Pembantaian Hama, atau Pemberontakan Hama, terjadi pada Februari 1982, saat Angkatan Darat Arab Suriah dan Pasukan Pertahanan, atas perintah presiden negara tersebut Hafez al-Assad, mengepung kota Hama selama 27 hari dalam rangka menekan pemberontakan oleh Ikhwanul Muslimin melawan pemerintahan al-Assad. Pembantaian tersebut, yang dilakukan oleh Angkatan Darat Suriah di bawah komando Jenderal Rifaat al-Assad, secara efektif mengakhiri kampanye yang dimulai pada 1976 oleh kelompok Muslim Sunni, yang meliputi Ikhwanul Muslimin, melawan pemerintah.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Oktober 2022) |
| Pemberontakan Islamis Hama | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari Pemberontakan Islamis di Suriah | |||||||
| |||||||
| Pihak terlibat | |||||||
|
• Intelijensi Militer • Intelijensi Umum • Intelijensi Angkatan Udara |
| ||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||
|
Hafez al-Assad Rifaat al-Assad Hikmat al-Shihabi Shafiq Fayadh Ali Haydar Ali Douba Mohammed al-Khouli |
`Adnan `Uqla Adnan Sa'd al-Din Muhammad al-Bayanuni Sa'id Hawwa | ||||||
| Pasukan | |||||||
|
• Divisi Bersenjata ke-3 • Divisi Bersenjata ke-10 • Divisi Pasukan Khusus ke-14 | Tidak diketahui | ||||||
| Kekuatan | |||||||
|
Pasukan Pertahanan: 3 Brigade (12.000 prajurit) Angkatan Darat Arab Suriah: 4 Brigade (15.000 prajurit) Total: Sekitar 30.000 prajurit | Kurang dari 2000 sukarelawan bersenjata | ||||||
| Korban | |||||||
| Sekitar 1.000 | Perkiraan beragam dari 2.000 sampai 40.000. | ||||||
Pembantaian Hama (bahasa Arab: مجزرة حماةcode: ar is deprecated ), atau Pemberontakan Hama, terjadi pada Februari 1982, saat Angkatan Darat Arab Suriah dan Pasukan Pertahanan, atas perintah presiden negara tersebut Hafez al-Assad, mengepung kota Hama selama 27 hari dalam rangka menekan pemberontakan oleh Ikhwanul Muslimin melawan pemerintahan al-Assad.[1][2] Pembantaian tersebut, yang dilakukan oleh Angkatan Darat Suriah di bawah komando Jenderal Rifaat al-Assad, secara efektif mengakhiri kampanye yang dimulai pada 1976 oleh kelompok Muslim Sunni, yang meliputi Ikhwanul Muslimin, melawan pemerintah.
Laporan diplomatik awal dari negara-negara Barat menyatakan bahwa 1.000 orang dibunuh.[3][4] Perkiraan pada masa berikutnya beragam, dari perkiraan rendah mengklaim bahwa sekitar 2.000 warga Suriah dibunuh,[5] sementara pihak lainnya menyebut angka 20.000 (Robert Fisk)[1] atau 40.000 (Komite Hak Asasi Manusia Suriah).[2][6] Sekitar 1.000 prajurit Suriah tewas dalam operasi tersebut, dan sebagian besar kota tua tersebut dihancurkan. Serangan tersebut disebut sebagai salah satu "tindakan paling mematikan oleh pemerintahan Arab manapun terhadap rakyatnya sendiri di Timur Tengah modern".[7] Menurut oposisi Suriah, sebagian besar korban adalah warga sipil.[8]