Penelitian empiris adalah penelitian yang menggunakan bukti-bukti empiris. Penelitian empiris juga merupakan cara mendapatkan pengetahuan dengan jalan observasi langsung dan tidak langsung atau pengetahuan langsung dan tidak langsung. Empirisme memberikan nilai lebih pada jenis penelitian yang lain. Bukti-bukti empiris dapat dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Mengkuantifikasikan bukti-bukti atau membuat bukti-bukti itu menjadi masuk akal dalam bentuk kualitatif, seorang peneliti dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan empiris, yang seharusnya dapat mendefinisikan secara jelas dan dapat dijawab dengan bukti-bukti yang sudah dikumpulkan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini perlu dikembangkan agar dapat memenuhi kriteria sebagai entri Wikipedia. Bantulah untuk mengembangkan artikel ini. Jika tidak dikembangkan, artikel ini akan dihapus. |
Penelitian empiris adalah penelitian yang menggunakan bukti-bukti empiris. Penelitian empiris juga merupakan cara mendapatkan pengetahuan dengan jalan observasi langsung dan tidak langsung atau pengetahuan langsung dan tidak langsung. Empirisme memberikan nilai lebih pada jenis penelitian yang lain. Bukti-bukti empiris (catatan terkait pengalaman dan observasi seseorang secara langsung) dapat dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Mengkuantifikasikan bukti-bukti atau membuat bukti-bukti itu menjadi masuk akal dalam bentuk kualitatif, seorang peneliti dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan empiris, yang seharusnya dapat mendefinisikan secara jelas dan dapat dijawab dengan bukti-bukti yang sudah dikumpulkan.[1]
Dalam beberapa bidang keilmuan, penelitian kuantitatif dapat dimulai dengan sebuah pertanyaan penelitian (misalnya, “Apakah mendengarkan musik vokal saat mempelajari daftar kata berpengaruh terhadap kemampuan mengingat kata-kata tersebut di kemudian hari?”) yang kemudian diuji melalui eksperimen. Biasanya, peneliti memiliki teori tertentu terkait topik yang sedang diteliti. Berdasarkan teori tersebut, peneliti merumuskan pernyataan atau hipotesis (misalnya, “Mendengarkan musik vokal berdampak negatif terhadap proses belajar daftar kata.”). Dari hipotesis ini, diturunkan prediksi mengenai kejadian atau hasil yang lebih spesifik (misalnya, “Orang yang mempelajari daftar kata sambil mendengarkan musik vokal akan mengingat lebih sedikit kata pada tes memori berikutnya dibandingkan orang yang mempelajari daftar kata dalam kondisi hening.”). Prediksi-prediksi ini kemudian dapat diuji melalui eksperimen yang sesuai. Bergantung pada hasil eksperimen, teori yang menjadi dasar hipotesis dan prediksi tersebut akan didukung atau tidak,[1] atau mungkin perlu dimodifikasi dan kemudian diuji kembali melalui penelitian lanjutan.
Metode penelitian uji coba atau eksperimen telah berkembang sepanjang zaman, dengan banyaknya ilmuwan yang berkontribusi pada fondasi dan perkembangan penelitian. Pada masa lalu, para filsuf Yunani seperti Aristoteles mengandalkan observasi dan penalaran rasional dalam penelitian mereka. Aristoteles, misalnya, menolak ketergantungan secara eksklusif pada deduksi logis dan menekankan pentingnya pengamatan untuk memahami alam semesta.[2]
Pada Abad Pertengahan, para ilmuwan Muslim memberikan kemajuan besar bagi metode eksperimen. Jabir ibn Hayyan, yang dikenal sebagai “bapak kimia,” memperkenalkan metodologi eksperimental ke dalam kimia dan mengembangkan proses-proses kimia seperti kristalisasi, kalsinasi, dan distilasi. Ia juga menemukan asam-asam penting seperti asam sulfat dan asam nitrat, sehingga memperluas kemungkinan eksperimen kimia. Ilmuwan optika terkenal Ibn al-Haytham(Alhazen) termasuk yang paling awal mengandalkan eksperimen dalam mempelajari cahaya dan penglihatan. Dalam karyanya Book of Optics, ia menerapkan metode ilmiah berbasis observasi, eksperimen, dan pembuktian matematis, sehingga sering dipandang sebagai pelopor metode ilmiah modern.[3]