Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiPengguna:Rtnf/draft
Artikel Wikipedia

Pengguna:Rtnf/draft

Wikipedia article
Diperbarui 7 September 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Pengguna:Renamed_user_5cb535d47ac833448f09633576bf74ba

Wiki Batu Basurek

  • Prasasti Bukit Gombak
  • Prasasti Pagaruyung II
  • Prasasti Pagaruyung III
  • Prasasti Pagaruyung IV
  • Prasasti Pagaruyung V
  • Prasasti Pagaruyung VI
  • Prasasti Pagaruyung VII
  • Prasasti Akarendra
  • Prasasti Pagaruyung VIII
  • Prasasti Pagaruyung IX
  • Prasasti Ponggongan
  • Wikisumber:Sumber

Tanah Datar

Tanah Datar merupakan daerah yang kaya dengan peninggalan prasasti dari masa Melayu Kuno (abad 8 - 14 masehi). Prasasti-prasasti tersebut sebagian besar berasal dari Raja Adityawarman yang memerintah pada abad 14 masehi. Total sebanyak 22 prasasti yang ditemukan di Tanah Datar, tersebar di Pariangan, Rambatan, Tanjung Emas dan Lima Kaum.

Beberapa buah prasasti yang ditemukan di sekitar Bukit Gombak, Tanjung Emas telah dikumpulan dalam suatu tempat yang disebut dengan Kompleks Prasasti Adityawarman. Prasasti-prasasti yang ada di kompleks ini dikenal dengan nama Prasasti Pagarruyung. Ada delapan buah prasasti yang terdapat di kompleks ini, yaitu Prasasti Pagarruyung I hingga VIII.

Kompleks ini berada di pinggir jalan raya Pagarruyung - Batusangkar, tepatnya di Jorong Gudam, Nagari Pagarruyung, Tanjung Emas, Tanah Datar. Namun, lokasi awal temuan dan riwayat penemuannya tidak dapat diketahui dengan pasti.

Prasasti Pagarruyung I

Prasasti Pagarruyung I atau Prasasti Bukit Gombak I terletak pada paling ujung sebelah selatan dalam deretan prasasti-prasasti Pagarruyung. Prasasti berada pada posisi berdiri, dengan disangga penopang besi. Selanjutnya, berturut-turut ke arah utara adalah Prasasti Pagarruyung II, III sampai VIII.

Prasasti ini digoreskan pada sebuah batu pasir kwarsa berwarna coklat kekuningan (batuan sedimen) berbentuk persegi empat, berukuran tinggi 2,06 meter, lebar 1,33 meter dan tebal 38 cm. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sanskerta bercampur dengan bahasa Malayu Kuno atau Jawa Kuno.[1]

Isi prasasti ini mencakup puji-pujian akan keagungan dan kebijaksanaan Raja Adityawarman sebagai raja yang banyak menguasai pengetahuan, khususnya di bidang keagamaan (Buddha Mahayana aliran Tantrayana sekte Bhairawa). Di dalam prasasti tersebut, ia disebut sebagai "sutatha bajra daiya" -- Buddha yang baik, kuat bagaikan kilat.

Dalam prasasti ini, Adityawarman dianggap sebagai cikal bakal keluarga Dharmmaraja. Namun, pencantuman tersebut bersifat kontradiktif dari kenyataan yang ada, karena belum ditemukannya pemakaian nama dinasti Dharmmaraja pada masa Adityawarman atau sesudahnya. Kemungkinan, pencantuman nama tersebut hanya bersifat legitimatif, untuk memantapkan kedudukannya sebagai raja pertama Kerajaan Suwarnna Bhumi yang terlepas dari kekuasaan Melayu Dharmmasraya. Prasasti tersebut kemungkinan digunakan sebagai sarana untuk memproklamirkan kedudukannya sebagai raja Suwarnna Bhumi yang pertama, sehingga dianggap berhak untuk membuat silsilah geneologis (rajakula) yang dimulai dari dirinya.

Nama rajakula yang muncul di masa pemerintahan Kerajaan Melayu Dharmmasraya adalah Warmmadewa. Raja-raja Melayu sebelum Adityawarman yang menggunakan nama raja Warmmadewa tersebut antara lain Tribhuwanaraja Mauliwarmmadewa. Kemudian dilanjutkan oleh penggantinya, yaitu Rajendra Maulimaliwarmmadewa. Adityawarmman sendiri menggunakan nama rajakula ini di dalam salah satu gelarnya, yaitu "Rajendra Maulimaniwarmmadewa" (Prasasti Pagarruyung I, bait keenam). Pencantuman gelar ini bersifat politis, yaitu untuk mendapatkan legitimasi dari pihak yang tidak setuju dengan caranya dalam mengambil silsilah dari rajakula Melayu Dharmmasraya.

Dalam prasasti ini, Adityawarman dianggap pula mempunyai sifat sebagai Indra -- salah satu dewa dalam Agama Hindu. Pensifatan ini mengindikasikan adanya sinkretisme agama antara Buddha dan Hindu pada masa pemerintahan Adityawarman. Sinkretisme seperti ini juga pernah terjadi pada masa Krtanegara di Kerajaan Singasari.

Prasasti ini juga mengandung informasi penanggalan saat penulisannya. Penanggalan ini ditulis dalam bentuk kalimat candra sengkala yang berbunyi "wasur mmuni bhuja sthalam" -- dewa ular dan pendeta yang menjadi lengan dunia. Masing-masing kata pada kalimat tersebut mempunyai nilai tertentu. Bila dirangkai menjadi angka tahun, "wasur" berangka delapan, "mmuni" bernilai tujuh, "bhuja" bernilai dua dan "sthalam" bernilai satu. Angka tersebut dibaca dari belakang, sehingga menghasilkan angka tahun 1278 saka. Karena tahun 1 saka sama dengan tahun 78 masehi, maka 1278 saka adalah tahun 1356 masehi.

Selain angka tahun, prasasti ini juga dilengkapi dengan pertanggalan bulan dan hari, yaitu bulan Waisaka dan hari Buddha. Prasasti ini juga menyebutkan sistem penanggalan yang didasarkan pada peredaran bulan, yaitu "paro terang" atau "suklahpaksa" -- waktu mulai munculnya bulan sampai dengan bulan purnama (tanggal 1 - 15), dan "paro gelap" -- waktu sesudah bulan purnama sampai bulan tenggelam.

Prasasti ini mencantumkan nama penulis prasasti (citralekha). Nama penulis prasasti tersebut disebutkan dalam beris ke-20 dan 21, yaitu dengannama Mpungku Dharmma Dwaja, bergelar Karuna Bajra. Inilah satu-satunya prasasti dari Adityawarman yang mencantumkan nama penulis prasasti.

Pada prasasti ini, istilah "swarnnabhumi" digunakan sebagai nama wilayah kerajaan Adityawarmman. Istilah tersebut berarti "tanah emas", mengindikasikan bahwa daerah tersebut mempunyai tambang emas. Istilah tanah emas ini ditemukan pula pada Prasasti Kuburajo I di Kuburajo, Lima Kaum, Tanah Datar. Pada Prasasti Kuburajo I, Adityawarman disebut sebagai "kanakamedinindra", yang bermakna "raja tanah emas". Akan tetapi, lokasi pasti ibu kota kerajaan Adityawarman masih belum dapat diketahui secara pasti.

Pada prasasti ini, disebutkan pula mengenai bangunan "bihara" dan sebuah kota yang berhiaskan "kala" -- dewa penjaga bangunan yang berbentuk raksasa, biasa ditemukan pada ambang pintu masuk candi di Pulau Jawa -- yang terbuat dari bahan tembaga.

Prasasti Pagarruyung II

Prasasti Pagarruyung II berbentuk batu pasir kwarsa berwarna coklat kekuningan. Batu ini berbentuk persegi dengan lengkung setengah lingkaran pada bagian atas. Ukuran batu tersebut setinggi 2,5 meter, lebar 1,16 meter dan tebal 18 cm. Bentuk seperti itu biasanya identik dengan bentuk sandaran pada arca. Kondisi batu ini kini pecah menjadi dua bagian, yaitu batu I (bagian atas) dan batu II (bagian II).

Pada batu I, terdapat sembilan baris tulisan yang dilengkapi dengan hiasan stiliran pada sisi tengah atas tulisan. Batu I ini diperkirakan merupakan bagian awal prasasti. Sebagian teks pada batu I sudah aus dan tidak dapat dibaca, khususnya pada bagian pembuka di sisi kiri. Teks baru mulai tampak samar terbaca pada huruf kedua, ketiga dan keempat. Kerusakan lainnya yang agak parah terdapat pada sisi kanan dan bagian tengah akhir prasasti. Pada sisi kanan, kerusakan tersebut disebabkan oleh keausan batu. Sedangkan pada bagian tengah akhir prasasti, terdapat lubang-lubang buatan yang mengganggu pembacaan tulisan.

Sementara itu, batu II tidak dapat disambung secara utuh ke batu I. Hal ini mengakibatkan tulisan pada baris terakhir batu I tidak berlanjut pada bagian awal tulisan batu II.

Prasasti Pagarruyung II mempunyai tulisan yang indah, rapi, dengan goresan yang cukup dalam. Tulisan dalam prasasti ini menggunakan huruf Jawa Kuno dengan Bahasa Sanskrta.

Isi yang terkandung dalam prasasti ini belum dapat dijelaskan secara lengkap.

Pada baris kedua terdapat kata "nrpati", yang dilanjutkan dengan kata "maharaja" dan "wira" serta "dyang" -- diperkirakan merujuk pada nama diri dan jabatan seseorang. Pada baris ketujuh terdapat kata "saka", yang mengindikasikan penanggalan yang tidak lengkap. Juga ada kata "swasti", biasa dipakai sebagai kata keterangan yang berhubungan dengan suatu peristiwa penting yang diperingati dalam prasasti.

Pada baris ke-8 terbaca kata "yakse" dan "dwara", kata yang biasa digunakan dalam sistem penanggalan berbasis "candra sengkala". "Yakse", berarti raksasa, dengan nilai lima. Sedangkan "dwara" berarti gaupra, dengan nilai sembilan. Jika dibaca dari belakang, berarti 95. Jika diasumsikan bahwa prasasti tersebut sezaman dengan prasasti masa Adityawarmman lainnya, maka Prasasti Pagaruyung II ini mempunyai angka tahun 1295 Saka (1373 Masehi). Lebih lanjut, angka tahun ini juga dilengkapi dengan hitungan tanggal, yaitu "tanggal 20 hari ke-4 dalam suasana yang sunyi." Dengan demikian, prasasti tersebut diperkirakan dikeluarkan kurang lebih dua atau tiga tahun sebelum Adityawarman turun tahta.

Juga terdapat kata "sadaganyjanam". Kata ini terdiri dari "sada-aga-jana" atau "sad-aga-jana", yang berarti "manusia dari gunung".

Prasasti Pagarruyung III

Prasasti Pagarruyung III dipahatkan pada sebuah batu andesit warna abu-abu kecoklatan berbentuk memanjang. Tulisannya terletak pada sisi yang menonjol keluar pada bagian atas. Batu tersebut berukuran panjang 1,9 meter, lebar 66 cm dan tebal 15 cm. Prasasti ini didaftarkan pertama kali pada tahun 1977 dengan nama "Prasasti Kapalo Bukit Gombak", karena berasal dari Bukit Gombak, sekitar 2 km arah utara dari Jorong Gudam. Prasasti ini berhuruf Jawa Kuno dan berbahasa Sanskrta.

dvāreraṣabhūjerūpe | gatauvarṣāçcakārttike | suklaḥ pañcatithissome | bajrendra[

dvāreraṣabhūjerūpe – “In the form of a bull at the gate”
gatauvarṣāçcakārttike – “In the year (of passage) during the month of Karttika”
suklaḥ pañcatithissome – “On the bright (waxing) fifth lunar day, Monday”
bajrendra – likely a name, “Bajrendra”

Penanggalan prasasti candra sengkala "dware rasa bhuje rupe" -- gapura, maksud, lengan, rupa. Dware bernilai sembilan, rasa bernilai enam, bhuje bernilai dua, dan rupe bernilai satu. Jika dibaca dari belakang menjadi 1269 Saka atau 1347 Masehi. Sementara itu, hari dan tanggal yang tercantum pada prasasti ini adalah hari Soma tanggal 5 suklapaksa (bulan terang), yaitu hari Senin tanggal 20 Oktober 1347 Masehi.

Prasasti ini diperkirakan memuat mengenai peristiwa tertentu. Namun, karena ada bagian teks yang hilang, maka peristiwa tersebut tidak diketahui.

Prasasti Pagarruyung IV

Prasasti ini dipahatkan pada batu andesit hitam berbentuk persegi empat, dengan ukuran tinggi 1 meter, lebar 66 cm dan tebal 15 cm. Pada bagian atas tulisan terdapat hiasan, yaitu berupa lambang "kala" stiliran -- diperkirakan merupakan simbol atau tanda khusus dari Raja Adityawarmman. Hiasan tersebut juga ditemukan para beberapa prasasti lainnya, seperti pada Prasasti Pagarruyung II, Prasasti Sauraso I dan Prasasti Rambatan.

Tulisan pada baris pertama hingga kedelapan sudah tidak dapat terbaca lagi. Tulisan baru bisa terbaca mulai dari baris kesembilan. Prasasti ini menggunakan huruf Jawa Kuno dan Bahasa Sanskerta. Nama Adityawarmman tertulis pada baris ketigabelas.

Terdapat kata "sarawasa" pada baris kesembilan. Kata tersebut juga dijumpai pada Prasasti Saruaso I, yaitu "surawasawan", yang kemudian berubah menjadi Saruaso, nama sebuah nagari di Tanah Datar, sekitar tujuh kilometer dari Batusangkar. Diperkirakan, istilah "sarawasa" atau "surawasa" ini merupakan sebuah daerah yang penting pada masa Adittyawarmman. Peneliti asal Belanda, Johannes Gijsbertus de Casparis, bahkan menyimpulkan bahwa ibukota kerajaan Adittyawarmman berada di sekitar Nagari Saruaso kini.

Prasasti Pagarruyung V

Prasasti ini berupa fragmen batu andesit dengan lima baris tulisan. Terdapat bekas pecahan pada sisi atas dan sisi bawahnya. Prasasti ini ditulis dengan huruf dan bahasa Jawa Kuno. Prasasti-prasasti Raja Adityyawarmman ditulis tidak hanya menggunakan satu bahasa, melainkan beberapa bahasa, seperti Sanskrta, Melayu Kuno dan Jawa Kuno. Ketiga bahasa tersebut kadang dicampuradukkan dalam sebuah prasasti. Tetapi, ada juga prasasti yang hanya menggunakan dua atau satu bahasa. Hal ini disebabkan karena Adityawarmman terpengaruh oleh tiga bahasa sekaligus, yaitu bahasa Jawa Kuno, sebagai bahasa daerahnya sewaktu di Majapahit; bahasa Sanskrta sebagai bahasa bangsawan di dalam lingkungan keraton Majapahit dan bahasa pergaulan dengan para Brahmana, dan bahasa Melayu yang digunakan di Sumatera, setelah ia kembali ke tanah airnya.

Berdasarkan potongan kata yang berhasil terbaca, prasasti ini berkaitan dengan suatu taman yang dikerjakan oleh seseorang yang bernama "si Satra". Kata sandang tersebut lazim dipakai dalam prasasti dan naskah Jawa Kuno, yang menunjukkan kedudukan tokoh tersebut sebagai orang kebanyakan pada umumnya. Pembuatan taman tersebut dilengkapi dengan bunga-bungai yang diambil dari daerah pegunungan, serta dilengkapi pula dengan tempat duduk Raja Adityawarmman.

Prasasti Pagarruyung VI

Prasasti ini digoreskan pada batu andesit monolith berwarna coklat kekuningan, berbentuk persegi panjang tak beraturan dengan tulisan berada pada bagian atas. Bentuk dan jenis tulisan pada prasasti ini relatif kasar, kecil dan tidak rapi. Diperkirakan, penulis prasasti ini bukan penulis profesional. Bidang tulisannya pun tidak diperhalus. Prasasti dengan huruf dan bahasa Jawa Kuno ini hanya terdiri dari dua baris tulisan, sehingga sangat tidak proporsional dengan ukuran batunya.

Prasasti tersebut berisi pernyataan yang menjelaskan bahwa prasasti itu merupakan hasil usaha dari Tumanggung Kudawira. Sosok Kudawira belum dapat dijelaskan secara lengkap, karena baru satu prasasti ini saja yang menyebutnya.

Prasasti yang juga disebut Kapalo Bukit Gombak II ini ditemukan di Desa Kapalo Bukit Gombak, Desa Bukit Gombak, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar. Kini, prasasti ini disimpan di Kompleks Prasasti Adityawarman, Pagarruyung, dengan nomor inventaris 26/BCB-TB/SMB.

Prasasti terbuat dari batu andesit dengan ukuran tinggi 100 cm, lebar 36 cm dan tebal 46,5 cm, dalam kondisi cukup baik. Dikeluarkan pada masa pemerintahan Raja Adityawarman, prasasti ini hanya berisi satu baris dengan bahasa Jawa Kuno dan aksara pasca Pallava. Jika diartikan, prasasti ini berbunyi "Bahagia atas hasil kerja Tumanggung Kuḍawira."

Berdasarkan nama jabatan dan nama pejabat, kemungkinan Tumenggung Kuḍawira berasal dari Jawa. Jabatan Tumenggung merupakan jabatan yang lazim dipakai dalam pemerintahan masa Singhasari dan Majapahit. Adapun nama Kuḍawira merupakan nama Jawa yang berarti kuda yang gagah.

Prasasti Pagaruyung IX

Drs. Budi Istiawan (2006) "Selintas Prasasti dari Melayu Kuno" Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar" - Wilayah Kerja Provinsi Sumatera Barat dan Riau

  • Prasasti Pagarruyung IX berbentuk fragmen batu andesit warna abu-abu.
  • Prasasti ini kini disimpan di Ruang Koleksi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar bersama-sama dengan beberapa fragmen lainnya.
  • Tulisannya relatif masih bagus, tetapi hanya terdiri dari beberapa huruf saja. Fragmen ini merupakan bagian atas dari sebuah prasasti.
  • Berdasarkan bentuk dan gaya tulisannya, prasasti ini diperkirakan berasal dari masa pemerintahan Adityawarman.
  • Prasasti ditulis dengan huruf Jawa Kuna dengan bahasa yang mendekati bahasa Jawa Kuna.
  • Prasasti diawali dengan unsur pertanggalan yang berupa candrasengkala. Struktur seperti ini biasanya banyak dijumpai dalam prasasti-prasasti Jawa Kuna, abad 8 hingga 14 masehi, di Pulau Jawa.
  • Dari kalimat prasasti yang berhasil dibaca, diketahui bahwa fragmen tersebut merupakan bagian awal sebuah prasasti, karena memuat suatu pertanggalan.
  • Pertanggalan ini berupa sebuah candra sengkala yang berbunyi "satwa guna sa(trs)ne ...". Kata "satwa" bernilai satu, dan "guna" bernilai dua, maka diperkirakan dua kata di depan potongan kata tersebut memiliki nilai "2" dan "1", karena prasasti tersebut berciri sama dengan prasasti-prasasti Raja Adityawarman yang mempunyai pertanggalan abad 13 saka. Dengan demikian, fragmen prasasti ini diperkirakan mempunyai pertanggalan 1291 saka atau 1369 masehi.
  • Sementara itu, isinya tidak jelas, karena pembacaan yang dilakukan tidak berhasil menghasilkan kata yang utuh.
  • CATATAN : Buku digital yang ada di Repositori Kemdikbud merupakan digitalisasi dari fotokopi naskah asli. Akibatnya, teks alih-aksara dan alih-bahasa Prasasti Pagarruyung IX tidak terlihat. Sementara itu, naskah asli buku ini tersedia di Perpustakaan Arsip Nasional Republik Indonesia, Gedung A (930.159 8 BUD s).

Referensi

  1. ↑ Hasan Djafar (1992) "Prasasti-prasasti Masa Kerajaan Melayu Kuno dan Beberapa Permasalahannya" Seminar Sejarah Melayu Kuna - Kanwil Depdikbud Jambi. hlm 51-80

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Wiki Batu Basurek
  2. Tanah Datar
  3. Prasasti Pagarruyung I
  4. Prasasti Pagarruyung II
  5. Prasasti Pagarruyung III
  6. Prasasti Pagarruyung IV
  7. Prasasti Pagarruyung V
  8. Prasasti Pagarruyung VI
  9. Prasasti Pagaruyung IX
  10. Referensi

Artikel Terkait

Pengguna:Renamed user 5cb535d47ac833448f09633576bf74ba/Berita Teknis/2023

kegiatan Wikimedia Hackathon 2024 masih dibuka hingga tanggal 5 Januari 2024. rtnF bicara 6 Desember 2023 10.53 (UTC) Berita teknis terkini dari komunitas teknis

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026