Swakasir atau konter kasir swalayan adalah sistem pembayaran yang memungkinkan pelanggan untuk menyelesaikan transaksi secara mandiri tanpa dilayani kasir dengan menggunakan mesin swakasir atau serangkaian teknologi lainnya. Pada sistem swakasir, para pelanggan dapat memindai kode batang barang sendiri sebelum membayar barang belanjaan. Sistem swakasir umumnya diterapkan pada pasaraya, toserba, dan toko kelontong. Umumnya sarana-sarana swakasir diawasi oleh setidaknya satu kasir atau pramuniaga yang bertugas untuk membantu para pelanggan yang kesulitan memproses transaksi, mengoreksi harga, atau melayani pelayanan lainnya.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Juli 2025) |


Swakasir atau konter kasir swalayan (Self-service checkouts) adalah sistem pembayaran yang memungkinkan pelanggan untuk menyelesaikan transaksi secara mandiri tanpa dilayani kasir dengan menggunakan mesin swakasir atau serangkaian teknologi lainnya. Pada sistem swakasir, para pelanggan dapat memindai kode batang barang sendiri sebelum membayar barang belanjaan. Sistem swakasir umumnya diterapkan pada pasaraya, toserba, dan toko kelontong.[1] Umumnya sarana-sarana swakasir diawasi oleh setidaknya satu kasir atau pramuniaga yang bertugas untuk membantu para pelanggan yang kesulitan memproses transaksi, mengoreksi harga, atau melayani pelayanan lainnya.
Pada tahun 2013, setidaknya terdapat 191.000 unit mesin swakasir yang dikaryakan di seluruh dunia, dan pada tahun 2025, diperkirakan terdapat 1,2 juta unit mesin swakasir yang akan dikaryakan di seluruh dunia.[2][3]
Mesin swakasir diciptakan oleh David R. Humble di perusahaan CheckRobot Inc., terletak di Deerfield Beach, Florida, yang pangsa pasar terbesarnya dimiliki oleh NCR Corporation.[4][5] Mesin-mesin swakasir tersebut diperkenalkan kepada masyarakat pada bulan Juli 1986; mesin swakasir pertamanya, yang diproduksi oleh CheckRobot, dikaryakan di toko Kroger yang terletak di dekat kota Atlanta, Georgia.[6][7]

Pada sistem swakasir, pelanggan biasanya diminta untuk:
Biasanya terdapat satu kasir atau pramuniaga pengawas yang bertugas untuk membantu para pelanggan bila diperlukan seperti meloloskan barang yang penjualannya terbatas (misalnya obat-obatan, alkohol, pisau dan tembakau), mematikan dan melepas tag pengaman elektronik, sebagai tenaga tambahan untuk mencegah pencurian atau kehilangan barang, serta memberi pelayanan tambahan kepada para pelanggan.[8]

Sistem lain swakasir adalah dengan memindai sendiri (self-scanning) barang belanjaan menggunakan pemindai kode batang portabel selama berbelanja.[9] Usai pelanggan berbelanja, alat pemindai dibawa ke konter kasir, lalu informasi-informasi dari pemindai kode batang diunduh ke konter kasir (biasanya bersamaan dengan memindai kartu program loyalitas pelanggan atau kartu keanggotaan). Setelah itu, pelanggan membayar belanjaan dan menerima bon dari kasir.
Perusahaan penyuplai seperti NCR, Wincor-Nixdorf, dan lainnya telah menciptakan sistem kasir campuran yang memungkinkan sarana kasir dapat diubah-ubah sistemnya antara menjadi sistem kasir biasa dan sistem swakasir.[10][11]

Proyek swakasir sumber terbuka pertama kali diumumkan pada tahun 2010. Sistem swakasir ini diterapkan pada perpustakaan menggunakan mesin swakasir berperangkat keras dan lunak sumber terbuka sehingga biayanya sepersepuluh kali lebih murah dibandingkan dengan biaya mesin swakasir dengan perangkat keras dan lunak komersial.[12][13]
Beberapa toko percobaan di Tiongkok menggunakan kombinasi RFID dan kamera untuk melacak dan mengenali produk apa yang telah dipilih oleh pelanggan. Saat akan meninggalkan toko, pelanggan melewati gerbang pembaca RFID dan hanya perlu membayar tagihan saat hendak keluar.[14][15][16][17]

Toko nirkasir menggunakan kamera dan sensor pada seluruh toko untuk melacak para pelanggan dan mengenali barang belanjaan mereka. Para pelanggan membayar tagihan saat keluar, atau mendaftarkan ponsel cerdas sebelum memasuki toko sehingga mereka bisa langsung keluar dengan barang-barang pilihan mereka.[18]
Salah satu manfaat yg didapat peritel apabila menerapkan sistem swakasir adalah dapat menekan biaya tenaga kerja karena satu pramuniaga dapat mendampingi antara empat hingga enam jalur swakasir. Ukuran mesin swakasir tidak memakan banyak ruang toko karena berukuran lebih kecil dibandingkan dengan konter kasir biasa sehingga ruang-ruang sisa dapat digunakan untuk menambah rak, etalase, atau konter kasir tambahan.[19]
Costco mulai memakai mesin-mesin swakasir pada pujasera-pujaseranya pada tahun 2021 saat pandemi COVID-19, sehingga memungkinkan para petugas dapur pujasera untuk fokus hanya pada persiapan makanan dan pelayanan pelanggan. Transaksinya nontunai dengan kartu debit atau kredit, sehingga dapat menghindari pertukaran uang tunai antara pelanggan dan pramuniaga (uang tunai seperti uang kertas dan koin merupakan perantara yang dapat menularkan penyakit).
Pelanggan yang enggan berinteraksi dengan kasir dapat mengambil manfaat dari sistem swakasir. Sistem swakasir nontunai dengan pembayaran ginerak atau dompet digital memungkinkan pelanggan untuk membeli barang mereka tanpa harus menyentuh bagian-bagian dari sarana swakasir, selain area pengemasan (bagging area), meskipun mereka menggunakan kantong belanja milik toko atau pasaraya yang harus dikembalikan.
Terkadang, sistem swakasir juga lebih cepat daripada menggunakan sistem kasir biasa karena dapat mengurangi waktu tunggu dan antrean pada konter kasir.[20]
Kelebihan lainnya adalah sistem swakasir dapat menyediakan layanan multibahasa parsial (Dapat disebut multibahasa sepenuhnya apabila barang-barang tersebut diberi label dalam bahasa yang relevan, tetapi pada kenyataannya jauh lebih banyak menggunakan bahasa utama atau nasional). Misalnya, pasaraya Tesco Wales dapat melayani pelanggan dalam bahasa Inggris dan Wales [21] karena sulitnya mempekerjakan pegawai yang fasih berbahasa Wales sebab hanya sebagian kecil penduduk setempat yang menjadikan bahasa Wales sebagai bahasa ibu mereka.[22]
Laporan tahun 2021 oleh Raydiant mendapati bahwa 67% pengguna pernah mengalami kegagalan pada sistem swakasir, 25% mengatakan mereka akan menghindari mesin-mesin swakasir karena memiliki pengalaman buruk terhadapnya atau mesin-mesin swakasir lambat, 65% mengkhawatirkan kebersihan mesin-mesin swakasir, dan banyak pelanggan mengalami kejengkelan saat menggunakan mesin swakasir sehingga membutuhkan bantuan.[23]
Pada tahun 2002, sebuah penelitian dilakukan dengan melibatkan kaum difabel untuk menggunakan mesin-mesin swakasir; penelitian tersebut menyimpulkan bahwa mesin-mesin swakasir yang ada saat itu tidak dirancang ramah difabel.[24] Hingga tahun 2022, kaum difabel netra, pengguna kursi roda, dan difabel lainnya masih kesulitan menggunakan mesin-mesin swakasir yang desainnya kerap menyulitkan mereka untuk berbelanja secara mandiri. Masalah-masalah tersebut menjadi semakin parah seiring bertambahnya mesin-mesin swakasir yang dikaryakan berbagai perusahaan. Meskipun mesin-mesin swakasir yang dirancang bagi difabel netra dan pengguna kursi roda sudah tersedia, mesin-mesin tersebut masih belum lazim, sehingga para pegiat disabilitas giat untuk menyuarakan masalah-masalah ini hingga akhirnya AS sedang mempertimbangkan regulasi bagi keterjangkauan sistem swakasir.[25]
Para peritel sering kali menyiarkan pengumuman-pengumuman melalui mesin-mesin swakasir mereka dengan suara-suara unik. Misalnya, toko diskon Poundland pernah menggunakan suara Yoda,[26] Elvis Presley, Drakula dan Sinterklas pada mesin-mesin swakasirnya.[27] Lalu pada tahun 2019, Marks & Spencer pernah mengganti suara mesin-mesin swakasirnya dengan suara juri dari Britain's Got Talent musim tahun itu. Namun, suara-suara unik tersebut banyak dikeluhankan oleh para pelanggan dan banyak dari mereka yang mempertanyakan kepantasan beberapa pengumuman.[28]
Pelanggan juga sering kali mengeluhkan mesin-mesin swakasir bersuara parau seperti robot yang kerap menyiarkan pengumuman-pengumuman kepada pelanggan seperti apa yang dilakukan supermarket Tesco pada tahun 2015 yang merespons kritik dengan mengganti suara tersebut dengan suara yang lebih mirip suara manusia.[29]
Karena pelanggan tidak terlatih untuk memindai barang, mereka sering kali keliru mengira bahwa barang-barang promosi, seperti barang-barang buy one get one, hanya perlu dipindai sekali, atau pelanggan tidak sengaja memindai barang yang berbeda, tetapi memiliki harga yang sama, sehingga inventarisasi peritel menjadi kacau.[30]
Tidak memindai barang-barang belanjaan dengan tepat pada sistem swakasir adalah satu bentuk pengutilan atau pencurian. Hal tersebut dapat terjadi baik dengan atau tanpa sengaja. Misalnya, apabila pelanggan hanya memindai satu barang promosi buy one get one alih-alih memindai dua barang. Bentuk pengutilan lainnya adalah dengan mengakali pemindaian agar barang yang mahal menjadi terbayar lebih murah dengan cara menempelkan label kode batang barang yang murah pada barang yang mahal, atau menutup seluruh atau sebagian kode batang saat memindai.[31][32] Salah satu contoh sederhana dari pelangkahan pemindaian (skip-scanning) adalah dengan menggeser barang belanjaan pada alat pembaca optis mesin pemindai secara cepat, sehingga barang belanjaan tidak tercatat atau kode batang tidak terbaca mesin (mungkin juga dengan menutupi kode batang dengan tangan atau jari) [33]
Peritel gencar menggunakan berbagai metode untuk mengurangi kerugian kehilangan barang. Salah satu upayanya adalah dengan mengaryakan kamera-kamera untuk mengawasi pemindaian barang pada semua lokasi mesin-mesin swakasir, upaya lainnya adalah dengan mengerahkan para pramuniaga pencegah kehilangan barang, dan menggunakan akal imitasi untuk mengenali gerakan atau perilaku para pelangkah pemindaian. Pada tahun 2020 Kroger menerapkan sistem keamanan baru yang mengenali dan merekam pemindaian yang terlangkahi, lalu menunjukkan rekaman tersebut kepada pembeli yang tertangkap atau dicurigai, selanjutnya pihak toko memberi kesempatan bagi pembeli pengutil untuk mengakui dan memperbaiki kesalahan mereka.[34] Upaya ini mendorong para pembeli untuk menghindari mesin swakasir karena khawatir dituduh mencuri meskipun ia tidak menyadari ia telah melakukan kesalahan saat pemindaian.[35]
Sejak tahun 2022, Sainsbury's, peritel asal Inggris, memperkenalkan sistem pemindaian bon pada tokonya. Pelanggan yang menggunakan mesin swakasir ditempatkan di area yang dipagari dan diharuskan memindai bon cetak pada pemindai optis untuk membuka gerbang otomatis sebelum keluar toko. Sistem ini menuai kritik karena menganggap setiap pelanggan berpeluang menjadi pencuri kecuali jika mereka mampu membuktikan ketidakbersalahan mereka dengan menunjukkan bon.[36][37][38]
Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa penerapan mesin-mesin swakasir meningkatkan pengutilan di toko, 6,7% transaksi terjadi pengutilan, 1 dari 5 pembeli mengaku pernah secara tidak sengaja mengambil barang tanpa membayarnya, 1 dari 7 mengaku sengaja mencuri barang, dan seseorang dengan pendapatan rumah tangga lebih dari $100.000 per tahun lebih mungkin untuk mencuri daripada kelompok pendapatan yang lebih rendah.[39]
Para pemerhati mengamati bahwa pengenalan sistem swakasir telah mendorong peritel untuk mengurangi jumlah pegawai pada toko yang mengakibatkan penurunan tingkat pemekerjaan pada sektor ritel dan penurunan tingkat pemeliharaan serta perawatan toko.[40][41]