Dalam agama Hindu, pandita, pendeta, atau pedanda adalah seorang individu dengan pengetahuan khusus atau guru bidang ilmu apa pun dalam agama Hindu, khususnya kitab suci Weda, dharma, atau filsafat Hindu; dalam literatur era kolonial, istilah ini umumnya merujuk pada pengacara yang mengkhususkan diri dalam hukum Hindu. Sementara itu, saat ini gelar tersebut digunakan untuk para ahli dalam subjek lain, seperti musik. Istilah pandita masuk ke dalam bahasa Inggris sebagai kata serapan pundit, merujuk pada seseorang yang memberikan petuah dengan cara yang berwibawa pada bidang subjek tertentu, biasanya melalui media massa. Ustad adalah gelar yang setara untuk seorang pria Muslim dalam arti musikal. Gelar yang setara untuk seorang wanita Hindu adalah Vidushi, Pandita, atau Panditain; tetapi, gelar-gelar ini saat ini tidak digunakan secara luas.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Bagian dari seri |
| Agama Hindu |
|---|
Dalam agama Hindu, pandita, pendeta, atau pedanda (Sanskerta: पण्डितः, paṇḍitaḥ;[1] juga dieja pundit;[2] disingkat Pdt.) adalah seorang individu dengan pengetahuan khusus atau guru bidang ilmu apa pun dalam agama Hindu,[1] khususnya kitab suci Weda, dharma, atau filsafat Hindu; dalam literatur era kolonial, istilah ini umumnya merujuk pada pengacara yang mengkhususkan diri dalam hukum Hindu.[3] Sementara itu, saat ini gelar tersebut digunakan untuk para ahli dalam subjek lain, seperti musik.[4][5] Istilah pandita masuk ke dalam bahasa Inggris sebagai kata serapan pundit, merujuk pada seseorang yang memberikan petuah dengan cara yang berwibawa pada bidang subjek tertentu (biasanya politik, ilmu sosial, teknologi atau olahraga), biasanya melalui media massa.[6] Ustad adalah gelar yang setara untuk seorang pria Muslim dalam arti musikal.[5] Gelar yang setara untuk seorang wanita Hindu adalah Vidushi,[7][8] Pandita, atau Panditain;[9] tetapi, gelar-gelar ini saat ini tidak digunakan secara luas.[10]
Dalam bahasa Sanskerta, pandita umumnya merujuk pada "pria bijak, terpelajar, atau cerdik" dengan pengetahuan khusus.[11] Istilah ini berasal dari kata paṇḍ (पण्ड्) yang berarti "mengumpulkan, menumpuk, menimbun", dan akar kata ini digunakan dalam arti pengetahuan.[12] Istilah ini ditemukan dalam teks-teks Weda dan pasca-Weda, tetapi tanpa konteks sosiologis apa pun.
Dalam tradisi Hindu Bali, pandita atau pendeta juga disebut sebagai sulinggih, yang berarti "tempat duduk yang baik". Sulinggih memiliki gelar yang berbeda sesuai peranannya, yang disebut tri sadaka. Gelar seorang sulinggih berasal dari soroh (klan leluhur).[butuh rujukan]
Bab atau bagian ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. |
Tri Sadaka yang memiliki arti "tiga pendeta" terdiri dari Ida Pedanda Siwa, Ida Pedanda Budha, dan Ida Rsi Bhujangga.
Gelar Sulinggih berdasarkan soroh/klan:
Selain sulinggih, umat Hindu juga memiliki pendeta selain sulinggih, yang dikategorikan bukan sebagai sulinggih karena perbedaan busana dan sikap seorang sulinggih dengan pendeta umumnya.