Agrapinus Rumatora atau yang lebih dikenal sebagai Nus Kei adalah seorang politikus asal Kepulauan Kei, yang dikenal sebagai Ketua DPD II Partai Golkar, Maluku Tenggara. Nus Kei adalah paman dari John Kei berdasarkan hubungan adat dan kekerabatan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini membahas seorang tokoh yang baru saja meninggal. Beberapa informasi, terutama seputar sebab kematian dan pemakamannya, dapat berubah sewaktu-waktu. Silakan hapus templat ini apabila sudah lebih dari satu bulan (April 2026) |
Artikel ini membahas suatu peristiwa terkini. Informasi pada halaman ini dapat berubah setiap saat seiring dengan perkembangan peristiwa dan laporan berita awal mungkin tidak dapat diandalkan. Pembaruan terakhir untuk artikel ini mungkin tidak mencerminkan informasi terkini. Silakan hapus templat ini apabila sudah lebih dari satu bulan (April 2026) |
| Nus Kei | |
|---|---|
| Lahir | (1967-01-15)15 Januari 1967 |
| Meninggal | 19 April 2026(2026-04-19) (umur 59) Bandar Udara Karel Sadsuitubun, Maluku Tenggara |
| Sebab meninggal | Penikaman |
| Pekerjaan | Politikus |
| Dikenal atas | Korban pembunuhan |
Agrapinus Rumatora atau yang lebih dikenal sebagai Nus Kei (lahir 15 Januari 1967 - 19 April 2026) adalah seorang politikus asal Kepulauan Kei, yang dikenal sebagai Ketua DPD II Partai Golkar, Maluku Tenggara.[1] Nus Kei adalah paman dari John Kei berdasarkan hubungan adat dan kekerabatan.[2]
Pada akhir Oktober 2023, Nus Kei terlibat bentrok dengan kelompok John Kei.[3] Saat itu, John Kei diketahui masih berada di Lapas Salemba, Jakarta Pusat.[4] Kejadian berlangsung di Kompleks Titian, Medan Satria, Kota Bekasi, yang merupakan kediaman sekaligus markas kelompok John Kei. Pria berinisial GR dari kubu Nus Kei tewas dalam peristiwa ini.[5] Ia datang bersama lima orang lainnya ke lokasi. Kelompok Nus Kei datang dengan membawa senjata tajam. Pihak di lokasi kemudian bersiap dan terjadi bentrokan, termasuk penggunaan senjata api.[6] Korban disebut turun dari kendaraan sambil membawa parang sebelum akhirnya ditembak. Polisi menyebut penembakan terjadi karena pihak di dalam rumah merasa akan diserang. Selain itu, terungkap bahwa sebelum kejadian, John Kei sempat berkomunikasi lewat telepon dengan Nus Kei dari dalam lapas. Dalam kasus ini, polisi menetapkan 11 orang sebagai tersangka.[7]
Pada April 2026, Nus Kei dilaporkan meninggal setelah mengalami penikaman di area Bandar Udara Karel Sadsuitubun, Maluku Tenggara.[8] Kejadian ini langsung menarik perhatian publik karena kembali mengaitkan nama John Kei dalam berbagai pembicaraan.[9] Polisi menyatakan bahwa pelaku penikaman sudah ditangkap, namun motif di balik kejadian tersebut masih didalami.[10] Hingga saat ini, belum ada bukti resmi yang menghubungkan John Kei dengan peristiwa ini.[11] Dugaan yang beredar lebih banyak dipicu oleh konflik lama antara keduanya, bukan berdasarkan hasil penyelidikan terbaru.[12]