Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
~~~~ pada akhir kalimat Anda.
Selamat menjelajah, kami menunggu suntingan Anda di Wikipedia bahasa Indonesia!
Welcome! If you do not understand the Indonesian language, you may want to visit the embassy or find users who speak your language. Enjoy!
--Pesan ini dikirim secara otomatis menggunakan bot. 26 Juli 2021 15.36 (UTC)
Berawal dari sebuah keajaiban yang mungkin hal itu merupakan tanda kekuasaan Allah yang diberikan kepada hamba Pilihan-Nya bahwa akan ada seorang yang akan dilahirkan dengan membawa suatu tanda kewalian (seseorang yang dipercaya atau pelindung) dan akan mengemban tugas untuk lebih memperkokoh ajaran syari’at agama Islam di Indonesia khususnya di Daerah Gorontalo. Di sebuah desa terpencil, tepatnya Desa Dulamayo, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo, lahirlah seorang anak pada tanggal 17 Oktober 1925 M yang diberi nama Nusi Bakari yang setelah dewasa akrab dikenal dan disapa dengan nama Pali Rani, dimana pada saat lahir di tangannya menggenggam sebuah benda, dan benda tersebut telah diwariskan dan disimpan oleh anaknya Idrus Nusi (Pasisa Idu).
Sebagai manusia biasa, kita hanya bisa
menduga bahwa mungkin dengan adanya benda yang digenggamnya tersebut sebagai tanda akan lahirnya sebuah ilmu yang saat ini dikenal dengan nama “Ilmu Ilomata” yang sebelumnya diberi nama “Pohuli”, dan bahwa beliau Nusi Bakari nantinya akan menjadi Guru Besar dari “Ilmu Ilomata” yang saat ini beranggotakan lebih dari sepuluh ribu orang yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Menjelang usia ± 27 tahun (Syabab: usia
yang harus mampu menjadi pemimpin dan menerima amanah-amanah besar ummat) beliau Nusi Bakari melaksanakan khalwat dan uzlah (menyendiri) pada tahun 1952 M. Sebagaimana para Nabi dan Rasulullah SAW serta para Wali juga melakukan khalwat dan uzlah. Pada masa-masa awal kehidupan spiritualnya, Hal inilah yang dilakukan oleh beliau Nusi Bakari, dimana beliau dalam khalwatnya melaksanakan ibadah puasa selama 90 hari lamanya (Tidak makan, tidak minum, bahkan tidak buang hajat) dan menjalani hidup seperti yang dijalani oleh seorang mu'takif (orang yang melakukan i'tikaf) serta berusaha melupakan segala bentuk hasrat jasmani yang dimilikinya, dengan menyibukkan diri tanpa henti siang dan malam dengan zikir dan tafakur menyucikan hatinya (tasfiat al-Qalbi) di daerah perbukitan atau pegunungan Dusun Sapuo, Desa Dulamayo, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo, serta berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Manusia yang suci bukan hanya bisa dekat dengan Tuhan, malah dapat melihat Tuhan (al-Makrifat). Itulah sebabnya, Allah yang Maha Suci tidak dapat didekati kecuali oleh manusia yang suci pula.
Selama beliau Nusi Bakari melakukan
khalwat dan uzlah itu ditemani oleh seorang yang merupakan tetangga dekat diperkebunan beliau tinggal yang bernama Bagino Sue (Pakiki Bagino) yang menyaksikan secara langsung proses turunnya Ilmu pada beliau Nusi Bakari yang seakan ia tak percaya dengan apa yang disaksikannya, dimana Pakiki Bagino menyaksikan langit terbelah dan memancarkan cahaya hingga terlihat olehnya menyelimuti tubuh beliau Nusi Bakari dan Pakiki Bagino. Rasa takut dan gemetarpun timbul dihati Bagino Sue dan rasanya ia ingin lari menghindar dan menjauh dari beliau Nusi Bakari. Namun, disitulah pertama kalinya terjadi keghaiban dan keajaiban ilmu yang dianugerahkan Allah kepada beliau Nusi Bakari.
Beliau Nusi Bakari yang ketika itu mengetahui dan
melihat bahwa Bagino Sue akan lari menghindar menjauh darinya, dengan telunjuknya yang dibarengi dengan suara teguran kepada Bagino Sue : “engkau jangan lari, saksikanlah aku”. Bagino Sue pun tak berdaya dan sudah tidak bisa bergerak lagi ditempat ia berdiri ibarat sebatang kayu yang dipatokkan kedalam tanah tak berkutik lagi, begitulah yang terjadi pada diri Bagino Sue pada saat itu. Sejak kejadian itu, Bagino Sue pun mengakui beliau sebagai seorang yang telah mendapat anugerah ilmu dari Allah dan patut untuk diikuti segala tutur kata serta diteladani perilakunya. Dan saat itu juga Bagino Sue pun mengakui beliau sebagai guru baginya.
Setelah melaksanakan puasa 90 hari, beliau
Nusi Bakari bersama Bagino Sue turun gunung dari Dusun Sapuo menuju Desa Talumelito ke rumah Pamannya Runi S. Katili (Pakiki Runi) yang saat itu dikenal sebagai tokoh adat Gorontalo. Dalam perjalanannya bersama Bagino Sue, peristiwa kedua dari keghaiban dan keajaiban pun terjadi. Dimana setiap pohon yang dilewati oleh mereka merunduk seakan menghormati mereka dalam perjalanan, itulah kekuasaan Allah atas hamba yang dipilihnya dan diberi anugerah berupa karamah sebagai tanda kewalian bagi orang dikendaki-Nya. Bagino Sue yang menyaksikan hal itu merasa takjub dan keheranan, beliau Nusi Bakari berkata: “Lihat dan perhatikanlah, kalau ada pohon yang tidak merunduk, ambil dan petiklah daunnya”. Hal itupun dilakukan oleh Bagino Sue dan terkumpullah 44 macam jenis daun pohon yang dipetiknya. Sesampainya dirumah kediaman pamannya Runi S. Katili, diceritakanlah oleh Bagino Sue kejadian sewaktu mereka dalam perjalanan dan menunjukkan 44 macam jenis daun pohon yang dipetiknya dan ingin menanyakan nama-nama jenis daun pohon tersebut. Anehnya, semua jenis daun pohon yang dibawa oleh mereka juga sudah ada dan menempel pada baju koko dan kain sarung merk asparaga miliknya Runi S. Katili. Dialogpun terjadi antara mereka dan disebutlah oleh Runi S. Katili nama-nama jenis daun pohon tersebut.
Pada tahapan dan penyebutan nama dari
Ilmu yang diterima oleh beliau Nusi Bakari, ditanyakanlah kepada pamannya Runi S. Katili dan melahirkan sebuah nama yang dalam bahasa Gorontalo disebut dengan “Pohuli” (Tuntutan satuan ilmu dalam diri). Nama tersebut lahir tahun 1955 M setelah dilakukan kajian yang disesuaikan dengan ajaran agama Islam dan disepakati oleh ulama. Jadi, Nama Pohuli lahir dari seorang tokoh adat Gorontalo Runi S. Katili yang disetujui oleh para ulama terkemuka pada tahun 1955 M. Diantara para ulama yang menyetujui nama Pohuli adalah Leninga Panggola dan Bapu Sahraini.
Melihat keghaiban dan keajaiban yang nyata
terjadi dilakukan oleh beliau Nusi Bakari ketika mengobati penyakit yang menimpa orang lain sembuh dalam sekejap, maupun hal-hal lain yang sulit untuk dipercaya tapi nyata yang ibarat sebuah pepatah: “Terasa ada, terkatakan tidak,” serta melihat kelembutan hati dan indahnya perilaku yang ada pada diri beliau Nusi Bakari yang bersifat Tawadhu’, maka ada berjumlah ± 500 orang yang menyatakan diri masuk dalam Ilmu Pohuli, akan tetapi mereka belum resmi menjadi anggota pada saat itu, hanya saja mereka mengakui beliau Nusi Bakari sebagai Guru dan panutan yang patut diteladani bagi mereka.
Pada tahun 1970-an M, mulailah penerimaan anggota kepada siapa yang ingin
belajar dan memperdalam ilmunya. Dan seiring dengan berjalannya waktu setelah ilmu ini dikenal dengan nama “Ilmu Pohuli”, ada sejumlah 44 orang ulama yang dipimpin oleh Qadhi Kota Gorontalo KH. Abas Rauf dan Bpk Roki Latif mengkaji lagi nama ilmu ini.
Suatu ketika
Qadhi Kota Gorontalo KH. Abas Rauf mengalami sakit dibagian lengan dan lengannya tidak bisa digerakkan dan diangkatnya ke atas yang kemudian datang kepada beliau Nusi Bakari dan menceritakan penyakitnya. Oleh beliau Nusi Bakari, diobatilah penyakitnya hanya dengan menarik taplak meja dan meminta agar lengannya digerakkan dan diangkat ke atas, seketika itu pula sembuhlah penyakit yang diderita oleh Qadhi Kota Gorontalo KH. Abas Rauf. Dengan adanya pembuktian keghaiban dan keajaiban nyata itu, yang awalnya nama Ilmu ini dikenal dengan nama “Pohuli”, oleh 44 orang ulama yang dipimpin oleh Qadhi Kota Gorontalo KH. Abas Rauf disebutlah dalam bahasa Gorontalo menjadi
“Ilmu Ilomata” (“bukti keghaiban dan keajaiban nyata”). Yang kemudian ilmu
ini dikenal oleh masyarakat luas dengan nama “Ilmu Ilomata” (Tahun 1970-an M). Dan disetiap tahunnya tepat pada malam tanggal 17 Syafar dilaksanakanlah Doa Khaul Akbar Ilmu Ilomata yang menjadi media perjumpaan yang memberikan ruang dan kesempatan kepada masing-masing anggota Majelis Ilmu Ilomata untuk dapat menjalin silaturahmi.
Menjelang wafatnya Guru Besar Ilmu
Ilomata, pada akhir tahun 1999 M, Idrus Nusi,
Wirantje Nento, dan para tokoh Ilmu Ilomata
diundang menghadap beliau Al-Muqarram Nusi Bakari. Dan pada saat itu beliau mengangkat anaknya Idrus Nusi sebagai pimpinan pusat Ilmu Ilomata, dan Wirantje Nento sebagai wakilnya.
Pada tahun 2000 M/1420 H Wirantje Nento dan Yamin Rajawali
berusaha agar “Ilmu Ilomata” mendapat legalitas dari Pemerintah Daerah. Usaha dan kerja keras itupun membuahkan hasil yang akhirnya terbentuklah Organisasi “Himpunan Ukhuwah Islamiyah Ilomata Gorontalo” yang disahkan oleh Pemerintah Daerah dan Departemen Agama Kabupaten Gorontalo yang sebelumnya telah melalui beberapa tahapan verifikasi atau pengkajian oleh Pemerintah Daerah melalui Kesbangpol, Departemen Agama, serta MUI Kabupaten Gorontalo terhadap pengurus dan Pembina Organisasi di aula kantor Departemen Agama Kabupaten Gorontalo sehingga Mendapatkan Legalitas Izin Organisasi sebagai Ormas yang bernuansa Islam yang berdasar dan berazas pada Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijma’ dan Qiyas.
Pada tanggal 18 Juni 2021 dihadapan Notaris
Mohamad Nizar Machmud,SH para Ahli Waris sebagai keturunan dari Al-Muqarram Almarhum Nusi Bakari mendirikan Yayasan yang diberi nama Yayasan "Pohuli Ilmu Ilomata" yang kemudian telah mendapatkan pengesahan badan hukum melalui Surat Keputusan Menteri Hukum Dan HAM RI Nomor AHU-0014943.AH.01.04 Tahin 2021 tertanggal 21 Juni 2021. Dengan berdirinya Yayasan "Pohuli Ilmu Ilomata" yang didalamnya ada Majelis Ilmu Ilomata, maka tidak secara langsung menegaskan bahwa Majelis Ilmu Ilomata merupakan wadah bagi setiap anggota dalam menuntut ilmu, dan Yayasan "Pohuli Ilmu Ilomata" merupakan wadah yang menyatukan para anggotanya dalam arti “senyawa dalam ilmu dan menyatu dalam Yayasan” demi untuk memperkokoh ajaran agama Islam dan menjadi rahmat bagi lingkungan dimanapun berada, serta menjadi pembela Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan wasiat dari Guru Besar Ilmu Ilomata Al-Muqarram Almarhum Nusi Bakari.
Tak seorangpun menyangka dan menduga
bahwa dengan adanya pengangkatan anaknya Idrus Nusi sebagai pimpinan pusat Majelis Ilmu Ilomata dan Wirantje Nento sebagai wakilnya serta bertemunya Bagino Sue dengan beliau Nusi Bakari merupakan pertanda bahwa sesungguhnya beliau Nusi Bakari sudah mendapat petunjuk dari Allah bahwa tidak lama lagi sesudah pengangkatan dan pertemuan itu, beliau akan berpulang kerahmatullah yang pada akhirnya tepat pada hari kamis tanggal 17 Nopember 2002 beliau wafat dengan meninggalkan Pesan (Tahuli: bahasa gorontalo) atau wasiat yang harus dilaksanakan oleh seluruh anggota Ilmu Ilomata. Adapun Pesan (tahuli) atau wasiat beliau sebagai berikut : 1. Po’o Toheta Imani, to dunia dila kakali (Teguhkan iman, di dunia tidak kekal) 2. Po’o Toheta Amali, to akhirati mowali sanangi (laksanakan amal, di akhirat nanti akan senang) 3. Po’o Toheta Syari’ati, Ilomata mowali o’barakati (Laksanakan syari’at, Ilomata akan beroleh berkah)
Setelah wafatnya beliau, para tokoh adat
Gorontalo melaksanakan musyawah adat dan sepakat memberi gelar (Garai: bahasa gorontalo) : “O Hu’uwo Lo Ilomata” (Pemilik Ilomata) ”Taa Ilo Badari” (Yang beroleh anugerah Ilahi). Putra Indonesia terbaik kelahiran gorontalo yang mempunyai karya nyata. Ahmad Rasjid Katili (bicara) 26 Juli 2021 15.37 (UTC)