Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Swakasir

Swakasir atau konter kasir swalayan adalah sistem pembayaran yang memungkinkan pelanggan untuk menyelesaikan transaksi secara mandiri tanpa dilayani kasir dengan menggunakan mesin swakasir atau serangkaian teknologi lainnya. Pada sistem swakasir, para pelanggan dapat memindai kode batang barang sendiri sebelum membayar barang belanjaan. Sistem swakasir umumnya diterapkan pada pasaraya, toserba, dan toko kelontong. Umumnya sarana-sarana swakasir diawasi oleh setidaknya satu kasir atau pramuniaga yang bertugas untuk membantu para pelanggan yang kesulitan memproses transaksi, mengoreksi harga, atau melayani pelayanan lainnya.

Wikipedia article
Diperbarui 4 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Swakasir
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Juli 2025)
Model mesin swakasir NCR Corporation pada jalur cepat pasaraya Sainsbury's
Model mesin swakasir NCR Corporation di toko IKEA

Swakasir atau konter kasir swalayan (Self-service checkouts) adalah sistem pembayaran yang memungkinkan pelanggan untuk menyelesaikan transaksi secara mandiri tanpa dilayani kasir dengan menggunakan mesin swakasir atau serangkaian teknologi lainnya. Pada sistem swakasir, para pelanggan dapat memindai kode batang barang sendiri sebelum membayar barang belanjaan. Sistem swakasir umumnya diterapkan pada pasaraya, toserba, dan toko kelontong.[1] Umumnya sarana-sarana swakasir diawasi oleh setidaknya satu kasir atau pramuniaga yang bertugas untuk membantu para pelanggan yang kesulitan memproses transaksi, mengoreksi harga, atau melayani pelayanan lainnya.

Pada tahun 2013, setidaknya terdapat 191.000 unit mesin swakasir yang dikaryakan di seluruh dunia, dan pada tahun 2025, diperkirakan terdapat 1,2 juta unit mesin swakasir yang akan dikaryakan di seluruh dunia.[2][3]

Mesin swakasir diciptakan oleh David R. Humble di perusahaan CheckRobot Inc., terletak di Deerfield Beach, Florida, yang pangsa pasar terbesarnya dimiliki oleh NCR Corporation.[4][5] Mesin-mesin swakasir tersebut diperkenalkan kepada masyarakat pada bulan Juli 1986; mesin swakasir pertamanya, yang diproduksi oleh CheckRobot, dikaryakan di toko Kroger yang terletak di dekat kota Atlanta, Georgia.[6][7]

Sistem-sistem swakasir

Mesin swakasir di Tesco Polandia: pemindai kode batang berada di balik kaca bawah dan kaca depan yg terletak di bawah layar, sedangkan alat pemindai berada di sebelah kiri layar; di bawah layar terdapat lempengan logam datar yang merupakan timbangan belanjaan; di sebelah kanan layar terdapat mesin EDC, dan area pengemasan berada di kanan bawah gambar

Pada sistem swakasir, pelanggan biasanya diminta untuk:

  • Memindai kode batang produk jika ada.
  • Menimbang belanjaan yang tidak memiliki kode batang (biasanya produk segar) dan pilih jenisnya pada layar sentuh.
  • Meletakkan semua barang belanjaan yang terpindai ke area pengemasan (bagging area). Berat belanjaan harus diamati kesesuaiannya dengan informasi produk guna memudahkan kelancaran transaksi.
  • Lakukan pembayaran menggunakan mesin EDC (Electronic Data Capture).

Biasanya terdapat satu kasir atau pramuniaga pengawas yang bertugas untuk membantu para pelanggan bila diperlukan seperti meloloskan barang yang penjualannya terbatas (misalnya obat-obatan, alkohol, pisau dan tembakau), mematikan dan melepas tag pengaman elektronik, sebagai tenaga tambahan untuk mencegah pencurian atau kehilangan barang, serta memberi pelayanan tambahan kepada para pelanggan.[8]

Sistem memindai saat berbelanja

Kios "Scan It" di pasaraya Giant Food

Sistem lain swakasir adalah dengan memindai sendiri (self-scanning) barang belanjaan menggunakan pemindai kode batang portabel selama berbelanja.[9] Usai pelanggan berbelanja, alat pemindai dibawa ke konter kasir, lalu informasi-informasi dari pemindai kode batang diunduh ke konter kasir (biasanya bersamaan dengan memindai kartu program loyalitas pelanggan atau kartu keanggotaan). Setelah itu, pelanggan membayar belanjaan dan menerima bon dari kasir.

Sistem campuran

Perusahaan penyuplai seperti NCR, Wincor-Nixdorf, dan lainnya telah menciptakan sistem kasir campuran yang memungkinkan sarana kasir dapat diubah-ubah sistemnya antara menjadi sistem kasir biasa dan sistem swakasir.[10][11]

Sistem sumber terbuka

Konter swakasir di perpustakaan dapat dijalankan dengan perangkat lunak sumber terbuka atau perangkat lunak komersial.

Proyek swakasir sumber terbuka pertama kali diumumkan pada tahun 2010. Sistem swakasir ini diterapkan pada perpustakaan menggunakan mesin swakasir berperangkat keras dan lunak sumber terbuka sehingga biayanya sepersepuluh kali lebih murah dibandingkan dengan biaya mesin swakasir dengan perangkat keras dan lunak komersial.[12][13]

Sistem berbasis RFID

Beberapa toko percobaan di Tiongkok menggunakan kombinasi RFID dan kamera untuk melacak dan mengenali produk apa yang telah dipilih oleh pelanggan. Saat akan meninggalkan toko, pelanggan melewati gerbang pembaca RFID dan hanya perlu membayar tagihan saat hendak keluar.[14][15][16][17]

Sistem berbasis kamera

Kamera dan sensor yang dipasang di langit-langit toko nirkasir Amazon Go itu melacak belanjaan pelanggan dan menagih pelanggan secara otomatis melalui aplikasi seluler.

Toko nirkasir menggunakan kamera dan sensor pada seluruh toko untuk melacak para pelanggan dan mengenali barang belanjaan mereka. Para pelanggan membayar tagihan saat keluar, atau mendaftarkan ponsel cerdas sebelum memasuki toko sehingga mereka bisa langsung keluar dengan barang-barang pilihan mereka.[18]

Kelebihan

Salah satu manfaat yg didapat peritel apabila menerapkan sistem swakasir adalah dapat menekan biaya tenaga kerja karena satu pramuniaga dapat mendampingi antara empat hingga enam jalur swakasir. Ukuran mesin swakasir tidak memakan banyak ruang toko karena berukuran lebih kecil dibandingkan dengan konter kasir biasa sehingga ruang-ruang sisa dapat digunakan untuk menambah rak, etalase, atau konter kasir tambahan.[19]

Costco mulai memakai mesin-mesin swakasir pada pujasera-pujaseranya pada tahun 2021 saat pandemi COVID-19, sehingga memungkinkan para petugas dapur pujasera untuk fokus hanya pada persiapan makanan dan pelayanan pelanggan. Transaksinya nontunai dengan kartu debit atau kredit, sehingga dapat menghindari pertukaran uang tunai antara pelanggan dan pramuniaga (uang tunai seperti uang kertas dan koin merupakan perantara yang dapat menularkan penyakit).

Pelanggan yang enggan berinteraksi dengan kasir dapat mengambil manfaat dari sistem swakasir. Sistem swakasir nontunai dengan pembayaran ginerak atau dompet digital memungkinkan pelanggan untuk membeli barang mereka tanpa harus menyentuh bagian-bagian dari sarana swakasir, selain area pengemasan (bagging area), meskipun mereka menggunakan kantong belanja milik toko atau pasaraya yang harus dikembalikan.

Terkadang, sistem swakasir juga lebih cepat daripada menggunakan sistem kasir biasa karena dapat mengurangi waktu tunggu dan antrean pada konter kasir.[20]

Kelebihan lainnya adalah sistem swakasir dapat menyediakan layanan multibahasa parsial (Dapat disebut multibahasa sepenuhnya apabila barang-barang tersebut diberi label dalam bahasa yang relevan, tetapi pada kenyataannya jauh lebih banyak menggunakan bahasa utama atau nasional). Misalnya, pasaraya Tesco Wales dapat melayani pelanggan dalam bahasa Inggris dan Wales [21] karena sulitnya mempekerjakan pegawai yang fasih berbahasa Wales sebab hanya sebagian kecil penduduk setempat yang menjadikan bahasa Wales sebagai bahasa ibu mereka.[22]

Kekurangan

Laporan tahun 2021 oleh Raydiant mendapati bahwa 67% pengguna pernah mengalami kegagalan pada sistem swakasir, 25% mengatakan mereka akan menghindari mesin-mesin swakasir karena memiliki pengalaman buruk terhadapnya atau mesin-mesin swakasir lambat, 65% mengkhawatirkan kebersihan mesin-mesin swakasir, dan banyak pelanggan mengalami kejengkelan saat menggunakan mesin swakasir sehingga membutuhkan bantuan.[23]

Keterjangkauan

Pada tahun 2002, sebuah penelitian dilakukan dengan melibatkan kaum difabel untuk menggunakan mesin-mesin swakasir; penelitian tersebut menyimpulkan bahwa mesin-mesin swakasir yang ada saat itu tidak dirancang ramah difabel.[24] Hingga tahun 2022, kaum difabel netra, pengguna kursi roda, dan difabel lainnya masih kesulitan menggunakan mesin-mesin swakasir yang desainnya kerap menyulitkan mereka untuk berbelanja secara mandiri. Masalah-masalah tersebut menjadi semakin parah seiring bertambahnya mesin-mesin swakasir yang dikaryakan berbagai perusahaan. Meskipun mesin-mesin swakasir yang dirancang bagi difabel netra dan pengguna kursi roda sudah tersedia, mesin-mesin tersebut masih belum lazim, sehingga para pegiat disabilitas giat untuk menyuarakan masalah-masalah ini hingga akhirnya AS sedang mempertimbangkan regulasi bagi keterjangkauan sistem swakasir.[25]

Pencemaran suara

Para peritel sering kali menyiarkan pengumuman-pengumuman melalui mesin-mesin swakasir mereka dengan suara-suara unik. Misalnya, toko diskon Poundland pernah menggunakan suara Yoda,[26] Elvis Presley, Drakula dan Sinterklas pada mesin-mesin swakasirnya.[27] Lalu pada tahun 2019, Marks & Spencer pernah mengganti suara mesin-mesin swakasirnya dengan suara juri dari Britain's Got Talent musim tahun itu. Namun, suara-suara unik tersebut banyak dikeluhankan oleh para pelanggan dan banyak dari mereka yang mempertanyakan kepantasan beberapa pengumuman.[28]

Pelanggan juga sering kali mengeluhkan mesin-mesin swakasir bersuara parau seperti robot yang kerap menyiarkan pengumuman-pengumuman kepada pelanggan seperti apa yang dilakukan supermarket Tesco pada tahun 2015 yang merespons kritik dengan mengganti suara tersebut dengan suara yang lebih mirip suara manusia.[29]

Kesalahan inventarisasi

Karena pelanggan tidak terlatih untuk memindai barang, mereka sering kali keliru mengira bahwa barang-barang promosi, seperti barang-barang buy one get one, hanya perlu dipindai sekali, atau pelanggan tidak sengaja memindai barang yang berbeda, tetapi memiliki harga yang sama, sehingga inventarisasi peritel menjadi kacau.[30]

Pencurian dan pelangkahan tahap pemindaian (skip-scanning)

Tidak memindai barang-barang belanjaan dengan tepat pada sistem swakasir adalah satu bentuk pengutilan atau pencurian. Hal tersebut dapat terjadi baik dengan atau tanpa sengaja. Misalnya, apabila pelanggan hanya memindai satu barang promosi buy one get one alih-alih memindai dua barang. Bentuk pengutilan lainnya adalah dengan mengakali pemindaian agar barang yang mahal menjadi terbayar lebih murah dengan cara menempelkan label kode batang barang yang murah pada barang yang mahal, atau menutup seluruh atau sebagian kode batang saat memindai.[31][32] Salah satu contoh sederhana dari pelangkahan pemindaian (skip-scanning) adalah dengan menggeser barang belanjaan pada alat pembaca optis mesin pemindai secara cepat, sehingga barang belanjaan tidak tercatat atau kode batang tidak terbaca mesin (mungkin juga dengan menutupi kode batang dengan tangan atau jari) [33]

Peritel gencar menggunakan berbagai metode untuk mengurangi kerugian kehilangan barang. Salah satu upayanya adalah dengan mengaryakan kamera-kamera untuk mengawasi pemindaian barang pada semua lokasi mesin-mesin swakasir, upaya lainnya adalah dengan mengerahkan para pramuniaga pencegah kehilangan barang, dan menggunakan akal imitasi untuk mengenali gerakan atau perilaku para pelangkah pemindaian. Pada tahun 2020 Kroger menerapkan sistem keamanan baru yang mengenali dan merekam pemindaian yang terlangkahi, lalu menunjukkan rekaman tersebut kepada pembeli yang tertangkap atau dicurigai, selanjutnya pihak toko memberi kesempatan bagi pembeli pengutil untuk mengakui dan memperbaiki kesalahan mereka.[34] Upaya ini mendorong para pembeli untuk menghindari mesin swakasir karena khawatir dituduh mencuri meskipun ia tidak menyadari ia telah melakukan kesalahan saat pemindaian.[35]

Sejak tahun 2022, Sainsbury's, peritel asal Inggris, memperkenalkan sistem pemindaian bon pada tokonya. Pelanggan yang menggunakan mesin swakasir ditempatkan di area yang dipagari dan diharuskan memindai bon cetak pada pemindai optis untuk membuka gerbang otomatis sebelum keluar toko. Sistem ini menuai kritik karena menganggap setiap pelanggan berpeluang menjadi pencuri kecuali jika mereka mampu membuktikan ketidakbersalahan mereka dengan menunjukkan bon.[36][37][38]

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa penerapan mesin-mesin swakasir meningkatkan pengutilan di toko, 6,7% transaksi terjadi pengutilan, 1 dari 5 pembeli mengaku pernah secara tidak sengaja mengambil barang tanpa membayarnya, 1 dari 7 mengaku sengaja mencuri barang, dan seseorang dengan pendapatan rumah tangga lebih dari $100.000 per tahun lebih mungkin untuk mencuri daripada kelompok pendapatan yang lebih rendah.[39]

Pemekerjaan

Para pemerhati mengamati bahwa pengenalan sistem swakasir telah mendorong peritel untuk mengurangi jumlah pegawai pada toko yang mengakibatkan penurunan tingkat pemekerjaan pada sektor ritel dan penurunan tingkat pemeliharaan serta perawatan toko.[40][41]

Referensi

  1. ↑ "Self-checkout Systems Market Size, Share & Trends Analysis Report By Components (Systems, Services), By Type (Cash Based, Cashless), By Application, By Region, And Segment Forecasts, 2020 - 2027". Grand View Research. April 2020. Diakses tanggal 20 February 2021.
  2. ↑ "SELF-CHECKOUT: A GLOBAL CONSUMER PERSPECTIVE" (PDF). NCR Whitepaper. Diakses tanggal 20 December 2016.
  3. ↑ "NCR Named Global Leader in Self-Checkout for the 18th Consecutive Year". NCR Corporation. 9 September 2020. Diakses tanggal 20 February 2021.
  4. ↑ "Self-Checkout Reaches Critical Mass - LPM". losspreventionmedia.com. 2 January 2006.
  5. ↑ "Self-service distribution system".
  6. ↑ Dowell, Sharon (20 May 1987). "Self-Checkout Latest Innovation In Grocery Stores". The Oklahoman. Diakses tanggal 10 July 2022.
  7. ↑ Meyersohn, Nathaniel (10 July 2022). "Nobody likes self-checkout. Here's why it's everywhere". CNN Business. Diakses tanggal 10 July 2022.
  8. ↑ Miletic, Daniella (22 April 2008). "A new way to shop — check it out for yourself". The Age. Melbourne. Diakses tanggal 2 September 2008.
  9. ↑ Zimmerman, Ann (18 May 2011). "Check Out the Future of Shopping". Wall Street Journal. Diakses tanggal 7 December 2016.
  10. ↑ Barwick, Hamish (19 December 2012). "Coles trials hybrid self-checkout system in Victoria". computerworld.com.au. IDG Communication. Diakses tanggal 3 April 2014.
  11. ↑ "Wincor Nixdorf to present 'Always Open' checkout solution at NRF Big Show". kioskmarketplace.com. Networld Media Group. Diakses tanggal 3 April 2014.
  12. ↑ "open-source-self-check". google.com. Google Project Hosting. Diakses tanggal 3 April 2014.
  13. ↑ "Self-Check Kiosk from Scratch: Iowa Librarian's Coding Skills Prove Valuable". libraryjournal.com. Diarsipkan dari asli tanggal 11 Mei 2011.
  14. ↑ "A store without cashiers opens in China's "future city"". Abacus. 3 May 2018.
  15. ↑ "Alibaba's 'Futuremart' is a High-Tech Cashierless Store in China". altaviawatch.com.
  16. ↑ "Tencent beats Amazon to launch unmanned shop in Shanghai". South China Morning Post. 22 January 2018.
  17. ↑ Horwitz, Josh (22 January 2018). "China is both ahead of and behind Amazon in cashier-less stores". Quartz.
  18. ↑ "Why Are There Not More Cashierless Stores? What Are the Limiting Factors?". Cashierless.com. Diakses tanggal 2025-06-28.
  19. ↑ Krafft, Manfred; Mantrala, Murali K. (17 December 2009). Retailing in the 21st Century: Current and Future Trends. Springer Science & Business Media. hlm. 189. ISBN 978-3-540-72003-4.
  20. ↑ "The Pros and Cons of Using Self-Checkouts". BusinessBee (dalam bahasa American English). 7 August 2013. Diakses tanggal 5 June 2016.
  21. ↑ Hosford, Paul (24 March 2014). "Tesco is looking at introducing Irish-speaking self-service checkouts". The Journal. Diakses tanggal 28 August 2016.
  22. ↑ "Home Truths: the decline of the Welsh language". opendemocracy.net. Diakses tanggal 28 August 2016.
  23. ↑ Walk-Morris, Tatiana (10 Maret 2021). "67% of consumers have had a self-service checkout fail: report". Retail Dive. Diakses tanggal 28 Juni 2025.
  24. ↑ Bajaj, Komal; Mirka, Gary A.; Sommerich, Carolyn M.; Khachatoorian, Haig (31 March 2006). "Evaluation of a Redesigned Self-Checkout Station for Wheelchair Users". Assistive Technology. 18 (1): 15–24. doi:10.1080/10400435.2006.10131903. PMID 16796238.
  25. ↑ Deighton, Katie (November 21, 2022). "Disabled Shoppers Struggle With Inaccessible Self-Checkouts". Wall Street Journal.
  26. ↑ "Jedi Master Yoda is set to help out at the tills at Ballymena's Poundland – he must!". The Ballymena Daily. 21 July 2019. Diakses tanggal 21 September 2019.
  27. ↑ "WATCH: Elvis, Dracula and Santa entertain customers at Poundland store in Derry". Derry Now. 1 November 2018. Diarsipkan dari asli tanggal 30 August 2019. Diakses tanggal 30 August 2019.
  28. ↑ Kalia, Ammar (23 April 2019). "Chummy automation: why no one wants Ant and Dec to voice the M&S tills". The Guardian. Diakses tanggal 3 January 2020.
  29. ↑ Chester, Tom (30 July 2015). "Tesco replacing 'irritating' self-checkout robo-voice". Mashable UK. Diakses tanggal 3 January 2020.
  30. ↑ "Self-checkout in Retail: Measuring the Loss" (PDF). Efficient Consumer Response. October 2018.
  31. ↑ Varghese, Benson. "Self Checkout Theft : Skip Scanning And Theft Charges In Texas". Varghese Summersett. Diakses tanggal June 13, 2023.
  32. ↑ Hill, Nick (November 15, 2022). "Skip-Scanning Raises Concerns about Self-Checkouts". WDEF-TV. Diakses tanggal June 13, 2023.
  33. ↑ Kocher, Jennifer (March 31, 2020). "Self-checkout "Skip Scanning" Problems Continue at Walmart". Outliers News.
  34. ↑ Moran, Catherine Douglas; Silverstein, Sam (March 14, 2022). "As self-checkout expands in grocery, here are 4 ways the technology is leveling up". Grocery Dive.
  35. ↑ "Attorney goes viral for advising shoppers to skip self-checkout lanes". Fox 26 Houston. July 16, 2022.
  36. ↑ Nazir, Sahar (13 December 2022). "Sainsbury's faces backlash as it makes shoppers scan receipts to exit stores". retailgazette.co.uk. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 July 2023.
  37. ↑ Sommerlad, Joe (18 December 2022). "Shoppers rage against supermarket's scan-receipt-to-exit policy". The Independent (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 March 2023. Diakses tanggal 24 July 2023.
  38. ↑ "'It's ridiculous!': Furious Sainsbury's shoppers criticise new barriers 'detaining' customers who fail to show receipt". LBC (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 May 2023. Diakses tanggal 24 July 2023.
  39. ↑ Reuter, Dominick (December 6, 2023). "Self-checkout theft is a bigger problem than you may have thought". Business Insider.
  40. ↑ Mull, Amanda (18 October 2023). "Self-Checkout Is a Failed Experiment". The Atlantic (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 10 November 2023.
  41. ↑ Booth, Robert (11 September 2019). "Shop closures and self-checkouts cost tens of thousands of women's jobs". The Guardian. Diakses tanggal 10 November 2023.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sistem-sistem swakasir
  2. Sistem memindai saat berbelanja
  3. Sistem campuran
  4. Sistem sumber terbuka
  5. Sistem berbasis RFID
  6. Sistem berbasis kamera
  7. Kelebihan
  8. Kekurangan
  9. Keterjangkauan
  10. Pencemaran suara
  11. Kesalahan inventarisasi
  12. Pencurian dan pelangkahan tahap pemindaian (skip-scanning)
  13. Pemekerjaan
  14. Referensi
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026