Pemberontakan Kongo-Wara adalah pemberontakan anti-kolonial yang terjadi di wilayah pedesaan di Afrika Khatulistiwa dan Kamerun Prancis. Pemberontakan ini dipicu oleh perekrutan penduduk asli untuk membangun jalur kereta api dan mengambil sumber daya karet. Pemberontakan ini adalah pemberontakan yang kecil dan kurang dikenal bila dibandingkan dengan pemberontakan-pemberontakan lain yang terjadi di wilayah jajahan Prancis.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Pemberontakan Kongo-Wara | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| |||||||
| Pihak terlibat | |||||||
| Suku Gbaya[1] |
| ||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||
|
Karnou Bissi Yandjere |
Auguste Lamblin Paul Germain Gaetan Germain Pierre Crubillé Lt. Boutin | ||||||
| Kekuatan | |||||||
|
290.000 warga desa 60.000 prajurit | Tidak diketahui | ||||||
| Korban | |||||||
| 10.000-100.000[2] | Tidak diketahui | ||||||
Bagian dari seri mengenai |
|---|
| Sejarah Afrika Tengah |
Pemberontakan Kongo-Wara (juga dikenal dengan nama Perang Manche de Houe[3] dan Perang Baya)[4] adalah pemberontakan anti-kolonial yang terjadi di wilayah pedesaan di Afrika Khatulistiwa dan Kamerun Prancis. Pemberontakan ini dipicu oleh perekrutan penduduk asli untuk membangun jalur kereta api dan mengambil sumber daya karet.[5] Pemberontakan ini adalah pemberontakan yang kecil dan kurang dikenal bila dibandingkan dengan pemberontakan-pemberontakan lain yang terjadi di wilayah jajahan Prancis.[6]
Barka Ngainoumbey (yang dikenal dengan sebutan Karnou, yang berarti "ia yang dapat mengubah dunia") adalah seorang nabi Gbaya dari wilayah cekungan Sungai Sangha. Pada tahun 1924, ia mulai mengajak pengikutnya untuk melawan penjajah Prancis tanpa menggunakan kekerasan. Hal ini dilakukan karena Prancis telah merekrut penduduk asli untuk membangun jalur kereta api Kongo-Samudra dan mengambil sumber daya karet, dan perilaku perusahaan-perusahaan Eropa yang terlibat dianggap kejam. Karnou juga mengajak pengikutnya untuk melawan suku Fula yang memerintah sebagian wilayah suku Gbaya di Kamerun Prancis sebagai perwakilan Prancis.[3][7][8] Perlawanan akan dilakukan dengan menggunakan obat-obatan tradisional yang dilambangkan dengan tongkat kecil yang disebut "koŋgo wara".[1] Mereka pun mulai memboikot barang-barang Eropa.[9][10] Pergerakan ini tidak disadari oleh pemerintah Prancis karena mereka tidak memiliki banyak orang di lapangan. Mereka baru sadar pada tahun 1927 setelah orang-orang Gbaya mulai mengangkat senjata. Pada masa ini terdapat 350.000 orang yang mengikuti gerakan Karnou.