Penjuru merupakan salah satu desa di kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir, provinsi Riau, Indonesia. Penjuru termasuk desa penghasil kelapa, khususnya jenis Kelapa Dalam. Kelapa Dalam adalah kelapa yang batangnya besar dan tinggi, mulai berbuah umur 6 hingga 8 tahun, umur produktifnya bisa mencapai 100 tahun.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Penjuru | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Riau | ||||
| Kabupaten | Indragiri Hilir | ||||
| Kecamatan | Kateman | ||||
| Kode pos | 29255 | ||||
| Kode Kemendagri | 14.04.08.2004 | ||||
| Luas | ... km² | ||||
| Jumlah penduduk | ... jiwa | ||||
| Kepadatan | ... jiwa/km² | ||||
| |||||
Penjuru merupakan salah satu desa di kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir, provinsi Riau, Indonesia. Penjuru termasuk desa penghasil kelapa, khususnya jenis Kelapa Dalam. Kelapa Dalam adalah kelapa yang batangnya besar dan tinggi, mulai berbuah umur 6 hingga 8 tahun, umur produktifnya bisa mencapai 100 tahun.[1]
"Usaha pertanian di Desa Penjuru secara spesifik menonjol pada budidaya kelapa. Kabupaten Indragiri Hilir secara umum memang mengandalkan sektor pertanian, di mana sekitar 74% penduduknya bekerja di sektor ini, dengan pengembangan potensi desa yang berfokus pada perkebunan kelapa".
Di Penjuru, luas perkebunan Kelapa Dalam yang dibudidayakan masyarakat cukup signifikan. Sehingga komoditas kelapa menjadi tulang punggung erekonomian masyarakat. Maju-mundurnya perekonomian masyarakat bergantung pada hasil produksi perkebunan kelapa.
Proses memanen kelapa menggunakan sabit di Desa Penjuru, Kateman, merupakan cara tradisional yang masih banyak dipraktikkan, terutama untuk pohon yang sangat tinggi. Berdasarkan informasi umum tentang panen kelapa di daerah pesisir seperti Riau, berikut adalah tahapan yang kemungkinan besar dilakukan oleh petani setempat.
Alat yang dibutuhkan
1.Sabit kelapa: Sabit panjang yang khusus digunakan untuk memotong tangkai buah kelapa. Sabit ini biasanya diikat pada galah bambu yang panjangnya disesuaikan dengan tinggi pohon.
2.Tali: Digunakan untuk mengikat sabut kelapa yang akan diturunkan agar tidak jatuh bebas dan rusak. Karung atau wadah lain: Untuk menampung buah kelapa yang sudah jatuh.
Tahapan proses memanen Persiapan alat:
1.Mengikat sabit: Sabit diikat erat pada ujung galah bambu panjang menggunakan tali atau kawat. Ikatan harus kuat dan kokoh agar tidak lepas saat digunakan.
2.Menyiapkan tempat penampungan: Petani menyiapkan karung atau tumpukan pelepah kelapa di bawah pohon untuk melindungi buah kelapa agar tidak pecah saat jatuh.
3.Menentukan buah siap panen: Petani akan mengidentifikasi janjang kelapa yang siap dipanen. Buah kelapa yang matang biasanya memiliki ciri-ciri tertentu, seperti warna sabut yang kecokelatan dan bunyi nyaring saat diketuk.
4.Memanjat atau menggunakan galah: Untuk pohon yang tidak terlalu tinggi, beberapa petani mungkin akan memanjat pohon. Namun, untuk pohon yang tinggi, petani akan menggunakan galah bambu yang sudah terpasang sabit. Galah ini diarahkan ke arah janjang kelapa yang akan dipotong.
5.Memotong janjang kelapa: Petani mengarahkan mata sabit ke tangkai janjang kelapa. Dengan gerakan yang kuat dan tepat, sabit ditekan atau diayunkan untuk memotong tangkai hingga putus. Proses ini membutuhkan keahlian khusus agar janjang kelapa dapat dipotong dengan sekali ayunan.
6.Menurunkan janjang kelapa (jika menggunakan teknik khusus): Beberapa petani di daerah pesisir memiliki teknik unik untuk menurunkan kelapa agar tidak langsung menyentuh tanah dan rusak. Mereka akan menggunakan tali atau penyangga untuk mengarahkan jatuhnya kelapa agar bisa langsung dibawa ke truk atau gerobak. Mengumpulkan dan memisahkan kelapa: Setelah semua janjang kelapa jatuh, petani akan mengumpulkannya. Buah kelapa kemudian dipisahkan dari janjangnya.
7.Mengupas kelapa (opsional): Terkadang, kelapa langsung dibawa ke tempat pengupasan. Di beberapa kasus, pengupasan dilakukan di lokasi kebun menggunakan alat pengupas kelapa manual.
Keunikan di Desa Penjuru Sebagai desa pesisir di Kecamatan Kateman, Indragiri Hilir, yang mayoritas penduduknya merupakan Suku Banjar.Sebagian masyarakat desa penjuru biasanya ada yang melakukan acara syukuran/kenduri setelah proses panen selesai. Organisasi-organisasi yang ada di desa penjuru meliputi:
1.Organisasi Pemerintahan Desa -Pemerintah Desa: Dipimpin oleh Kepala Desa, yang dibantu oleh perangkat desa seperti Sekretaris Desa, Bendahara, dan Kepala Urusan (Kaur). -Badan Permusyawaratan Desa (BPD): Lembaga yang menjalankan fungsi legislasi dan pengawasan di tingkat desa, sering disebut sebagai "parlemen" desa. -Badan Usaha Milik Desa (BUMDes): Entitas ekonomi yang dikelola oleh pemerintah desa dan masyarakat untuk mengelola potensi desa. Desa Penjuru memiliki profil BUMDes yang dapat dilihat di situs resminya.
2.Organisasi Kemasyarakatan -Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK): Organisasi perempuan yang fokus pada pemberdayaan keluarga dan masyarakat. -Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW): Struktur organisasi berbasis wilayah yang berperan dalam koordinasi dan pelayanan masyarakat di tingkat lokal. -Kelompok Gotong Royong: Organisasi atau perkumpulan warga yang berfokus pada kegiatan kerja sama dan pembangunan desa secara swadaya. Organisasi Keagamaan: Berbagai kelompok keagamaan yang aktif di desa tersebut. -Kelompok Olahraga: Organisasi yang mewadahi kegiatan dan kompetisi olahraga di desa. -Unit Ekonomi Desa Simpan Pinjam (UED-SP): Skema permodalan desa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pinjaman bergulir.
Didesa Penjuru,telah mengalami perkembangan pembangunan yang signifikan, terutama dalam aspek infrastruktur dan penanganan isu lokal. Pembangunan ini didukung oleh dana desa dan bantuan pihak ketiga, serta mencakup beberapa proyek utama. Perubahan pembangunan yang ada di Desa Penjuru meliputi: -Pembangunan Akses Jalan Provinsi: Salah satu proyek utama yang sedang dimantapkan adalah pembangunan Jalan Lintas Provinsi Mandah-Kateman sepanjang 78 kilometer. Proyek ini diharapkan dapat mengakhiri keterisolasian wilayah pesisir tersebut dan telah mendapatkan dukungan penuh dari warga desa. -Perbaikan dan Pembangunan Tanggul: Mengingat lokasi desa yang berada di pesisir dan rentan abrasi, terdapat pembangunan dan perbaikan tanggul. Sambu Group, misalnya, memberikan bantuan pembangunan tanggul sepanjang 7.000 meter dan normalisasi sungai di Parit Sayang, Desa Penjuru. -Peningkatan Infrastruktur Dasar: Seiring berjalannya waktu, desa ini juga telah mengalami kemajuan dengan hadirnya akses jalan, listrik, dan sarana pendidikan yang perlahan-lahan membaik untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. -Transparansi Pengelolaan Dana Desa: Pemerintah Desa Penjuru secara aktif mengadakan rapat koordinasi dan evaluasi untuk memastikan pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) dan Dana Desa (DD) berjalan akuntabel dan transparan, melibatkan partisipasi masyarakat dalam pengawasan pembangunan. Dokumen terkait APBDes Perubahan Desa Penjuru untuk tahun 2025 juga dipublikasikan melalui situs resmi desa. -Fokus pada Ketahanan Pangan dan Stunting: Prioritas penggunaan dana desa secara nasional untuk tahun 2025 juga menekankan pada pengentasan kemiskinan ekstrem, ketahanan pangan, dan penanganan stunting, yang kemungkinan besar juga menjadi fokus di Desa Penjuru.
Usaha tani yang menarik didesa penjuru adalah budidaya tanaman hortikultura yaitu: -Sayuran Organik: Budidaya kangkung,cabe,kacang panjang,dan masih banyak lagi. -Tanaman Obat dan Rempah: Tanaman seperti jahe, kunyit, dan sereh banyak dicari untuk bahan obat tradisional dan bumbu dapur,Dan sering dijumpai didesa penjuru. Hal menarik lainnya didesa penjuru adalah banyak nya pendatang baru yang menetap didesa penjuru bahkan sudah ada yg memiliki keluarga, dikarenakan Didesa penjuru bayak sekali pekerjaan dibidang pertanian kelapa,dan sekarang masyarakat sudah ada usaha-usaha kecil seperti pembelian pmk(kelapa kecil/sutiran kapal) didesa penjuru,proses usaha ini dimulai dari pemisahan isi kelapa dan batok/tempurung kelapa,selanjutnya isi kelapa dijual untuk pembuatan santan/minuman kelapa, untuk batok/tempurung kelapanya dibakar untuk dijadikan arang, lalu dijual. Oleh karena itu kenapa bayak pendatang yang menetap didesa penjuru, karena kurang nya tenaga kerja yang ada didesa, membuka peluang besar untuk pendatang baru memulai bekerja didesa penjuru.
Masyarakat adat di Desa Penjuru, adalah Suku Banjar, merupakan suku utama atau mayoritas penduduk. Budaya dan tradisi masyarakat Banjar ini masih memegang teguh kebiasaan turun-temurun, seperti terlihat pada upacara perkawinan dengan tradisi adat yang disebut bausung pengantin. Pada prosesi ini pengantin akan diusung untuk mengenang leluhur.
Tujuan tradisi ini untuk menghormati dan mengingat leluhur serta menghindari hal-hal buruk yang tidak diinginkan selama prosesi pesta maupun untuk kehidupan keluarga pengantin masa mendatang.