Pembentukan gunung merujuk kepada proses-proses geologis yang mendasari pembentukan gunung-gunung. Proses-proses ini dihubungkan dengan pergerakan kerak Bumi dalam skala besar. Lipatan, patahan, aktivitas vulkanik, intrusi batuan beku, dan metamorfisme dapat menjadi bagian proses orogeni pembentukan gunung. Pembentukan gunung tidak harus berhubungan dengan struktur geologis yang ditemukan padanya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Pembentukan gunung merujuk kepada proses-proses geologis yang mendasari pembentukan gunung-gunung. Proses-proses ini dihubungkan dengan pergerakan kerak Bumi dalam skala besar (lempeng tektonik).[1] Lipatan, patahan, aktivitas vulkanik, intrusi batuan beku, dan metamorfisme dapat menjadi bagian proses orogeni pembentukan gunung.[2] Pembentukan gunung tidak harus berhubungan dengan struktur geologis yang ditemukan padanya.[3]
Dari abad ke-18 hingga penggantiannya dengan tektonika lempeng pada 1960-an, teori geosinklin digunakan untuk menjelaskan kebanyakan proses pembentukan gunung.[4] Pemahaman ciri bentang alam spesifik dalam konteks yang mendasari proses-proses tektonik dikenal dengan "geomorfologi tektonik", sementara studi proses-proses yang secara geologis muda atau sedang berlangsung dkenal dengan nama "neotektonika".[5][butuh klarifikasi]
The major mountain-building idea that was supported from the 19th century and into the 20th is the geosynclinal theory.