Perang Afgan–Sikh merupakan rangkaian panjang konflik militer yang terjadi antara tahun 1748 hingga 1837 di wilayah anak benua India, terutama di sekitar wilayah Punjab. Pertempuran ini melibatkan Kekaisaran Durrani (Afganistan) dan Kekaisaran Sikh beserta para pendahulunya. Selama hampir satu abad, kedua kekuatan tersebut berulang kali berhadapan dalam berbagai fase peperangan yang menentukan arah politik dan kekuasaan di kawasan tersebut.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Perang Afgan–Sikh merupakan rangkaian panjang konflik militer yang terjadi antara tahun 1748 hingga 1837 di wilayah anak benua India, terutama di sekitar wilayah Punjab. Pertempuran ini melibatkan Kekaisaran Durrani (Afganistan) dan Kekaisaran Sikh beserta para pendahulunya. Selama hampir satu abad, kedua kekuatan tersebut berulang kali berhadapan dalam berbagai fase peperangan yang menentukan arah politik dan kekuasaan di kawasan tersebut.[1]
Akar dari konflik ini dapat ditelusuri hingga masa Dal Khalsa, yaitu konfederasi militer Sikh yang terbentuk untuk melawan kekuasaan Mughal dan ancaman luar, termasuk dari pasukan Afgan. Setelah kemunduran Kekaisaran Mughal pada pertengahan abad ke-18, muncul kekosongan kekuasaan di Punjab yang kemudian dimanfaatkan oleh Ahmad Shah Durrani, pendiri Kekaisaran Durrani, untuk memperluas pengaruhnya hingga ke India Utara.[2]
Namun, ambisi ekspansi Durrani ini segera mendapat perlawanan keras dari komunitas Sikh yang semakin terorganisasi dan militan. Dalam beberapa dekade berikutnya, serangkaian invasi dan pertempuran besar terjadi—termasuk serangan Durrani ke Lahore, Amritsar, dan Multan—yang menjadi saksi dari naik-turunnya dominasi kedua pihak.
Ketika kekuasaan Durrani mulai melemah pada awal abad ke-19, muncul figur legendaris Maharaja Ranjit Singh, yang berhasil menyatukan konfederasi Sikh menjadi satu kesatuan politik yang kuat, yaitu Kekaisaran Sikh (Sikh Empire).[3] Di bawah kepemimpinannya, bangsa Sikh tidak hanya mempertahankan kemerdekaannya dari pengaruh Afgan, tetapi juga memperluas wilayah kekuasaannya hingga mencakup sebagian besar Punjab, Kashmir, dan wilayah barat laut India.
Konflik ini berlanjut hingga masa Emirat Kabul, penerus Kekaisaran Durrani, namun pada akhirnya dominasi di Punjab berpindah sepenuhnya ke tangan Sikh. Meskipun demikian, permusuhan dan persaingan antara kedua kekuatan tetap membekas lama dan memainkan peran penting dalam sejarah politik Asia Selatan pra-kolonial.
Konfederasi Sikh secara efektif telah memperoleh kemerdekaan dari Kekaisaran Mughal pada tahun 1716,[4] setelah berabad-abad mengalami penindasan dan peperangan berulang. Setelah bebas dari dominasi Mughal, kaum Sikh secara bertahap memperluas wilayah dan pengaruh mereka di Punjab, terutama dengan memanfaatkan kemunduran kekuasaan Mughal. Meski harus menghadapi peristiwa tragis seperti Chhota Ghallughara (pembantaian kecil terhadap kaum Sikh), semangat perjuangan mereka untuk mempertahankan kemandirian dan memperkuat konfederasi tidak pernah surut.
Pada saat yang sama, Kekaisaran Mughal terus mengalami kemerosotan serius akibat invasi besar dari luar. Salah satu pukulan terberat datang dari Nader Shah, kaisar dari Kekaisaran Afsharid Persia, yang menyerbu India pada tahun 1738–1740. Invasi ini berujung pada penjarahan besar Delhi, yang melemahkan kekuasaan Mughal secara drastis baik dari segi militer maupun ekonomi. Setelah kematian Nader Shah pada tahun 1747, salah satu jenderalnya yang paling menonjol, Ahmad Shah Abdali, mendirikan Kekaisaran Durrani dan memproklamasikan kemerdekaannya dari Persia.[5] Di bawah kepemimpinannya, Afganistan berubah menjadi kekuatan baru yang ambisius di kawasan Asia Selatan.
Namun, hanya empat tahun setelah berdirinya Kekaisaran Durrani, Ahmad Shah Abdali berhadapan langsung dengan Konfederasi Sikh, yang pada saat itu tengah memperluas pengaruhnya di Punjab—wilayah yang juga menjadi target invasi dan penguasaan Durrani. Dengan demikian, awal konflik Afgan–Sikh tidak hanya dipicu oleh perebutan wilayah, tetapi juga oleh pergeseran besar kekuatan politik di Asia Selatan setelah kemunduran Mughal dan kekosongan kekuasaan yang ditinggalkannya. Pertemuan antara ambisi ekspansionis Ahmad Shah Abdali dan semangat kemandirian kaum Sikh menandai dimulainya periode panjang peperangan antara dua kekuatan besar tersebut—perang yang akan membentuk arah sejarah kawasan selama hampir satu abad berikutnya.