas suku Pashtun yang kompleks.[butuh rujukan]
Pakistani involvement in creating the movement is seen as central